Pengenalan

Mala berlari melintasi jalur tak biasa dari sekolah ke rumahnya. Meliwati pematang entah milik siapa, sesekali ada terjatuh, untung tak berlumpur. Matahari belum tergelincir benar dari titik tengah di ubun-ubun kepala. Nafas Mala tersengal tapi kakinya tak mau pelan. Dari matanya kita tahu ada yang harus diburu dalam kecepatan tak biasa bagi perempuan kecil berusia 8 tahun itu. Teman-teman lain pulang dengan bersantai dan sendau gurau meliwati jalan kecil yang pas dilalui mobil dan motor.

Kemala Puti, nama lengkapnya, bukan sedang dalam keadaan biasa.

Dari jarak yang kurang dari semenit lagi dijangkau kaki kecilnya, rumah sudah kelihatan. Siang ini terlihat cukup ramai. Ada beberapa lelaki dewasa merokok sambil berdiri dan jongkok di teras rumah, perempuan—juga dewasa—mengobrol di dekat pintu masuk. Mala mengumbar mata senangnya dan bibir terbuka lebar ketika menjangkau pekarangan tanpa pagar tempat orang ramai berkerumun di rumahnya.

Semua mata melihat dan sama-sama tersenyum. Maklum akan kegirangan anak kelas 3 sekolah dasar itu. Cek Tar membantu mengambilkan tas yang membebani pundak, sementara istri seorang sayed mengangsurkan handuk kecil mengelap keringat di muka dan kening. Semua berlangsung tanpa membuat langkah Mala berhenti masuk ke bilik mamaknya.

Mala dapat seorang adik.

“Jadi dia yang berbulan-bulan ada dalam perut Mamak,” pikir Mala. “Apa yang ia makan di dalam sana? Apa tidak merasa gelap?”

“Mala jangan dekat-dekat dulu, ya?” bidan kampung yang membantu persalinan berujar. “Mala baru dari luar, masih bau matahari dan kotor, adikmu nanti gampang sakit.”

Meski mendengar, Mala tak terlalu menyimak wanti-wanti sang bidan. Baru tahu bahwa matahari berbau. Ia pun sesungguhnya bingung harus apa. Tadi sewaktu berlari di jalur yang tak biasa dari sekolah ke rumah, ia membayangkan harus mencubit pipi, menggoyang-goyang paha mungil, atau meremas-remas jemari adiknya. Sekarang ia tak tahu, karena bidan kampung bilang ia bau matahari. Hebat juga Mak Bidan. Bisa tahu bau matahari meski jaraknya jauh. Kapan ia pernah mencium sehingga tahu persis aroma dari tubuh Mala sekarang sama dengan bau dari surya?

Alhasil, Mala cuma bisa berbinar takjub menatap bayi yang matanya tertutup dan dibungkus selimut tebal. Kata Mamak, dulu ia dibedong. Sekarang, kata Mamak juga—kelak ketika melihat sang Mamak memandikan adik—bayi-bayi dilarang dibedong. Biar paru-paru bebas memompa udara.

“Kamu senang, Mala?” tanya Abi.

Mala mengangguk cepat berkali-kali.

“Adikmu laki-laki,” kata Abi lagi.

Mala mengangguk lagi. “Lengkap?” ia bertanya tanpa menoleh.

Mala belum terlalu lama tahu mengenai keadaan dirinya yang perempuan. Mungkin belum setahun lalu. Ya, pasti belum setahun. Ia ingat waktu itu perut Mamaknya belum terlalu besar karena si bayi yang kini keluar belum jelas ujudnya. Dan Mala hanya mengira si Mamak gendut belaka seperti beberapa ibu yang ia jumpai di kampung ini dan ia tonton di televisi.

“Di dalam ini ada adikmu, Mala,” terang Mamak.

Ia lupa reaksinya kala itu. Meski tahu kalau ada adik, berarti ia bakal menjadi kakak, tapi bagaimana harus menyambut seorang adik belum pernah diberi tahu siapapun. Sekarang ia girang karena Mamak dan Abi, juga tetangga, sering menggoda, “duh yang mau punya adik, senang betul tampangnya.”

Oh, kalau punya adik harus senang, begitu Mala pikir.

Ia lupa apakah ketika Mamak dan Abi, juga tetangga, menggoda muka girangnya karena ia betulan mau punya adik atau sebab lain. Pulang dari bermain, kelelahan tapi senang pun bila berjumpa tetangga pasti digoda, “duh yang mau punya adik, senang betul tampangnya.” Jadi, Mala pikir bila habis bermain dan memasang tampang senang pasti karena mau punya adik. Atau kalau mau dapat adik, meski kelelahan atau kesenangan oleh sebab apapun, tampangnya pasti girang. Teman-teman yang juga pulang ke rumah sehabis bermain, ia yakini tidak terlalu senang tampangnya. Kan mereka tidak sedang mau punya adik?

Mala diberitahu bahwa Abi ingin punya anak laki-laki. “Biar lengkap,” kata Abi. Karena sudah ada Mala yang perempuan. Sejak itu Mala tahu bahwa ia dan Mamak perempuan, Abi, Cek Tar, Geuchik dan Mukim itu laki-laki. Mala itu inong, Mulia—anak kelas 5—itu agam. Beberapa tetangga dan teman sebaya lain ada yang disebut perempuan, ada yang laki-laki.

Mengapa bisa?

“Dari dulu pun disebut perempuan dan laki-laki, Mala,” jawab Mamak waktu ditanya apa maksudnya ada yang disebut perempuan dan ada yang disebut laki-laki.

Ya, tapi ‘dulu’ pun pasti ada maksudnya, paling tidak alasan. Mala cuma menyangkal dalam hati. Jawaban dari Mamak agaknya sudah final. Ditanya lebih jauh pun paling-paling cuma memberi senyum sambil geleng-geleng kepala sebagai jawaban. Awalnya, Mala mengira Mamak memang tak betul-betul tahu jawabannya, tapi bertahun-tahun kemudian Mala mulai mengerti Mamak kerap mencicil jawaban-jawabannya. Seiring usia Mala-kah? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s