Perkawinan di Revolutionary Road

RR

“SETIAP orang mengenal kebenaran, seberapa lama pun hidup tanpanya, tak ada yang pernah melupakan. Orang hanya makin pandai berdusta.”

Perkawinan menjadi lembaga pemulia dusta itu. Setidaknya bagi April Wheeler (Kate Winslet). April mengingatkan suaminya, Frank Wheeler (Leonardo DiCaprio), pada pertengkaran mereka di suatu malam di musim panas pertengahan 1950. April tengah mengepak buku-buku, bersiap memulai kehidupan baru di Paris sesuai rencana suami-istri beranak dua ini. Meninggalkan Connecticut, AS, meninggalkan tetangga dan pekerjaan Frank yang membosankan di Knoxx meski bergaji cukup besar.

April telah menghitung, uang tabungan mereka cukup untuk memulai hidup baru bahkan tanpa pekerjaan di Paris selama 6 bulan. Masak dalam 6 bulan di kota itu bakal tak dapat pekerjaan? Begitu optimistis April. Ia pun menyarankan Frank tak perlu memikirkan pekerjaan, biar ia yang mencari uang bagi keluarga, dan Frank berkonsentrasi pada apapun yang ingin ia lakukan: menulis atau menghasilkan karya lain.

Tahun-tahun perkawinan di Connecticut telah dilewati dengan amat sangat kering. Frank harus pergi memarkir mobil di stasiun kereta api dan melanjutkan dengan transportasi publik itu ke kota saban pagi, pulang sore hari. April sedari bangun menjalani rutinitas rumahan. Di manapun tempat berbagi (publik dan domestik) yang tercipta ialah rutinitas untuk entah. Seks pun sebatas keharusan karena mesti ada yang dimuncratkan dari dalam tubuh. Begitupun perselingkuhan, menjadi salah satu babak yang harus dilewati tatkala adegan mengalir lambat dan monoton. Hidup tiba-tiba teramat mekanis, dan karenanya—bagi April—tak lagi manusiawi.

Pada titik itulah muncul gagasan: harus ada yang berubah. Setelah perkawinan itu mengubah mereka duluan, dari April yang aktris panggung ke ibu rumahan dan Frank yang penuh gagasan menjadi penjual barang meski berkantor di gedung berlantai 15. Eksistensi mereka nyaris pupus oleh dan dalam perkawinan. April mengusulkan Paris menjadi kota baru mereka memulai hidup yang lebih manusiawi: bergairah, spontanitas, dan berkarya, bukan sekadar bekerja.

Tapi, April hamil. Persis ketika kekeringan baru ditetesi rinai dan keluarga itu tengah membanggakan keberanian mereka pindah ke Paris kepada tetangga dan teman-teman kantor Frank. Meski orang Eropa hamil dan punya anak, namun Frank berpikir kepindahan ke Paris harus dibatalkan. Ia menghitung angka-angka. Apalagi tabungan mereka hanya cukup untuk 6 bulan. Frank mengulangi keputusan yang pernah terjadi ketika kehamilan anak pertama: menyingkirkan peluang mengeksplorasi eksistensi. Keputusan yang membawa mereka ke Revolutionary Roaddi daerah sub-urban Connecticut. Ia memilih mengambil promosi jabatan yang diberikan Knoxx, karena anak ketiga berarti biaya baru. Bagi April itu berarti menyingkirkan kebenaran. Memiliki atau tidak memiliki anak mestinya menjadi pilihan yang bukan kemutlakan.

“Sampai dengan minggu ke-12, masih aman,” ujar April meyakinkan Frank agar kandungannya diaborsi. Masih ada 2 minggu bagi mereka untuk mengambil keputusan.

Frank belum lagi setuju, namun malam itu ia menemukan alat aborsi telah dibeli April. Paris dan peluang eksplorasi eksistensi (kebolehan yang mendapat tempat terhormat dalam humanisme) lebih penting ketimbang janin yang “masih boleh” dihilangkan dari rahim April. Berbeda dengan April yang telah teguh dengan pilihan moralnya, Frank berdiam kaku di persimpangan.

Pada gilirannya, kegagalan mengikuti “kebenaran” yang dianjurkan April berbayar mahal. April meninggal akibat perdarahan setelah mengaborsi sendiri kandungannya. Pagi itu mereka baru menikmati “sarapan terhebat sepanjang perkawinan” (seperti istilah Frank).

Revolutionary Road (2008) arahan sutradara Sam Mendes menyodorkan fakta tentang potensi hilangnya satu nilai dasar hubungan manusia oleh perkawinan: kebebasan. Barangkali juga hasrat. Tak banyak kebebasan bisa ditempuh atau nyaris tak ada kebebasan memilih dalam perkawinan. Lembaga yang terbentuk pasca-perkawinan—rumah tangga—memiliki code of conduct yang nyaris tak bisa ditawar oleh pesertanya.

Sesungguhnya sedari awal manusia (dewasa) tak memiliki banyak pilihan. Mula-mula jatuh cinta, menikmati situasi berdua, rasa kangen, berkasih-kasihan, lalu mengidamkan pelanggengan. Konon agar kesucian cinta itu terjaga dan permanen. Jalurnya terkesan linear. Tapi, satu hal yang selalu dilupakan (sehingga jutaan pasangan terjatuh) ialah fakta bahwa tiap-tiap institusi memiliki kompleksitas masalah. Nyatanya, membangun institusi itu yang selalu terpikir orang.

Frank dan April menyadari belakangan bahwa perkawinan ialah model lembaga paling “tricky” yang pernah dibentuk manusia untuk membelenggu hasrat kemanusiaannya sendiri. Dua manusia secara sukarela—bahkan keluar uang banyak—untuk menyerahkan diri kepada pembelenggunya. Inilah paradoksal cinta: mula-mula ia medium pembebasan dari hasrat, pada langkah berikutnya ia merenggut hasrat ke dalam sejumlah aturan main tak tertawar.

Kebenaran itulah yang—menurut April—terus menerus didustai. Perkawinan—lalu rumah tangga—membungkus kesadaran akan kebenaran itu dengan dalih dan dalil yang tak ingin terbantahkan: tanggung jawab. Hasrat—termasuk hasrat akan kebebasan—karenanya harus mengalah, atau nyawa akan terenggut bila nekat.

You know what so good about the truth?
Everyone knows what it is, however long they lived without it.
No one forgot the truth…
They just get better at lying. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s