Main Kayu

Menang itu penting. Kekalahan merupakan aib memalukan. Bak noda yang memercik muka dan tak bisa dibersihkan lagi.

Setiap petarung ingin menang. Mungkin karena pahlawan identik dengan kemenangan. Seperti dalam film-film laga, yang jago dan—biasanya menjadi pahlawan—pada akhirnya selalu menang. Jagoan yang kalah di akhir film membuat penonton kecewa, dan penonton pun malas menganggapnya pahlawan.

Setiap petarung ingin menang, kadang dengan mengakali aturan main. Bila perlu: curang.

Pertarungan karenanya tak lagi menjadi ajang adu laga para ksatria. Tak lagi seperti bunyi percakapan antara Kresna dan Arjuna dalam Bagawad Githa. Dialog yang mengagungkan kesatriaan para pejuang. Pertarungan menjadi cara semata-mata menang. Seperti juga perang. Meski hukum-hukum perang pernah dibuat, bila ancaman kekalahan membayang di pelupuk mata atau setidaknya cemas bakal kalah, curang dan melabrak aturan main kadang jadi halal.

Pada akhirnya, toh sejarah selalu menempatkan pemenang sebagai pahlawan, sebagai pihak yang benar. Simak saja bagaimana pemerintah Indonesia semasa Orde Baru ditegakkan. Setelah menang dari Orde Lama, rezim yang bertahan lebih dari 30 tahun itu memoles muka lewat tuturan sejarah tentang siapa benar dan siapa salah. Yang benar dianggap yang lahir sebagai pemenang, sedang yang salah ya mereka yang kalah.

Tapi, demokrasi sesungguhnya ajang tempat para ksatria. Bukan tempat para pengecut yang hanya memuja kemenangan meski melalui kecurangan. Pemilihan umum ialah salah satu acara dalam demokrasi yang aturan mainnya memiliki etika seperti juga olahraga sepakbola. Tak boleh ada main selengkat, atau menggunakan tangan untuk melaju bola, kecuali nekat mendapat kartu kuning atau kartu merah.

Demokrasi ialah sistem yang dipuja oleh petarung-petarung beretika. Kemenangan menjadi hadiah yang semestinya dari proses panjang menjaga etika, mematuhi laku dan kesantunan beradu kepandaian dan kecerdasan. Sesungguhnya tidak ada tempat bagi yang bebal dan hanya bisa main kasar dalam demokrasi.

Kemenangan bisa saja diraih lewat cara kasar, main kayu, ancaman atau bentuk intimidasi lain. Tapi, mandat penuh dan murni, sesungguhnya tak bisa diperoleh lewat cara barbar begitu. Rakyat yang terintimidasi akan mencatat—setidaknya dalam hati—bahwa pihak yang menang sebenarnya bukan yang jagoan, apalagi pahlawan. Lawan yang mendapat hadangan kasar atau mengalami kekerasan bakal mengutuk—setidaknya dalam pikiran—bahwa pemenang tak lain ialah segerombolan pemain jalanan yang tak mengenal cara elegan meraih kekuasaan.

Kita semestinya telah letih dengan cara usang yang pernah menindas kita lebih dari 20 tahun. Bahasa kita hari ini mestinya bukanlah otot atau senjata. Karena kedua bahasa itu hanya dimiliki oleh mereka yang telengas dan telah terbukti bisa dikalahkan. Kita pernah sama-sama mendoa agar setitik darah pun tak boleh lagi tumpah. Lalu mengapa kita mudah melupakan masa lalu dan malah mengadopsi cara kuno itu? Lalu mengapa kita dengan gampang lalai pada doa persis ketika jemari kita baru usai mengusap muka?

Tolong jangan main gila. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s