Nothing but the Truth

NBTT

RACHEL Armstrong (Kate Beckinsale), wartawan Capitol Sun-Times dalam film Nothing but the Truth (2008) ditahan hampir 1 tahun karena menolak perintah hakim dan Juri untuk membeberkan identitas narasumber laporannya.

Ini film fiksi yang menurut penggarapnya diambil dari contoh peristiwa nyata. Armstrong yang telah bekerja selama 5 tahun di desk nasional Sun-Times mendapat informasi “berharga” bahwa Erica Van Doren (Vera Farmiga), istri bekas seorang duta besar, ialah agen CIA yang pernah diberi misi sangat rahasia ke Venezuela untuk menyelidiki dugaan keterlibatan negara itu atas upaya pembunuhan Presiden AS, Liman. Berbeda dengan Watergate yang memberitahu penonton adanya sosok Deepthroat sebagai sumber utama kedua jurnalis Washington Post, the Truth sama sekali tidak memberi petunjuk sumber Armstrong. Baru di menit-menit terakhir menjelang usai, melalui flashback penonton tahu siapa narasumber wartawan pemberani yang memilih ditahan 1 tahun plus ancaman dua tahun penjara bila tetap kukuh meski kasusnya sudah di tingkat Mahkamah Agung.

Film ini sangat inspiratif. Armstrong bukan jurnalis muda yang 24 jam menguprek berita. Ia ibu dari anak SD yang membantu pekerjaan rumah anaknya seusai deadline laporan. Tekhnologi memungkinkan ia dan anaknya berkirim faksimili untuk tugas sekolah si anak. Ia mengantarkan anaknya ke sekolah saban pagi, membiarkan suaminya menyelesaikan novelnya. Armstrong juga masih menyempatkan waktu menjadi volunteer membacakan cerita buat anak-anak.

Di sekolah yang sama, putri Van Doren juga mengenyam pendidikan. Di children center yang sama juga, Van Doren menjadi volunteer. Tetapi ini sekadar data tambahan yang di film menjadi alasan kuat bagi CIA untuk menduga bahwa sumber Armstrong tak lain ialah Van Doren sendiri. Meski seolah tempelan, keterangan-keterangan tambahan ini seperti mau mengkritik akal konspiratif yang lazim bercokol di kepala intelijen dan keamanan.

Film ini—sekali lagi—inspiratif dan saya tak tahan untuk tidak memberitahu Monique Rijkers agar menontonnya. Mengenai kekukuhan Armstrong menyimpan rapat-rapat narasumber anonimnya, saya kira menjadi pengingat yang berguna buat semua wartawan. Fakta bahwa Amerika pun dapat memenjarakan wartawan karena ancaman keamanan, bisa juga didiskusikan karena Armstrong ternyata tak bisa dilindungi oleh UU Kebebasan Informasi (dalam film keberadaan UU ini tidak didialogkan). Bagaimana di Indonesia?

Selain itu, the Truth juga menyajikan debat feminin vs macho. Rachel Armstrong yang ditahan akhirnya terpisah dari anaknya. Opini publik lalu digiring menyudutkan ia sebagai perempuan—ibu—yang tega membiarkan anaknya tanpa asuhan semestinya demi mempertahankan karir. Rachel menjawab, “mengapa bila lelaki (ayah) yang dipenjara—dan terpisah pula dengan anaknya—menjadi pahlawan, sedangkan bila perempuan (ibu) menjadi monster?”

Hakim pengadilan pertama yang menahan Armstrong akhirnya lumer. Ia insaf bahwa yang dihadapi ternyata batu karang. “Saya sudah menahannya hampir satu tahun dan ia sama sekali tak bicara, saya yakin berapa lama lagi pun ia akan tetap seperti itu.”

Armstrong dibebaskan, tapi kurang dari sejam kemudian ditangkap lagi oleh Jaksa Penuntut Khusus (Matt Dillon) yang memang berambisi memenangkan perkara. Van Doren telah tewas, beberapa waktu sebelumnya, ditembak di halaman rumahnya oleh ‘orang tak dikenal’.

Film ini seperti kekurangan durasi untuk mendalami karakter tokoh-tokoh utama, latar peristiwa, kehidupan penjara, perselingkuhan suami Armstrong dan bagaimana kekecewaan Armstrong yang seolah tanpa pendamping. Mungkin juga mau menampilkan cara pengungkapan detil yang efisien, seperti menyelipkan dialog ‘esensial’ dalam dunia pengacara senior yang punya selera fashion tinggi. Aspek dramaturginya kurang pula digarap dengan baik, sehingga klimaks sulit ditangkap penonton. Kita pun gagal mengetahui reaksi publik AS yang sesungguhnya dan reaksi wartawan lain atas peristiwa Armstrong, kecuali sebuah kabar selentingan bahwa ia masuk nominasi Pulitzer dan sepotong dialog di perpustakaan hakim tentang femini vs macho.

Satu soal yang saya kira penting menjadi pemantik diskusi ialah ternyata narasumber Armstrong ialah Alissa Van Doren, putri sang mata-mata yang satu SD dengan putra Armstrong. Anak-anak. Apakah anak-anak, dalam jurnalisme, menjadi sumber yang kredibel sementara sumber-sumber lain yang dikonfirmasi oleh Armstrong lainnya—Gedung Putih dan CIA—membantah?

Kredibilitas sumber anonim dan informasinya baru bisa diakui bila sedikitnya dua sumber lain memberi verifikasi. Pada kasus Armstrong, unsur ini tidak terpenuhi. Editor Sun-Times pun sama sekali tak mengetahui siapa yang tengah dilindungi Armstrong. Apa yang akan terjadi apabila sang editor mengetahui bahwa narasumber utama medianya, deepthroat-nya, adalah anak-anak? Ia percaya begitu saja pada kisah yang disodorkan Armstrong.

Saya tak membayangkan bahwa Armstrong akan ditertawakan sidang editor dan beritanya urung dimuat. Tapi, bisakah suatu sumber anonim dirahasiakan begitu saja tanpa meliwati mekanisme pemeriksaan di redaksi sendiri? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s