DPT

DPT hari-hari ini bukan istilah yang hanya akrab di posyandu atau klinik bersalin yang menyediakan layanan imunisasi bayi. DPT juga bahasa dalam percakapan politik lima tahunan. Pemilihan umum mengenali DPT sebagai daftar pemilih tetap. Maksudnya daftar nama warga negara yang memiliki hak suara untuk memilih wakil rakyat atau calon pemimpinnya.

Sejak kasus dugaan manipulasi data pemilih diungkap di Jawa Timur, muncul kekuatiran bahwa peristiwa semacam bisa terjadi di pemilu legislatif tanggal 9 April nanti. Komisi Pemilihan Umum atau KPU meyakinkan bahwa data terbaru telah dimutakhirkan. Tapi data yang mestinya menenangkan itu tak kunjung keluar, sehingga muncul terkaan bahwa KPU hanya mengeluarkan pernyataan kosong yang malah membikin cemas.

Ini memang tidak main-main. Kalau daftar pemilih bisa keluar ganda maka yang memegang akses terhadap data dan juga kertas suara akan bisa memenangkan pemilu dengan muda. Melalui cara curang, pasti. Sekarang saja sudah muncul berbagai isu yang menyatakan bahwa sejumlah surat suara ditemukan sudah dalam keadaan dicentang pada nomor partai tertentu. Meski partai yang kedapatan mencentang itu berdalih bahwa yang ditemukan bukanlah surat suara asli melainkan duplikat dalam rangka sosialisasi cara mencentamg.

Memanipulasi suara ialah dosa besar dalam politik negara. Hukumnya sama dengan korupsi dan jangan-jangan masuk dalam kategori dosa besar dalam agama seperti membunuh atau berzinah. Itu betul. Sebab yang dipalsukan itu bukan sekadar karya cipta semisal lagu atau film yang bajakannya ramai beredar. Pemalsuan itu dilakukan pada mandat warga negara kepada wakil rakyat atau pemimpin. Bayangkan, wakil rakyat atau pemimpin yang berkuasa dari hasil pemalsuan suara. Bisa ditebak si wakil rakyat atau pemimpin itu bakal sama sekali tak peduli pada rakyatnya. Kejahatan-kejahatan selanjutnya bisa diduga dari sekarang. Korupsi, tipu-tipu, tilap menilap, dan lain-lain kesewenang-wenangan.

Sampai hari ini berapa banyak orang Indonesia, warga negara yang bakal memilih, mengetahui apakah namanya sudah ada dalam daftar pemilih atau belum?

Tanyakan pada diri masing-masing. Atau periksalah ke kantor-kantor desa, apakah nama Anda sudah tercantum atau belum. Petugas kelurahan atau kantor desa bakal menjawab, “belum menerima dari KPU, tapi tenang saja, Bapak/Ibu/Saudara/Saudari pasti bisa memilih.”

Jawaban yang sama sekali tak menenangkan. Tiba-tiba saja seluruh warga negara merasa menjadi pemilih ilegal karena untuk memilih ia harus didaftar dulu, tetapi daftarnya belum ketahuan. Ampun.

Tapi, tunggu dulu. Apa yang sesungguhnya perlu dicemaskan? Apakah daftar pemilih menjadi satu-satunya sumber data paling valid untuk menentukan sah atau tidaknya pemilih?

Rasanya berlebihan. Sebab warga negara memiliki identitas kependudukan yang bisa ia gunakan untuk menunjukkan keabsahan sebagai pemilih. Hampir seluruh warga Indonesia memiliki kartu tanda penduduk atau KTP. Bila pun banyak pula warga yang memiliki KTP ganda, adakah kasus alamat dalam kartu identitas itu memiliki jarak berdekatan? Hanya berbeda desa atau kelurahan yang bersebelahan?

Rasanya tidak. KTP ganda biasanya dimiliki dengan berbeda provinsi atau kotamadya dan kabupaten. Mereka yang ingin memilih dua kali tak memiliki waktu yang cukup untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Mereka yang setidaknya baru menyampai usia 17 tahun pada Desember kemarin dan ingin menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya mestinya juga tinggal menunjukkan identitas yang ia miliki selain KTP.

Perkara teknis dasar semacam ini mestinya sudah diselesaikan KPU jauh hari. Ada kepastian yang bisa diberikan kepada pemilih dan juga partai politik. Sehingga isu ini tidak dilebih-lebihkan dan membuat warga gampang cemas.

Pada kasus pemilihan kepada daerah Jawa Timur mungkin mudah memobilisasi warga dari kabupaten lain untuk memilih dua kali. Tapi mungkinkah terjadi pada pemilu legislatif yang berskala nasional? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s