Satu untuk Satu

Kalau satu orang kaya dermawan membantu satu orang miskin, problem kemiskinan Indonesia sedikit teratasi.

Ibu Suaebah, wafat 9 Maret 2009 karena kanker payudara tanpa operasi.

Ibu Suaebah, wafat 9 Maret 2009 karena kanker payudara tanpa operasi.

VIDEO “Untukmu Terkasih” ini dirilis di Youtube pada 16 April silam. Sebulan lebih setelah salah satu karakter dalam video yang diarahkan Anggy Umbara ini meninggal dunia. Ia, Ibu Suaebah, wafat oleh dua perenggut nyawa paling tragis: kemiskinan dan kanker payudara, 9 Maret 2009. Kepada perempuan beranak gizi buruk ini, video Iwan Fals (Untukmu Terkasih) didedikasikan.

Ibu Suaebah belum terlalu tua. Lebih tua Mak Sum, karakter lain, yang tinggal di kolong jembatan. Tangan kanan Suaebah membesar akibat kanker akut yang bersarang di payudaranya. Salah seorang anak Suaebah yang hadir dalam video itu, nyaris sama besar dengan lengan kanan Suaebah saking cekingnya. Tak ada gizi dikonsumsi anak yang tengah tumbuh itu.

Lirik Untukmu Terkasih ditulis Fajar Budiman pada suatu sore yang cerah di Cipeucang, Cileungsi, Bogor, 2008. Lirik itu ia kirim melalui layanan pesan singkat (SMS) ke Iwan Fals yang tengah konser di luar Jawa. Balasan Iwan, “Wah lirik lagumu itu bikin kepalaku cenut-cenut.”

Ketika akhirnya Iwan menggelar konser di rumahnya, lagu itu ia bawakan dengan gitar akustik. Lalu dikenalkan lewat situs resmi Iwan Fals. Pemirsa televisi mengenalinya pertama kali lewat program Musik Special Iwan Fals di Trans7, 14 Maret 2009. Ibu Suaebah belum seminggu meninggal ketika itu.

Penyajian video-nya sederhana. Menampilkan kontras kaya-miskin diimbuhi kutipan kisah para karakter. Kemiskinan ditampilkan buram lengkap dengan warna hitam putih, sedangkan kelas kaya dibalut warna. Sungguh sederhana, tapi mengundang tangis.

Kita jadi tahu bahwa kemiskinan itu tidak main-main dan bukan sengaja ditampilkan dramatis agar menggugah. Anggy melengkapi gambar dengan teks-teks pendek:


Rakyat Indonesia yang masih berada di bawah garis kemiskinan mencapai 34.717.500 jiwa.

Ipang (16), Pengemis – menderita kelumpuhan sejak lahir, tak pernah mendapat pengobatan yang layak karena tak memiliki biaya.

Fitriani (7), Menderita kelumpuhan sejak usia 6 bulan, akibat gizi buruk.

Alm. Ibu Suaebah, menderita kanker payudara akut.

Tidak jauh dari rumah megah ini terdapat 40 keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Di ujung jalan dekat sekolah, ada 15 anak jalanan yang tidak bisa bersekolah karena tak memiliki biaya.

Bersamaan dengan pesta ini berlangsung, belasan saudara kita meninggal dunia akibat kelaparan dan gizi buruk.

Jika saja tiap 1 orang berpunya mau membantu 1 orang tak berpunya, niscaya kemiskinan dinegeri ini bisa teratasi.

Kalimat terakhir itulah kunci dari pesan yang ingin disampaikan Fajar Budiman dan Iwan Fals. Saat mengenalkan lagu ini di Trans7, Iwan mengatakan, “Berapa orang miskin di Indonesia? 40 juta? 30 jutaan? Kalau 40 juta dermawan membantu satu orang saja, kemiskinan beres. Kalau zakat dilaksanakan, beres.”

Satu untuk Satu, pesan Iwan. “Satu orang punya kepada satu orang tak berpunya.” Barangkali hari ini kita mulai dulu dengan satu tetes airmata setelah menonton vidoe Anggy Umbara. Besok kita mulai mendekati ‘satu’. Bila mulai lupa, kembali lagi saja ke sini atau Youtube.[]

Untukmu Terkasih

Lirik: Fajar Budiman

Lagu: Iwan Fals

Kasih,

ketika hati, rasa dan jiwa

serta apa saja yang tersembunyi di dada ini

mulai tergetar

karena keindahan matamu

karena kelembutan senyummu

karena taburan kasihmu

justru bayangmu semakin sulit kurengkuh

sementara

gelombang rindu

gelombang kasih sayang terus mengalir

bagai air dimusim penghujan

bagai gelombang samudera

yang mengguncang pantai kehidupan

hmm…

kasih ini nyanyian cinta untukmu

yang entah ada dimana kini

biar engkau mengerti apa yang terjadi

dalam hidupku

kabut sunyi mulai merayap dihati

bayangmu semakin sulit kucari

aku tak tahu harus berbuat apa

angin dan burung-burung pun membisu

ketika kutanya tentangmu, tentang getaran hatimu

tentang apa saja yang bertalian dengan jiwamu

kabut sunyi mulai merayap dihati

bayangmu semakin sulit kucari

aku tak tahu harus berbuat apa

angin dan burung-burung pun membisu

ketika kutanya tentangmu, tentang getaran hatimu

tentang apa saja yang bertalian dengan jiwamu

oohhh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s