Hikayat Dendam

— Film Law Abiding Citizen

Clyde Shelton (diperankan Gerard Butler) tidak membutuhkan pengacara ketika menghadapi dakwaan pembunuhan. Pada sesi peradilan pertama, ia meminta hakim Laura Burch (Annie Corley) menangguhkan penahanannya ketimbang memenuhi permintaan Jaksa Wilayah Philadelphia, Nick Rice (Jamie Foxx). Katanya, tidak ada satu bukti yang meyakinkan bahwa ia melakukan pembunuhan kendati peristiwa itu terjadi di salah satu propertinya. Ia pun seorang yang patuh pada hukum dan belum pernah memiliki catatan kriminal. Hakim Burch kemudian meluluskan permintaannya untuk bebas tanpa jaminan.

Apa yang kemudian disampaikan Clyde mengundang marah Hakim. Clyde mengecam keputusan hakim yang dengan gampang membebaskan dia karena mestinya kepada seorang pembunuh hakim mestinya memikirkan secara mendalam berdasar keadilan publik. Clyde kemudian mengkritik sistem hukum Amerika (dan sesungguhnya sistem hukum di banyak tempat). Ia pun kemudian dimasukkan ke penjara karena menghina pengadilan.

Clyde fasih terhadap cara hukum bekerja. Ia telah 10 tahun mempelajari secara detil berbagai yurisprudensi. Bukan tanpa alasan. Di peradilan dengan hakim yang sama, 10 tahun lalu, seorang jagal istri dan anaknya, hanya dihukum 5 tahun karena negosiasi Jaksa Nick Rice.

Pada suatu malam, 10 tahun sebelumnya, Clarence Darby menghantamkan tongkat baseball ke muka Clyde bersama temannya, Rupert Ames. Mereka menjarah rumah Clyde. Tak puas dengan hasil jarahan, Darby memerkosa istri Clyde lalu menikamnya. Di telinga Clyde, Darby berujar, “takdir tak bisa dihindari.” Sang anak yang menyaksikan peristiwa itu tak luput dari tangan keji Darby.

Kalimat “takdir tak bisa dihindari” diucapkan juga oleh Darby ke telinga Nick Rice seusai hakim mengetukkan palu sidang.

Di peradilan itu, Darby luput dari hukuman mati karena ia bersedia negosiasi dengan Jaksa Nick Rice untuk bersaksi memberatkan kawannya, Ames. Jadilah, Ames yang mendapat putusan hukuman mati setelah ditahan 10 tahun. Clyde yang merasa proses itu tidak wajar dan tidak adil harus menghadapi kenyataan seperti dinyatakan Nick bahwa negosiasi semacam ini wajar dalam hukum Amerika. Sebab, “tidak ada bukti yang meyakinkan untuk menghukum Darby, karena Ames menolak bekerjasama (dengan penuntut umum).”

Kelak, di depan Nick Rice, Clyde mengungkapkan kalimat yang sama, “kau tak punya bukti untuk memenjarakan aku.”

Sudah bisa ditebak bahwa Clyde menyimpan dendam akibat ketidakadilan pengadilan Amerika. Nick Rice hanyalah jaksa penuntut yang mementingkan prestasi memenjarakan orang, dengan rekor keberhasilan 96 persen. Hukum mestinya memberikan keadilan, begitu benak Clyde (dan benak kebanyak awam di dunia).

Tetapi, film ini menyuguhkan suatu aksi balas dendam yang luarbiasa. Saat hukuman mati terhadap Ames tiba, 10 tahun sesudah peristiwa pembunuhan, Nick Rice datang dan mendapati bahwa proses kematian itu terjadi sangat menyiksa. Ini berbahaya karena bisa dianggap menyalahi konstitusi AS yang melarang hukuman mati secara kejam.

Dari penyelidikan terhadap peralatan hukuman mati ditemukan sebuah botol dibubuhi tulisan dengan spidol, “takdir tak dapat dihindari.” Nick pun merasa tahu siapa yang melakukan sabotase terhadap proses eksekusi terhadap Ames. Tudingannya kepada rekan Ames, yakni Darby.

Saat hendak menyergap Darby, di kamarnya sang penjahat yang telah bebas itu menerima tilpun dari seorang tak dikenal memberitahu bahwa polisi tengah mendatangi rumahnya, dan ia akan sangat dihukum berat karena tengah bersama seorang pekerja seks dan baru mengonsumsi kokain. Darby yang panik lalu lari keluar apartemennya dan menembakkan pistol ke arah mobil polisi. Ia mematuhi perintah “penolongnya” yang memandu lewat tilpun untuk lari ke arah sebuah pabrik tua. Di situ sudah ada satu mobil polisi yang diisi satu personil yang telah dilumpuhkan. Darby lalu membangunkan sang polisi dan memaksanya pergi sejauh mungkin. Di dekat sebuah sungai, mobil di parkir dan Darby berniat membunuh sang aparat, namun saat pelatuk ditarik, ia langsung kaku. Sang polisi itu lalu membuka jati dirinya: Clyde Shelton.

Tubuh Darby telah dimasuki racun yang melumpuhkan tubuhnya namun tetap dapat merasakan sakit. Toksin itu melesak ketika picu pistol ditekan. Ia lalu dibawa ke sebuah gudang dan dimutilasi. Rekaman mutilasi dikirimkan Clyde yang mengenakan topeng ke rumah Nick Rice dan ditonton oleh putrinya.

Nick Rice yang yakin bahwa sabotase eksekusi Ames dan pembunuhan terhadap Darby dilakukan Clyde bingung bagaimana membuktikannya. Ini kasus berat. Tak ada alat bukti, kecuali peristiwa itu terjadi di salah satu properti yang dimiliki Clyde.

Dan Clyde pun melecehkan habis-habisan sistem peradilan yang keok bila berhadapan dengan “orang jahat yang cerdas”. Seperti adegan di peradilan tadi. Nick pun ia pancing untuk bernegosiasi. Apa yang ditawarkan Clyde? Kebebasan? Hukuman ringan? Nick sudah bersiap untuk menawar beberapa kemungkinan yang lazim. Tapi Clyde hanya minta satu spring bed untuk ditaruh di selnya. Hahaha….

Setelah permintaan ini dikabulkan, Clyde tak berhenti mengejek. Ia mengajukan satu tawaran lagi. Terang Nick menolak karena menurutnya sudah tidak ada negosiasi lagi, giliran Clyde kini memberikan pengakuan. Tapi, Clyde dengan tenang berujar, “keselamatan Bill Reynolds pasti seimbang dengan permintaannya.”

Bill Reynolds adalah pengacara Darby di masa lalu. Nick mengontak rumah Bill dan menerima informasi dari istri Bill yang menyatakan suaminya sudah 3 hari tidak diketahui keberadaannya. Ia yakin ancaman Clyde tidak main-main. Tapi, lagi-lagi permintaan Clyde hanya sekadar ejekan. Ia meminta steak dari restoran dikirimkan ke selnya sebelum pukul 13.00 atau nyawa Bill tak tertolong. Meski dikabulkan, karena keterlambatan pesanan, nyawa Bill pun telat ditolong.

Di dalam sel, Clyde membunuh kawan satu selnya hingga harus dipindahkan ke sel khusus. Tapi, semua tindakan Clyde itu strategi belaka. Clyde ialah seorang ilmuwan dan penasihat khusus dalam beberapa operasi intelijen Amerika. Menurut penuturan seorang “deep throat”, tak ada cara lain untuk menghabisi Clyde kecuali masuk ke selnya dan meletuskan pistol di kepalanya.

Pada gilirannya, Nick Rice. Jaksa Wilayah dan Kepolisian Philadelphia dibikin bingung bagaimana Clyde menjalankan aksinya. Pelipis Hakim Laura Burch bolong saat menerima panggilan di telepon selulernya di depan Nick dan Jaksa Wilayah; mobil yang dikendarai Jaksa Wilayah dibom oleh sebuah peluncur yang digerakkan dengan remote control; beberapa mobil jaksa dan polisi meledak dan menewaskan pengemudinya di depan penjara. Semua berlangsung di depan mata Nick Rice.

Ia pun lalu menduga bahwa Clyde memiliki komplotan. Dugaan yang sangat keliru karena kenyataannya semua aksi itu dirancang dan dilaksanakan oleh Clyde seorang diri. Sekali lagi: sebuah aksi balas dendam yang mengundang kekaguman.

Tapi film ini bukan sekadar menyodorkan pertanyaan, “bagaimana Clyde menyabot eksekusi terhadap Ames?” atau bagaimana meledakan mobil, meletuskan peluru dari telepon seluler hakim sedangkan ia berada di dalam penjara, di sel khusus pula?

Lebih dari itu, film ini menggugat cara kerja hukum. Peradilan setelah berlangsung selama ribuan tahun ternyata bekerja dengan logikanya sendiri yang cenderung matematis dan menjauh dari nalar keadilan. Tanpa menyogok atau menyuap aparat hukum pun sesungguhnya peradilan (dan sistem hukum secara keseluruhan) dapat membuat penjahat bebas dari hukuman atau dihukum ringan.

Di Indonesia, hukum berulang kali memperlihatkan kegagalannya untuk menyeret pembunuh Munir, misalnya. Atau bertangan keji terhadap Nenek Minah tetapi tumpul berhadapan dengan koruptor yang bisa menyewa pengacara mahal. Hukum bisa dikadali untuk memenjarakan dua pimpinan KPK tapi terengah-engah untuk mengganjar perwira polisi yang menerima suap. Hukum juga gagal memberi keadilan bagi korban pelanggaran HAM yang terjadi sejak 1965 hingga hari ini.

Di Indonesia, hukum bisa menunggu penyelenggaraan pilpres dengan menunda kasus Prita Mulyasari dan baru memberinya hukuman setelah yakin tak ada tokoh nasional yang memberi dukungan. Hukum di Indonesia (juga di banyak negara) berjalan dengan logika yang menjauh dari keadilan. Law Abiding Citizen menggugatnya.

Film ini menggugat tanpa menghadirkan klise. Jaksa Nick Rice bukanlah jaksa korup yang mungkin disuap. Ia hanya seorang profesional yang mengejar indeks prestasi demi karir. Pada titik inilah gugatan itu bebas dari klise. Aparat hukum ternyata bukan saja tidak boleh korup, mereka pun dituntut mementingkan keadilan segala kepentingan. Bukan saja kepentingan politik atau kelompok. Di atas segalanya, berarti juga: di atas “nama harum”.

Clyde Shelton ialah warga yang taat dan mafhum hukum. Dan Philadelphia kehilangan akal ketika Clyde Shelton berjalan di antara pengetahuannya tentang hukum dan “kejahatan” pembunuhan. Film ini menjadi hikayat tentang pembalasan dendam terhadap ketidakadilan. []

One thought on “Hikayat Dendam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s