2009

ADAKAH ironi yang lebih pedih dari ini: “orang yang kau kenal tak peduli, orang yang peduli tak kau kenal.” Mario Teguh yang tengah naik daun sebagai motivator berbayar puluhan juta atau pencetak buku laris Financial Revolution, Tung Desem Waringin, barangkali punya kutipan kalimat penyemangat. Barangkali mereka bisa mendapat dari searching dengan mesin pencari di internet atau di beberapa perpustakaan.

Sementara mereka bekerja, sebaiknya dijawab dulu pertanyaan tadi, adakah ironi yang lebih pedih dari tak dipedulikan orang yang kita kenal, sedangkan mereka yang peduli justru tak kita kenal?

Beberapa saat setelah Uni Soviet bubar, 1991, kondisi tadi justru menguntungkan. Para petinggi militer menjual murah senjata, peluru dan helikopter tempur selagi pemimpin pemerintahan baru belum dibentuk. Siapa mau menangkap? Sedangkan negara baru saja bubar, elit masih sibuk bertikai rebutan kekuasaan, dan intelijen kehilangan komando. Mereka yang peduli pada masalah ini, umumnya tak mengenal siapa pelaku penjualan aset (bekas) negara Soviet tadi.

Viktor Bout menangkap ‘peluang’ menyelundupkan senjata ke berbagai negara di Afrika yang mendapat embargo senjata akibat konflik, juga kepada Taliban di Afghanistan. Uni Soviet yang kolaps memunculkan tiga faktor peluang bagi Viktor Bout: pesawat terbang ditinggalkan di landasan dari Moskow ke Kiev karena tak ada uang untuk pemeliharaan dan bahan bakar; banyak senjata menganggur di gudang tapi tak banyak penjaga akibat negara tak menggaji; sedangkan permintaan justru besar dari klien tradisional Soviet dan kelompok bersenjata baru dari Afrika hingga Filipina yang butuh Kalashnikov.

Bekas koresponden Washington Post, Douglas Farah dan Stephen Braun, menghadirkan Bout dalam buku Merchant of Death: Money, Guns, Planes, and the Man Who Makes War Possible (2007). Pelanggan Bout bukan saja kelompok yang bertikai di Afrika, melainkan juga kepada Kellog, Brown & Root, yang sebelum tahun 1998 menginduk ke Halliburton. Sebelum buku ini terbit, karakter Bout sudah dikenali sebagai Yuri Orlov (Nicholas Cage) dalam Lord of War. Andrew Niccol menjadi penulis dan sutradara film yang dirilis tahun 2005 ini.

Tapi, Orlov bukanlah perwira militer seperti Viktor Bout. Ia berasal dari Ukraina yang dibawa bermigrasi ke Amerika Serikat oleh orang tuanya. Mereka sekeluarga menyamar sebagai Yahudi dan membuka restoran. Sang perwira militer yang mau menjual senjata kepada Orlov ialah pamannya, Jenderal Dmitri, yang berhasil diyakinkan bahwa orang yang kenal tak peduli apa yang ia lakukan dan orang yang peduli—semisal Amnesty International atau komite anti perang—tak dikenal. Bisnis pun berjalan. Yuri menjadi Dewa Perang.

Ironi itu lalu batal. Viktor Bout maupun Yuri Orlov berhasil mengubah situasi. Kendati kejam dan brutal. Kita seperti diyakinkan bahwa tragedi dapat diubah menjadi parodi, ironi pun mengandung keganjilannya sendiri. Pada banyak kasus, kemalangan seseorang melahirkan kemenangan bagi orang lain, kesengsaraan bisa jadi buah kedigdayaan dan bencana bisa berarti undangan dari sebuah pariwara.

Modal (besar atau kecil) dan jaringan, selanjutnya menjadi pelengkap dari kecerdikan dan kecermatan mengawasi peluang. Yuri Orlov bermodal kecil, bahkan sempat ditampik oleh pedagang senjata kawakan ketika mengajukan tawaran dan diejek sebagai amatir. Viktor Bout tidak mengantungi uang banyak ketika memulai mendagangkan senjata, sebagian malah dibayar kemudian. Tapi, keduanya—yang fiksi dan fakta—sama memiliki kecerdikan, kecermatan dan jaringan.

Mungkin Tung Desem tidak menganjurkan kepandaian melihat peluang a la Bout dan Orlov. Mario Teguh bisa jadi menyebut mereka sebagai ‘orang super’ (seperti jargon penyemangat Mario kepada kliennya agar optimistis) yang “sepatutnya tak dicontoh”. Kendati keduanya mengedepankan resep yang sama: kecerdikan menangkap peluang, memiliki modal sesedikit apapun, dan jaringan kerja atau pertemanan.

Tahun depan, menurut beberapa analis (politik, keuangan, maupun perdukunan), dianggap masih menyisakan kesulitan cukup panjang akibat krisis ekonomi sedunia tahun 2008. Sampai enam bulan pertama 2009, perekonomian diperkirakan berjalan tertatih, sukur tidak merangkak. Pemilik industri sudah sejak sebulan terakhir mengaku akan memberhentikan banyak buruhnya. Beberapa pabrik di Jawa dan Sumatera malah telah mengumumkan resmi nama-nama buruh yang kontraknya berhenti per 31 Desember ini. Badan Pusat Statistik memperkirakan hingga semester pertama tahun depan sebanyak 3 juta buruh bakal di-PHK. Hadiah tahun baru yang sungguh tak menyenangkan.

Gaung seruan Marx sayup-sayup terdengar, “buruh sedunia, bersatulah.” Sayang gaung itu tak mengeras. Barangkali karena toa pengeras suara butuh baterei, dan baterei diproduksi buruh yang dikuasai pemilik kapital. Lah, buruhnya di-PHK?

Buruh akan mengalami pedih perihnya sendiri per 1 Januari nanti. Siapa bisa menakar senyeri apa keperihan itu dan seluka apa pedihnya? Bisakah dibandingkan dengan ironi, “orang yang kau kenal tak peduli, orang yang peduli tak kau kenal?” Rasanya siapapun tak berhak membandingkan. Memaknai perasaan tak bisa ditentukan oleh definisi dan cara pandang orang lain. Bila kita terluka oleh orang lain, orang lain itu tentu tak berhak bicara, “tak mungkin kau terluka oleh aku.”

Cuma siapa bisa mendakwa bahwa pilihan pengusaha memberhentikan buruh akibat tekanan biaya produksi adalah keputusan salah? Bukankah zaman telah begitu pragmatis, dan “lukamu adalah lukaku, sukamu adalah sukaku” hanya ada di cerita stensilan atau rayuan gombal buat pacar yang masih lazim dikirimkan. Bedanya, dulu lewat kertas surat yang dititipkan ke teman, sekarang surat elektronik (e-mail) atau pesan pendek telepon seluler, tapi tujuannya sama: stensil. Kebersamaan juga tinggal seruan kosong yang dijual untuk meraih suara pemilih—kebetulan bakal berlangsung pula tahun depan—seperti pada pemilu 2004 berbunyi “bersama kita bisa.” Sampai sekarang rupanya tak bisa, karena memang tak bersama(?)

Pelan-pelan ironi tengah bekerja. Buruh bakal kena PHK, bahkan sebagian sudah pasti, tapi ramai-ramai memaklumi. Situasi dan kondisi kembali diandalkan untuk memberi alasan pembenar. Seperti pembunuh bisa diampuni sepanjang pembunuhan dilakukan dalam keadaan amat terpaksa. Kemiskinan dan—barangkali—kematian sistemik akibat pemberian upah terhadap buruh dihentikan (dipecat) secara nasional ‘dimaklumi’ lantaran, “krisis ini dialami bukan hanya oleh kita melainkan penduduk sedunia.” Maka, hari-hari ini mengambil keputusan paling minimal sudah dianggap prestasi pemerintah. Bila tadinya target pertumbuhan ekonomi 2009 ditargetkan lebih dari 7 persen, maka bisa mencapai 4,4 persen pun dinyatakan “patut disukuri.”

“Kondisi ekonomi sedang berat, kawan. Semua harap maklum.”

Sepelan apapun ironi bekerja, korbannya telah bisa dihitung. Angka 3 juta manusia hanya berasal dari buruh. Belum termasuk suami, istri, dan anak, atau orang yang tinggal menumpang di rumahnya. Kepada minimal kelipatan 3 dari 3 juta orang ini, ironi gagal batal. Berbeda dengan Yori Orlov dan Viktor Bout yang memiliki sedikit modal, kecerdikan dan kecermatan plus jaringan. Juga karena—mudah-mudahan—kita memilih menjauhi antogisme kriminal. []

(Rumoh PMI Edisi Desember 2008 | Kolom Ureung Gampong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s