Angka Menang

 

Bila persentase perolehan sementara tak berubah hingga masa penghitungan berakhir, DPR kelak hanya akan diisi oleh 9 partai politik. Partai Demokrat mendapat kursi paling banyak karena menang hampir 21 persen. Berikutnya PDI Perjuangan yang ditempel ketat Partai Golkar, lalu PKS, PAN, PKB, PPP dan dua partai baru: Gerindra dan Hanura. Sebanyak 29 partai lainnya gagal masuk ke Senayan karena memperoleh suara kurang dari 2,5 persen yang menjadi ambang batas.

Bila DPR sekarang dihuni oleh 15 partai politik bakal menjadi 9 partai, itu petanda baik. Setidaknya kita tengah masuk ke suatu sistem seleksi yang menyandarkan kepada mau rakyat, bukan mau elit. Seandainya ada peningkatan pada PKPB yang kini baru mendapat 1,56 persen bisa jadi jumlah partai penghuni DPR menjadi sepuluh. Tapi, peningkatan 0,94 persen itu agaknya amat berat.

Keyakinan bahwa pendapatan sementara itu bakal tak berubah banyak, membuat elit partai mulai merapat satu sama lain, membuka bahasan koalisi di parlemen kelak. Urusan paling utama ialah koalisi untuk memenangkan pemilihan presiden bulan Juli mendatang.

Partai Demokrat boleh senang dengan kemenangan di bulan April ini, tapi sesungguhnya mereka baru memperoleh 21 persen suara dari keseluruhan warga yang memilih. Kemenangan di pemilihan presiden butuh lebih dari itu. Bila 79 persen suara yang tak memilih Demokrat juga tak memilih Susilo Bambang Yudhoyono, hasil yang dicapai menjadi dianggap kurang berarti.

Inilah makna kemenangan pemilu legislatif. Inilah mengapa elit-elit partai lalu menghitung ulang peluang dan mulai makin merapat satu sama lain. PDI Perjuangan dan Golkar mulai menghitung angka-angka dan ketetapan yang pernah diambil sebelumnya untuk berkoalisi. PKB mulai terang-terangan minta digandeng Demokrat. Rakyat boleh kecele bila dipikir koalisi yang terbangun itu dimaksudkan untuk kepentingan seluruh warga.

Demokrasi modern yang ditandai salah satunya keterwakilan rakyat memungkinkan antar faksi di parlemen berkoalisi. Tujuan mula-mula, menurut demokrasi, ialah agar perundang-undangan yang dihasilkan berasal dari suatu adu kekuatan kepentingan yang bakal menguntungkan rakyat. Koalisi yang terbangun kuat untuk menjadi oposisi pemerintah dipercaya bisa menjalankan fungsi kontrol DPR yang kuat. Tapi koalisi di hari sepagi ini, selagi hasil pemilihan anggota legislatif belum lagi benar-benar ditetapkan, memperlihatkan bahwa orientasi elit politik Indonesia memang semata-mata kekuasaan. Demokrasi dihitung menurut angka-angka, yang berarti memperlakukan rakyat pemilih sebatas angka statistik, dan yang diburu kelak juga angka-angka.

Kita yang jauh dari kasak-kusuk rapat partai politik akhirnya menjadi tahu bahwa di dalam ruang mereka yang terjadi bukanlah perdebatan tentang bagaimana menjalankan konstitusi negara. Di ruang-ruang rapat mereka yang berlangsung ialah pengandaian, “kalau partai kita yang berada di urutan kedua bergabung dengan urutan ketiga, kita bisa memenangkan kursi presiden.”

Oh, tuan-tuan dan puan-puan sekalian, jangan lupa mengapa tak ditambah sekalian dengan partai di urutan keempat dan kelima biar syur sekalian permainan angka-angka kalian. Heran, mengapa sekarang semua menjadi pandai dengan penghitungan angka padahal tanpa sempoa dan tak pernah belajar aritmetika. Buktinya, sewaktu mendata pemilih yang keluarannya juga angka, keteteran dan banyak salahnya.

Ini sesungguhnya menyakitkan.

Rakyat Indonesia ternyata sebatas sekumpulan angka-angka yang hasil bagi atau kurangnya bisa dirumuskan secara matematika. Rakyat Indonesia bukanlah manusia yang memiliki tulang dan darah serta rasa dan logika. Kita boleh ngeri dengan kenyataan bahwa kemarin secara sadar kita telah menyerahkan nasib selama 5 tahun ke depan kepada pemain dadu dan lotere. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s