Percakapan 1 – Perbedaan

“Kapan aku boleh mendekat ke adik?” Mala bertanya kepada Abi.

“Sekarang pun boleh. Kamu boleh dong mendekat, melihat, mencium. Ia adikmu, kan?” Abi menjawab sembari mengangkat tubuhnya agar mendekat kepada adik. Rupanya hidung Abi tak setajam Mamak Bidan. Tak pernah mencium bau matahari.

Mala girang dalam gendongan. “Abi, adik Mala laki-laki?” Kini ia hanya berjarak beberapa jengkal dengan adik yang pulas di dalam kelambu mirip tudung nasi.

Abi mengangguk.

“Dari mana bisa tahu?”

“Nanti kamu tahu sendiri.”

Aduh. Abi lebih parah dari Mamak. Bila tadinya Mala mendapat, “Sudah dari dulu pun disebut perempuan dan laki-laki,” sekarang, “nanti kamu tahu sendiri.”

Sesungguhnya ini bertolak belakang. Mamak memberitahu tentang kenyataan yang telah diketahui sejak lama, ‘sudah dari dulu’. Sedangkan Abi menyatakan ‘nanti’. Apapun itu, keduanya memberi teka-teki. Dan Mala sedang tak suka menghadapi situasi misterius.

Ia tahu bila mendesak Mamak bakal lebih punya banyak jawaban ketimbang Abi. Cek Tar sering memuji kepintaran Mamak menjawab. Ia ingat Cek Tar pernah bicara kepada keluarga adik Abi yang sekarang bekerja di Calang, jauh dari kampung sini, bagaimana Abi bisa selamat saat banyak lelaki dibawa oleh sepasukan lelaki berseragam dan bersenjata. Malam-malam. Kata Cek Tar, Abi bisa selamat karena Mamak pandai menjawab. Cek Tar sendiri termasuk yang dibawa malam-malam itu. Baru tiga bulan kemudian ia kelihatan pulang ke kampung dengan tubuh lebih kurus dan kehilangan dua ibu jarinya. Terpotong kaki meja, begitu jawab Cek Tar kalau Mala bertanya perihal ibu jarinya.

Tapi, Mamak masih tergolek di atas tempat persalinannya. Apa boleh buat, tinggal Abi yang harus didesak.

“Mala ingin tahu sekarang, Abi. Dari mana kita tahu adik laki-laki?”

“Duh, yang baru punya adik, tak sabar ya?” Bidan kampung yang tengah bersiap pulang menyela. Duh, komentarnya mirip-mirip Mamak, Abi dan tetangga sebelum adik lahir. Padahal Mala bukan baru pulang bermain.

“Sebentar lagi, Mala. Adik masih tidur,” Abi menenteramkan penasaran Mala. “Lagi pula kamu belum mandi, masih bau matahari.”

Ah, Mala salah mengira. Rupanya Abi pun pernah mencium matahari. Kirain pengetahuan itu cuma dimiliki bidan kampung. Suatu hari perlu juga Mala lebih seksama menggunakan hidungnya di siang hari. Siapa tahu bisa membaui aroma matahari.

Tanpa memberitahu Abi, Mala meluncur turun dari gendongan, berlari ke bagian belakang rumah, menyambar handuk dan mandi. Ia tahu bagaimana menghilangkan bau matahari. Panas dan api harus dilawan air dingin, pikir Mala. Bau matahari di badan ini harus lenyap agar ia bisa mendekat ke adik dan mengetahui persis apa betul ia laki-laki. Adik yang kelahirannya membuat keluarga Mala menjadi “lengkap” seperti dibilang Abi.

Memang apa akan terjadi kalau yang terlahir perempuan? Apa Abi akan merasa keluarga ini belum lengkap? Apa Abi akan kecewa lalu bersedih? Bagaimana kalau dulu Mala terlahir sebagai laki-laki? Apa Abi masih membutuhkan anak perempuan agar “lengkap”? Sebetulnya apa yang disebut lengkap? Dan siapa yang membuat lengkap? Laki-laki atau perempuan? Mungkin Abi merasa perlu ada anak laki-laki karena ia sendiri laki-laki. Mungkin Abi merasa sendirian selama ini karena Mala dan Mamak peremuan. Tapi kenapa Abi sejak dulu—semenjak Mala belum terlahir—sudah bersama Mamak? Itu kan berarti Abi membutuhkan orang lain yang tidak sama dengan dirinya. Sebab, bila tak perlu, ia bisa saja tinggal berdua—sebutlah—Cek Tar.

Pasti karena Abi butuh, pikir Mala. Butuh orang lain yang tak serupa dengan dirinya. Sama seperti ayah-ayah temannya. Bersama perempuan yang lalu jadi Mamak anak-anak mereka. Sejak kapan ya? Butuh untuk apa? Apakah karena ada hal-hal yang harus dikerjakan oleh lelaki dan hal-hal yang harus dikerjakan oleh perempuan? ‘Harus’ atau ‘hanya bisa’?

Pada pertanyaan terakhir ini Kemala Puti berhenti sebentar di depan pintu kamar mandi.

Benarkah ada hal yang ‘hanya bisa’ dilakukan lelaki dan tak bisa dilakukan perempuan? Mala membandingkan kecepatan larinya tadi dari sekolah ke rumah. Ia kira ia bisa mengalahkan Mulia dalam adu cepat lari. Ia malah pernah nyata-nyata mengalahkan Mulia dalam panjat pohon. Ia juga pernah melihat bagaimana Mamak mengangkut karung beras yang sama beratnya dengan karung yang diangkat Abi ketika tetangga mereka hajatan. Mereka juga ke sawah yang sama saat memulai membuang ilalang yang menutupi bekas panen. Bila pun ada yang tidak dikerjakan Mamak di sawah ialah membajak dengan kerbau. Apa itu yang tak bisa dilakukan Mamak? Tak bisa dilakukan perempuan? Mala sangat ragu. Sebab, berkali-kali juga ia melihat Mamak yang membuka ikatan bajak dari kerbau dan itu berarti apa susahnya dengan menggiring kerbau itu untuk menarik bajak di tanah yang sudah sangat lembek karena tergenang air.

Bila semua pekerjaan bisa dilakukan oleh lelaki dan juga oleh perempuan, mengapa harus ada dua-duanya?

***

“Duh, yang baru punya adik, tak sabar mau dekat, ya?” Kali ini Cek Tar yang berkomentar saat Mala keluar kamar mandi. Heran juga, apa semua orang di kampung ini membaca buku yang sama atau belajar di sekolah yang sama, sehingga komentarnya mirip-mirip begitu. Tapi, hari ini pikiran Mala sudah cukup sibuk dengan soal laki-laki dan perempuan, juga tentang bau matahari. Jadi, sekali lagi, kapan-kapan mencari tahu perihal kemiripan komentar itu.

“Abi?” Mala masuk kembali ke kamar. Mamak kelihatan sudah lebih segar. Tak seletih tadi saat Mala baru pulang sekolah.

“Sudah lihat adikmu, Mala?” tanya Mamak.

Mala mengangguk. “Tapi belum dekat. Betul ia laki-laki, Mak?”

“Iya, sayang. Mala senang?”

Mala mengangguk. “Lengkap, Mak?”

“Iya, sayang. Mala senang?”

Duh. Diulang-ulang melulu. “Dari mana tahunya, Mak?”

“Memang laki-laki, Mala,” jawab Mamak.

Halah si Mamak. “Maksud Mala, dari mana Mamak dan Abi tahu adik itu laki-laki? Bukan perempuan atau bukan lainnya?”

“Tidak ada bukan lainnya, Mala. Cuma ada perempuan dan laki-laki. Nanti Mala tahu.”

Kok jawabannya semua sama? “Mala ingin tahunya sekarang.”

Mamak tersenyum.

“Anak sekarang memang banyak pertanyaan dan tak sabaran,” tiba-tiba ada suara dari belakang. Bidan kampung. Rupanya ia belum pulang.

Dari dia Mala tahu matahari ada baunya. Sekarang ia menyodorkan pula tentang beda anak sekarang dan anak dulu.

“Tapi, banyak bertanya itu bagus. Tandanya anak pintar,” imbuh Mamak Bidan.

Alhamdulillah. Akhirnya keluar juga komentar yang melegakan Mala.

“Tapi dari mana kita tahu adik itu laki-laki?” Mala bertanya kepada bidan kampung.

“Kalau adikmu toh i’ek, nanti Mala bisa tahu.”

Alhamdulillah lagi. Untung Mamak Bidan belum pulang. Entah berapa lama Mala bisa tahu dari mana adiknya diketahui sebagai laki-laki kalau Mamak Bidan keburu pulang.

“Kapan adik toh i’ek, Mak?”

“Tadi sudah, sayang.”

Aduh.

“Tunggu saja, nanti juga ada lagi.”

Mala kembali berlari ke belakang. Kamar mandi. Ia mengambil posisi toh i’ek tapi tidak membuang air seninya. Kali ini ia memperhatikan seksama bentuk dan rupa luar dari bagian tubuh yang sehari-harinya mengeluarkan air beberapa kali itu.

Dari sini rupanya diketahui beda laki-laki dan perempuan, pikir Mala. Ia agak menyesal mengapa tidak memperhatikan milik Mulia atau teman-teman lelakinya yang lain. Ia cuma tahu mereka sering toh i’ek sembarangan sambil berdiri. Ia kerap heran bagaimana caranya agar pangkal paha tetap bersih tidak ketumpahan air seni bila toh i’ek sembari berdiri. Istri Sayed yang sering datang ke rumah pernah bilang, “memang begitu kalau laki-laki kencing, tidak jongkok seperti kita perempuan.” Tapi ia tak pernah menyebut mengapa mereka suka dan boleh sembarangan. Mala pernah lihat dari jauh Cek Tar toh i’ek hanya dengan membalik badan ke belukar tinggi, berdiri, dan kepala menoleh ke kanan-kiri beberapa kali, lalu menunduk dan mengguncang tubuh beberapa kali.

Mungkin bagian tubuh ‘yang ini’ yang membuat Abi dan Mamak berujar, “lengkap” bila ada perempuan dan lelaki sekaligus. Tidak hanya laki-laki dan tidak hanya ada perempuan. Mala mencatat suatu saat kelak ia harus bertanya bagaimana bagian tubuh ‘yang ini’ yang ia miliki bisa melengkapi ‘yang dimiliki’ lelaki.

Sekarang ia mengetahui karena ‘ini’-lah ia disebut perempuan dan yang berbeda dari ‘ini’ yang dimiliki adiknya, Mulia, Abi, Cek Tar menjadikan mereka disebut lelaki. Hmh, Kemala Puti tersenyum.

Sekeluar dari kamar mandi ia mendapati beberapa temannya telah datang. Setelah pulang ke rumah masing-masing, mereka menyusul ke rumah Mala untuk melihat adik barunya. Mala kian girang bahwa kedatangan adiknya menjadi perhatian banyak orang, termasuk dari kawan-kawan di sekolahnya. Hampir semua teman terdekat datang: Ida, Sitoh, Rafiqoh, Mulia, Fadli.

“Mana Nisa?” Yang ditanya Mala bernama lengkap Khairunnisa. Teman sebangkunya.

“Tadi waktu kami jemput dia tengah menangis,” kata Sitoh.

Mala tak bisa menduga apa yang membuat teman sebangkunya menangis. Tadi di sekolah mereka baik-baik saja. Ia juga turut senang sewaktu beberapa bulan lalu mengetahui Mala bakal dapat adik. Ia malah telah lebih dulu punya adik. Tiga malah. Jadi, tak mungkin tangis Nisa kali ini karena iri dengan Mala seperti yang pernah terjadi saat Nisa mengetahui Mala mendapat rok baru dari Cek Tar dan rok Nisa sudah hilang warna merahnya.

“Apa yang diceritakan Nisa?”

Ida menjawab, “Pulang sekolah tadi Nisa diberitahu Mamaknya, besok ia tak usah sekolah lagi. Ia lebih baik menjaga adiknya yang masih kecil supaya Mamaknya bisa membantu mengurus sawah orang. Kata Nisa, Mamaknya tak bisa melunasi tunggakan bayaran sekolah yang sudah lebih dari 6 bulan.”

“Adiknya, si Kur itu, juga berhenti?” Mala bertanya lagi.

“Itulah,” timpal Mulia. “Kata Nisa, Mamaknya hanya sanggup mengongkosi satu orang. Ya, si Kur itu saja.”

“Tapi kenapa Nisa yang berhenti?”

“Ya, Nisa perempuan. Biar adiknya yang lelaki yang sekolah. Lagipula, masak si Kur yang menjaga adik mereka yang kecil? Kan lebih pantas perempuan,” tambah Fadli.

Tiba-tiba Mala merasa ada yang salah dengan bagian tubuhnya di ‘bawah’ itu. Yang baru saja diperhatikan dengan seksama di kamar mandi tadi.

Bapak Nisa jarang pulang. Paling seminggu sekali selama sehari untuk mengumpulkan bahan makanan lalu naik ke gunung. Ia bersama empat orang lain di kampung Nisa menjaga dan mengurus kebun yang dimiliki orang Banda Aceh. Mamaknya dulu membantu mengurus sawah orang kampung sebelahnya. Setelah perutnya membesar karena hamil, si Mamak berhenti hingga melahirkan dan si bayi berusia 4 bulan. Sekarang rupanya si Mamak berniat bekerja kembali.

Dan Nisa yang diminta menjaga adiknya.

“Kasihan Nisa. Ia pintar sekali sebetulnya,” Mala terhenyak.

Apakah karena perbedaan di bagian bawah tubuh ini yang membuat keputusan-keputusan seperti itu diambil? Mengapa peraturannya berbunyi, “perempuan yang menjaga anak kecil” bahkan Fadli pun menyatakan seperti itu? Bukankah Nisa, perempuan, juga butuh sekolah seperti anak-anak yang lain? Perempuan dan lelaki.

Kelak, Mala diberitahu Mamak bahwa perbedaan lelaki dan perempuan bukan saja terjadi pada alat toh i’ek mereka dan cara mereka melakukannya. Keduanya berbeda sampai kepada hal-hal sehari-hari. Ada ‘yang boleh’ dilakukan perempuan dan ada yang ‘hanya boleh’ oleh lelaki. Ada juga yang disebut Mamak ‘sebaiknya’ dilakukan perempuan. Misalnya, memasak. “Kalau tak perlu benar, sebaiknya jangan lelaki yang memasak di rumah.”

Mala belum paham asal muasalnya. Dari mana pembedaan itu datang. Apakah semata-mata karena perbedaan jenis kelamin?

***

Di usia sebelas, Mamak memberitahu satu perbedaan lagi yang katanya, “hal penting buat perempuan.” Usai mendengarnya Mala setuju, memang penting diketahui. Sebaiknya bukan hanya buat perempuan, laki-laki juga.

Kurang dari setahun ke depan, atau mungkin pas, atau bisa lebih sedikit dari setahun ke depan, bagian tubuh Mala yang berbeda dengan milik adiknya akan mengeluarkan darah. Sekali ia keluar, maka bulan-bulan berikutnya selama 4 sampai 6 hari Mala akan terus menerus mengalami. Kata Mamak, Mala tak perlu takut, karena peristiwa ini dialami oleh semua perempuan. Malah bagus, karena itu menunjukkan Mala beralih dari masa kanak-kanak menuju ke bukan kanak-kanak. Sebutlah: remaja.

Adiknya, Yusran Adam, tak mengalami. “Karena ia laki-laki,” ujar Mamak.

Mereka, laki-laki, kata Mamak, tidak melahirkan, tidak memiliki kantung peranakan di dalam tubuhnya. Tidak akan hamil dan melahirkan. Tidak perlu penyucian terus menerus. Inilah pelajaran pertama tentang reproduksi yang Mala ketahui. Pelajaran—atau lebih pas cerita—yang diujarkan sang Mamak begitu saja ketika mereka pulang dari tarawih, sepuluh tahun lalu menurut kalendar hijriyah.

Kini, di bulan yang sama sepuluh tahun berikutnya, Mala sudah terpisah dari Mamak, Abi dan juga Yusran. Ia pulang tarawih sendiri. Melintasi jalan yang biasa menuju kost di Kampung Laksana, Banda Aceh.

Tubuh perempuan harus suci, kata Mamak. Makanya saban bulan ia mengeluarkan darah. Agar terus menerus suci. Mengingat ini ia menjadi tak sepakat dengan anggapan lain dari teman-temannya. Sejak dari kampung di Trieng Gading, Pidie, dulu hingga di kampus dan tempat kerja. Kata mereka darah yang keluar saban bulan itu darah kotor. Bila itu proses penyucian, mengapa harus disebut kotor bahkan najis?

Mala juga heran. Mengapa butuh bertahun-tahun, butuh adiknya keluar dulu dari perut Mamak untuk tahu bahwa ada laki-laki dan ada perempuan (barangkali ada yang ketiga) di dunia ini. Membutuhkan waktu cukup lama hingga Mala harus terjatuh dan tersengal-sengal berlarian dari sekolah untuk mengetahui bahwa manusia dikeluarkan dari perut perempuan. Perlu toh i’ek untuk paham tentang adanya perbedaan bentuk kelamin. Juga 3 tahun berikutnya untuk tahu bahwa kelak ada darah keluar dari tubuhnya dan itu akan terjadi saban bulan.

Apa yang menghalangi Mamak untuk memberi tahu semua secara sekaligus? Mamak terlalu sibukkah? Mengapa bukan Abi yang memberi tahu? Abi tidak tahukah? Benarkah semua itu penting diketahui, sedang Mamak bercerita begitu saja sembari berjalan kaki pulang dari tarawih, persis seperti yang sedang dilakukan Mala sekarang sendirian, sepuluh tahun berikutnya di tempat yang berbeda. Sendirian.

Butuh waktu belasan tahun untuk memberi informasi atau pengetahuan tentang hal yang sesungguhnya telanjang di depan mata. Beda antara laki-laki dan perempuan. Sedikit pula yang diberitahu, barangkali tidak seratus persen benar seluruhnya. Barangkali ada yang sedari mula sengaja tidak dibeberkan, sehingga Mamak pun tak tahu dan imbasnya kepada Mala. Seperti soal penyucian saban bulan itu.

Sebegitu suci rupanya tubuh perempuan hingga harus bersih sampai ke dalam. Mungkinkah ini yang membuat Mala tak boleh toh i’ek sembarangan seperti Cek Tar? Tak perlu tengok kanan-kiri, mengguncang tubuh berkali kali saban kencing lalu menunduk memperhatikan kelaminnya. Ia tak sanggup menghitung berapa kali laki-laki memperhatikan kelaminnya dalam sebulan. Tapi Mala tahu, jumlahnya lebih banyak ketimbang perempuan dalam setahun.

“Itu suci bagi perempuan, Mala. Kita harus menjaganya,” Mamak menutur ketika datang haid pertama Mala.

Menjaga dari apa? Bukankah ia sudah berada di tempat terlindung di bagian tubuh yang tak bisa tampak begitu saja, berbeda dengan posisi wajah dan tangan yang setiap saat terbuka? Atau kaki yang sewaktu-waktu bisa menginjak besi karat atau paku hingga berdarah bahkan tetanus.

Mamak tak pernah bercerita. Ia hanya mengatakan, benar-benar harus dijaga sampai nanti kelak punya suami. Astaga. Rupanya, vagina yang melekat sejak ia lahir hingga—barangkali kelak mati—bukan penuh miliknya. Vagina. Ah, ini penting. Sungguh penting. Mala baru tahu nama yang tepat untuk satu bagian tubuhnya itu ketika, tebak, SMP. Sangat lama. Dan yang dimiliki Yusran, Abi, Cek Tar, dan Mulia: penis, juga ketika SMP. Ketika ia sudah fasih berbulan-bulan mengganti pembalut saban darah keluar. Bukan ketika pertama ia mengalami darah pertama yang mengalir dari bawah sana. Bukan tatkala menyadari toh i’ek. Telat? Mala tak paham.

Yang penting ialah bagaimana mungkin ada bagian dari tubuhnya yang—kata Mamak—tidak ia miliki penuh, hanya diminta menjaganya sampai kelak punya suami. Siapa dia? Dari mana dan kapan ia tahu lelaki yang tepat menjadi suaminya dan bukan yang sekarang sedang duduk di atas keretanya, tengah membeli voucher telepon selular sembari memperhatikan Mala berjalan? Sebab bila harus lelaki itu pun Mala mau. Mungkin dimulai dengan berbagi nomor telepon dulu.

Mala tiba-tiba menyadari, besok ia tak akan berpuasa. Ini tarawih terakhirnya sampai kira-kira 4 atau 5 hari ke depan. Ada yang bergerak lembut di bagian bawah perutnya, barangkali saat tidur atau bangun nanti baru jelas keluar atau tidak. Ia telah fasih mengenai tanda-tanda dari tiap anggota tubuhnya. Penyucian itu datang lagi, benak Mala.

Tapi, benarkah itu proses penyucian atau memang mekanisme wajar dari tubuh yang kelak mereproduksi manusia? Bertahun-tahun Mala mencatat semuanya sebagai perbedaan dasar dan nyata antara perempuan dan laki-laki. Ada yang dimiliki hanya oleh perempuan, dan ada yang hanya oleh laki-laki. Dan semuanya hanya ada pada bentuk dan guna fisik mereka. []

2 thoughts on “Percakapan 1 – Perbedaan

  1. Hehe… mengingatkan saya ke masa SD. Pas kelas 4, suatu kali Ibu bilang ke saya dan kedua orang adik saya, “Kita mau dapat adik lagi.” Adik-adik saya hepi banget. Saya aja yang diam. Dalam hati sudah protes, “Kenapa gak KB aja sih?” Sebagai sulung, saya takut sekali akan berakhir seperti cerita di buku pelajaran sekolah. Wati kan sering banget disuruh Ibunya menjaga dan menggendong adik kecilnya yang masih kecil. Lagipula, punya anak lebih dari 3, menurut saya gak keren aja.. hahaha *nerusin baca Kemala lagi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s