Riwayat Mala

Beberapa percakapan kecil ini sesungguhnya belum selesai. Tapi ya sudah, diusaikan saja. Cita-citanya: menuangkan kembali cerita-cerita keseharian untuk mengenali kondisi hubungan lelaki dan perempuan. Hampir seluruh materi dalam “percakapan-percakapan” ini telah diketahui oleh kebanyakan orang.

Teman di Radio Komunitas Suara Perempuan, Banda Aceh, mulanya ingin menerbitkannya dalam sebuah buku. Menjadi sebuah “Peugah Haba Soal Timang” yang disunting Zubaidah Djohar. Ia adalah seorang peneliti dan penulis di Aceh, telah menerbitkan kumpulan puisinya: Pulang Melawan Lupa.

Percakapan yang tertuang di bawah ini seputar nama Kemala. Karenanya dinamakan Riwayat Mala.

Pengenalan

Mala berlari melintasi jalur tak biasa dari sekolah ke rumahnya. Meliwati pematang entah milik siapa, sesekali ada terjatuh, untung tak berlumpur. Matahari belum tergelincir benar dari titik tengah di ubun-ubun kepala. Nafas Mala tersengal tapi kakinya tak mau pelan. Dari matanya kita tahu ada yang harus diburu dalam kecepatan tak biasa bagi perempuan kecil berusia 8 tahun itu. Teman-teman lain pulang dengan bersantai dan sendau gurau meliwati jalan kecil yang pas dilalui mobil dan motor.

Kemala Puti, nama lengkapnya, bukan sedang dalam keadaan biasa. [Lanjut]

Percakapan 1 – Perbedaan

“Kapan aku boleh mendekat ke adik?” Mala bertanya kepada Abi.

“Sekarang pun boleh. Kamu boleh dong mendekat, melihat, mencium. Ia adikmu, kan?” Abi menjawab sembari mengangkat tubuhnya agar mendekat kepada adik. Rupanya hidung Abi tak setajam Mamak Bidan. Tak pernah mencium bau matahari.

Mala girang dalam gendongan. “Abi, adik Mala laki-laki?” Kini ia hanya berjarak beberapa jengkal dengan adik yang pulas di dalam kelambu mirip tudung nasi.

Abi mengangguk.

“Dari mana bisa tahu?” Continue reading »

Percakapan 2 – Persamaan

“Mie Caluek.” Mala menitip dua porsi kepada Fairuz, teman sebelah kamarnya di tempat kost Kampung Laksana, Banda Aceh. Tak jauh dari Jalan Daud Beureuh. Di jalan tempat berkantor anggota DPR itu, ada penjual mie caluek.

“Katesnya?” tanya Fairuz.

Mala menggeleng. “Tak usah. Minum es di sini saja.”

Mie Caluek di beberapa tempat disebut mi lidi, karena bentuknya besar.Spaghetti Aceh, kata Fairuz. Dibungkus daun pisang dengan porsi sedikit—makanya Mala pesan dua—dan nanti disiram sambal cair berbahan kacang, biasanya ditambah rebusan daun ubi. Continue reading »

Percakapan 3 – Beda, Bukan Berarti …

Fairuz menunjukkan pesan pendek yang ia terima di telepon selularnya kepada Mala.

“Lihat ini, Mala.”

Mala membacanya:

Pbedaan mmg mlgkapi.

Sender: Zul qu

Message centre: +6281100000

Sent: 5-Okt-2007 18:08:21

“Perbedaan memang melengkapi,” Mala mengulangi. “Zul qu? Aku tak pernah mendengar namanya darimu. Hei, ada yang lewat kau ceritakan rupanya, ya?”Continue reading »

Percakapan 4 – Beban Ganda

Hari lebaran belum terlalu lama lagi. Pasar Aceh sudah makin bising sejak siang sampai malam. Beberapa pedagang seperti tak cukup menggelar barangnya tanpa harus berteriak. Beberapa yang lain merasa berteriak saja tak cukup, karena di sebelahnya juga berteriak, maka ia melengkapi dengan peralatan sound system. Dua buah speaker besar atau sedang diletakkan di tiap sisi, mikrofon di mulutnya dan amplifier di bagian belakang. Ada pula yang menambahkan efek echo.

“Jangan ngan an, salah lah lah, pilih lih lih lih…”

Department store dan swalayan juga berbenah lebih apik, atau lebih tepatnya lebih disesaki barang. Rata-rata didominasi warna hijau muda. Ikut pula dipajang gambar ketupat. Heran juga, padahal ini Aceh dan bukan—misalnya—Jakarta atau sebagian besar kota di Jawa atau Lampung. Tak ada ketupat atau lontong di hari raya di Banda Aceh. Juga gambar masjid. Padahal, orang lebih banyak bershalat di lapangan terbuka pada pagi pertama lebaran. Tapi, pasti lucu bila logo hari raya Idul Fitri bergambar lapangan Blang Padang ditambah—misalnya—lembu. Karena di Blang Padang lebih sering terdapat tank militer atau panser ketimbang lembu. Continue reading »

Percakapan 5 – Akses vs Kontrol

Bob asimetris.

Potongan rambut Fairuz mirip gaya artis Victoria Beckham yang menikah dengan pemain sepakbola Inggris, David Beckham. Keruan Fairuz berada di deretan selebritas papan atas dunia untuk urusan potongan rambut. Selain Vicky, ada Katie Holmes, Jessica Simpson serta Jenny McCharty yang punya model rambut serupa.

“Kamu suka, Mala?” Fairuz meminta pujian.

Kemala mengangguk.

“Zul suka, nggak?” tanya Mala.

Fairuz menyipitkan mata. “Zul belum pernah lihat aku melepas jilbab. Jadi dia mana tahu aku ini berambut panjang, pendek atau malah botak. Pernah dia tanya rambutku itu sepanjang apa, dan cuma kuberitahu bahwa sedikit bergelombang di bagian bawah dengan panjang sejengkal dari bahu. Tapi, aku tak memperlihatkannya.” Continue reading »

Percakapan 6 – Kepala Keluarga

Suara orang mengaji dari masjid yang tak jauh dari kost Mala dan Fairuz mulai hilang. Tengah malam telah dijelang. Keduanya masih berada di kamar Fairuz.

“Menurutmu sebaiknya bagaimana?” Fairuz bertanya. “Apakah sebaiknya masing-masing gender ini mengurusi wilayahnya sendiri-sendiri atau tak ada batasan wilayah?”

“Aku bukan siapa-siapa untuk merasa berhak menentukan apa yang terbaik bagi seluruh perempuan dan laki-laki,” Mala menjawab.

“Sekadar pendapat saja.” Continue reading »

4 thoughts on “Riwayat Mala

  1. “Peugah Haba Soal Timang” suntingan Zubaidah Djohar itu bentuknya apa, bukukah? Masih punya edisi cetaknya?

    Terima kasih menceritakan ini kembali. Saya belum ngubek Saujana Cocomeo sampai dalam, jadi senang ketemu buku baru di sini🙂

    Terus menulis ya. Pasti bagus kalau Airlambang menulis buku.

  2. apakabar airlambang? wah.. saya terkejut juga membaca ini. bahkan sampai hari ini saya juga tidak tahu perkembangan buku tersebut. terakhir, setelah diedit dan diserahkan akan diterbitkan. tetapi tak tahu setelah itu.. apalagi kepengurusan di radio sepertinya telah berganti.

  3. Aih, kakak. Peu haba? Maaf lama juga merespon comment-nya. Mudah-mudahan aku tak salah menuliskan judul buku puisi Kak Ubaid dalam disclaimer pages “Riwayat Mala” di blog ini, ya. Iya, kita sama-sama tak tahu kabarnya. Bagaimana kabar radio? Kek mana pula kabar kakak direktur itu? Kudengar sempat ada “Suara Perempuan Award” yang diberikan untuk Linda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s