Percakapan 3 – Beda, Bukan Berarti …

Fairuz menunjukkan pesan pendek yang ia terima di telepon selularnya kepada Mala.

“Lihat ini, Mala.”

Mala membacanya:

Pbedaan mmg mlgkapi.

Sender: Zul qu

Message centre: +6281100000

Sent: 5-Okt-2007 18:08:21

“Perbedaan memang melengkapi,” Mala mengulangi. “Zul qu? Aku tak pernah mendengar namanya darimu. Hei, ada yang lewat kau ceritakan rupanya, ya?”

“Zulkarnaini.”

Hmh. Zulkarnaini yang dulu sama bekerja bareng mereka untuk urusan bantuan modal dan kini telah pindah ke UMCOR menjadi Livelihood Specialist.

“Qu?” tanya Mala.

“Ya, aku.”

“Maksudmu kau menamai Zulkarnaini di handphone-mu dengan Zul qu, Zul-nya aku?”

Fairuz mengangguk.

“Betul-betul ada yang terlewat kau ceritakan, Fairuz. Apa maksud dia berkirim SMS seperti itu? Dia merayu kamu?”

“Mungkin. Tapi kalau begitu pun tak apa. Aku suka saja. Rayuannya berbeda, bukan?”

“Kamu jatuh cinta sama dia, ya Fairuz?”

“Aku yakin, ya. Tapi, itu tidak penting, Mala. Bukan itu maksudku menunjukkan SMS dia kepada kamu.”

“Lalu?”

“Dia sungguh berbeda, bukan?” mata Fairuz memandang ke atas. Kepada langit-langit, tapi sesungguhnya lebih jauh dari itu.

“Ya, sama saja. Kamu memang mau menunjukkan kamu jatuh cinta sama dia.”

“Oh, bukan. Maaf. Maksudku dia berbeda dari laki-laki lain, bukan?”

“Iya itu kamu jatuh cinta. Itu poinnya. Kok kamu bilang bukan itu?”

“Aduh, aku betul-betul jatuh cinta, ya? Jadi bingung mau ngomong ke kamu, Mala. Tapi, aku sama sekali tak berniat menunjukkan itu. Okelah, nanti kita cerita tentang awal mula kami, dan menjelaskan juga mengapa Zul harus pindah kerja karena kami satu kantor. Meski tak apa karena belum menikah. Tapi, sekali lagi, maksudku Zul berbeda dari … duh, salah lagi. Maksudku, coba kamu simak lagi SMS dia.”

Mala menurut. Lalu mengangguk.

“Iya. Aku paham.”

“Itu dia maksudku,” sergah Fairuz.

Mala tak mengerti.

“Itu dia, maksudku. Dia punya pikiran-pikiran yang sama dengan kamu. Makanya, kamu langsung memahami kalimatnya.”

Mala kembali tak mengerti.

“Fairuz, itu kata-kata wajar. Perbedaan ada, apakah tercipta begitu saja atau diciptakan lewat proses yang lama—evolusi, misalnya—memang untuk melengkapi keadaan. Sekali lagi, seperti pernah aku bilang, itu bukan murni orisinal dari aku.”

“Kau mau bilang, aku saja yang bodoh dan belum mengetahuinya? Begitu, ya?”

Kemala Puti menggeleng.

“Sama sekali tidak, Fairuz. Oke, ada persamaan antara aku dan Zul, lantas?”

“Kalian sama-sama pintar,” kata Fairuz.

Mala menggeleng. “Kamu juga pintar. Banyak yang aku tak tahu mulanya lalu menjadi paham berkat kamu.”

“Tapi, kalian punya pikiran sama. Jangan-jangan Zul lebih cocok buat kamu.”

“Wow, wow, wow. Fairuz. Istighfar. Cepat sekali kau menyimpulkan,” Mala menenangkan kawannya.

Fairuz tersenyum lebar. Menggoda Mala.

“Tapi, beritahu aku maksud SMS Zul,” pinta Fairuz.

“Ya, kamu yang menjelaskan, konteksnya. Mengapa ia lalu mengirim begitu, pasti kan ada percakapan sebelumnya. Masak tiada angin tiada hujan berkirim, ‘perbedaan memang melengkapi’? Kalau tidak sedang menggombal untuk merayu perempuan dengan cara lain, ya dia baru bangun tidur.”

“Kami tengah berbicara tentang kau,” ujar Fairuz.

Mala mendelik. Ini memang tipikal orang pacaran. Mula-mula bicara tentang pekerjaan atau sekolah, lalu tentang diri masing-masing, kemudian ke masalah-masalah umum seperti membahas film, lagu atau novel yang baru dibaca, setelah semua bahan habis, menjalar deh ke kisah teman-teman dekat. Mala tidak keberatan diceritakan di belakang dirinya. Tapi apa?

“Tentang percakapan-percakapan kita, Mala. Terutama tentang pikiran-pikiran yang kau ungkapkan kepadaku.”

“Kamu tidak kuatir Zul nanti menjauh darimu? Kan kamu sendiri yang bilang bahwa laki-laki tak suka perempuan berpikir bebas,” Mala mengingatkan. Agak sedikit menyindir sebetulnya.

“Itu makanya tadi kubilang dia berbeda,” Fairuz membela. Entah siapa yang dibela, dirinya atau Zul.

“Boleh kulanjutkan?” tanya Fairuz.

Mala mengangguk. “Aku akan mendengarkan sampai tuntas.”

“Aku sengaja menguji dia. Seperti katamu tadi—atau lebih tepat seperti pernah kukatakan dulu kepadamu—kebanyakan laki-laki akan meninggalkan perempuannya secara pelan-pelan atau seketika bila perempuan memiliki pikiran-pikiran bebas. Aku tidak tahu apakah aku selama ini berpikir bebas sepertimu atau tidak. Mungkin iya, tapi aku takut mengungkapkannya dan lama-lama menghilang. Mungkin pernah aku bertanya-tanya sendiri tentang keadaan laki-laki dan perempuan, tentang hubungan keduanya dalam rumah tangga, lalu dalam lingkungan sosial, ataupun dalam kehidupan profesi maupun politik. Tapi, aku merasa hal-hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikir ulang karena sudah sedari dulu ada, entah bagaimana dulu mengada. Namun aku memilih bukan saja tak mengungkapkan, malah menguburnya.

“Aku ingin menguji Zul, apakah ia akan meninggalkan aku atau tidak bila mengungkapkan pikiran-pikiran yang pernah ada di kepalaku dan kamu ungkapkan lagi pada berbagai percakapan kita. Maaf bila aku menggunakan namamu untuk itu.”

Mala mengangguk. “Tapi, upayamu itu berisiko ia meninggalkanmu seperti kamu yakini.”

“Buatku tak soal bila sesudah itu ia pelan-pelan meninggalkan aku atau malah seketika.”

Mala menggeleng. “Tidak. Itu soal besar buatmu. Buktinya kamu menggunakan namaku. Padahal, seperti kamu bilang tadi, sesungguhnya kamu pun pernah berpikir sama. Mungkin tidak persis sama detilnya tapi menyangkut topik yang sama dan nyaris memiliki kesimpulan sama.”

Fairuz tersenyum. “Makanya aku minta maaf kepadamu.”

“Aku maafkan. Terus?”

“Aku paparkan bahwa perbedaan kodrati laki-laki dan perempuan ialah pada rupa tubuh dan fungsi organ seksualnya. Bahkan itu pun bukan perbedaan adi-kodrati. Sedangkan di luar itu, laki-laki dan perempuan memiliki banyak kesamaan, setidaknya peluang untuk sama. Apa yang bisa dilakukan laki-laki di luar kodrati tadi sama-sama bisa dilakukan perempuan. Dan daftarnya memang terlalu banyak ketimbang daftar perbedaan.

“Laki-laki memang tidak bisa mengandung dan menyusui anak dari payudaranya, tapi ia memiliki kemampuan sama untuk meminumkan susu bukan dari payudara atau menyuapi mereka. Duh, kok mereka ya? Kesannya aku mau punya anak banyak.”

Mala nyengir.

“Laki-laki memang tak pernah menstruasi dan mengalami sakit saat melahirkan, tapi bukan berarti menjadi lebih kuat dan mulia dari perempuan. Aku mengungkapkan kebingungan kepada Zul, mengapa perbedaan fungsi organ tubuh terutama seksual antara laki-laki dan perempuan membuat keduanya dibedakan dalam berbagai fungsi kehidupan lain, terutama sosial?”

“Dan jawaban Zul?”

“Aku tidak ingat persis. Dan kurasa waktu itu ia pun agak tergagap menjawabnya. Tapi, ia menduga asalnya dari konsep kekuasaan.”

“Persis,” tukas Mala. “Semestinya ia tidak menduga, tapi memang persis seperti itu.”

Fairuz mengangkat bahu.

“Kekuasaan selalu berarti seseorang lebih tinggi dari sekian banyak orang, Fairuz.”

“Ya aku tahu.”

“Dan kekuasaan itu berarti keistimewaan, makanya harus dilanggengkan.”

“Aku juga tahu itu, tapi masak sih masih bertahan sampai sekarang?”

“Aku tidak bilang sampai sekarang, kan aku menjawab dugaan Zul dari pertanyaan kamu mengapa dulu terjadi pembedaan tugas dan fungsi sosial hanya semata-mata perbedaan seksual.”

“Jadi, menurutmu sekarang sudah tidak ada?”

“Menurutmu sendiri?” Mala balik bertanya.

“Aku merasa masih ada, banyak bahkan dikaburkan.”

“Persis. Tapi teruskan dulu ceritamu.”

“Apa masih ada?” Fairuz bertanya. “Oh, ya. Masih. Kamu betul, karena aku belum cerita hingga pada bagian SMS dia.”

“Maka, berceritalah.” Mala tak sabar.

“Bila perbedaan kodrati terletak pada bentuk, rupa dan fungsi organ berkembang biak, meminjam istilahmu, maka mengapa terjadi perbedaan yang tidak adil di dalam kehidupan secara keseluruhan?”

“Tunggu dulu. Kamu jangan loncat. Kita belum bicara atau menyimpulkan soal adil atau tidak adil, kita baru mengajukan pertanyaan-pertanyaan Fairuz.”

“Tapi, buatku tidak adil.”

“Oke, tapi teruskan dulu ceritamu.”

“Aku sedang melakukannya, kamu memotong terus.”

Mala memberi isyarat menyilakan Fairuz melanjutkan cerita.

“Sekali lagi, bila perbedaan paling kodrat hanya terletak pada bentuk, rupa dan fungsi organ seksual laki-laki dan perempuan, mengapa mereka lalu harus dibedakan menurut fungsi sosial? Oke, menurutmu dan Zul karena konsep kekuasaan. Buatku itu tidak terlalu jelas. Atau mungkin aku tak perlu kejelasan dalam soal latar belakang sejarah itu. Buatku lebih penting ialah karena ia tidak kodrat, bukan anugerah, bukan datang dari pencipta manusia, dan semata-mata terjadi apakah diatur secara sukarela atau paksa oleh yang kalian sebut kekuasaan, maka ia bisa diubah.”

“Persis.”

“Tunggu dulu,” Fairuz menahan komentar Mala berikutnya. “Aku belum betul-betul selesai pada bagian ini.”

Sekali lagi Mala memberi isyarat agar Fairuz melanjutkan.

“Perbedaan apapun bentuknya, seperti katamu yang aku ceritakan pada Zul, tak boleh menjadi dasar dari penundukkan dan penguasaan. Apalagi perbudakan.”

“Lalu …?” Mala berhenti seperti meminta izin untuk melanjutkan komentarnya. Fairuz mengangguk. “Lalu Zul berkirim komentar lewat SMS bahwa karena perbedaan ada atau mengada memang untuk melengkapi.”

Fairuz mengangguk.

“Betul kan Zul berbeda?” tanya Fairuz.

“Maksudmu dari laki-laki lain?”

Fairuz mengangguk.

“Menurutku itu tidak relevan dan tidak penting sama sekali,” jawab Mala. “Jangan-jangan kita atau lebih tepatnya kau saja yang salah mengira bahwa selama ini lelaki selalu sebal bila mendapati perempuan yang berpikir bebas. Jangan-jangan. Sekali lagi itu tidak penting.

“Lebih penting buatku ialah setelah kau memahami dan Zul juga memahami tentang kau, pikiran kau dan juga tentang keadaan perempuan, apa mau dibuat?”

Fairuz terdiam. Memikirkan jawaban atas pertanyaan Mala. Juga memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Zul. Setelah Zul tahu, Fairuz tahu, memang seperti Mala bilang, apa mau dibuat oleh mereka berdua?

Keduanya sama-sama tahu bahwa sepatutnya perempuan dan laki-laki semata-mata dibedakan pada organ tubuh yang berfungsi reproduksi tadi. Sedangkan pada fungsi sosial, sebutlah kerja produksi dan penguasaan terhadap alat-alat produksi, sama sekali tidak dibedakan. Misalnya, perempuan memasak, lelaki memasak. Seperti juga perempuan di beberapa tempat membajak sawah, mereka juga mestinya menguasai lumbung. Mungkin pembedaan itu terjadi ketika masa manusia masih berburu untuk memenuhi makanannya, pikir Fairuz. Laki-laki berburu dan itu dianggap menjadi penghasil utama kebutuhan komunitas, lalu dimasak oleh perempuan dan tiba-tiba peran perempuan menjadi bagian kedua, hanya karena ada di proses kedua dari alur menghidangkan makanan tadi. Peran kedua selanjutnya dianggap tidak penting. Sesungguhnya ada yang dilupakan di sana, ketika masa perburuan itu dilakukan manusia, yakni pengatur. Pada banyak temuan tentang pola hidup suku masa perburuan itu, perempuan menjadi pengatur dari persediaan logistik komunitas. Catat kata kuncinya: pengatur. Ada yang berburu, lalu memasak, dan diatur pola konsumsinya. Semua tak ada saling mengungguli. Semestinya.

“Beda bukan berarti yang satu lebih kuat dan akhirnya boleh menang atas yang lain,” gumam Fauzan.

“Ya,” Mala menimpali.

“Apalagi bila yang lain itu bukan sungguh-sungguh lemah, tapi dianggap lemah, dan karena kondisinya berlangsung terlalu lama, maka dianggap benar. Sama seperti ketika konsep utuh tentang tata surya belum ditemukan, manusia percaya bumi ialah pusat segalanya dari perputaran tata surya. Hingga teori lain ditemukan dan dipercayai benar bahwa matahari yang menjadi poros atau pusat putaran. Pusat dari revolusi planet-planet.”

“Ya, betul.”

“Artinya itu bisa diubah. Selagi dia bernama pandangan, apalagi didasarkan hanya pada asumsi-asumsi atau anggapan dan bukan berdasar pada kebenaran mutlak serta kodrati, bisa diubah.”

“Sangat betul, Fairuz. Pertanyaanku, bagaimana? Kusederhanakan saja, bagaimana kau dan Zul menerapkannya pada kehidupan kalian. Lebih kusederhanakan lagi, bagaimana—misalnya—kau dan Zul kelak bertukar tempat, kau bekerja terus dan Zul mengurus rumah? Bisakah? Atau kalian berdua sama-sama bekerja lalu kau hamil, melahirkan dan terus bekerja. Menurutmu laki-laki bisa saja memasak di rumah, lalu kau bilang kepada Zul bahwa kau tak mau memasak. Zul setuju dan ia pun karena bekerja di luar tak mau memasak. Kau setuju. Lalu siapa yang memasak? Pembantu? Mencuci? Pembantu? Menemani anak? Pembantu? Mengajari mereka dari kecil? Kau undang guru?”

“Bisakah?” Fairuz bertanya.

“Bisa saja. Tapi sangat mahal.”

“Loh, kok jadi matematika?” tanya Fairuz lagi.

“Itu realita. Kau tadi sempat singgung keadilan. Itu artinya harus bisa dirasakan semua orang di setiap tingkat penghasilan. Kesetaraan laki-laki dan perempuan harus dirasakan oleh semua orang sebagai sesuatu yang wajar, dan biasa. Bukan kemewahan. Kalau jawabanmu atas pertanyaan-pertanyaan tadi adalah iya dan iya, maka konsep kesetaraan hanya bisa dinikmati oleh pasangan-pasangan kaya bahkan hanya yang kaya raya.”

“Kamu membuatnya menjadi terlalu rumit, Mala. Kelihatannya sederhana, pembantu, pembantu, pembantu. Ujungnya tetap rumit karena pasti mahal dan hanya orang kaya raya yang bisa menikmati. Bagiku kata kuncinya adalah kesepakatan, Mala. Lalu komitmen terhadap hal yang telah disepakati tadi. Karena, sekali lagi, segala sesuatunya yang bukan kodrati ini muncul dari suatu penataan sosial. Disepakati atau tidak di masa lalu, bisa diubah di masa sekarang, dan itu melalui kesepakatan.”

“Aku makin mencintaimu, Fairuz.”

“Tapi kau tak cemburu pada Zul, bukan?”

“Aku rasa biarlah aku belajar menjadi laki-laki untuk menguasaimu.”

Kemala Puti dan Sarifah Fairuz tertawa berbarengan. []

One thought on “Percakapan 3 – Beda, Bukan Berarti …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s