Golput 2009

Masih bergunakah menjadi golput pada pemilu 2009?

Tokoh-tokoh golput masa Orde Baru, sejak pemilu 2004 sudah mendeklarasikan diri menggunakan hak pilih untuk memilih. Sebutlah Dr Arief Budiman yang pada pemilu presiden 2004 mendukung Susilo Bambang Yudhoyono. Tokoh golput muda, M Fadjroel Rachman, menyatakan hanya akan golput pada pemilihan presiden tahun ini. Sedangkan pada pemilu legislatif ia mengaku akan menggunakan hak pilihnya untuk memilih.

Pengamat politik Ariel Heryanto pekan lalu dalam sebuah artikelnya di majalah terbitan Jakarta malah menyebut golput hari ini merupakan salah satu bukti macetnya kesadaran sejarah. Selain itu ia menyebut penggunaan istilah golput hari ini disebabkan miskinnya daya kreatif berbahasa dari kalangan yang merasa bersikap kritis dan progresif. Apakah Arief, Fadjroel dan Ariel benar?

Boleh jadi benar. Istilah golput muncul sebagai gerakan yang terutama dimaksudkan melawan kemapanan dan rekayasa demokrasi golkar atau Golongan Karya, partai penguasa yang dibuat khusus menopang Pemerintah Soeharto. Maksudnya ialah mereka yang tidak memilih. Istilah lain yang tidak populer ialah partai keempat, karena pada masa Orde Baru hanya ada tiga partai. Setelah reformasi, dan sistem kepartaian dirombak, pemilu diikuti oleh puluhan partai, istilah golput tetap dipakai untuk menyebut mereka yang tidak memilih.

Tapi, bila Ariel mengkritik istilah, maka ia melupakan kelaziman penggunaan istilah populer untuk aksi serupa. Melalaikan bahwa kita kerap suka menggunakan satu istilah merek untuk menyebut produk serupa. Sebut saja odol yang mulanya merek pasta gigi. Sampai hari ini orang menyebut odol untuk rupa-rupa merek pasta gigi. Atau kita sering menyebut rinso padahal yang mau dibeli ialah sabun deterjen merek lain. Orang-orang miskin perkotaan masih suka menggunakan kata Levis untuk celana jeans, padahal mereka susah untuk membeli merek Levis yang asli.

Kritik Ariel karenanya menjadi pekerjaan rumah bagi mereka yang masih enggan menggunakan hak pilih untuk memilih. Apa nama gerakan mereka yang aksinya serupa golput itu?

Ketetapan Fadjroel Rachman boleh jadi juga benar. Pemilu legislatif harus diikuti agar wakil rakyat yang terpilih tidak serampangan dan gampangan main tipu rakyat lagi. Biar anggota parlemen tidak ada lagi yang diseret ke pengadilan anti-korupsi karena disuap.

Tapi, pilihan sebagian warga negara untuk tidak datang ke tempat pemungutan suara hari ini, juga patut mendapat tempat. Pada sebagian kasus, menurut survei, mereka mengaku tidak tahu cara memilih; pada kasus lain, mereka sesungguhnya malas dan lebih suka menggunakan masa libur yang ditotal empat hari ini untuk berlibur; ada pula yang beralasan bingung dengan banyaknya pilihan tetapi rata-rata badut, tak meyakinkan, tak dikenal, ketuaan, sedari awal diketahui tukang suap, dan banyak alasan negatif. Pada kasus berikutnya, ada warga yang memang melakukan sebagai gerakan protes, meski rata-rata diam-diam karena tidak terkonsolidasi dengan baik.

Bila semua alasan tidak memilih tadi digabungkan, jumlahnya mungkin besar, bisa jadi lebih besar dari angka partisipasi memilih. Tetapi, efek politiknya telah dianggap tidak ada.

Sungguh disayangkan. Padahal demokrasi kini tengah dipermainkan. Tatkala siapa saja bisa menjadi wakil rakyat dan menjadi tokoh politik―meski berlatar belakang pencoleng, gemar main sogok, setiap hari menipu―gerakan tidak memilih semestinya menjadi oposisi yang bisa mengoreksi sistem tanpa seleksi seperti sekarang. Gerakan tidak memilih yang kadung populer bernama golput itu bisa menjadi pengingat bahwa mandat yang diterima wakil rakyat atau nanti, presiden, sangat lemah dan karenanya tidak bisa main-main dengan kekuasaan yang diraih.

Golput hari ini menjadi semacam affirmative action baru bahwa demokrasi ialah mekanisme berwibawa; bahwa pemilu ialah panggung terhormat yang tidak asal diisi oleh tampang keren, hiburan panas, dan dibeli dengan uang; bahwa parlemen ialah gedung yang hanya patut diisi oleh figur-figur mumpuni, berkualitas dan berdedikasi bagi kemaslahatan orang banyak; bahwa kursi presiden ialah tempatnya orang nomor satu dalam arti sungguhan.

Jadi, kalau pun angka partisipasi rendah kali ini, atau sebutlah ada golput hari ini, mereka patutlah disebut sebagai orang-orang yang berkehendak mengoreksi keteledoran orang-orang yang mendompleng di kereta pembaruan, para pembajak reformasi. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s