Pahlawan

| Kepada Gus Dur

Pahlawan nasional tidak banyak jumlahnya. Biasanya diberikan tiap tanggal 10 Nopember, memperingati hari pahlawan. Sampai tahun 2009, jumlah pahlawan nasional ada 149 orang. Mungkin karena gelar ini terlampau prestise dalam suatu negara. Gelar pahlawan terakhir diberikan kepada Laksda TNI (purn) Jahja Daniel Dharma (John Lie), Herman Johanes dan Achmad Subardjo, November tahun lalu.

John Lie adalah perwira TNI AL yang menyelundupkan senjata untuk tentara Indonesia dalam perang 1946-1949. Jenderal AH Nasution menyebut John Lie sebagai panglima armada yang berada pada puncak krisis eksistensi republik, misalnya saat operasi terhadap RMS, PRRI dan Permesta.

Herman Johannes adalah lulusan Technishce Hogeschool (THS) Bandung, pernah berkarir di bidang militer. Suatu kali pada mempertahankan kemerdekaan, ia diminta membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI, karena pemerintah Indonesia saat itu sedang mengalami krisis persenjataan. Laboratorium yang kemudian dibangun di Sekolah Menengah Tinggi Kotabaru itu selama perang kemerdekaan berhasil memproduksi bermacam bahan peledak, seperti bom asap dan granat tangan. Ia terlibat dalam berbagai penyerangan termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949.

Achmad Soebardjo sejak mahasiswa aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia bergabung dengan organisasi kepemudaan seperti Jong Java dan Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Belanda. Ia merupakan anggota delegasi Indonesia pada Kongres Anti Imperialis di Belgia dan Jerman. Pulang ke Indonesia, Soebardjo aktif dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah Indonesia merdeka, Achmad Soebardjo diangkat menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Presidensial periode 19 Agustus 1945-14 November 1945 dan kembali menjabat Menteri Luar Negeri pada Kabinet Sukiman-Suwirjo periode 1951-1952.

Negara tidak main-main menganugerahkan gelar pahlawan. Ahli sejarah dilibatkan untuk menentukan nama-nama tersebut. Seorang Belanda yang mendapat anugerah pahlawan nasional adalah Ernest Douwes Dekker (Setiabudi). Mungkin suatu saat kelak anugerah serupa bisa diberikan kepada HJC Princen (Pongke), seorang tentara KNIL yang membelot untuk membela Indonesia dan hingga akhir hayatnya, tahun 2002, menjadi pejuang hak azasi manusia dan demokrasi. Pemerintah Soeharto pernah menjebloskan ia ke penjara karena dituduh terlibat Malari 1974.

Negara memang tidak boleh main-main menganugerahkan gelar pahlawan nasional. Barangkali karena tidak main-mainnya, Bung Tomo yang dikenal pada peristiwa 10 Nopember di Surabaya, baru diberi gelar pahlawan nasional pada 2008. Ia pun menjadi satu-satunya pahlawan nasional dari Surabaya, meski—sekali lagi—tanggal 10 Nopember ditetapkan sebagai hari pahlawan dengan merujuk pada keberanian di palagan yang terjadi di Surabaya.

Soekarno dan Hatta, tahun 1986 ditetapkan pemerintah Soeharto sebagai pahlawan proklamasi. Istri Soekarno, Fatmawati, baru pada pemerintah Abdurrahman Wahid mendapat gelar pahlawan nasional, tahun 2000.

Agaknya, anugerah pahlawan ialah keputusan politik. Ada sertifikasi, ada stempel resmi, dan melalui suatu sidang-sidang. Mereka yang dianggap “bertentangan” dengan pemerintah hari ini, diakali tak masuk dalam daftar. Jarang terjadi—terutama pada masa Orde Baru—contoh seperti diteladankan Soekarno yang memberi gelar pahlawan nasional kepada Tan Malaka kendati secara politik dianggap saling berlawanan. Tan Malaka sendiri dibunuh dalam masa menegakkan kekuasaan Soekarno.

Pengertian pahlawan di mata negara memang berbeda dengan pengertian pahlawan bagi banyak orang. Bagi banyak orang, pahlawan adalah para pemberani yang menyuarakan kebenaran bahkan di saat bersuara adalah subversi. Pahlawan adalah mereka yang sadar bahwa risiko akibat perjuangannya bisa jadi nyawanya terenggut, tapi tetap bersikukuh. Pahlawan adalah penerbit harapan ketika pasrah dan putus asa menjangkit mayoritas orang.

Kita punya sederet nama untuk ini: Pongke, SK Trimurti, Yap Thiam Hien, Oei Tjoe Tat, Soelami dan ibu-ibu Gerwani lainnya, Munir, juga Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tetapi tidak untuk Soeharto. Ia tidak membangkitkan keberanian apapun malah menciptakan ketakutan. Ia memimpin serangkaian teror kepada warga negara, memenjarakan warganya, bukan memimpin suara kebenaran. Ia pembunuh harapan, termasuk membunuh dalam pengertian sebenarnya secara fisik.

Ia memiliki peran (role), tentu saja, selama memimpin Indonesia (dengan tangan besinya). Ia memimpin sejumlah pembangunan yang kerapkali karenanya kepentingan dan aspirasi sebagian petani dipinggirkan. Demi swasembada pangan, kita tahu petani kemudian diwajibkan menanam varietas padi tertentu tanpa memedulikan kebiasaan bertani dan keadaan tanah yang akibatnya merusak dalam revolusi hijau. Ia menciptakan golongan-golongan kaya dengan cara nepotis dan korup dalam rangka memenangkan angka pertumbuhan ekonomi yang didasarkan, diantaranya, kepada kemampuan menyerap impor dan daya beli.

Soeharto berperan besar pada perkembangan (juga kebangkrutan) negeri ini, dan tak ada yang membantah itu. Tapi kita tahu, pahlawan lebih dari itu. Pahlawan ialah orang-orang yang bahkan berani keluar dari sekadar panggilan profesinya (role) demi menuruti panggilan kemanusiaannya. Pada pengertian ini, kita mengenal Gus Dur menggunakan kekuasaannya ketika menjabat presiden, untuk memenuhi panggilan kemanusiaan. Ia pun melampaui keterbatasan fisiknya untuk tetap bersuara tentang kebenaran, menentang ketidakadilan, hingga akhir hayat.

Maka, Gus Dur, adalah pahlawan di hati kita. Dengan atau tanpa sertifikasi negara. Seperti serangkaian nama lain: Pongke, SK Trimurti, Yap Thiam Hien, Oei Tjoe Tat, Soelami dan ibu-ibu Gerwani lainnya, Munir, dan sederet nama yang selalu menjaga kita agar tetap berani dan memelihara harapan. Bagi mereka tak diperlukan keputusan politik, melainkan keputusan sanubari, yang sudah dimaklumatkan dalam hati dan ingatan kita.

Presiden SBY, maaf kami mendahului Anda. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s