Praktis

Rasanya calon pemilih perlu berulang-ulang diingatkan untuk sedikit bersusah mencari nama calon anggota wakil rakyat dan tidak main centang nomor partai politik. Komisi Pemilihan Umum memang sudah mengumumkan bahwa mencentang nama partai saja bisa dianggap sah dan akan dihitung. Masalahnya, itu suara buat siapa?

Jawabannya gampang, sih. Menurut KPU suara yang terakumulasi pada nomor partai akan diberikan kepada calon anggota legislatif dari partai tersebut yang memperoleh suara terbanyak. Tapi bagaimana bila mayoritas orang menggunakan cara yang praktis ini? Tidak ada satu nama yang dipilih melainkan hanya partai? Maka, jatah pertama diberikan kepada nomor urut satu. Lalu bila masih ada sisa diberikan kepada nomor berikutnya. Kalau kita dilarang berpikir rumit, jawabannya memang sederhana seperti itu.

Tapi, tunggu dulu. Apa yang dilakukan dengan mengubah teknik centang sesungguhnya bukan sekadar urusan pulpen atau spidol diarahkan ke mana, tetapi diam-diam tengah mengubah sistem pemilu yang baru dianut Indonesia, dari sistem pemilihan terbuka ke semi terbuka. Lebih tepat dari sistem pemilihan terbuka ke pemilihan ‘terbuka tidak’ ‘tertutup tidak’.

Memilih secara langsung calon wakil rakyat sangat penting. Perjalanan menuju sistem pemilihan langsung kepada orang dan bukan partai amatlah panjang. Bukan hanya waktu, tapi memakan korban yang tak sedikit. Pemilu masa orde baru sebanyak enam kali hanya mencoblos 3 partai dan seperti membeli kucing dalam karung. Pemilu orde baru itu semata menjadi ajang pengokohan partai penguasa, Golkar, sedangkan dua partai lainnya sekadar pelengkap pesta. Kritik dan koreksi terhadap sistem tipu-tipu itu dibalas dengan kejam oleh pemerintah. Baru setelah Soeharto ditumbangkan, gagasan memperbaiki sistem pemilihan umum mendapat tempat untuk diuji coba.

Pemilihan pasca orde baru, tahun 1999, bolehlah disebut sebagai transisi dan uji coba selanjutnya menuju sistem terbuka dan langsung dilakukan betulan tahun 2004. Bila sekarang KPU mengganti lagi teknis pencentangan sehingga hanya memilih partai dianggap suara sah, barangkali kita bisa menganggap sebagai niat baik agar pemilih tidak repot. Namun, pemilih sebaiknya mencentang nama orang.

Kita tidak ingin wakil rakyat yang terpilih nanti tidak semata berasal dari hitungan suara akumulasi partai. Kita ingin wakil rakyat yang duduk nanti di kursi parlemen tak bisa menghindar dari tanggung jawab kepada pemilih. Baiklah, kita repot kali ini tapi bisa menagih langsung kepada wakil rakyat bila—lagi-lagi—ingkar. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s