Chia e tazi pesen?

Dari mana ‘ini’ lagu berasal? Ini bukan soal kontroversi ‘Rasa Sayange’ yang sempat diklaim milik Malaysia, tapi memang sebuah lagu kerap diaku oleh satu puak bahkan bangsa bila keseringan didengar atau terdengar. Tahukah lagu Auld Lang Syne atau—bila diterjemahkan secara bebas ke bahasa Inggris—Old Long Since? Mulanya ini lagu dari sebuah puisi Skotlandia lalu terkenal di banyak negara berbahasa Inggris dan dinyanyikan pada malam pergantian tahun, dengan lirik yang berbeda-beda. Usianya sudah 200 tahun lebih.

Di Indonesia, liriknya menjadi: //kini tiba saatnya kita kan berpisahan/ berat rasa hati mengucapkan selamat jalan/ semoga persaudaraan kita dikuatkan/ marilah kita mohon pada Yang Maha Esa//… biasa dilagukan saat berpisah. Siapa pencipta lagu ini di Indonesia? NN. Mungkin kakak pembina di pramuka dan PMR (Palang Merah Remaja) lebih bisa menerka. Saban usai Perjusami (perkemahan Jumat-Sabtu-Minggu), anak-anak penggalang melafalkannya sembari melingkar berpegangan tangan. Syahdu, dan—biasanya—mata kita menitikkan tangis pelengkap suasana.

Di sebuah restoran di Bulgaria, tiga tahun lalu, pencarian dimulai: tentang muasal sebuah lagu.CETP

Adela Peeva, perempuan, pembuat film, berkebangsaan Bulgaria. Ia tengah menyantap makan malam bersama teman-temannya dari Turki, Serbia, Yunani dan Makedonia. Dua yang disebut terakhir masih bersengketa tentang nama Makedonia. Yunani emoh nama Makedonia digunakan oleh republik yang berdiri di atas puing Yugoslavia, suatu lokasi di semenanjung Balkan di Eropa Selatan, berbatasan dengan Serbia dan Kosovo, Albania, Bulgaria dan Yunani. Sembari menunggu resolusi PBB atas sengketa nama, secara resmi negara itu menyandang nama The Former Yugoslav Republic of Macedonia (Republik Makedonia bekas Yugoslavia). Di meja makan malam itu, sengketa bukan soal hak penggunaan nama Makedonia.

Saat sebuah lagu dimainkan, Peeva dan teman-temannya mengenali, lalu menyanyikan dengan lirik dalam bahasa mereka masing-masing. Tentu saja semua mengaku lagu itu berasal dari negeri mereka. Dari ‘sengketa’ di meja makan itu, Peeva yang telah memproduksi lebih dari 50 film dokumenter memulai pencariannya. Publik Aceh bakal (atau sudah) menonton pencariannya di Rumah Eropa, Banda Aceh. Film Peeva diputar dalam rangkaian Festival Film Eropa 2008 yang beredar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, Medan dan Banda Aceh. Sayang, dari 30 lebih film, Banda Aceh hanya kebagian empat saja. Tiga lainnya ialah Ett öga rött (Swedia), Hîrtia va fi albastrã! (Romania), dan Afblijven (Belanda).

Chia e tazi pesen? (Whose is This Song?) keruan proyek yang kelihatannya sepele, penuh humor dan menjadi kurang penting ditonton di jagat yang tengah risau dengan pemanasan sebumi dan disusul krisis finansial lintas negara akibat praktik rakus pedagang uang. Jangan pula berharap terlalu banyak pada teknik atau aspek sinematografi. Banyak gambar diambil secara diam-diam (hidden), alur keliwat meliak-liuk, dan penyuntingan cenderung terlalu mentah.

Cuma, proyek sepele, jenaka, tidak mesti berakhir kesia-siaan. Orang Balkan yang menonton film ini bisa tiba-tiba menyadari: pada lebih dari 130 tahun sebelumnya, mereka hidup di suatu wilayah (negara) yang sama untuk sama saling berbagi cara pandang, kerja dan keriangan. Lagu yang dipersoalkan, setelah ditelusuri, telah bertransformasi dari lagu cinta, ke mars militer, lalu himne agama hingga kebangsaan bernada revolusioner. Semua kelompok pelantun mengaku memiliki.

Balkan, dalam sejarah dunia, bukanlah wilayah seterang Amerika atau—bahkan—Eropa sendiri. Ia tentu saja termasuk wilayah Eropa, tetapi menempati bagian yang agak remang-remang dan hanya dikenali sebagai bekas wilayah yang dikontrol Uni Soviet (saat imperium komunis ini hidup); sebagai kawasan di mana seorang tokoh antagonisnya, Slobodan Milosevic, berasal dan menjagal; sebagai semenanjung yang gampang memanas antara Serbia dan Bosnia, juga Serbia dan Albania, Tuki dan Bulgaria. Ia remang bukan saja bagi orang di luar Eropa, bahkan bagi Balkanian. Konflik yang terjadi, melalui Chia e tazi pesen?, seperti mau disinggung: karena ‘lupa’ menguasai alam pikir. Lupa bahwa pada lebih dari 130 tahun sebelumnya, mereka ialah ‘sama’ di sebuah tempat ‘sama’.

Tapi, sebuah bangsa kerap dibentuk melalui elemen ini: lupa, seperti diurai Ernest Renan. Balkan yang lupa ikatan lawasnya, baru ingat akan ‘kesamaan’-nya pada sebuah lagu yang ditelusuri secara jenaka oleh Peeva. Lantas ke mana ingatan itu akan digulung, merupakan episode baru. Karena setiap yang usai berarti titik memulai yang awal. Sebab, akhir bukan berarti kelar benar. Hidup memang estafet yang tidak mengenal ‘akhir’ sebagai betul-betul kesudahan.

Di Aceh ada ujaran berbunyi begini: pat ujen yang hana pirang, pat prang yang hana reda. “Hujan pasti mengering, perang pasti berakhir.” Tabungan air di angkasa tergantung—salah satunya—dari penguapan. Bila telah tuntas tumpah, maka langit menghentikan curah. Setelah hujan reda muncul banjir, itu lain soal. Segala ada mula pasti punya usai. Seperti juga perang yang selalu berakhir. Apakah bersebab kelelahan, habis anggaran, atau niat suci berdamai—sekali lagi—lain soal.

Akhir hujan atau akhir perang, ialah kerja. Bercocok tanam setelah bumi disuburkan, atau sebaliknya—menyelamatkan pengungsi dan memperbaiki tanggul yang jebol akibat banjir. Juga seusai perang: merehabilitasi veteran, memberi kerja bekas pejuang, memperbaiki kerusakan, mengungkap cerita yang sempat dibungkam propaganda semasa kekejian berlangsung, lalu mencari titik permaafan dan menentukan ikatan baru.

Yang hilang coba diketemukan, yang pernah pergi dipersilakan pulang, biasanya dengan penyambutan megah diliputi haru. Orang mengelu-elukan sembari berebut jabat tangan, mencium tangannya tanda hormat, berfoto, menatap penuh cinta, setelah itu hari berjalan seperti biasa: kerja, rutin, dan letih.

Yang pulang itu bisa pergi lagi karena memang kedatangannya sekadar lawatan atau ia bisa tinggal selamanya. Bila pergi lagi barangkali setelah rindunya lepas dan tuntas baru sadar telah terlalu lama pergi sehingga lupa untuk hidup dengan cara asal.

Yang datang pun bisa pergi, dalam hitungan yang tak berapa lama lagi. Bisa diiringi pesta, seolah senang ditinggalkan—karenanya perlu berpesta, atau agar yang pergi tetap mengenang selama tinggal. Bisa pula upacara resmi, sebab, selama tinggal selalu penuh protokol dan birokrasi yang rumit: assessment, proposal, monitoring, dan evaluasi. Setelah itu, hari berjalan dengan meneruskan sisa kerja dari yang telah pergi, atau bisa juga menghancurkannya karena dulu dibuat dengan jelek dan tak enak untuk diberitahukan. Tapi, lagi-lagi kerja, rutin dan letih.

Jangan-jangan memang tidak pernah ada yang baru dalam sejarah. Jangan-jangan kita saja yang selalu gagap melakoni waktu. Agaknya, di sinilah pentingnya lupa. Sehingga kita senantiasa merasa menjadi ‘yang pertama’, sehingga perlu ‘belajar lagi’ (termasuk “belajar lagi menjadi manusia” seperti lirik lagu Opie Andaresta), atau takjub akan suatu temuan. Termasuk setelah menemukan jawab dari tanya, “Chia e tazi pesen?”

Yang mau pergi dalam hitungan tak berapa lama lagi ini, masih punya waktu untuk ‘mengingat kembali’, agar tak mudah: dilupakan. []

(Rumoh PMI Edisi Nopember 2008 | Kolom Ureung Gampong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s