Film Balibo

Pagi, 8 Desember 1975, Mayor Jenderal Leonardus Benyamin Moerdani mendarat di Dili, Timor Leste, dengan menumpang Twin Otter. Ia baru memimpin badan intelijen setelah ditarik dari Seoul, Korea Selatan, menggantikan Ali Moertopo yang tersingkir pasca peristiwa Malari 1974. Perwira inilah yang memimpin operasi intelijen dan penyerangan ke Timor Leste dengan sandi “operasi Seroja”. Operasi yang konon dilakukan diam-diam bahkan tanpa sepengetahuan Menhankam/Pangab Surono hingga mendekati hari penyerbuan. Sepengetahuan Surono, operasi yang tengah digelar di Timor Leste dikenal dengan nama Operasi  Komodo di bawah komando Operasi Khusus (Opsus) Ali Moertopo.

Dari Bandara, Moerdani yang berpakaian safari dikawal pasukan intelijen bersenjata lengkap masuk ke Kota Dili. Pasukan yang mengawal Moerdani dipimpin oleh Kapten (Inf) Nurdin. Tiga wartawan Indonesia meliput kedatangan Moerdani ini: Djumaryo, Ucin Nusirwan dan Saleh Kamah. (lihat: http://www.unsw.adfa.edu.au/hass/Timor/3/murdani/index.html)

Di Dermaga Dili, ia bertemu dengan Kolonel Dading Kalbuadi. Saat invasi militer Indonesia dilakukan dengan skala penuh, 7 Desember 1975, Dading Kalbuadi adalah komandan intelijen. Ia dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap orang-orang sipil di perbatasan Timor Leste – Indonesia, sejak bulan Oktober 1975, termasuk terhadap 5 jurnalis asal Australia yang meliput di perbatasan. Kisah kelima jurnalis inilah yang menjadi sentral film Balibo Five (sutradara Robert Connolly).

Operasi penyerangan dan upaya menciptakan gangguan di perbatasan itu dimotori oleh tiga tim Kopassandha (kini bernama Kopassus) yang diberi sandi nama perempuan: Tim Susi, Tim Tuti dan Tim Umi. Tim Susi dipimpin oleh Mayor (Inf) Yunus Yosfiah atau dalam komunikasi bersandi disapa: Mayor Andreas. Dalam film Balibo Five, Yunus Yosfiah berpakaian preman warna coklat dan bertopi coklat dengan memegang senapan laras panjang, rambutnya gondrong. (Lihat foto 1)

Sebuah karya investigasi atas kematian lima wartawan itu dipublikasi Jill Jollife (koresponden untuk sejumlah media internasional: The Guardian, BBC, Sidney Morning Herald), tahun 2001, dalam “Cover Up, The Inside Story of the Balibo Five”. Buku itu mengungkapkan lima wartawan Australia: Gary Cunningham, Gregory Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters dan Malcolm Renie, dibunuh lantaran pesan Benny Moerdani kepada Dading Kalbuadi setelah mengetahui ada wartawan asing di perbatasan. (Dalam film yang menyesuaikan seragam kala itu, Dading menggunakan topi koboi dengan pakaian a la pemburu. Lihat foto 2)

Dading Kalbuadi mengaku berada di markas operasi, 10 km dari tempat kejadian. Dia terbang dengan helikopter ke Balibo setelah Balibo dikuasai.

We can’t have any witness,” kata Moerdani.

 

“Don’t worry!” jawab Dading Kalbuadi.

 

Dan hasilnya: 16 Oktober 1975, empat wartawan itu ditembak dalam jarak dekat, satu orang ditusuk bayonet, lalu kepada mereka dipakaikan seragam militer Fretilin, difoto sebagai “bukti” bahwa mereka termasuk bagian dari pasukan lawan, kemudian dibakar di sebuah toko di kota Balibo itu.

Film Balibo mendasarkan kepada banyak dokumen tentang pembunuhan terhadap Cunningham dan kawan-kawan. Termasuk upaya investigasi pertama yang dilakukan oleh wartawan senior Australia (bekerja untuk AAP dan Reuters), Roger East, sebulan setelah kematian mereka. Roger datang atas paksaan (dalam film) Jose Ramos Horta yang kala itu menjadi Sekretaris Luarnegeri Fretilin. (lihat foto 3)

Ramos Horta dan Oscar Isaac.

Film yang dibintangi Anthony Lapaglia (Roger East) dan Oscar Isaac (Jose Ramos Horta)—foto 3—diproduksi semi dokumenter dengan pendekatan semirip mungkin situasi Timor Leste tahun 1975, termasuk seragam loreng tentara yang digunakan, pakaian Benny Moerdani, Dading Kalbuadi, dan Yunus Yosfiah. Film ini gagal lolos sensor Lembaga Sensor Film (LSF), konon akibat ketidaksetujuan militer Indonesia terhadap pemutarannya, diantaranya untuk pembuka acara Festival Film Internasional di Jakarta (Jiffest) 2009.

Kata “sayang sekali” tentu tidak tepat untuk merespon pelarangan film ini. Lebih tepat adalah: bodoh dan arogan. Film ini, bersama-sama buku Jollife dan sejumlah karya jurnalisme investigasi lain merupakan sumber sejarah untuk menggali ingatan terhadap Indonesia di masa lalu. Indonesia (melalui militernya) yang kejam terhadap rakyat Timor Leste, tetangga kita itu.

Film ini juga mengoreksi kesalahan masa lalu Australia yang tidak bereaksi atas kematian warganegaranya karena menyokong invasi Indonesia ke Timor Leste. Bahkan suatu penyelidikan resmi tahun 1999 yang dipimpin bekas Kepala National Crime Authority Australia, Tom Sherman menyimpulkan: tidak menemukan bukti pembunuhan terhadap kelima jurnalis. Ia hanya menuduh Indonesia telah membakar tubuh mereka lantaran ingin menghancurkan semua bukti kesalahan kematian mereka dalam baku tembak.

Suatu kesimpulan berbeda diberikan untuk pembunuhan terhadap Roger East yang ditembak dan diterjunkan ke laut pada 8 Desember 1975. East ditangkap sehari sebelumnya saat militer Indonesia masuk kota Dili. East dieksekui di dermaga Dili, saat Benny Moerdani datang menginspeksi situasi, menemui Dading Kalbuadi. (lihat foto 4).

Benny Moerdani di Dermaga Dili. Di sebelah kirinya Roger East berada dalam kekuasaan militer Indonesia.

Tentang pembunuhan East, Sherman berkesimpulan: pembunuhan terjadi dalam jarak dekat dan didukung oleh keterangan dari dua saksi mata. Roger East, demikian kesimpulan Sherman, dieksekusi oleh tentara Indonesia yang tidak dikenal pada pagi hari 8 Desember 1975, di Dermaga Dili.

Tentu bodoh melarang film ini diputar. Dan arogan. Lebih dari “sayang sekali” ketika film ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas seperti di Teater Utankayu, 3 Desember kemarin. Film ini layak beredar di bioskop-bioskop Indonesia seperti juga “Air Terjun Pengantin”, “2012”, “Law Abiding Citizen”, atau “Ninja Assassin”. LSF (dan militer Indonesia) harus makin paham bahwa Balibo adalah sebuah film. Dokumenter, semi dokumenter, based on true story, merupakan klaim. Dan atas sebuah klaim, sepanjang bisa diverifikasi, diperiksa sumber-sumbernya, bukanlah karya fitnah apalagi main-main.

Kelemahan film ini—bila dicari-cari—adalah kurang memaparkan kondisi tentang “ketidakpedulian” pemerintah Australia terhadap nasib warganya demi politik luarnegeri mereka. Dalam film, ketidakpedulian ini hanya tergambar dalam dialog Roger East dengan Horta yang ditampilkan seperti kurang makan (karena mengambil makanan East terus menerus).

Buat apa melarang?

6 thoughts on “Film Balibo

  1. Indonesia buat film tahun 1975 bagaimana timor timur dijajah portugis, apa yg diharapkan dr penjajahan dan bgmn ketakutan Australia thd timor timur dikuasai komunis. AS meminta Indonesia membebasan Timor timur dr penjajahan komunis oleh NKRI. Juga hrs dibuat agar tahu masyarakat timor timur, Australia berkeinginan utk memutus dominasi Indonesia melalui HAM sdg kan Australia pelanggar HAM suku Oborigin.

  2. @Sugianto: Sayang sekali saya belum menonton film yang Bung maksud. Di masa lalu–juga pada tahun-tahun berikutnya–Australia dan AS memang seperti gumun. Di film ini ditunjukkan juga secara proporsional.

    Boleh dong menonton filmnya bila Bung memiliki salinannya.

    Trims.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s