Percakapan 2 – Persamaan

“Mie Caluek.” Mala menitip dua porsi kepada Fairuz, teman sebelah kamarnya di tempat kost Kampung Laksana, Banda Aceh. Tak jauh dari Jalan Daud Beureuh. Di jalan tempat berkantor anggota DPR itu, ada penjual mie caluek.

“Katesnya?” tanya Fairuz.

Mala menggeleng. “Tak usah. Minum es di sini saja.”

Mie Caluek di beberapa tempat disebut mi lidi, karena bentuknya besar. Spaghetti Aceh, kata Fairuz. Dibungkus daun pisang dengan porsi sedikit—makanya Mala pesan dua—dan nanti disiram sambal cair berbahan kacang, biasanya ditambah rebusan daun ubi.

Makan satu tak bakal kenyang, karena bisa habis dalam empat suap. Mungkin ada yang butuh lima sampai tujuh kali suap. Ya tergantung kapasitas mulut dan cara penyuapan, sih. Tapi harganya menurut Fairuz, dan Mala setuju, cukup mahal. Sepuluh ribu per porsi untuk makanan yang tak membikin kenyang bagi mereka sudah mahal. Cuma empat hari ini Mala selalu pesan mie caluek. Ia kenal mie ini sedari kecil. Di depan pagar SD saban siang ada penjual mie caluek. Seporsinya cuma 200 perak. Tapi di Banda Aceh ini tak ada yang seharga 200 perak. Mungkin hari-hari ini di Trieng Gading, Pidie, juga tak ada lagi mie caluek seharga itu. Barangkali sudah naik, tapi Mala yakin paling mahal 500 atau seribu rupiah. Kalau sepuluh ribu memang keliwatan.

“Memang kamu ga bosan, hampir seminggu makan mie caluek?” tanya Fairuz seusai sirine yang direlai oleh masjid terdekat dari Baiturrahman terdengar.

“Ya, bosan. Tapi nanti,” jawab Mala pada suapan keempatnya. Satu porsi habis. Tinggal seporsi lagi.

Sudah empat kali Mala mengalami bulan puasa di Banda Aceh. Dan ia hanya mendapati orang berjualan mie caluek ini ya hanya pada bulan puasa. Mungkin di salah satu sudut Pasar Aceh setiap harinya ada. Mala saja yang jarang menyambangi tempat itu dan lebih suka ke Pante Pirak, kendati harga di sana mencekik leher dibanding barang yang didapat.

“Mie caluek ini seperti kolang-kaling dan timun suri. Kalau bukan bulan puasa, payah kita mencarinya,” Mala berteori. “Padahal, makanan-makanan tadi bukan jenis makanan musiman.”

“Kamu kangen kampung, Mala,” timpal Fairuz.

“Mungkin, tapi lebaran nanti toh pulang. Aku memang hanya ingin makan mie ini saja. Tak ada latar belakang atau motif lain. Apalagi makanan ini bukan khas Trieng Gading sehingga kau tak boleh mengambil kesimpulan deduktif bahwa aku melahap mie caluek setiap hari karena rindu kampung. Tapi mungkin ini yang terakhir. Bisa bangkrut aku kalau harus tiap kali berbuka dengan menu yang tak mengenyangkan tapi mahal ini.”

Dua puluh ribu dan tak kenyang. Mala telah kembali ke pola hidup matematikanya.

Ia paling cantik di Fakultas Teknik tempat ia kuliah, karena yang lain laki-laki. Tapi bila pun harus berada di Fakultas Ekonomi yang memiliki jumlah mahasiswi paling banyak, ia bisa masuk dalam daftar “perempuan paling diinginkan.” Duh, istilahnya. Sebelas dua belas lah dengan Fairuz yang anak ekonomi. Mereka sama-sama berada di tahun terakhir kuliah. Sama-sama bekerja di organisasi bantuan untuk korban tsunami. Sama-sama bakal kehilangan pekerjaan tak lama lagi setelah proses perbaikan Aceh akibat tsunami dan gempa bumi ini selesai.

Mala di urusan watsan (water and sanitation), berarti urusan lapangan. Fairuz urus masalah uang dan administrasi, berarti lebih banyak di kantor. Sekarang, tak banyak lagi yang diurus Mala. Proyek pengerjaan penggalian sumber air dan pipanisasi ke rumah-rumah kelar dan sudah pula serah terima kepada pemerintah setempat. Tinggal monitoring, dan rasanya dua bulan lagi, ia habis kontrak. Begitu juga Fairuz. Mereka lalu bakal menuntaskan bab-bab akhir skripsi, lalu …

Entah.

“Kapan kamu mau menikah?” Mala pernah bertanya kepada Fairuz.

“Belum tahu.”

“Ah, ya lah. Sarifah macam kau tak sulit dapat bakal suami,” Mala meledek.

Tapi itu obrolan sambil lalu. Mereka merasa belum waktunya bicara serius atau memikirkan serius perihal pernikahan. Memang kapan atau pada usia berapa sekiranya tepat? Sesungguhnya baik Mala maupun Fairuz pun tak punya jawaban pasti. Usia mereka sekarang sama-sama 21. Lima tahun lalu Cek Tar beristri lagi setelah ia turun dari gunung dengan perempuan berusia 21 tahun. Terpaut usia hampir dua dekade. Umur si perempuan sudah cukup, kata orang. Mungkin tahun-tahun sebelumnya, ketika masa Mamak dan Abinya bertemu, perempuan dianggap sudah matang menikah ketika 20 dan lelakinya biasanya disebut berusia 25.

Tapi, itu lima tahun lalu dan sebelumnya. Sekarang, ia membaca di internet atau di majalah perempuan yang dibeli Fairuz—Mala lebih suka membeli National Geographic—perempuan belum merasa perlu menikah sebelum usianya menginjak 25 tahun. Selewat usia itu pun tak panik. Nah, kan? Tak ada ketentuan pasti usia berapa perempuan (dan laki-laki) harus menikah.

“Mungkin kapan pun kita mau,” canda Fairuz seraya tergelak.

Mereka hanya sesekali bicara tentang pernikahan. Biasanya saat habis memenuhi undangan kakak kelas atau rekan kerja yang menikah. Lebih sering ketika keduanya kehabisan tema bicara, malam-malam, ketika mata belum mengantuk tapi bahan obrolan habis dan acara televisi tak ada yang bagus. Ah, memangnya ada acara televisi yang bagus?

Berbeda bila Mala bercakap dengan Mamak. Sudah setahun terakhir, bila berjumpa atau menilpun, Mamak bertanya siapa calonnya di Banda Aceh. Pernikahan bukan suatu topik iseng atau pengisi obrolan kosong bagi Mamak. Pernikahan ialah topik utama, fokus minggu ini dan fokus minggu depan serta kapan pun bila bercakap dengan Mamak sampai Mala bisa menjawab dengan tepat. Tentu saja istilah tepat dalam pengertian Mamak, yakni: nama anak laki-laki yang bakal menjadi calon suami. Mala tahu, bila sampai ujung kesabaran Mamak tak juga ada jawaban jelas, ia bakal berinisiatif mencarikan.

“Bagaimana bila itu terjadi?” tanya Fairuz. “Kamu akan terima?”

“Asal Mamak menjodohkan aku dengan Bang Nunu boleh lah.” Keduanya tergelak.

Fairuz tahu yang dimaksud bukan Bang Nunu dari Aceh sini, melainkan istilah Mala untuk Keanu Reeves, aktor ganteng yang film Matrix-nya ditonton berkali-kali oleh Mala.

“Tahu pun tidak Mamak dengan Abang Nunu-mu itu, Mala,” timpal Fairuz di tengah gelaknya.

Jujur, Mala tak peduli bila ia dijodohkan. Maksudnya, tak serta menolak atau pun serta merta menerima. Mungkin sinetron-sinetron dan lagu Dewa mengajarkan bahwa sekarang ini bukan jaman a la Siti Nurbaya. Tapi bila saat dipertemukan dengan lelaki pilihan Mamaknya itu ia merasa suka, mengapa tidak? Apa bedanya peristiwa itu dengan ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’ seperti yang sering diungkapkan lagu-lagu atau pun curhat-an remaja-remaja di radio-radio? Jatuh cinta pada pandangan pertama. Hayo, apa bedanya?

Bila ada, rasanya cuma satu. Pandangan pertama perjodohan oleh orang tua ialah difasilitasi oleh orang tua sendiri, sedangkan jatuh cinta pandangan pertama yang tidak dijodohkan orang tua itu fasilitatornya bisa siapa saja. Bisa penjual voucher telepon selular yang melayani pemuda di atas keretanya dengan sabar sehingga memberi kesempatan si pemuda melirik kepada Mala yang usai dari tarawih, misalnya. Bisa juga teman yang mengejar sembari tertawa dan di tikungan kampus atau sekolah lalu menubruk seorang mahasiswa atau pelajar lelaki yang kebetulan rupawan.

Persis sinetron ya?

Tapi, bila orang percaya adanya jatuh cinta pada pandangan pertama, ia kehilangan otorita moral untuk menolak perjodohan oleh orang tua. Menerima atau menolak si calon pasangan usai bertemu itu lain perkara. Hanya, jangan mentah-mentah menolak acara perjodohan. Lihat dulu, cermati dulu, kumpulkan informasi dulu, nilai dulu, simpulkan, baru putuskan. Rasanya begitulah proses memutuskan sesuatu atau mengambil sikap. Tak serta merta apriori.

***

Mala sempat menukar isi pikiran-pikirannya itu kepada Fairuz. Soal perjodohan, cinta, baik cinta monyet maupun cinta bukan monyet. Lalu lama-lama bicara tentang waktu pernikahan dan bagaimana berada dalam pernikahan. Maksudnya berumah tangga.

Bagi Mala perempuan punya kebebasan penuh menentukan kapan ia mau menikah, dengan siapa, melalui cara apa, dan bagaimana nanti mengatur hidup rumah tangganya. Pernah Mala berkata kepada Fairuz bahwa gagasan tentang kepala keluarga, sesungguhnya tidak mutlak harus ada di tangan laki-laki. Dan sesungguhnya Mala mengaku aneh mengapa sampai ada ‘jabatan’ kepala keluarga. Betul bahwa dalam sosiologi pernah disebutkan bahwa keluarga ialah organisasi terkecil dalam komunitas, tapi benarkah suatu komunitas selalu dicirikan adanya ‘kepala’? Tidakkah itu murni gagasan administrasi dan bukan sosiologi? Apalagi keadministrasian komunitas—kampung, kota atau negara—mensyaratkan pemilihan pemimpin atau setidaknya diangkat oleh otorita lebih tinggi dengan periode waktu tertentu. Tidak seumur hidup seperti dalam keluarga yang dikenal sekarang ini. Bila begini keadaannya, bukankah keluarga jadinya lebih mirip sel terkecil dari suatu monarki?

“Aduh, kamu jangan terlalu sering mengungkapkan pendapat seperti itu, ya Mala,” Fairuz mewanti-wanti.

“Mengapa?”

“Terutama kepada orang laki-laki.”

“Sekali lagi, mengapa?”

Fairuz diam sebentar. “Mereka rata-rata tidak suka.”

“Alasannya?”

“Pikiran-pikiranmu terlalu bebas. Itu pikirannya laki-laki.”

Kemala Puti seratus persen tidak setuju dengan bantahan Fairuz.

“Fairuz, pertama aku harus bilang, pikiran memang harus bebas. Sama sekali bebas. Tak ada satu kekuatan atau kekuasaan pun yang boleh melarang atau menghakimi isi pikiran, apalagi bila kekuatan atau kekuasaan itu hanya dari manusia.

“Yang kedua, mengapa harus tidak boleh mengungkapkan kebebasan pikiran di hadapan atau kepada laki-laki? Memangnya perilaku kita, ucapan-ucapan kita, harus selalu yang sifatnya melayani atau minimal membuat senang laki-laki? Apakah mereka, laki-laki, rujukan kita selama seumur hidup untuk bersikap bahkan berpikir, sehingga setiap kali bertindak harus ratusan kali menghitung, sudah benarkah kita di hadapan laki-laki atau malah membuat mereka sebal?

“Ketiga, Fairuz. Aku telah mencatat selama belasan tahun tentang perbedaan kita dengan lelaki. Sedikit sekali. Dan melulu berkaitan dengan fisik. Yakni perbedaan bentuk tubuh serta kelamin antara kita dan mereka. Lalu fungsi dari kelamin-kelamin itu menjadi berbeda. Begitu pula ritualnya. Tapi, aku tak mencatat dan belum mengetahui, barangkali tak akan pernah, perbedaan mengenai kebolehan berpikir dan larangannya.

“Oh, ya tentu saja Mamak aku pernah bilang bahwa perempuan harus menjaga pikiran agar tidak terbujuk setan. Ia juga pernah bilang agar aku sebagai perempuan menjaga ucapan terutama di hadapan laki-laki, agar bertutur secara lembut dan menjauhkan lidah dari kata-kata atau kalimat yang tidak senonoh. Barangkali maksud Mamakku sama seperti yang kau bilang, tapi aku tak mau menafsirkan begitu. Bukan berarti aku dilarang berpikir secara bebas. Mamakku bilang aku harus menjaga pikiran dari bujukan setan. Itu sama sekali tidak berarti berpikir bebas identik dengan kesetanan. Bagiku justru merayakan pemberian Tuhan. Bersyukur nikmat atas anugerah-Nya.

“Tidak Fairuz. Perbedaan kita dengan laki-laki terlalu sedikit dibanding persamaan yang dimilikinya. Dan semuanya adalah anugerah, bila memang pantas kita menyebutnya demikian.”

Sepanjang itu Mala membantah anjuran Fairuz, nada yang dikeluarkan tetaplah tenang. Tak ada ledakan-ledakan kalimat

“Allahu Akbar, Mala. Dari mana kamu belajar berkata seperti itu.”

“Berkalimat, Fairuz. Lebih dari kata. Dan itu semua belajar dari kesabaran selama belasan tahun hanya untuk mengetahui dari Mamak, dari bidan kampung, juga Abi dan dari teman-teman mengenai perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Belasan tahun Fairuz.”

“Dan kamu percaya bahwa perempuan dan laki-laki sama?” kejar Fairuz.

“Kita berbeda. Perempuan dan laki-laki tentu saja berbeda. Sesedikit apapun perbedaan keduanya. Sebanyak apapun persamaannya. Boleh saja kita sebut berbeda. Ingat di Ali Imran ada firman Allah juga yang berbunyi, “Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan”.”

“Lalu?”

“Ya, secara fisik hampir sama sekali berbeda. Disebut hampir sama sekali karena bahkan biologi menemukan banyak kecenderungan maskulin dalam perempuan dan kecenderungan feminin pada laki-laki. Tapi aku hanya bicara pada perbedaan yang tampak mata saja. Kau pun pasti memperhatikan bagaimana dada kita lebih besar, kelamin kita berbeda, dan kita menstruasi sedangkan mereka tidak. Tapi tahukah kau bahwa perbedaan itu demi satu tugas paling suci manusia?”

“Apa?”

“Berkembang biak. Melestarikan spesies manusia. Ya, lalu ada tugas-tugas suci lainnya atau setidaknya dianggap suci. Apakah itu dititahkan agama atau diteorikan filsafat. Tapi di atas semua itu kita, perempuan dan laki-laki, manusia seluruhnya, mengemban misi tersebut. Berkembang biak dalam kesetaraan dengan fungsi yang berbeda.”

Kali ini intonasi Mala sedikit meninggi.

“Tapi, Mala…” Fairuz berhenti. Mala menunggu.“Bagaimana bisa disebut setara, bahkan sama, bila memang memiliki fungsi berbeda?”

“Itu disebut kerja sama. Perempuan dan laki-laki, sekali lagi dalam rangka menjalankan misi suci tadi, bekerja sama sesuai fungsi badaniahnya. Alam dan unsur-unsur kimia di dalam tubuh telah memiliki mekanisme sendiri bagaimana relasi itu dibentuk dan dibangun lalu bekerja sampai keduanya menghasilkan manusia lain. Keduanya setara dalam menjalankan pekerjaan bersama tersebut. Sebab, bila tidak namanya pelacuran.”

“Kedengarannya indah.”

“Sangat indah, Fairuz. Kerja sama dalam posisi setara.”

“Tapi, kamu sangat mekanis memandang hubungan antar dua manusia berbeda jenis. Oke, kamu berasal dari fakultas teknik, bukan berarti segalanya diukur lewat kerangka teknik, dong.”

“Keindahan itu estetika, Fairuz. Ada di dalam rupa, suara, gerakan, bahkan keheningan. Apakah itu lukisan, musik, tari, pantomim, maupun mesin yang bersuara, bergerak atau hening. Dalam semuanya, satu sama lain memerankan fungsinya. Sehingga harmoni. Padu. Satu unsur menjadi penting bagi unsur yang lain, sebaliknya, tak satu saja unsur—apapun itu—bakal merusak keutuhannya. Satu warna hilang dalam lukisan, satu bunyi hilang dalam musik, satu gerak hilang dalam tarian, sampai ke mesin pun, maka yang disebut lukisan, musik, tari, mesin itu tak jadi. Sekali lagi bukan karena yang hilang itu yang amat penting dan menentukan, tapi ia dibutuhkan. Bila yang hilang warna, gerak, bunyi, atau elemen yang lain lagi, hasilnya sama juga: tak jadi.

“Maka, aku heran bagaimana bisa lelaki menjadi lebih penting dari perempuan. Bagaimana bisa mereka yang menjadi penentu mana boleh dan mana tak boleh. Aku pernah punya kawan di masa kecilku. Khairunnisa namanya. Ia berhenti dari sekolah karena keluarganya tak mampu memberi ongkos kepada seluruh anaknya. Ia pun harus menjaga adiknya yang bayi. Mengapa? Waktu itu jawabannya karena ia perempuan. Adik terdekatnya lelaki. Maka, ia dianggap yang punya kewajiban untuk mengasuh adik bayi mereka dan berhenti sekolah. Penentunya bukan, misal, siapa lebih tinggi nilai pelajarannya.

“Kita semua sama-sama dilahirkan dari rahim perempuan. Sama-sama punya usia dan juga ancaman penyakit, meski penelitian kesehatan menyebutkan ada kecenderungan tertentu penyakit tertentu lebih sering pada lelaki, seperti alzeimer atau usia hidup perempuan lebih panjang dari lelaki. Kita pun sama atau bisa sama-sama melakukan banyak hal. Berlari, berenang, memanjat pohon, mengayuh sepeda, mengendarai motor, menyetir mobil, memasak, menulis, berpidato, ke bulan, memimpin negara atau partai politik. Sama.

“Lelaki-perempuan itu hanya dibedakan pada alat, fungsi dan peran reproduksi. Tetapi tidak pada soal produksi.”

“Aku tahu soal itu,” potong Fairuz.

“Nah.”

“Secara biologi, ada identitas kelamin: lelaki dan perempuan. Secara sosial ada identitas gender. Juga tentang lelaki dan perempuan.”

“Itu dia,” seru Mala. “Lalu apa keberatanmu?”

“Maksudku, cinta. Di mana cinta dalam konsepmu tadi?”

Kemala Puti menggeser duduknya agar dekat dengan sahabatnya.

“Pertama, aku tak boleh bilang bahwa ucapan tadi orisinal dariku. Kukira pikiran-pikiran semacam telah dimamah oleh jauh orang-orang sebelum kita. Bahwa identitas kelamin, tidaklah serta merta menjadi penentu identitas gender. Tidak lantas secara sosial bisa diterima klaim bahwa lelaki lebih kuat, mengutamakan rasional, lebih agresif, lebih bertanggung jawab, sejak lahir telah ditetapkan sebagai pemimpin, sedangkan perempuan lebih lemah, mengutamakan emosi, kurang agresif, lalai bertanggung jawab, dan sejak lahir ditakdirkan untuk dipimpin. Sama sekali tidak. Maka, tidak benar kebebasan berpikir milik lelaki sedangkan perempuan hanya bisa berprasangka. Bila pun ahli pikir atau filsuf itu kebanyakan lelaki, aku ragu jangan-jangan karena catatan sejarah masih banyak dikuasai lelaki. Buktinya sekarang ini kita bisa menyimak betapa banyak perempuan ahli pikir di masa lalu. Kita pun melihat bahwa beberapa pemikir Yunani yang sering menjadi acuan filsafat itu, yang rata-rata laki-laki itu, ternyata memiliki anggapan-anggapan yang sama dengan anggapan umum kala itu tentang perempuan. Sesungguhnya itu menciderai kefilsufan mereka, karena tak menggunakan kebebasan berpikirnya untuk masuk ke wilayah lain di luar identitas kelaminnya sebagai lelaki.

“Dan kedua, bila kau bertanya di mana cinta dalam percakapan kita tentang kesetaraan bekerja sama barusan, sungguh aneh. Sebab, cinta itu selalu hadir dalam kesetaraan. Posisi tidak imbang, Fairuz, bernama penundukkan, penguasaan, perbudakan, dan sekali lagi—entah mengapa malam ini aku suka dengan istilah ini—pelacuran. Sejarah manusia karenanya berisi tentang perjuangan pembebasan dari penundukkan, penguasaan dan perbudakan. Semuanya berasal dari gagasan tentang pembebasan. Gagasan datang dari kegiatan olah pikir. Sungguh mulia keadaannya, bukan? Menjalankan misi suci dalam kesetaraan yang timbul karena cinta.”

“Aku mencintaimu, Mala,” Fairuz berkata.

“Aku juga sangat mencintaimu, Fairuz. Inilah kita dan begitulah seharusnya kita.”

Fairuz menatap lekat mata sahabatnya. “Aku tiba-tiba merasa cemburu kepada laki-laki yang dekat denganmu dan berniat menjadikanmu pacar atau istrinya kelak. Aku hanya mau aku saja yang dekat denganmu.”

Mala tersenyum lebar. “Penguasaan. Hei, tiba-tiba kau menjadi laki-laki malam ini.”

Sesungguhnya belum terlalu malam bagi Banda Aceh. Sayup-sayup masjid yang berniat menuntaskan seluruh bacaan Al-Quran dalam sebulan tarawih masih bersuara. []

2 thoughts on “Percakapan 2 – Persamaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s