Percakapan 4 – Beban Ganda

Hari lebaran belum terlalu lama lagi. Pasar Aceh sudah makin bising sejak siang sampai malam. Beberapa pedagang seperti tak cukup menggelar barangnya tanpa harus berteriak. Beberapa yang lain merasa berteriak saja tak cukup, karena di sebelahnya juga berteriak, maka ia melengkapi dengan peralatan sound system. Dua buah speaker besar atau sedang diletakkan di tiap sisi, mikrofon di mulutnya dan amplifier di bagian belakang. Ada pula yang menambahkan efek echo.

“Jangan ngan an, salah lah lah, pilih lih lih lih…”

Department store dan swalayan juga berbenah lebih apik, atau lebih tepatnya lebih disesaki barang. Rata-rata didominasi warna hijau muda. Ikut pula dipajang gambar ketupat. Heran juga, padahal ini Aceh dan bukan—misalnya—Jakarta atau sebagian besar kota di Jawa atau Lampung. Tak ada ketupat atau lontong di hari raya di Banda Aceh. Juga gambar masjid. Padahal, orang lebih banyak bershalat di lapangan terbuka pada pagi pertama lebaran. Tapi, pasti lucu bila logo hari raya Idul Fitri bergambar lapangan Blang Padang ditambah—misalnya—lembu. Karena di Blang Padang lebih sering terdapat tank militer atau panser ketimbang lembu.

Fairuz memekik pelan saat memperhatikan kemasan makanan kaleng di tangannya. Kemala mendekat dan ikut mengamati tulisan yang ditunjuk Fairuz.

“Sadis,” Fairuz mendesis. Mala mengangguk sepakat.

Tanggal daluwarsa penganan kalengan itu kurang dari sebulan lagi.

Fairuz lebih punya penjelasan tentang keadaan ini ketimbang Mala. Menurutnya, setiap bulan sesungguhnya produsen memproduksi barang secara tetap, bila pun meningkat, angkanya dijaga agar tidak terlalu tinggi. Sebab, bila melonjak, akan memicu kenaikan harga bahan pasokan. Ujung-ujungnya kenaikan harga bahan pasokan akan dibebankan kepada konsumen sehingga permintaan malah sedikit yang berarti merugikan produsen. Dari angka tetap itu, sebutlah seratus ribu, yang dikeluarkan tiap bulannya paling-paling 70-80 ribu. Sisanya disimpan untuk berjaga terhadap peningkatan permintaan. Ini juga demi kestabilan harga yang berarti kestabilan pengeluaran produsen. Sebab, bila tiba-tiba permintaan meningkat sedangkan barang tak tersedia, mau tak mau produsen meningkatkan angka produksi dan berarti meminta pasokan lebih dari biasanya dan itu berarti kenaikan ongkos produksi. Aksi ambil untung toh dilakukan juga oleh pemasok. Dia kan tahu tengah dibutuhkan.

“Lalu? Apa hubungannya dengan barang-barang daluwarsa itu?” tanya Mala.

“Barang-barang yang disimpan tiap bulannya 20-30 ribu tadi sebenarnya dikeluarkan pada bulan berikutnya supaya menggenapi angka 70-80 ribu,” terang Fairuz.

Mala sedikit mengerti. Bila pada bulan pertama disimpan 30 ribu dari produksi 100 ribu dan bulan berikutnya diproduksi angka yang sama, harus memiliki simpanan angka yang sama juga. Tetapi, mulai bulan kedua dan ketiga, akan terjadi penumpukan barang. Sebab, mulai bulan kedua simpanan akan meningkat menjadi 60 ribu dengan angka 30 ribu berasal dari bulan sebelumnya ditambah yang baru. Berikutnya bertambah lagi, dan selalu ada barang sebanyak 30 ribu yang berusia lebih lama dari yang lain. Barang-barang itu akan keluar pada beberapa peristiwa: promosi, ekspansi, dan lebih banyak untuk memenuhi peningkatan permintaan yang umumnya terjadi pada hari-hari raya keagamaan. Harus juga dicatat bahwa tiap tahun selalu terjadi bulan-bulan yang mirip masa paceklik pertanian, alias sepi pembeli, sehingga barang yang tersimpan bertambah lagi kira-kira 30 ribu dari hitungan sewajarnya. Maka tiap tahun dari produsen yang memproduksi seratus ribu barang per bulan selalu ada cadangan 330-360 ribu barang. Bila rata-rata barang itu hanya berusia pakai setahun, maka selalu ada 30-60 ribu barang yang akan cepat masa daluwarsa begitu tiba di konsumen.

“Kamu kok berteori seperti menuding, Fairuz?” Mala menukas.

Ia memahami penjelasan Fairuz, tapi sulit percaya. Sebab, rasanya begitu gampang sehingga tak mungkin produsen tak berpikir serupa dan menghindari tumpukan daluwarsa. Masak mereka sengaja? Sederhana saja pertanyaannya.

“Aku menduga tidak sengaja, tapi bagaimana bila situasi permintaan yang menentukan?” Fairuz menjawab.

Ia mengitung lagi. Bila tanpa ‘paceklik’ permintaan, mestinya tiap tahun sisa barang yang disimpan berkisar 300 ribu. Bila dikeluarkan lagi untuk promosi atau ekspansi, bisa tinggal 240 ribu. Angka itu cukup memenuhi peningkatan permintaan pada momen hari raya yang biasanya sampai tiga kali lipat dari permintaan di hari biasa. Tanggal daluwarsa terdekat yang dijumpai konsumen dengan begitu masih berjarak 3 bulan. Relatif lebih aman.

“Kalau begitu kurangi saja angka produksi per bulan dan tingkatkan nanti ketika menjelang masa peningkatan permintaan,” usul Mala.

“Tak bisa sederhana begitu, Mala. Produsen selalu menjaga agar pengeluaran untuk ongkos produksi stabil. Bila angka produksi ia tingkatkan pada bulan-bulan tertentu, ia butuh bahan pasokan lebih banyak dari biasanya, dan itu berarti ketambahan ongkos produksi. Okay, menurut kamu mungkin itu diambil dari bulan-bulan sebelumnya yang hanya memproduksi lebih sedikit. Tetap tak bisa, karena ia menerapkan harga jual itu berdasar angka yang diproduksi. Maka ia membuat seratus ribu. Bukan jelas-jelas 70 atau 80 ribu. Meski ia hanya menjual segitu, tapi sebanyak seratus ribu yang dijadikan faktor pembagian untuk menentukan harga jual ditambah dengan biaya promosi, menggaji buruh, membayar pajak serta lain-lain pengeluaran.”

Mala mau menimpali keterangan Fairuz dengan pernyataan, “mestinya pemerintah tertib mengawasi barang-barang konsumsi untuk rakyatnya, apalagi ini bersangkut paut dengan perut rakyatnya yang berarti berhubungan erat dengan kesehatan.” Tapi, ia menahan diri. Terlalu biasa dan reaksi yang bakal diterima pasti anggukan kepala Fairuz. Kalau anggukan kepala pemerintah sih bagus.

Mala lebih memilih topik lain. Ia menanyakan hubungan Fairuz dengan Zul. Sudah lebih dari seminggu tak ada cerita dari Fairuz.

Kata Fairuz, “semalam Zul menanyakan kesediaanku menikah dengannya.”

“Lalu kamu mau, dong.”

Fairuz mengangguk. “Kalau tak ada aral melintang, ia akan datang ke rumahku pada hari ketiga lebaran nanti. Mengenalkan diri ke orangtua. Maunya nanti juga kami ke rumah orang tua Zul di Lhoksukon.”

“Bagus,” timpal Mala. “Mudah-mudahan kalian berhasil menjadi model perkawinan yang setara satu sama lain.”

“Doakan saja, Mala. Aku percaya Zul bisa. Dia membolehkan aku tetap berkarir di luar rumah selepas pernikahan kami kelak. Dia malah ingin sekali aku sukses di luar rumah. Kata Zul, ‘aku ingin istriku dikenal orang mampu mengurusi karir tanpa kehilangan kewajiban di rumahnya’ pengertian sekali, bukan?”

Mala terhenyak mendengar kata-kata kunci yang disampaikan Zul kepada Fairuz. Kata-kata yang juga sering muncul di koran atau tabloid tentang perempun karir. Malah kerap dimunculkan dalam bentuk tips. Misal: kiat sukses berkarir dan mengurusi rumah, 8+1 berprestasi di dunia publik tanpa mengalami kehancuran rumah tangga. Selain tips, biasanya koran atau tabloid menampilkan beberapa figur publik sebagai ‘teladan’. Foto-foto perempuan itu biasanya tampil dengan rias wajah dan tata rambut yang prosesnya memakan waktu lebih dari satu jam. Kabarnya begitulah saban harinya sang tokoh tampil di depan anak buah atau kliennya. Dibutuhkan waktu yang sama ketika malam hari sebelum tidur untuk membersihkan rias wajah dan mengembalikan tata rambut itu. Mala mengitung, berapa jam diperlukan perempuan untuk ‘tampil’ dan mengurus rumah sekaligus? Jelas lebih banyak dari laki-laki.

Siang ini, sahabatnya, Fairuz, terpesona oleh kalimat sihir yang terdengar sempurna tapi mengelabui: dikenal orang mampu mengurusi karir tanpa kehilangan kewajiban di rumahnya. Ia tak mau buru-buru menyimpulkan. Mala memilih mengonfirmasi.

“Apa pengertian ‘kewajiban di rumah’ yang dimaksud Zul?”

Menurut Fairuz seperti kebanyakan perempuan yang menjadi istri: menyiapkan makan yang berarti memasak, karena Zul tak mau makanan yang disiapkan pembantu; menata kamar, karena bagi Zul itu wilayah privat yang hanya bisa dimasuki oleh mereka berdua; mengurus keperluan suami, semisal pakaian di pagi hari serta memastikan pakaian telah dicuci dengan baik dan rapi setrika; bila nanti mengandung dan melahirkan maka kewajiban utamanya ialah mengurusi anak-anak kendati tetap bekerja; juga sederet kebiasaan yang konon lazim dikerjakan istri.

“Lalu, apa kewajiban Zul di rumah?”

Fairuz sedikit mendelik.

“Maaf, bukan mau ikut campur urusan rumah tanggamu kelak, tapi kamu katanya punya kewajiban, pihak lain juga pasti ada, kan?” sambung Mala menanggapi pendelikan mata Fairuz.

“Ya, setiap suami punya kewajiban kepada istrinya Mala. Ia wajib menafkahi lahir dan bathin. Meski si istri punya kesanggupan untuk kebutuhan lahirnya, karena punya penghasilan, bukan berarti suami bisa lari atau bebas dari kewajiban itu.”

Mala mengangguk-angguk seraya tersenyum. Perutnya lapar sekali siang ini. Barangkali nanti saja selepas berbuka atau pulang tarawih ia akan membuka kembali topik ini kepada Fairuz. Tentang beban ganda yang diterima istri-istri yang bekerja di luar rumah.

***

 

“Apa Mala? Beban ganda? Bicaramu kok menjadi makin sulit dimengerti dan tidak konsisten. Pernyataanmu itu bisa aku artikan kamu memberi bahan baru untuk menutup peluang peran serta perempuan di dunia publik, tahu enggak?” Fairuz tak sependapat dengan Mala seusai tarawih. Laki-laki yang tempo hari membeli voucher pulsa telepon selular tampak lagi. Ia duduk di atas motornya melirik Fairuz dan Mala. Kali ini memberi senyum. Mala membalas singkat, Fairuz tak memperhatikan.

“Ih, kamu itu seperti ibu-ibu dharma wanita, deh. Peran serta, peran serta,” Mala meledek untuk mencairkan suasana. Tapi, Fairuz telanjur tegang.

“Aku konsisten, Fairuz. Tentu saja aku mendukung keterlibatan perempuan di wilayah yang disebut domain publik itu, karena memang itu wilayah yang terbuka bagi siapa saja. Aku justru heran mengapa sampai ada pengakuan bahwa itu areanya laki-laki. Sebaliknya, bagaimana bisa diterima bahwa rumah sebagai domain privat tiba-tiba dianggap wilayah perempuan? Memangnya laki-laki itu tidur di teras apa?

“Kedua tempat itu bebas dimasuki dan diatur serta diisi oleh siapa saja. Laki-laki atau pun perempuan. Maka, istilah ‘peran serta’, ‘keterlibatan’ atau bahkan ‘partisipasi’ aku tolak. Sebab, aku juga tidak bilang bahwa laki-laki yang sibuk dengan pekerjaan rumah tangga merupakan laki-laki yang telah berperan serta dalam kerumahtanggaan.

“Kau kenal Pocut yang berumah tinggal di mulut lorong kita ini?”

Fairuz mengangguk.

“Kau tahu ia menduduki kepala bagian di dinas sosial provinsi?”

Fairuz mengangguk lagi.

“Bulan Nopember dan Desember tahun lalu ia pontang-panting bekerja dari pagi hingga hampir pagi selama tujuh hari dalam sepekan karena dinasnya harus menghabiskan anggaran sesuai yang memang diajukan, tapi pemerintah pusat baru menurunkan uang untuk setahun itu di bulan Juli. Padahal kalendar anggaran itu dimulai Januari dan berakhir Desember. Bukan salah pemerintah pusat juga, DPR kita yang baru menyetujui pada bulan Mei, sehingga pengajuan baru dilakukan pemerintah Aceh bulan Juni. Kita tidak sedang bicara tentang brengseknya pola penentuan anggaran belanja pemerintah kita dan juga tidak membahas bahwa contoh kasus semacam ini sebetulnya termasuk pada contoh betapa anggaran kita tidak kunjung memiliki perspektif gender yang jelas.

“Kita tengah bicara pontang-pantingnya Pocut di depan lorong kost kita ini. Sepanjang pontang-panting memenuhi kewajiban bekerjanya kepada pemerintah, Pocut tidak kurang beban di rumahnya. Ia pasti bangun lebih pagi, tidak tidur lagi selewat shalat Subuh, lalu pada waktunya mengingatkan anak-anaknya untuk juga bangun dan mengomandoi pembantunya untuk memulai pekerjaan rumah di pagi hari. Anaknya yang paling bungsu masih duduk di kelas 4 SD, biasanya ia kemudian bicara tentang pesan-pesan guru kemarin hari dan meminta Pocut untuk menyiapkan. Lalu ia memeriksa pekerjaan rumah si anak dan memberitahu bila ada yang salah jawab, bila masih ada waktu ia membantu menyelesaikan bila mepet ya terpaksa mengambil risiko nilai anaknya berkurang. Ia tak bisa lagi menuntaskan itu di malam hari, karena jam belajar anaknya sudah lewat ketika Pocut pulang dari tempat kerja. Setelah beres, baru ia mandi dan menyiapkan pakaiannya serta pakaian si Abang. Bila Abangnya sudah telanjur bangun, tinggal menyusul mandi atau bila belum, ia bangunkan. Biasanya si Abang memanaskan mobil mereka lalu duduk menyantap penganan sembari membaca koran pagi.

“Siang hari, karena mereka biasa makan siang di rumah, ia akan tiba lebih dulu dari si Abang. Menggorengkan ikan atau memasak lauk yang sudah diperam dengan bumbu oleh pembantunya, karena si Abang lebih suka makanan yang dimasak Pocut. Paling si pembantu menanak nasi di rice cooker, dan merebus daging dengan bumbu yang nanti dimasak oleh Pocut. Sore hari sesungguhnya masih ada pekerjaan di kantor—ingat karena mereka tengah mengejar target penyerapan anggaran, sehingga kepala dinas menginstruksikan agar semua pekerjaan bisa dikebut hingga akhir tahun—tapi Pocut harus menyempatkan pulang ke rumah, menengok anak-anaknya, juga si Abang. Mandi dan salin pakaian karena ia malu tampil tidak segar setiap saat sesuai pencitraan perempuan yang diinginkan oleh umum, lantas pergi lagi. Ia pulang bisa pukul 8 hingga 9 malam.

“Langsung tidur? Ah, hari masih terlalu sore buat perempuan, Fairuz. Ia menyempatkan bertanya lagi kepada anak-anaknya apa yang telah dipelajari hari ini di sekolah, lalu makan malam dan merapikan diri, kemudian beranjak ke peraduan bersama si Abang,” sampai di sini Kemala Puti agak tersenyum.

Fairuz menimpali dengan tersipu.

“Tahan dulu, Fairuz. Tak selamanya Pocut punya selera untuk bermesraan dengan sang Abang. Ia juga punya energi terbatas. Seringkali dalam situasi begitu, ia lelah sangat. Tapi, bila sang Abang menghendaki? Siapa boleh menolak? Neraka nanti. Dan besok pagi ia akan bangun lebih dini dari siapapun penghuni di rumah itu.”

“Mala, kamu menakut-nakuti aku.”

“Tapi, Pocut mengaku senang-senang saja melakukan itu, Fairuz.”

“Barangkali aku pun akan begitu, Mala. Karena bukankah kita harus gembira melaksanakan kewajiban sebagai istri?”

“Meski beban kita dua kali lipat atau bahkan lebih berat dari suami?” sergah Mala.

“Bukankah itu risiko karena kita juga bekerja di luar?” balas Fairuz.

“Apakah penghasilan yang diperoleh kemudian hanya dinikmati kita seorang?” timpal Mala lagi.

“Ya, tak boleh curang begitu, dong. Kalau sudah menjadi keluarga ya tidak ada peritungan semacam itu. Semua penghasilan menjadi milik bersama,” ujar Fairuz.

“Itu dia kuncinya. Jangan curang.”

Fairuz terdiam.

Kemala Puti melanjutkan, “Sel-sel di dalam tubuh kita saja bekerja dengan fungsi masing-masing yang tidak bisa dibebani oleh dua atau lebih pekerjaan, mengapa perempuan harus menerima beban lebih dari satu?”

Fairuz mengenal biologi pula seperti Mala. Ada 100 triliun sel hidup dalam tubuh tiap-tiap orang dewasa. Masing-masing memiliki tugas khusus: menyerap sari makanan, menggerakkan organ tubuh, membentuk sel darah, memekatkan zat empedu, membungkus seluruh bagian tubuh hingga menjadi badan keseluruhan, hingga ratusan tugas lainnya, sampai kelak merusak dan membikin busuk tubuh agar bisa bersenyawa dengan tanah. Nyaris tiada beda antara laki-laki dan perempuan. Bedanya antara lain pada satu jenis yang—menurut Mala—menjadi ciri tugas suci manusia: berkembang biak, yakni perempuan memiliki sel telur dan laki-laki sel benih. Karena sel yang dihasilkan itu berbeda, keruan ‘pabrik’ dan ‘alat’ pembuatnya berbeda bentuk dan rupa.

Fairuz mencatat lagi satu kecurangan lain yang berangkat dari anggapan umum: perempuan selalu disebut lebih lemah dari laki-laki. Bila begitu adanya, pihak yang lemah tentu tak boleh menunaikan pekerjaan lebih berat dari pihak yang kuat, dong. Sekali lagi bila anggapan itu benar adanya. Bila tidak benar, bukan berarti perempuan harus memperoleh tugas atau beban ganda bahkan lebih dari laki-laki.

“Tapi, mungkin karena laki-laki kepala keluarga, Mala,” Fairuz masih mencoba mencari celah pembenaran.

“Itu hanya istilah birokrasi kependudukan, Fairuz. Bukankah para janda sekaligus juga kepala keluarga? Artinya, sangat memungkinkan predikat itu beralih kepada perempuan, kendati sejauh ini masih harus diikuti syarat tertentu, misalnya menjanda, tapi presedennya sudah ada. Itu bukan dasar bagi pembebanan berlipat-lipat kepada perempuan. Menjadi kepala justru lebih berat, tanggung jawab, beban, atau waktu yang disediakan. Masak tinggal mendelegasikan begitu saja. Enak benar? Apalagi ketika terjadi kesalahan, bukan si kepala yang dimintai pertanggungjawaban malah ia yang menuntut pertanggungjawaban kepada pelaksana, dalam hal ini: istri.”

Diam-diam Fairuz cemas bahwa Kemala Puti tidak akan menikah bila melihat situasi rumah tangga masih seperti kritiknya. Atau bila pun menikah itu masih terlalu lama sebab ia pasti sulit mendapatkan calon suami seperti yang diinginkannya: mengurusi rumah secara setara.

Tapi, Mala membaca kecemasan itu. Meski salah menempatkan contoh. Mala mengira Fairuz cemas akan masuk dalam situasi seperti Pocut dan si Abang.

“Jangan terlalu cemas, Fairuz. Masih tersedia waktu cukup lama untuk memberitahu Zul tentang definisi sukses di luar dan di dalam rumah. Ia pun kukira harus tahu bahwa kesuksesan itu mesti diraih kalian berdua. Bila terjadi pembagian tugas di luar rumah, artinya kau dan dia sama-sama bekerja agar tingkat pencapaian ekonomi kalian lebih tinggi, atau sama-sama memenuhi kemauan eksistensi di dunia publik, semestinya pembagian serupa terjadi juga di rumah. Ia pun tak kehilangan kewajiban mengurus rumah. Sehingga kamu tak terlampau kelelahan dan pada gilirannya ia mengajak bermesraan, kamu pun dalam keadaan bergairah dan tidak setengah hati sekadar memenuhi kewajiban istri kepada suami lantaran takut api neraka. Kalau terlampau letih kukira juga tak ada rasa nikmat dan erangan yang keluar lebih karena faktor menyenangkan si suami. Artinya, pura-pura. Apa bedanya dengan pelacuran?”

Fairuz mencatat, Kemala senang sekali dengan frasa ‘pelacuran’ sepanjang bulan puasa ini.

“Menurutmu, aku tertipu?” tanya Fairuz.

“Oleh Zul?”

Fairuz mengangguk.

“Mengapa? Tertipu pada bagian mana?”

“Oleh kata-katanya bahwa ia ingin istrinya dikenal orang mampu mengurusi karir tanpa kehilangan kewajiban di rumah,” ujar Fairuz.

“Terbuai mungkin. Kita perempuan kerap terbuai seolah-olah tuntutan agar partisipasi perempuan ditingkatkan itu sudah diberikan padahal partisipasi itu tidak semata-mata lantas sama dengan keadilan. Contoh Pocut tadi jelas sekali betapa partisipasi Pocut di dunia publik tidak lantas membuatnya merasakan keadilan sebagai manusia.”

“Apa tahun ini pemerintah pusat terlambat lagi menurunkan anggaran belanja daerah, Mala?” tanya Fairuz.

“Mengapa kau bertanya itu?” Mala membalas tanya.

“Aku kuatir Pocut mengerang dan merintih pura-pura kepada Abangnya.”

Kemala tertawa. Disusul Fairuz yang membuka jilbab dan menampilkan rambutnya yang telah dipotong nyaris menyerupai potongan laki-laki. Kemala menghentikan tawa. Ada kejutan baru dari Fairuz. Tapi, ia tampak lebih remaja dari sedianya. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s