Percakapan 6 – Kepala Keluarga

Suara orang mengaji dari masjid yang tak jauh dari kost Mala dan Fairuz mulai hilang. Tengah malam telah dijelang. Keduanya masih berada di kamar Fairuz.

“Menurutmu sebaiknya bagaimana?” Fairuz bertanya. “Apakah sebaiknya masing-masing gender ini mengurusi wilayahnya sendiri-sendiri atau tak ada batasan wilayah?”

“Aku bukan siapa-siapa untuk merasa berhak menentukan apa yang terbaik bagi seluruh perempuan dan laki-laki,” Mala menjawab.

“Sekadar pendapat saja.”

“Yah, mengurusi wilayah masing-masing tentu tak bisa dilakukan. Lagipun untuk apa? Bila cara itu digunakan atau dipilih, kukira sama artinya dengan mengakui klaim sepihak yang berlaku selama ini bahwa tempat perempuan memang di rumah. Perlu kutegaskan bahwa dengan kata ‘rumah’ bukan berarti aku menganggap bahwa tempat ini begitu rendah derajatnya sehingga kita perlu ramai-ramai berkompetisi di luar.”

Fairuz memahami maksudnya. Ia pun telah menyimak bahwa penggunaan kata ‘lelaki’ dan ‘perempuan’ dalam percakapan dengan Mala tak melulu merujuk kepada jenis kelamin, melainkan pada pembagian kerja yang ditetapkan menjadi produksi dan reproduksi. Karena yang pertama selalu dinyatakan kerja lelaki dan yang kedua ialah perempuan, maka kepada pengertian inilah Mala memaksudkan istilahnya.

“Mengurusi wilayah masing-masing menjadi tak mungkin karena lelaki dan perempuan hidup dalam satu rumah juga,” sambung Mala.

“Kau lalu menganjurkan agar tak ada batasan wilayah?”

“Tak ada batasan sama sekali juga hampir tak mungkin,” jawab Mala.

Fairuz memiringkan kepala. Meminta penjelasan lanjutan.

“Teriakan bahwa telah terjadi ketidakadilan terhadap gender perempuan, bahkan hingga kepada jenis kelamin perempuan, bukanlah karena perempuan menolak pembagian kerja. Yang ditolak ialah cara pembagian yang tidak adil, hanya berdasarkan jenis kelamin, dan ditetapkan secara gampangan pula. Hidup seolah dibagi dua garis lurus dengan sisi kiri dan kanan yang jelas.”

“Kanan laki-laki dan kiri perempuan?” potong Mala. “Kanan adalah dunia publik dan kiri adalah privat.”

“Ya. Kanan adalah dunia publik dan kiri adalah privat. Kadang-kadang bertukar tempat. Kita bisa menerima itu. Yang sulit diterima karena tidak adil ialah bahwa hanya ada satu jenis kelamin di satu tempat dan satu jenis kelamin lain di tempat sebelahnya. Padahal keduanya bisa saja bertukar tempat atau bersama-sama berada di kedua tempat.”

“Kalau hanya salah satu yang berada di kedua tempat itu. Kita meminjam istilah Zul di sini: sukses di dunia publik dan di dalam rumah, bagaimana? Itu kau anggap partisipasi semu?” tanya Fairuz.

“Bukan cuma semu. Menjebak. Karena memberi beban berlebihan kepada perempuan dan tidak kepada lelaki. Mamak menyuruh aku menyapu bagian dalam rumah lalu Yusran menyapu dan membersihkan sampah di pekarangan. Sama-sama menyapu, dan dibagi. Beban sama. Mamak tidak menyuruh aku menyapu bagian dalam rumah lalu membantu Yusran membersihkan bagian luar rumah.”

“Bila memang intinya ialah pembagian beban, menarik garis lurus bukankah lebih mudah? Andaikan perempuan, di seluruh dunia, sepakat bahwa kita mengambil wilayah kerja di rumah dan di luar ialah laki-laki, bagaimana? Bukanlah lebih mudah? Jangan-jangan dulu juga kontrak sosialnya begitu,” Fairuz melanjutkan bertanya.

“Pertama, pengandaianmu berlebihan dan sulit dibayangkan secara teknis. Siapa sanggup membuat konferensi sedunia yang dihadiri atau diikuti oleh seluruh perempuan sedunia untuk mengambil kesepakatan begitu? Bila pun bisa aku yakin akan banyak suara menuntut sebaliknya, “gantian dong, perempuan yang di dunia publik dan lelaki di privat” bisa saja kan?

“Kedua, bunyi tuntutannya memang bukan seperti itu. Sederhana saja: pembagian di semua aspek. Karena dulunya juga begitu. Ambil contoh kasus masa perburuan dan perladangan dulu. Aku tak mengagungkan zaman itu karena pada konsep pemujaan kepada kekuatan gaib yang dipercaya menciptakan dunia kerap mengorbankan perempuan. Meski pada konsep pemujaan yang lebih tua lagi, kekuatan pencipta itu sering diungkapkan sebagai “ibu” dengan tanpa pemilah atau merujuk kepada identitas kelamin tertentu. Apalagi merujuk Tuhan sebagai lelaki.

“Tidak, Fairuz. Aku tak percaya kontrak sosialnya dulu begitu. Aku lebih percaya bahwa telah terjadi pengambilalihan dari prinsip komunal kepada bentuk otoriter. Komunitas-komunitas yang mulanya berdampingan dan saling bekerja sama itu dikuasai oleh satu komunitas saja yang dipimpin oleh satu kekuasaan despotik, begitu seterusnya sehingga kerja bukan lagi pemenuhan kebutuhan bagi komunitas melainkan suatu setoran kepada kekuasaan. Mungkin demi melindungi ‘aset’-nya—nah ini, tiba-tiba perempuan dimasukkan sebagai aset bagi suatu komunitas. Mungkin karena kekuasaan despotik yang baru itu begitu haus bila melihat perempuan, maka komunitas yang dikuasai itu berusaha melindungi perempuannya dengan cara menaruhnya di dalam rumah saja. Tetapi, tentu saja ini cuma dugaan. Aku tidak sedang berteori atau memaklumkan sebuah sejarah pada masalah ini. Aku hanya meragukan ada kontrak sosial yang pernah dilakukan untuk membagi wilayah publik dan domestik atau privat ini.”

“Barangkali setelah agama-agama wahyu turun baru ada pembagian semacam itu?” Fairuz ikutan mengira.

“Aku tidak yakin juga. Mungkin sebelum itu pun sudah. Kita menduga kepada agama-agama wahyu karena dalam agama-agama itu kerap muncul ayat-ayat yang sering dipakai untuk meminggirkan perempuan. Karena beberapa ayat merujuk kepada keunggulan lelaki. Karena ada ayat yang menyatakan lelakilah pemimpin bagi perempuannya. Perdebatan di masalah itu masih berlangsung karena pada ayat-ayat yang lain apalagi bila ditafsirkan secara lebih adil bakal terkuak bahwa Tuhan yang mewahyukan agama-agama itu melalui nabi dan rasulnya, menginginkan suatu kesamaan dan kesetaraan bagi makhluk manusia.”

Fairuz sama seperti Mala pernah membaca ayat, “para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari istrinya”, juga, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” Pengertian ‘sebagian mereka’ pada An-Nisaa: 34 itu diterjemahkan sebagai lelaki dan ‘sebagian yang lain’ ialah perempuan. Bila Fairuz mengingat suatu hadits, maka kondisinya akan lebih parah lagi. Suatu hadits yang diklaim shahih menyatakan, “tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinan mereka kepada seorang wanita.”

Tapi, konsep kesetaraan sudah ditegaskan juga oleh Allah ketika mewahyukan pelahiran atau penciptaan manusia. “Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah), dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”(An-Nisaa:1). Kata-kata “kemudian Dia jadikan ‘daripadanya’ istrinya diulangi az-Zumar: 6 dan Al-A’raf:189. Pengertian ‘daripadanya’ sesungguhnya merupakan kata ganti dari nafs wahidah, asal darimana manusia diciptakan. Lelaki dan perempuan pertama, Adam dan Hawa, diciptakan sama-sama dari nafs wahidah. Bukan yang satu diambil dari bagian tubuh yang lain seperti anggapan.

Penafsiran ayat penciptaan itu ialah menegaskan bahwa istri Adam (istri lelaki) diciptakan dari jenis yang sama, meski memiliki perbedaan pada beberapa bagian tubuh, diantaranya kelamin. Tafsir ayat-ayat tadi dikuatkan dalam Rum: 21, “Dan dari tanda-tandaNya, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri.” Runtutan penciptaan bukanlah: nafs wahidah untuk Adam lalu tulang rusuk Adam untuk Hawa, melainkan dari nafs wahidah untuk Adam lalu pada kali kedua nafs wahidah yang sama untuk Hawa. Lantaran sumber penciptaan atau asalnya sama, maka esensi kemanusiaan keduanya tentulah sama. Pembedaan dari keduanya ialah demi sunnatullah seperti ditandaskan Allah dalam An-Nisaa: 1 tadi, “…dan dari keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”.

Allah membedakan manusia atas dua jenis kelamin ialah demi tujuan kemanusiaan itu sendiri: melanjutkan spesies manusia di bumi. Karenanya pemusnahan oleh satu atas satu yang lain dilarang. Karena keduanya memiliki tugas sama, Mala dan Fairuz sama bersepakat, tidaklah satu memiliki posisi, harkat dan martabat lebih tinggi atas yang lain. Kemuliaan, bagi keduanya, dipahami bukan suatu tingkat yang dicapai oleh satu orang atau satu jenis orang, melainkan oleh kebersamaan. Mala dan Fairuz percaya, orang-orang shaleh sejak lama meyakini keadaan ini dan sama sekali tak menganjurkan peminggiran satu pihak—perempuan—oleh pihak lain—lelaki—pada keseharian hidup manusia.

“Kau bisa memberi contoh ketimpangan sehari-hari?” tanya Fairuz kepada Mala.

“Kita pernah berbicara soal itu. Keluarga. Rumah tangga. Ingat aku pernah bilang, jangan-jangan istilah kepala keluarga sesungguhnya hanya memiliki makna birokrasi, bukan sosiologi. Karenanya aku tak percaya bahwa kenyataan kepala keluarga dipegang lelaki ialah berasal dari sesuatu yang kodrati. Okay, proses pelahirannya dimulai laki-laki, lalu perempuan mengada. Apakah yang telah lahir lebih dulu ketika itu, memimpin yang mengada kemudian? Catatan firman tidak berbunyi demikian. Apalagi kemudian keduanya dipisahkan untuk waktu yang sangat lama ketika diturunkan ke bumi.

“Maka, secara sosiologi pun pada mulanya keadaan tidak demikian. Bukan lelaki memimpin perempuan atau sebaliknya. Namun, birokrasi selalu menginginkan himpunan-himpunan yang ia atur memiliki komando tertentu agar mempermudah sistem kerja. Birokrasi, entah untuk urusan kependudukan sampai keamanan, membutuhkan simpul untuk membantunya menata himpunan di bawahnya. Dalam keluarga, simpul itu ditetapkan lelaki dan perempuan serta anak ialah bagian dari himpunan yang harus ditata dan diatur.”

“Kamu menuduh berlebihan,” protes Fairuz.

“Kamu periksa undang-undang perkawinan kita. Apa bunyinya? Secara tegas menyatakan bahwa suami kepala rumah tangga dan istri adalah pendamping suami yang wajib menghormati dan mematuhinya. Kalau kamu pernah menanyakan di mana cinta dalam hubungan lelaki dan perempuan yang aku bicarakan karena kamu menilai yang terjadi adalah mekanisme teknikal dan hanya mendatangkan ketegangan, maka aku kini bertanya, di mana cinta dalam rumah tangga yang diatur oleh undang-undang perkawinan semacam itu?”

Fairuz butuh waktu sejenak untuk mencerna Mala.

“Karena cinta itulah penghormatan muncul, Mala,” ujar Fairuz akhirnya.

“Bagaimana dengan kepatuhan?” balas Mala. “Biasanya kepatuhan terjadi karena ada rasa takut, barang sedikit pun. Ada yang mengancam. Kalau tidak patuh akan begini akan begitu. Dan penghormatan macam apa yang ditunjukkan dari rasa semacam itu. Cinta ketika berkenalan atau berpacaran, mungkin, tiba-tiba harus diubah oleh undang-undang yang menuntut penghormatan dan kepatuhan hanya berdasar pada anggapan bahwa karena lelaki pemimpin rumah tangga maka ia harus dipatuhi dan dihormati. Fairuz kita harus menghormati semua orang, tentu saja, terutama orang yang kita cintai. Itulah dasarnya. Bukan karena ‘ada yang menyatakan harus patuh dan harus hormat’ apalagi yang mengatakan itu bernama undang-undang.”

“Mala, bila dasarnya cinta, mengapa harus merasa terganggu dengan bunyi undang-undang itu?” Fairuz melanjutkan tanya.

“Karena oh karena, bila salah satu pihak merasa sudah tidak lagi dihormati atau dipatuhi ia akan menyatakan bahwa yang tidak menghormati dan tidak mematuhi itu, melanggar undang-undang. ‘Ingat lho, ada undang-undang. Kamu tak boleh membantah suamimu karena itu berarti tidak menghormati dan menghargainya’. Nah? Belum puas, Fairuz. Ada lagi peringatan-peringatan yang entah mencomot dari sejarah dan kutipan firman mana bahwa akibat lebih gawat bakal diterima perempuan yang mendebat suaminya. Pada mulanya cinta? Ya, cinta. Tapi, tak pernah ada jaminan bahwa aturan-aturan yang telanjur berat sebelah itu tidak digunakan oleh satu pihak, suami, pada kasus-kasus tertentu.”

“Lalu siapa kepala keluarga? Perempuan?” Fairuz menyisir rambutnya dengan tangan.

“Mengapa harus ada? Bagaimana bila keduanya?” balas Mala.

“Karena tak mungkin sebuah kapal diatur oleh dua nakhoda.”

“Fairuz, sahabat dan kekasihku, benarkah sebuah keluarga ibarat bahtera yang melaju di samudera? Melayari apa dan menuju ke pelabuhan mana? Surga? Apakah peta berikut tiket menuju ke sana hanya dipegang suami? Siapa yang membawa para janda bila begitu? Bahkan nakhoda tidak sendirian, ia memiliki pendamping dengan tugas yang sama. Pilot juga memiliki co-pilot. Justru berangkat dari logika yang kau sebutkan tadilah, maka pengendali keluarga tidak hanya dipegang oleh satu orang. Tidak hanya laki-laki. Dalam pelayaran 24 jam ada pembagian tugas antara nakhoda yang mendampinginya. Mereka sama butuh istirahat dan sama harus awas dan waspada pada gunung es di depan, pada badai yang bakal datang. Bila pun keluarga ibarat bahtera, maka tidakkah lebih selamat bila dua orang dewasa yang ada di dalamnya, memegang kendali dan berbagi tugas secara sama dan setara?”

“Aku mengagumi para janda itu,” ujar Fairuz. “Suami mereka dulu hanya mengerjakan soal yang menurut laki-laki ialah tugas laki-laki dan tidak mengurus masalah domestiknya. Ketika suami mereka meninggalkannya, meninggal atau pergi begitu saja, tiba-tiba saja janda-janda itu harus mengurusi dua hal sekaligus, tanpa pengetahuan yang ditinggalkan oleh suaminya tentang apa itu dunia publik. Mereka perkasa, lebih dari suami-suami mereka dulu, Mala.”

Kemala Puti mengagumi komentar Fairuz. Ia menyimpan sayangnya dalam-dalam kepada perempuan yang beberapa hari sesudah lebaran akan makin dekat dengan Zul.

“Betul, Fairuz. Fakta itu juga membongkar asumsi keliru yang muncul selama ini bahwa karena lelaki lebih kuat dan lebih lebih serta lebih segalanya itulah maka menjadi kepala keluarga.”

“Bila kelak aku menikah dengan Zul, bagaimana lalu menerapkannya, Mala?”

“Maukah Zul menerima kenyataan bahwa ia bukan satu-satunya pengendali dan pemimpin dalam rumah tangga kalian kelak? Itu dulu yang harus dimengerti bersama. Setelahnya, tidak ada yang sulit karena kita akan hidup mulai bangun pagi sampai menutup mata dan berjumpa lagi dengan pagi, begitu seterusnya. Bila kenyataan itu telah dimengerti bersama, kalian akan sama-sama paham bahwa tiada di antara kalian yang memegang mutlak mengenai kebenaran. Tiada otorita tunggal penentu langkah bersama kalian. Yang ada ialah kebersamaan.”

“Bisakah?”

“Belajarlah dari persenggamaan suami-istri. Karena dimulai dari alat-alat persenggamaan itu kita berbeda dan dibedakan secara tidak adil. Bukankah pada persenggamaan itu batas lelaki dan perempuan lalu hampir menghilang? Siapa memimpin irama dan menentukan titik sentuhan tidak berdasarkan kepada ‘maunya’ laki-laki saja, tapi ia pun harus menghormati ‘maunya’ perempuan?”

Fairuz tertawa mendengar anjuran Mala. “Kau pakar nampaknya.”

Kemala membalas tawa. “Marilah kita belajar dari sana.” Lalu mereka melanjutkan tawa.

“Kau serius dengan anjuran itu?” tanya Fairuz.

Kemala Puti mengangguk dua kali. “Sangat serius.”

“Mengapa?”

“Intinya ialah kita harus melacak mengapa kita dibedakan dengan lelaki dan apakah perbedaan itu harus menjalar ke segala bidang termasuk cara hidup di lingkungan sosial, status hukum dan hak serta kewajiban. Bila perempuan tidak lagi dipandang makhluk lemah, dan ia juga memiliki fungsi dan peran yang sama kuat serta setara bobotnya, dan pandangan ini bisa diterima oleh lelaki, aku yakin tidak ada kisah perempuan dipukuli sembarangan bahkan ketika masih berpacaran. Atau perempuan yang ditinggalkan begitu saja oleh lelakinya. Itu semua ialah kekerasan yang harus diakhiri. Banyak kasus-kasus yang bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk mengubah keadaan ini.

“Pewarisan, misalnya. Bila pada suatu masa perempuan tak memiliki hak waris, lalu datang masa yang mengubah situasinya, yakni memberi bagian satu banding dua dengan lelaki, bukankah itu kemajuan atas pengakuan derajat perempuan? Bila kemajuan itu dilanjutkan, tidakkah bisa bahwa perempuan dan lelaki memiliki hak waris sama? Pernah ada peminggiran terhadap kaum perempuan untuk tidak ikut pemilihan umum. Lalu situasi bisa diubah. Perempuan juga boleh datang ke tempat pemungutan suara. Tidak hanya laki-laki yang dikenali sebagai kepala keluarga, itu kan berarti bahwa kesetaraan harus betul-betul terjadi.

“Kau ingat Fairuz, bagaimana rumitnya pembagian bantuan pangan dan pakaian ketika tsunami baru terjadi? Juga ketika mereka yang hidup setelah tsunami mau dipindahkan dari tenda ke barak? Makanan tak cukup, pakaian tak cukup, barak pun dibagi kamar secara tak adil. Mengapa? Hitungannya ‘kepala keluarga’. Per kepala keluarga mendapat sekian. Lah, berapa jiwa di dalam keluarga itu tak diitung? Mengapa pembagiannya tak berdasarkan per jiwa mendapat sekian? Karena oh karena di kepala kita rata-rata langsung rancu begitu saja bila berurusan dengan birokrasi. Media massa juga mencatatnya begitu, “korban tsunami yang tinggal di barak A sebanyak sekian KK”, maksudnya kepala keluarga. Lah yang tinggal di sana bukan cuma suami-suami kan? Tapi juga ada istri, anak dan mungkin keponakan. Mengapa tak menyebut sekian jiwa? Secara statistik lebih akurat, dan pembagian pangan serta pakaian dan ‘jatah hidup’ lebih bisa mendekati rasa keadilan.”

“Kita perempuan dilupakan dari statistik,” timpal Fairuz.

“Tepat sekali istilahmu. Dan itu tak lain tak bukan kekerasan, Fairuz. Kekerasan terhadap perempuan oleh wacana atau penguasaan alat komunikasi dan bahasa dari maskulin. Laki-laki. Di koran-koran banyak sekali itu bertebaran. Misal, ‘sekelompok pemuda menggagahi siswi SMU.’ Halah. Enak saja, memangnya perkosaan yang dilakukan itu suatu perbuatan gagah, apa? Lalu kita di masyarakat menghakimi si siswi SMU dengan bilang, ‘habis kamu tak rapi menutup jilbabmu’.”

Fairuz menyimak suara Mala makin meninggi. Untung tak mengalahkan suara yang muncul di luar: panggilan untuk bersiap sahur. Puasa tinggal dua hari lagi. Adakah lusa ada yang memulai untuk ber-idul fitri lebih dulu karena perbedaan pengetahuan tentang hitungan dan penglihatan atas bulan?

Ini malam terakhir mereka bersama. Kemala akan pergi ke Trieng Gading, Pidie untuk menjumpai Mamak dan Yusran. Abi telah tiada. Bertemu dengan dua ‘kepala keluarga’. Ada Mamak yang tetap menjadi tempat Yusran menaruh hormat, dan ada Yusran pula yang tetap punya suara dan sesekali mewakili dalam urusan gampong. Mamak tahu, meski Yusran masih belia hanya karena ke-lelaki-annya ia dianggap harus mewakili keluarga yang sudah tak memiliki bapak. Anggapan orang masih begitu, dan Mamak tak bermaksud menentang terbuka. Ia hanya menanam cara berbeda bagi Mala dan Yusran. Barangkali agar perubahan bisa terjadi kelak lewat dua anak yang telah dididik secara sederhana namun dengan pandangan ‘berbeda’ itu.

Kemala menangkapnya secara sederhana pula, “ada yang membedakan dari mula, posisi setara yang awalnya ada diubah karena perbedaan fisik yang terjadi, dan cara mengubahnya agar posisi setara itu muncul lagi, ialah menanamkan yang ‘berbeda’ dari yang ‘sekarang’.”

Kemala Puti lalu merasakan rindunya pada Mamak makin berlebih. Tapi, malam ini ia menumpahkan kepada Fairuz, sahabat dan kekasihnya. []

2 thoughts on “Percakapan 6 – Kepala Keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s