Tersesat

SETIAP kali merasa berada di ujung masa, kita kerap bilang kepada yang seiring, “perjalanan ini sebentar lagi usai.” Bila suatu pekerjaan bersama hampir mendekati tenggat akhir dari jadual, kalimat yang diperlakukan sebagai aksioma itu makin sering terdengar. Memang kita kerap memperlakukan pekerjaan ibarat perjalanan, seperti juga kepada hidup.

Bila memang (hampir) segalanya didekatkan atau dimaknai, setidaknya dipersamakan, dengan perjalanan bisakah diterima bahwa yang bernama ‘akhir’ itu pada akhirnya gagal dicapai? Atau bahkan tersesat? Seperti lazimnya menempuh perjalanan yang berjarak dan menuju ke ‘suatu tempat’, ada kalanya rute harus begitu panjang dan ketika kehilangan peta, tiba-tiba menyadari bahwa kita berada di jalan yang mestinya tak ditempuh. Para pejalan menyebutnya: tersesat.

Barangkali karena terlalu sering mempersamakan hidup dengan perjalanan, maka pada pelbagai kasus, kita gampang menyebut ‘sesuatu’ yang berbeda sebagai tersesat. Kadang malah biar tambah gawat ditambahi kata berulang sehingga disebut “sesat menyesatkan”. Misalnya, pada ajaran yang sesungguhnya unik dan menunjukkan kemajemukan tapi lantaran yang ‘mapan’ merasa terancam, maka disebut menyimpang. Akhirnya dituding tersesat, sesat dan menyesatkan. Seolah-olah suatu ‘tujuan’ pernah ditetapkan bersama dan rutenya juga harus sama. Orang atau kaum dilarang memiliki tujuan berbeda atau bilapun bertujuan sama dilarang keras menempuh rute yang berbeda. Tanpa mau menyelidiki apakah rute yang berbeda itu sesungguhnya lebih cepat, lebih menyenangkan—karena pemandangannya lebih indah, misalnya—atau justru lebih rumit sehingga menantang adrenalin dan karenanya lebih asik.

Pun yang menempuh rute sama, tidak bebas dari tudingan tersesat. Misalnya, bila ingin berhenti sejenak sekadar istirahat minum di luar jadual yang sudah ditentukan oleh ‘pemimpin perjalanan’. Atau bila melihat panorama menakjubkan, lalu berhenti tiba-tiba untuk sekadar berpotret tapi dilarang oleh ‘pemimpin perjalanan’. Entah karena si ‘pemimpin perjalanan’ atau sekadar ‘tour guide’ itu punya definisi sendiri tentang panorama indah dan menganggap definisi lain sebagai salah atau bid’ah. Supaya tidak terjadi terlalu banyak improvisasi dari peserta perjalanan, lebih gampang menuding mereka dengan label peserta yang tersesat. Orang-orang yang semestinya tidak masuk dalam rombongan. Bisa saja orang (orang-orang) ini diusir dari rombongan bila tak mau tunduk pada “panduan”.

Tindakan terakhir mestinya lucu sekali.

Betapa tidak? Pertama, kaum ‘mapan’ yang merasa berhak menjadi ‘pemimpin perjalanan’ atau ‘tour guide’ bersama itu telah dari awal memaklumkan bahwa barang siapa tidak menempu rute yang telah ditetapkannya itu adalah para pejalan yang tersesat. Kedua, tak cukup menetapkan rute, mereka pun mengatur jadual sedemikian rupa dan tempat-tempat yang boleh untuk berfoto. Ketiga, supaya aturan kedua ini dipatuhi, mereka kembali menabalkan bahwa yang melanggar termasuk orang-orang tersesat. Karenanya bisa diusir.

Tapi, pengusiran itu berarti membuat orang-orang yang berimprovisasi tadi dipaksa ‘menyimpang’ dari anggapan yang lazim. Kaum ‘mapan’ itu lantas bukan saja berkontribusi, tapi malah menjadi sponsor dari penyimpangan dan kesesatan yang terjadi. Ah, makanya jangan gampang menetapkan ikhwal sesuatu sebagai sesat. Nyatanya kaum ‘mapan’ dan merasa berhak menentukan ‘kebaikan’ dan ‘kebenaran’ itu yang jadinya membuat orang tersesat (dalam versi si mapan sendiri). Nah, harus diingat, perbuatan membikin para pejalan itu tersesat disebut: menyesatkan. Maka, siapa yang lantas berbuat sesat dan menyesatkan?

“Pada zaman dahulu kala, ada seorang pelacur bernama Maria.”

Maria lahir dan besar di pedalaman Brasil, 48 jam perjalanan dengan bus dari Rio de Janeiro. Sejak remaja amat yakin bakal selalu gagal menemukan cinta sejati. Ia jatuh cinta pertama kali pada umur sebelas tahun kepada tetangganya yang saban pagi berjalan kaki sejurusan ke sekolah. Ia mendambakan percakapan, tegur sapa dan berlanjut entah ke mana, tapi tatkala si anak lelaki itu menghampiri meminjam pensil—padahal Maria melihat anak itu mengantungi pulpen—ia malah tak siap untuk bicara banyak. Lelaki lain yang ditemuinya di masa menjelang dewasa hanya menginginkan seks dan meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain.

Paulo Coelho, penulis laris asal Brasil, memutuskan Maria menjadi pelacur di Swiss dalam lakon Eleven Minutes (Sebelas Menit) yang kelar ditulisnya pada sekira bulan Mei 2002.

“Pada zaman dahulu kala, ada seorang pelacur bernama Maria. Nanti dulu. Kalimat “Pada zaman dahulu kala” biasanya digunakan untuk mengawali cerita anak-anak, sementara kata “pelacur” hanya cocok untuk orang dewasa.”

Memang kontradiktif. Tapi, kata Coelho, “berhubung setiap saat dalam hidup ini kita jalani dengan satu kaki di negeri dongeng dan satu lagi di jurang tak berdasar, biarlah kalimat itu dipertahankan untuk memulai kisah ini.”

Kisah yang bila menyimak penokohan Maria dan jadi apa kelak ketika dewasa bakal dituding tema biasa dan terlalu gampang. Seks, pelacuran. Hanya saja, harap diingat, tudingan—apalagi gampang menuding—bisa membuat kita—benar-benar—tersesat. Karena, melalui Maria, pelacur kita ini, Coelho membongkar berbagai anggapan, norma, tata, yang semula dipaksakan sebagai aksioma. Oleh Coelho, alur Eleven Minutes memang dibuat mudah: Maria kecil mendambakan lelaki yang kelak menjadi pangerannya (tampan, kaya, cerdas) lalu menikah, anak sempurna, bahagia selamanya; tapi ia lantas bertemu oposisi khayalan.

Coelho menggariskan agar Maria membangun mimpinya, bertemu dengan seorang lelaki yang menjanjikannya menjadi artis terkenal, tapi malah masuk ke dunia pelacuran. Seperti kebanyakan pelacur, ia pandai dalam soal seks, tapi mencegah orgasme. Hingga ia bertemu seorang lelaki—pastinya—yang mampu menguak ‘cahaya’ dari dalam diri Maria.

Sesungguhnya ia bertemu dengan dua lelaki. Seorang pelukis muda, terkenal, kaya raya, dan pebisnis dunia hiburan. Yang satu, bernama Ralf Hart, mewakili pemujaan terhadap pencarian kebahagiaan dan yang terakhir, Terence, justru mencari kenikmatan dari kepedihan. Bagi Terence, didera penderitaan merupakan jalan menuju ekstase. Karenanya Terence mengajarkan Maria menikmati sadomasokisme. Seperti suatu kelompok dalam salah satu agama wahyu yang mendera tubuh mereka sendiri agar dosa-dosa di dunia dihapus. Dan karena telah menjadi martir bagi penghapusan dosa, maka mereka bisa menikmati perjumpaan dengan Tuhan tanpa melalui kematian.

Dari Ralf, Maria mengetahui tentang sejarah pelacuran yang mulai disebut ribuan tahun lalu dalam hieroglif Mesir dan tulisan kuni Sumeria, juga Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan baru diorganisir pada abad 6 SM oleh Solon, seorang senator Yunani. Dari Ralf pula, Maria mengenali adanya pelacuran sakral yang diritualkan perempuan Sumeria bagi Dewi Isthar. Mengutip Herodotur, sejarawan Yunani, Ralf bercerita bahwa semua perempuan kelahiran Sumeria setidaknya sekali dalam hidup mereka, harus datang ke kuil Isthar dan bersetubuh dengan lelaki asing sebagai lambang keramah-tamahan.

Dari alur yang mudah, Coelho menyoal gagasan dan anggapan yang tidak gampang. Ia membongkar anggapan jaman kini, menunjukkan fakta sejarah lampau dan fakta hari ini untuk mengejutkan pikiran. Pada bagian pengantarnya, Coelho mengaku ia menulis tentang topik yang keras, sulit, mengejutkan. Mungkin ia bermaksud sekadar berjualan agar bukunya laku keras. Tapi di kebanyakan toko buku, biasanya dibungkus dengan plastik rapat sehingga bagian pengantar itu baru bisa dibaca setelah dibeli. (Jadi memang jangan gampang menuduh).

Maria bukan sosok yang tersesat dalam Eleven Minutes. Seperti cap para penganut agama kepada pelacur. Pelacuran memang menjadi ‘jalan’ yang ia tempuh. Bukan pilihan bebas pada awalnya, karena biasanya anak belia atau remaja punya impian yang serba indah, seperti juga Maria mula-mula. Tapi ia lantas menjadikannya pilihan dengan penuh kesadaran menggeluti profesi pelacur. Maria memiliki motif kuat—sesederhana apapun: memiliki uang untuk tiket pesawat pulang ke Brasil, membeli baju indah dari Eropa dan membeli sawah di kampung.

Pada kasus Maria, kesesatan yang gampang dituding oleh para ‘mapan’, ‘pemimpin perjalanan’ atau ‘tour guide’ menjadi gagal total. Karena Maria justru begitu nyata dekat dengan ekstase ketuhanan dan iman. Ia juga: mandiri. Karena, “ia tak butuh kenyataan, bahwa untuk meraih kebahagiaan dia tak sudi lagi bergantung pada kenyataan atau apa pun yang bakal terjadi.”

Bila pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak pulang, melainkan melanjutkan perjalanan dengan Ralf, entah ke mana, adakah ia tetap “tidak tersesat”? Keputusan Maria ketika baru saja meninggalkan Brasil ialah pulang. Lalu ia mengumpulkan uang untuk bisa pulang dengan kemilau. Tapi di pemberhentian ini, di Jenewa, suatu perjumpaan (seperti para pejalan menjumpai panorama menakjubkan) telah mengubah niatnya pulang. Maria memilih berjalan terus. Dengan Ralf.

Bila hidup serupa perjalanan, agaknya arti tersesat perlu dirumuskan ulang. Karena di setiap pemberhentian, kita bebas menentukan arah baru. Tidak melulu satu atau mula—apalagi yang ditentukan oleh bukan kita.

Bila akhir suatu tahun ialah akhir dari satu rute, Januari ialah pemberhentian, untuk melangkah kepada yang semula atau yang sama sekali lain. Dan rasanya tak perlu takut tersesat. Sebab, seperti juga perjalanan, ketika tiba di tempat yang sama sekali baru keadaannya justru menyenangkan. Apalagi bila tiba di suatu tempat yang belum dijamah yang lain. Bisa saja kita menetap di sana. Bertanam padi, palawija, memelihara ternak, yang lahannya belum dimiliki siapapun.

Lalu pergi lagi. Seperti Maria yang akhirnya mengetahui bahwa perjalanan tiada akhir. []

(Rumoh PMI Edisi Januari 2009 | Kolom Ureung Gampong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s