Reuni Kami

Saya tak dapat menemui nama-nama ini: Taufan Nugraha, Agil Daeng, dan Oriza. Maka, inilah reuni kami.

SUDAH sepuluh tahun sejak ombak besar menggulung pesisir Aceh, ada tiga nama yang pada hari-hari peringatan ombak itu harus selalu saya kenang. Taufan Nugraha, Agil Daeng Faradilla Balqi, dan Oriza (yang terakhir ini mungkin bukan nama sebenarnya). Menjelang 10 tahun peringatan tsunami, saya kembali mengingat mereka. Seperti akhir tahun-tahun sebelumnya.

Taufan Nugraha adalah koresponden KBR di Aceh. Ia satu-satunya koresponden kantor berita radio yang bermarkas di Utan Kayu, Jakarta. Mulanya dua, seorang lagi bernama Fahriansyah yang bertanggung jawab di Surabaya, Jawa Timur. Tapi saat itu Ryan—begitu nama pendeknya—sudah berada di Jakarta. Peliput KBR yang lain di daerah-daerah di Indonesia statusnya kontributor.

Taufan Nugraha adalah juga pemegang KTP merah putih. Ini adalah produk kebijakan bersemangat segregasi yang dipenuhi perasaan curiga berlebihan dari pemerintah pusat di Jakarta kepada penduduk Aceh. Kartu penduduk mereka berwarna merah-putih, dengan tujuan memindai dan memisahkan mana warga yang ingin tetap berada bersama Republik Indonesia, dan mana yang menjadi anggota atau simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pada Desember 2004, menjelang-saat-dan usai-tsunami, pemerintah Jakarta tengah menerapkan status darurat sipil. Suatu tetralogi Jakarta kepada Aceh. Seri pertama adalah sekuel darurat militer per enam bulan yang diterapkan 19 Mei 2003 hingga 13 Mei 2004. Lalu darurat sipil yang seri pertama berakhir 18 November 2004. Sejak penerapan darurat militer pertama, KTP merah-putih diterbitkan.

Hari itu Jumat, 24 Desember 2014. Di Jakarta, Kantor Menkopolhukam menjelaskan kepada wartawan mengenai situasi terbaru Aceh. Ini acara rutin saban pekan terakhir tiap bulan. Ketua Desk Aceh di kementerian itu, Irjen Pol Demak Lubis menyatakan bahwa status darurat sipil di Aceh belum bisa diturunkan menjadi tertib sipil. Sebab, katanya, kekuatan GAM yang berhasil dilumpuhkan baru 25 persennya.

KBR menurunkan laporan ini dalam Kabar Aceh, buletin khusus yang dibuat sejak masa operasi darurat militer. Taufan Nugraha melengkapi dengan laporan tentang kondisi terakhir Aceh. Dan itulah suara terakhirnya yang mengudara. Pada Minggu pagi, setelah kontributor KBR di Meulaboh, Dian, mengabarkan dengan nada putus-putus bahwa baru saja terjadi gempa, Taufan tak bisa lagi dihubungi. Juga teman-teman yang lain, kecuali yang berada di Lhokseumawe dan sekitarnya.

Beberapa jam sebelum hari menjemput siang, kami mulai mengetahui wilayah mana saja yang terlanda gempa dan disusul tsunami. Taufan tinggal di Perumnas Kajhu, Banda Aceh. Komplesk ini termasuk di kawasan pesisir. Lalu perasaan tak enak segera hadir.

Taufan bukan tipe orang bangun pagi. Saya sempat menginap di rumahnya, Juni 2004, dan kami sama-sama bangun agak siang. Anak lelakinya yang masih kecil sudah berkali-kali membangunkan untuk diajak keliling kompleks dengan vespa tua bapaknya.

“Rutin kalau hari Minggu,” kata Taufan. Tentu saja setelah kami sama-sama bangun. Di lantai masih ada sisa minuman suplemen tenaga dalam gelas yang semalam diminumnya. Semalam ia membeli larutan dalam saset itu di sebuah warung di pinggir kompleks Brimob, Banda Aceh.

Kami semua di Utan Kayu cemas. Saya berusaha meyakinkan diri bahwa hari itu berbeda. Saya berharap Taufan telah berada di lapangan Blang Padang, meliput kegiatan di sana yang tengah dipenuhi orang yang ikut lomba dan olah raga. Tapi itulah suara terakhirnya. Nur Safri, kontributor KBR dari radio Prima Banda Aceh adalah suara pertama yang darinya lalu kami tahu apa yang terjadi dengan Taufan.

Memang bukan suara betulan. Safri mengirim pesan pendek ke nomor telepon seluler di kantor Jakarta. Satu-satunya nomor yang ia ingat: 08121055023, digunakan untuk koordinasi dengan wartawan luar Jakarta. Tapi itu sudah melegakan.

Dari Safri yang saya kenal Juni 2003, saya bertemu nama kedua: Agil Daeng Faradilla Balqi. Semoga saya tak salah menulis nama lengkapnya. Tak ada sumber untuk memeriksa akurasi namanya. Arsip tulisan mengenai Agil tak turut serta terbawa dalam ransel, dan namanya tak dapat ditemui dalam mesin pencari. Ia seperti lenyap. Saya sempat mencarinya tahun 2008, tapi gagal.

***

ITU malam, pekan pertama tsunami, Agil Daeng berada di Banda Aceh. Tak banyak sumber listrik setelah gardu-gardu hancur dilalap ombak. Hanya ada beberapa tempat yang memiliki set generator. Salah satunya di tempat Safri menumpang. Agil menghampiri dan menyampaikan niat menumpang untuk mengecas baterai teleponnya.

Agil, atau mungkin disapa Daeng, atau bisa juga Dila bahkan Balqi. Ia seorang mahasiswa kedokteran di universitas swasta di Jakarta. Tak pernah membaca koran, tak menyimak berita televisi Indonesia. Di kamar kosnya, ia hanya menyalakan televisi siaran luar negeri, yang jarang pula ditonton. Ia lebih sibuk dengan komputer, rancangan web, dan forum internetnya.

Ia terlambat mengetahui kabar dari Aceh. Hanya setelah CNN menurunkan gambar pertama berupa foto-foto ia baru sadar bahwa gelombang yang datang dari lautan Hindia itu bukan cuma mengundang kengerian di Thailand, tapi juga di negerinya sendiri. Ia menunggu tayangan ulang gambar-gambar itu, lalu menyimaknya. Segera ia menyalakan modem internet, dan mencari berita-berita. Termasuk berita berbahasa Indonesia.

Di kursinya, seperti sempat dituturkan kepada saya, ia menunduk. Lalu berwudu, dan salat. Tanpa memberi tahu orang tuanya yang menjadi pengusaha angkutan umum, ia bergegas pergi ke mesin penarik uang (ATM). Agil membeli tiket pesawat dan berkemas.

Penerbangan komersial ke Banda Aceh telah ditutup. Maskapai penerbangan menyediakan pesawat untuk mengangkut bantuan dan relawan. Agil tak mendaftarkan diri dan bukan anggota organisasi relawan manapun. Ia memutuskan membeli tiket jurusan Medan. “Saya hanya merasa harus berada di Aceh secepatnya,” kata Agil malam itu kepada saya melalui telepon.

Bandara Medan sungguh padat hari itu. Tak semua pesawat bisa mendarat sesuai waktu. Beberapa jadwal penerbangan ditunda karena bandara digunakan juga untuk transit pesawat-pesawat berisi bantuan pangan dan sandang, serta personel dari organisasi kemanusiaan dan pemerintah. Agil tak dapat kursi untuk pergi ke Medan. Ia memutuskan membeli tiket ke Batam, lalu lanjut ke Polonia yang sudah tak ada lagi itu.

Di sini, sembari mencari pesawat menuju ke Banda Aceh, ia mampir ke kota. Di Jakarta ia telah membeli beberapa sarung tangan, masker, dan kantong mayat. Tapi ia merasa bagasinya belum cukup. Maka di Medan, ia membeli lagi sebanyak bisa sarung tangan, masker, dan kantong plastik lebar yang sekiranya muat untuk ukuran manusia.

Hari hampir gelap ketika ia tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda. Ada banyak supir taksi dan ojek yang menawarkan diri. Agil belum pernah ke kota ini. Tapi, ia cukup heran dengan harga yang amat tinggi. Rp 700 ribu untuk taksi dan Rp 500 ribu untuk ojek. Nalurinya berkata, ia harus mengecek dulu jarak tempuh bandara ke kota. Ia lalu berhitung. Rasanya tak mungkin jarak itu dihargai sebegitu mahal. Mungkin karena orang mulai berpikir bahwa sebentar lagi sulit mendapat BBM maka harga naik.

Tabungannya sudah terkuras membeli berbagai peralatan, juga makanan dan air minum untuk bekal. Ia betul-betul harus berhitung ini kali. Di depan ia pun tak tahu pula apa yang terjadi. Apakah ada warung yang buka, apakah ada api untuk memasak, apakah ada juga alat masak yang bisa ia beli. Lalu ia melihat truk yang setengahnya diisi bahan bantuan dan setengahnya orang. Agil naik ke sana.

Magrib hampir habis ketika truk tiba di Simpang Surabaya. Orang-orang berada di jalan. Penghuni rumah dan ruko yang jiwa dan bangunannya selamat kebanyakan tak berani masuk ke dalam. Gempa masih terjadi beberapa kali. Dari sini Agil berjalan menuju ke tengah kota. Ia tahu dari berita bahwa Masjid Raya utuh. Dan itulah satu-satunya nama yang ia tahu di Banda Aceh.

Pada malam, ia bergabung dengan beberapa orang yang mengelilingi api unggun kecil. Agil segera dikenali sebagai bukan orang Aceh, dan bukan korban tsunami. Penampilannya relatif lebih bersih dari orang-orang yang kebanyakan tak dapat menyelamatkan bahkan pakaian ganti. Barangkali ia tak berada jauh dari Masjid Raya malam itu. Barangkali di dekat simpang yang kemudian akan ramai karena dibangun kedai kopi. Kedai yang saking ramai pengunjung hingga sukses meminjam uang ke bank untuk membeli ruko baru di dekat sungai. Barangkali juga ia tak jauh dari tanah lapang saja. Tanah yang kemudian menjadi sengketa karena diklaim oleh TNI. Ia tak begitu mengenali tempatnya. Gelap. Hanya ada kecil-kecil api. Bukan pula dari panyot.

Di depan api, Agil bertanya kepada lelaki tua dan muda lainnya. Apa yang hendak dilakukan mereka besok? Jawaban pertama adalah, “tak tahulah lagi apa bisa kami buat.”

Ya, apa bisa dibuat? Rumah tak ada, bila pun ada hancur, bila tak hancur direndam lumpur, dan apa yang bisa diselamatkan dari dalamnya adalah apa yang bisa ia lihat ada di sekitar orang-orang itu.

Suara lain menyahut, “ya kami tunggu saja bantuan besok datang.”

Terdengarnya seperti putus asa. Tapi, Agil menyimaknya sebagai suara harapan. Ia pun mengajukan usul, “bagaimana kalau besok pagi kita mulai bersama-sama mengumpulkan mayat dan menyalati mereka?”

Ini belum menjadi usul yang baik. Tak ada yang setuju dari lima lelaki yang bersamanya di depan api. Mereka bilang itu berbahaya karena mayat membusuk dan kebanyakan kembung karena air. Agil menyatakan ia memiliki cukup sarung tangan, masker tebal, dan kantung plastik besar. Ia pun menawarkan diri mengajarkan kepada mereka bagaimana agar aman mengurusi mayat.

“Tapi, kami sendiri masih bingung di mana keluarga kami. Kalau mereka meninggal, di mana berada pun kami belum lagi tahu,” masih ada suara keberatan.

Agil telah tahu apa yang bisa ia lakukan di sini. Ia telah datang dengan persiapan. Bila pun mereka tak bersedia turut, ia akan jalan sendiri. Lalu katanya, “Bapak, kita besok berbuat baik saja pada jenazah yang ada, mungkin di jalan kita menemukan keluarga kita. Seandainya tidak, barangkali bila kita berbuat baik pada jenazah orang lain, jenazah keluarga kita diperlakukan baik oleh orang lain yang menemukan.”

Saya tak pernah melupakan kutipan ini. Mungkin tak sama persis. Tapi, kalimat itulah yang membuat percakapan telepon kami terhenti untuk beberapa saat. Saya merasa harus memberi hormat padanya saat itu. Nyatanya bukan hanya saya. Lelaki-lelaki di sekitar api itu tergerak pula. Nanti selepas subuh, mereka sama-sama bersiap. Membagi sarapan dan kemudian sarung tangan serta masker.

Mulanya mereka berenam, Agil dan lima lelaki. Siang nanti bergabung lagi satu-dua orang. Senja bertambah. Malam mereka kembali dan saling bercerita dengan yang lain. Pagi berikutnya, rombongan kecil Agil bertambah menjadi belasan. Mereka bergerak. Agil juga berpindah tempat. Ia mendatangi kumpulan di depan api kecil lain, dan mengajak mereka. Hingga persediaannya habis. Masker yang ia bagikan dan sarung tangan bisa dicuci hingga beberapa kali. Tapi kantong untuk mayat tuntas terpakai.

Esok, ia berniat mencari persediaan kantong mayat di posko bantuan yang telah dibangun. Ia juga berniat memberi tahu keberadaannya kepada orang tua. Utamanya kepada ibu. Malam itulah, ketika ia mencari listrik untuk mengisi baterai telepon, bertemu Nur Safri. Lalu kami berbicara, Jakarta-Banda Aceh. Dan tak pernah bertemu muka. Itu suara pertama dan terakhirnya yang saya dengar. Barangkali hanya sejam lebih sedikit.

Oriza, nama ketiga, saya berbicara dengannya lebih dari dua jam. Di sebuah salon di Banda Aceh di pekan-pekan pertama darurat militer 2003. Sekali itu dan tak pernah berjumpa lagi. Jaka Rasyid yang bersama saya ketika bertemu Ori, memberi tahu bahwa daerah tempat tinggal perempuan itu termasuk yang paling parah. Tak ada rumah yang selamat.

Tak jauh dari kediamannya, sebuah kapal pembangkit listrik tenaga disel (PLTD) Apung seberat 2.600 ton terseret ombak dari laut ke darat. Ke tengah pemukiman.

Saya tak yakin hari Minggu, 26 Desember itu, ia bangun siang seperti Taufan. Tapi saya tak mendengar namanya lagi. Hanya kisah yang ia tuturkan yang saya ingat dan catat. Barangkali suatu hari dapat saya susun kembali. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s