Percakapan 5 – Akses vs Kontrol

Bob asimetris.

Potongan rambut Fairuz mirip gaya artis Victoria Beckham yang menikah dengan pemain sepakbola Inggris, David Beckham. Keruan Fairuz berada di deretan selebritas papan atas dunia untuk urusan potongan rambut. Selain Vicky, ada Katie Holmes, Jessica Simpson serta Jenny McCharty yang punya model rambut serupa.

“Kamu suka, Mala?” Fairuz meminta pujian.

Kemala mengangguk.

“Zul suka, nggak?” tanya Mala.

Fairuz menyipitkan mata. “Zul belum pernah lihat aku melepas jilbab. Jadi dia mana tahu aku ini berambut panjang, pendek atau malah botak. Pernah dia tanya rambutku itu sepanjang apa, dan cuma kuberitahu bahwa sedikit bergelombang di bagian bawah dengan panjang sejengkal dari bahu. Tapi, aku tak memperlihatkannya.”

“Tapi, ia pasti merekam dalam ingatan keteranganmu itu. Bagaimana bila nanti setelah dibuka ia mendapati istrinya berambut bob?” Mala mengonfirmasi.

“Ia akan melihat aku secantik Victoria Beckham,” kerling Fairuz.

“Lebih cantik kurasa,” puji Mala. “Tapi bagaimana bila ia malah tak suka?”

“Ah, nanti pun panjang lagi. Bila aku menikah dengannya 6 bulan atau setahun ke depan, rambutku akan bertambah 4 hingga 5 centimeter dari sekarang,” Fairuz menyepelekan pertanyaan Kemala.

“Aku tidak bertanya soal teknis, Fairuz.”

“Lalu apa? Estetika? Apa yang salah dengan rambut pendekku? Siapa berhak menentukan estetika terhadap suatu obyek? Lagipun aku bukan obyek.”

Kemala memerhatikan seksama gaya rambut sahabatnya. Bagian depannya dipotong sedagu membingkai wajah, bagian belakang sedikit lebih pendek. Mala membayangkan, Fairuz akan tampak lebih sempurna bila bagian belakang yang hitam itu diberi sentuhan warna coklat dan merah saling bersisihan. Ia sendiri melepas jilbab dan tampaklah model georgeous origami mengolah rambut lurusnya. Hitam panjang melewati bahu dengan highlight merah mahogani.

“Seksi,” desis Fairuz. “Kamu bleaching untuk mewarnai sebagian rambutmu itu, Mala? Nanti rusak loh.”

“Kuno,” ketus Mala. “Pewarna rambut Italia sudah banyak digunakan, Non. Sehingga rata-rata orang Asia yang berambut hitam bisa diwarnai tanpa bleaching dan terlihat alami. Kamu juga bisa memberi warna selain hitam pada bagian belakang rambutmu. Saranku: merah dan coklat. Kamu akan terlihat sensual.”

“Aduh, potongan begini saja Zul belum tentu setuju, apalagi diwarnai macam-macam. Apa dia bilang nanti,” Fairuz memprotes.

Kemala tak dapat menahan gelak. Ia tertawa tanpa putus selama lebih dari semenit. Tak peduli Fairuz berulangkali memintanya berhenti dan bertanya apa yang ditertawakan. Telunjuknya menuding-nuding bila Fairuz bertanya.

“Aku?” tanya Fairuz. Kemala mengangguk-angguk tanpa menghentikan tawanya.

“Aku yang kau tertawakan?” Kemala mengangguk-angguk lagi, juga tanpa menghentikan tawa.

Setelah puas tertawa. “Ya, kau yang kutertawakan.”

“Mengapa?” ketus Fairuz.

“Ingat-ingat saja ucapanmu sendiri: ‘Apa yang salah dengan rambut pendek? Estetika? Siapa berhak menentukan estetika terhadap suatu obyek? Lagipun aku bukan obyek.’” Mala mengulangi kalimat Fairuz.

“Ah,” Fairuz tersadar. Ia mestinya tak mengajukan Zul sebagai alasan menolak tawaran Mala untuk mengecat rambut belakang.

Okay, tertawalah sepuasmu.”

Kemala menggeleng. “Tidak, tidak. Maafkan kalau aku tak tahan dan langsung tertawa. Tapi, reaksimu itu wajar, spontan. Tak terlalu salah.”

“Kalau kau bilang tak terlalu salah, berarti ada salahnya. Sama dengan ‘tak terlalu benar’, ada benarnya tapi juga memiliki salah,” susul Fairuz.

“Ya, tapi aku tertawa karena murni lucu. Soal dirimu—sekali lagi—spontan. Sesekali kita lupa memang. Bukan cuma soal hubungan lelaki dan perempuan, untuk banyak hal, lupa dengan prinsip atau keyakinan sendiri setelah berhadapan dengan anggapan atau keyakinan umum.

“Ingat yang kita bicarakan beberapa malam lalu, ketika kau mencegahku untuk tidak mengumbar pikiran-pikiranku kepada banyak orang, terutama lelaki? Katamu karena mereka akan tidak suka. Ingat? (Tanpa menunggu Fairuz mengangguk, Mala melanjutkan) Topik utamanya ialah tentang otorita. Pemegang wewenang. Terhadap apa? Terhadap tubuh kita sendiri. Malam itu aku ingat bahwa beberapa tahun lampau ketika aku masih kanak-kanak, menjelang masa menstruasi pertama, Mamak berujar tentang bagian tubuh yang bakal mengeluarkan darah saban bulan ini. Ya, vagina. Kata Mamak ‘ini’ harus dijaga sampai yang berhak bakal datang. Coba kau simak: Yang berhak. Malam itu aku tak berkomentar apa-apa karena tidak tahu bahwa bagian tubuh yang jelas-jelas melekat di tubuhku ini bahkan terus menyambung ke dalam dan berarti menjadi bagian utuh dari keseluruhan tubuhku, dinyatakan ‘bukan hakku’. Lalu hak siapa? Suami? Siapa dia? Rupanya seperti apa, perangainya seperti apa, dan bagaimana bisa dia yang memiliki wewenang atas vaginaku?”

“Kita sendiri yang memiliki wewenang atas keseluruhan tubuh kita,” timpal Fairuz pada akhirnya.

“Betul. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.”

“Tapi, kita tentu tak bisa begitu saja mengotak-atik rambut sesuka hati atau membikinnya botak, mempertontonkan payudara, menyerahkan vagina kepada siapa saja, Mala.”

“Pada prinsipnya: bisa. Sepanjang kau mau.”

Fairuz nyaris memekik. “Ah.”

“Tahan dulu. Pada bagian ini kita bisa kacau balau kalau melupakan prinsip-prinsip dasar dan mencampuradukkan dengan berbagai nilai. Dengan perkataanku terakhir, jelas, tidak hanya ada satu nilai yang hidup dalam masyarakat, tapi berbagai nilai. Kuulangi lagi, prinsipnya kau, aku, perempuan yang lain, juga lelaki, memiliki otorita penuh terhadap tubuhnya. Tapi, ilmu kesehatan mengajarkan bahwa menghilangkan warna alami rambut dengan cara bleaching merusak sel-sel pelindung rambut itu sendiri, menghilangkan lipatan di bawah mata supaya tidak tampak berkerut membahayakan mata bila operasinya gagal, membesarkan payudara dengan cara menyuntikkan silikon atau jel ke dalamnya bisa membikin bahaya si payudara sendiri, juga payudara bikinan yang terlalu besar merugikan tulang punggung perempuan sendiri, dan seterusnya dan seterusnya juga seterusnya sampai vagina kita, sampai ujung kaki kita. Pada perjalanannya, kita semua, manusia tanpa membedakan jenis kelamin tidaklah sebebas benar-benar bebas seperti yang kau artikan tentang ucapanku. Selain ilmu pengetahuan, masyarakat juga mengenal tiga norma lain, Fairuz. Ada norma sosial, norma hukum dan—jangan lupa—agama. Ketiganya ini hidup, mengatur dan menata keseharian kita.”

“Ketiganya itu membatasi ruang gerak perempuan, termasuk cara berpikirnya, begitu menurutmu?” potong Fairuz.

“Sebagian besar iya. Kita menyebutnya kontrol,” tutup Mala.

“Tetapi kontrol itu baik,” balas Fairuz.

“Kontrol terjadi atau dibuat terjadi mestinya memang buat kebaikan. Karena kontrol ada dimaksudkan untuk mengatur. Supaya tidak semua hal bisa diambil atau digunakan sekaligus, agar tidak lekas rusak atau habis. Air bersih, misalnya. Masih banyak keluarga-keluarga di negara ini yang sulit untuk mengakses air bersih. Mereka yang tinggal di pedesaan—kau tahu aku sering ke tempat mereka karena mengurusi watsan—harus berjalan cukup jauh dari rumah ke sumber air. Kami membuatkan pipa agar mereka bisa mendapat akses lebih mudah. Siapa mereka? Kau tahu, Fairuz, karena pekerjaan rumah dianggap pekerjaannya perempuan, maka yang berjalan cukup jauh ke sumber air dan pulang dengan beban berat itu ialah: perempuan. Jadi, langkah sederhana membuatkan pipa air ke rumah-rumah ternyata dampaknya cukup besar, yakni akses perempuan kepada sumber air. Sumber kehidupan, Fairuz.

“Begitu juga kalau pemerintah mendirikan puskesmas atau puskesmas pembantu lebih dekat ke pemukiman, atau di tengah-tengah pemukiman. Membuatkan posyandu yang berdekatan dengan tempat tinggal ibu hamil dan menyusui. Yang tengah dilakukan bukan semata-mata langkah praktis, tapi membuat jarak perempuan lebih dekat kepada perempuan.

“Begitu juga bila sekolah-sekolah dibuat dekat dengan pemukiman, termasuk pemukiman terpencil. Langkah sederhana ini membuat tingkat buta huruf perempuan bisa dihapus. Kau tahu, di daerah bagian dalam Pidie, dekat tempat tinggalku, banyak anak perempuan tak bisa sekolah. Mengapa? Jarak ke sekolah jauh. Apalagi SMP. Lebih jauh lagi. Akhirnya, perempuan yang pernah bersekolah di SD cukup sampai SD saja. Untuk ke SMP butuh angkutan dan belum tentu aman saat di perjalanan. Banyak orang tua memilih untuk mencukupkan anak perempuannya sampai di SD karena tiadanya jaminan keamanan itu.”

“Tetapi fenomena itu sudah tidak ada lagi, kan sekarang?”

“Masih banyak, Fairuz. Kau memang hanya tinggal di kota saja, ya? Masih banyak. Akses, masih menjadi sesuatu yang mahal, bahkan mewah, bagi sebagian perempuan desa.”

Fairuz memandang lurus ke muka pintu kamar. Mala melanjutkan, “Tapi, bukan berarti perempuan kota tak punya masalah. Air bersih di kota mungkin lebih mudah, walaupun bagi sebagian kecamatan di Kota Banda Aceh ini masih jadi problem utama. Di sini, seperti di banyak kota-kota lain, air bersih harus dibeli. Sarana kesehatan lebih mahal, begitu juga pendidikan. Akses ada, tapi kontrol? Kau memiliki akses yang mudah untuk menata rambutmu supaya kelihatan lebih menarik. Banyak rumah kecantikan atau salon di sini. Tapi kalau kelak Zul tak suka, maka tak lagi berani mengotak-atik rambutmu. Kau telah kehilangan otoritas atas rambutmu. Bukan kau yang mengontrolnya. Akses mudah tapi tak selalu kita yang pegang kontrol. Rupanya, Fairuz, gerakan emansipasi belum menemukan kesuksesannya yang sejati. Partisipasi boleh meningkat, tapi emansipasi yang berarti gerakan pembebasan belum sampai seutuhnya.”

“Tapi, untuk mendapatkan air bersih dan sebagainya itu kita harus membayar, Mala. Kau harus ingat yang dibayar itu bukan airnya, melainkan sarana, fasilitas dan upaya yang dilakukan agar air bersih bisa diperoleh. Semuanya itu butuh ongkos dan karenanya kita harus membayar. Tentang rambutku, seperti kau dan aku sepakati tadi, memang selalu ada norma yang mengatur dan membatasi,” bantah Fairuz.

“Ya dan tidak. Ya, semua sarana, fasilitas dan upaya mendapatkan dan menyalurkan air bersih butuh biaya. Karena itu warga negara harus membayar. Bukankah kita sudah membayarnya melalui mekanisme pajak? Di kota Jakarta, juga beberapa kota di Jawa, di kota besar di luar negeri, kita pun harus membayar untuk melalui jalan bebas hambatan. Padahal, warga di sana pun sudah membayar pajak. Kurang? Ya jangan produksi mobil banyak-banyak kalau belum mampu untuk menyiapkan jalan raya yang bebas kemacetan. Pada akhirnya, toh jalan-jalan tol itu macet juga seperti kau saksikan di banyak berita televisi. Lalu fungsi membayar itu apa? Air bersih yang kita minum dan pakai mandi ini juga kerapkali macet. Seminggu tak mengalir dan tak ada pilihan lain selain menunggu. Lalu apa faedahnya kita mengeluarkan biaya tambahan selain pajak untuk bisa menikmati fasilitas yang a la kadarnya itu? Lagi-lagi bukan kita yang mengontrol. Pada gilirannya, pada kasus suplai air terhenti atau jalanan macet, bukan saja tiada kontrol, tapi juga kehilangan akses kepada air dan bebas dari macet di jalan.

“Maka, pertanyaanku norma macam apa yang tengah berlangsung dan ngotot dipertahankan tak mau diubah?”

Fairuz kembali diam. Memandang lagi ke pintu. Mala juga diam. Tapi cuma sebentar.

“Perempuan di pedesaan yang telah memiliki akses kepada air bersih karena pipa telah dipasang di rumah, bukan berarti memiliki kontrol terhadap air. Distribusi lalu diatur. Biasanya ada komite air di desa. Siapa anggotanya? Pada saat rapat pembentukan, kepala desa atau mukim mengundang kepala keluarga. Siapa? Lelaki, bukan? Puskesmas atau puskesmas pembantu yang dibangun di dekat atau di tengah pemukiman memudahkan akses perempuan untuk datang memeriksakan diri atau bayi dan anaknya. Tapi, simak jam buka mereka. Apakah menyesuaikan dengan jam ‘bebas’ perempuan? Tidak. Mengapa begitu? Mereka buka begitu saja tanpa minta pendapat para perempuan di sana. Bahkan kau, aku dan perempuan kota lain yang ingin tampil lebih cantik. Lalu berdandan dan memperbaiki wajah serta diri ke rumah-rumah kecantikan. Siapa yang mendefinisikan kecantikan? Bukan kita.”

“Kau membikin segalanya menjadi rumit, Mala,” ujar Fairuz akhirnya.

“Yang tengah berlangsung memang telah sedemikian rumit, Fairuz.”

“Tapi, air, kesehatan, pendidikan, juga jalan tol itu wilayah diskusinya bukan soal lelaki dan perempuan, Mala. Ok, langkah-langkah sederhana yang kau ucapkan tadi membuat dampaknya dirasakan besar oleh perempuan. Dan itu berarti bagus, bukan? Negara memperhatikan warga perempuannya.”

“Politik, Fairuz, meski angka partisipasi perempuan sedikitnya telah muncul dalam dunia itu dan kita pun pernah merasakan memiliki presiden perempuan, tetap dianggap sebagai dunianya laki-laki. Politik yang berarti cara mengambil dan mengelola kekuasaan itu keruan diidentikkan dengan cara pandang atau perspektif laki-laki. Syarat-syarat masuk ke dunia itu ditetapkan laki-laki dan mereka pula yang menyeleksi. Maka, bisa kupastikan bila ada perempuan yang terlibat politik ia pasti perempuan yang sangat hebat sekali karena mereka bertarung di wilayah yang dikuasai dan ditentukan aturan mainnya oleh lelaki.

“Tetapi mereka tidak fair. Bahkan tidak konsisten dengan cara pikirnya sendiri. Contoh air tadi menunjukkan bagaimana lelaki tidak fair dan konsisten menerapkan logikanya sendiri yang menyebut bahwa urusan rumah tangga ialah perempuan dan urusan publik ialah lelaki. Mereka bilang perempuan itu lemah, tetapi disuruh ambil air yang berat dari tempat yang jauh.”

Fairuz tak urung tersenyum mendengar contoh yang diurai Mala sembari mengangguk. Ia menyepakati kesimpulan Mala. Ia pun bisa memahami lanjutannya. Dulu perempuan tak boleh memilih, apalagi memiliki wakil di parlemen. Tetapi wilayah yang diklaim sebagai milik lelaki itu lalu juga mau merambah ke wilayah yang disebut tempatnya perempuan: rumah. Ini tidak fair sekaligus tidak konsisten dengan “iman”-nya lelaki sendiri. Disebut tidak fair, karena lelaki tidak melibatkan perempuan untuk memutuskan. Disebut tidak konsisten, karena lelaki sendiri yang mulanya main menetapkan bahwa politik ialah lelaki dan rumah ialah perempuan. Kalau mau konsiten, ya biar perempuan dong yang memutuskan. Di satu sisi lelaki membikin dikotomi tetapi pada saat yang sama mereka mencampuradukkan.

Fairuz juga kemudian bisa memahami dan mengurai sendiri bagaimana kebijakan terhadap banyak hal yang menguasai hajat hidup orang banyak ditetapkan tanpa memperhatikan keadaan perempuan. Sesungguhnya dengan begitu tak memperhatikan kelanjutan hidup manusia, karena di dalam rahim perempuanlah manusia tumbuh sebelum dilahirkan. Fairuz pernah membaca satu berita tentang petani perempuan di Sulawesi Selatan yang ia yakini sebetulnya terjadi di banyak lahan pertanian. Petani perempuan di sana telah kehilangan kontrol atas cara bercocok tanam. Pemerintah daerah dan juga tuntutan pasar yang dibentuk menurut selera modal, memaksa banyak lahan pertanian padi diubah menjadi pertanian sayur. Cara mereka bercocok tanam telah diubah pula dari kebiasaan lama kepada penggunaan pupuk pestisida. Katanya supaya hasilnya lebih bagus dan laku di pasar. Penggunaan pestisida ini dianjurkan pemerintah daerah dan pusat dan dibangga-banggakan meningkatkan produk pertanian sedari lama, sejak tahun 1980-an tanpa sama sekali menjelaskan bahayanya bagi tubuh dan kesehatan perempuan.

Fairuz lantas bisa memahami apa yang dimaksud oleh Mala tempo hari tentang keadaan masa perburuan. Ada pembagian peran yang tak semata-mata ditentukan oleh identitas kelamin. Karena identitas gender memang bisa diterima dan ditentukan oleh situasi dan kesepakatan sosial tanpa harus mengunggulkan suatu jenis kelamin atas jenis kelamin yang lain. Pada masa ekonomi ditentukan berdasarkan kebutuhan komunitas, ada pembagian peran antara laki-laki yang berburu dan perempuan yang mengatur konsumsi. Semua orang punya akses yang sama untuk mencukupi kebutuhan pangan, sandang dan papan. Kontrol juga disepakati sama-sama. Karena berburu berarti mendapatkan daging, maka diperlukan kegiatan berladang atau bertani untuk mendapatkan kebutuhan pangan yang lain: jagung, gandum atau padi. Peran juga dibagi di ladang dan sawah ini. Sisa kebiasaan lama ini masih ada sampai sekarang di beberapa pedesaan, yakni kawin sehabis panen dilakukan. Mula-mula ia bertujuan bukan saja karena pesta butuh biaya—karena masa lalu pesta dikerjakan oleh satu komunitas, bukan saja yang berhajat—tetapi juga mengitung keperluan perempuan untuk hamil dan bersalin. Sehingga bila tiba masa mengolah lahan beberapa bulan mendatang, perut perempuan belum membesar sehingga masih bisa mengerjakan perannya di atas tanah yang kemudian akan ditanami. Dan masa panen berikutnya ialah saat-saat menanti bakal hadirnya seorang anak manusia baru di bumi yang bakal dirayakan juga oleh seluruh anggota komunitas. Tapi pola pengaturan tersebut telah sangat lama hilang ketika perempuan kemudian dirasakan lebih baik hanya berperan pada aspek rumahan saja. Di dalam “rumah” ini berarti hanya ada tiga soal: dapur, sumur, kasur. Selebihnya, lelaki yang urus. Barangkali kondisi ini sudah berlangsung satu milenium lebih, karena sepanjang Fairuz membaca, pada masa turunnya wahyu Tuhan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul, keadaan perempuan sudah demikian di belakang.

“Menurutmu, bisakah situasi ini berubah, Mala?” tanya Fairuz ketika malam sudah berada di tengah masanya.

“Bisa. Sangat bisa. Karena bukan kodrati apalagi adi-kodrati. Karena situasi ini dibentuk secara sosial. Melalui ruang itulah, sosial, perubahannya bisa dilakukan.”

Menyimak jawaban Mala, Fairuz berpikir, politik hanyalah salah satu pintu masuk untuk melakukan perubahan. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s