Penentu

Fikar, bukan nama sebenarnya, seorang dusun. Meski dimulai dengan “bukan nama sebenarnya” cerita ini tidak dimaksudkan sebagai laporan cerita kriminal, esek-esek atau, misalnya, laporan investigasi yang membutuhkan narasumber anonim. Maaf pula, kata dusun tidak mengacu kepada suatu tempat yang ‘bukan kota’. Beberapa bulan setelah tsunami, 26 Desember 2004, dusun dikenali juga kependekan dari “duda tsunami”.

Fikar menjadi duda tepat ketika gempa dan gelombang air laut merobohkan rumah mertuanya di Lambaro Skep. Istri dan anaknya yang gagal menyelamatkan diri ikut rebah bersama rumah. Ia sendiri kala itu tengah pergi ke rumah kenalannya di kawasan Ulee Kareng. Fikar selamat, tetapi kehilangan istri dan anak. Sang mertua yang kebetulan juga tengah berada di Langsa selamat.

Selama beberapa bulan ia tinggal di tenda bersama pengungsi yang lain. Setelah rombongan organisasi internasional berdatangan, BRR dibentuk, rumah mertuanya termasuk yang bakal dibangun. Tetapi Fikar tak lagi tertarik mengurusi bantuan itu. Ia telah memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan yang ia jumpai di tenda. Perempuan itu datang saban hari untuk membantu anak-anak yang ikut mengungsi.

“Saya pikir daripada berzinah, lebih baik menikah dengan dia,” katanya tanpa menyebut nama sang istri.

Orang tua sang istri yang kebetulan memiliki tanah tak kurang dari 100 meter persegi di dekat Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, lalu membangunkan rumah bagi pengantin baru itu. Kecil saja tapi cukup menampung kemesraan dua orang.

Selewat tiga tahun BRR bekerja di dan untuk Aceh, Fikar baru ingat, ia belum mendapat bantuan apapun dari organisasi manapun. Masa bulan madu pengantin baru telah lewat jauh, pas pula di bulan-bulan itu ia menghitung penghasilan per bulan. Bila hanya mengandalkan penghasilan dari bekerja di toko penjualan motor, ditambah gaji pegawai negeri sipil istrinya, keluarga yang baru mendapat satu bayi ini tak bakal bisa membangun rumah sendiri.

Fikar ingat ketika menumpang di rumah mertua pertama, ia tinggal di rumah berbeda pintu tapi satu pagar dengan mertuanya. Sekarang rumah mertua sudah dibangun organisasi nonpemerintah tapi tak sebesar rumah lama. Rumah di Blang Bintang kini menyempit karena kehadiran bayi yang kelak bakal besar.

“Makanya saya mengurus bantuan rumah ke BRR,” kata Fikar kepada staf advokasi Palang Merah Irlandia pada suatu siang selewat peringatan 3 tahun perjanjian damai antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Banda Aceh terik sekali kala itu. Matahari menyengat pekerja yang tengah membangun pesantren di tempat mereka bercakap. Pesantren yang dibangun hampir bersamaan waktu dengan peletakan batu pertama Swiss Belhotel Banda Aceh, namun hingga hotel itu telah berganti nama menjadi Hermes Palace tak kunjung siap.

Pada perjalanan waktu berikutnya—kita asumsikan waktu itu berjalan dan bukan kita yang melintasinya—Fikar tak kebagian satu ubin pun, apalagi rumah.

Pada giliran berikutnya—barangkali karena waktu kadang berhenti untuk menyeleksi kita yang antri—Fikar patah dan merasa ditinggalkan.

Pada akhirnya—meski waktu belum menunjukkan tanda-tanda berakhir—Fikar harus ikhlas.

Tapi titik ikhlas itu belum benar-benar ia capai. Pada suatu pertemuan tak sengaja, ia masih memperlihatkan kecewa, patah dan merasa ditinggalkan. Percakapan tak sengaja itu, menyinggung begitu saja tentang upaya memperoleh rumah bagi Fikar. Mau tak mau, karena satu sama lain tak memiliki bahan obrolan yang bisa mengisi.

“Untuk apa ratusan donor datang dan BRR dibikin kalau tak bisa menjangkau seluruh korban tsunami,” Fikar sewot.

Pada halaman ini saya harus mengulangi apa yang secara nyata disampaikan kepada Fikar pada pertemuan tak sengaja itu. Kasus semacam Fikar pastilah sama sekali tak pernah dibayangkan terjadi kepada korban tsunami. Pada hari-hari ketika pendataan korban dilakukan, Fikar memilih pergi dari jejak masa lalu. Ia menikah dan tidak merasa menjadi bagian dari yang berhak mendapat bantuan.

Saya berasumsi bahwa hari-hari itu ia menganggap kalaupun rumah dibantu didirikan, pastilah jatuh kepada orang tua dari istri yang kini berada di alam yang sama sekali lain. Rasanya itu bukan asumsi karena meski berbeda pintu, kediaman Fikar dan almarhumah istrinya bisa disebut sebagai paviliun dari rumah induk. Satu pagar, satu alamat. Kebijakan pemberi bantuan hanya memberikan satu rumah untuk satu alamat lama.

Pada hari-hari itu, Fikar telah menentukan jalan hidupnya yang baru. Mungkin ia tak pernah membayangkan bahwa penghasilan dari bekerja di toko kendaraan bermotor ditambah gaji pegawai negeri istrinya susah untuk membangun rumah sendiri. Mungkin ia sama sekali tak pernah nyana bahwa mertuanya ingin mengalihkan rumah kecil yang dibangun di Blang Bintang kepada anak lainnya.

Nyatanya waktu bukanlah bentuk yang bisa diraba atau adegan yang bisa dibayangkan dan diterka. Meski detik, menit dan jamnya ajeg dan tak berubah. Hanya bilangan angka hari, bulan dan tahun yang tiba-tiba seperti kasat mata dan sanggup mendatangkan kecemasan bagi Fikar.

Satu soal yang pada pertemuan tak sengaja dengan Fikar itu tak disampaikan—karena kuatir dianggap hanya kosong dan sok menenangkan—ialah tentang keberanian menentukan pilihan. Menjadi penentu bagi diri sendiri. Rasanya ketika disampaikan sekarang pun tetap terasa ‘kosong’, tapi dua kata itulah yang mestinya beroleh tempat: penentu dan berani.

Rasanya sayang jika “keberanian” yang pernah muncul ketika mau “menentukan” arah diri itu menjadi ciut ketika ada hadangan kenyataan baru. Bukan kebetulan bila mulai April hingga setidaknya Agustus nanti, sebagian warga berlaku menjadi penentu nasib keseluruhan. Pada momen-momen ini dibutuhkan pula keberanian, termasuk menanggung risiko bila salah menentukan. Lagipun tak perlu kuatirlah. Salah atau tidak salah toh baru diketahui kemudian.

Pada hari-hari nanti—atau jangan-jangan mulai hari ini—Fikar rasanya bisa menakar bahwa pilihan—waktu itu—tidaklah salah. Bila pun akibat “pilihan” pergi dari Lambaro Skep untuk mengikuti hati ialah gagal mendapat rumah lebih besar dan atas namanya sendiri, biasanya disebut: konsekuensi.

Yang berharga di atas itu semua ialah ‘menentukan’, apakah untuk menjatuhkan pilihan atau tidak menjatuhkan pilihan. Pada hari itulah arti manusia menguasai tempat yang sesungguhnya. Nilainya ada di waktu berikutnya, biasanya disebut masa mendatang, apakah akan mengutuk bila menduga salah pilih atau menagih imbal menganggap benar memilih.

Bukan kebetulan bila ‘memilih’ atau ‘pilihan’ bukanlah harga mati yang hanya ada sekali dan seolah tak bisa diperbarui. Fikar bebas memilih: tinggal atau pergi dari istri keduanya. Penentu atau pemilih yang lain bebas memilih (untuk kedua kalinya) tanpa harus dibuktikan dengan daftar pemilih tetap: meneruskan dukungan atau menarik mandat. []

(Rumoh PMI Edisi Maret/April 2009 | Kolom Ureung Gampong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s