Bukhari

ADA dua kutipan bisa disampaikan untuk insiden Jantho—bila kasus pengunduran diri Bupati Aceh Besar, Dr Bukhari Daud, 5 September, boleh disebut insiden. Pertama berasal dari peribahasa dan yang kedua dari firman.

Pastilah terkenal ungkapan “ada ubi ada talas,” atau sering diartikan ada budi ada balas. Seolah budi dan balas berpasangan seperti utang bersanding kewajiban membayar. Padahal ketika ditanam, budi tak pernah menyoal bakal memanen apa, bahkan ada panen atau tidak pun bukan soal. Sebab, budi ialah perbuatan yang hanya bersanding dengan: ikhlas.

Dalam ikhlas, pikiran tentang imbalan atau pahala adalah nol. Bahkan kosong. Ia hanya memberi, karena memang harus atau mau memberi. Pengertian ini diperoleh dari etika moral dan juga agama. Maka, peribahasa yang biasanya berisi anjuran moral mesti mengoreksi maksim “ada ubi ada talas” karena konotasinya terlalu manajemen dan mengitung laba-rugi. Kecuali peribahasa mau membiarkan dirinya menjadi banal kepada pengertian ekonomi.

Bukhari sepertinya mau menganut etika keikhlasan ini, bahkan secara taklid. Setidaknya untuk drama penaikan dirinya ke posisi bupati yang ketika berkampanye membutuhkan mesin organisasi. Si mesin butuh minyak dan oli, butuh teknisi yang menghidupkan dan merawat secara berkala, juga butuh tenaga pengawas berdasar jadual shift. Seperti aktivitas produksi lain yang digerakkan mesin, organisasi lalu membutuhkan modal untuk menghidupkan alat-alat produksi. Biasanya disingkat: uang.

Ini kalau kita percaya pada salah satu versi bahwa Bukhari Daud mundur karena tidak tahan dengan tekanan bekas teknisi mesinnya yang menagih pamrih dari kerja produksi sebelumnya. Mungkin supplier, bagian pengepakan, quality control, hingga distribusi ikut menagih pula. Supaya adil, sepatutnya security guard, office boy, juru parkir boleh dimasukkan dalam daftar penagih.

Apa yang ingin diterapkan Bukhari dalam versi ini ialah pembaruan. Baginya, bekerja bersama memenangkan pemilihan kepala daerah Aceh Besar semata-mata demi pembaruan wilayah tersebut di masa depan. Pembaruan bersama, dalam arti yang sesungguhnya bersama, bukan bagi kelompok pemenang belaka.

Di sini Bukhari seperti lupa hidup di mana. Keikhlasan benar-benar hanya menetap dalam alam konsep etika. Juga sebatas anjuran agama yang pahala dosanya masih ditentukan kemudian. Sedangkan logika yang berlangsung pada hari ini ialah mengenai ‘hari ini’.

Tagih menagih budi telah dianggap lumrah dalam praktik penaikan seorang tokoh ke kursi kekuasaan atau pemerintahan. Logikanya, buat apa membantu bila nanti menang tidak memberi imbal apa-apa. Pada kontes pemilihan presiden, lumrah bila konglomerat mengongkosi lebih dari satu pasangan kandidat. Tujuannya jelas, mendapat kemudahan saluran bisnis kelak atau tidak diungkit kesalahannya pada periode berlalu oleh siapapun kelak yang menang. Yang hanya modal otot pun tetap merasa layak mendapat imbalan karena tenaganya sudah dihabiskan untuk memenangkan si calon. “Sudah bergadang berminggu-minggu, jalan ke pelosok isi bensin pakai uang sendiri, masak sudah menang lupa sama kita.”

Jangan silaf dengan kata “kita”. Karena yang dimaksud bukan betulan kita semua, melainkan mereka dari golongan/kelompok itu atau si pengucap sendirian. Berbeda dengan “kita” yang diyakini Bukhari, sehingga ia mengabaikan tuntutan “orang dalam” yang merasa menanam budi. Politik memang bukan lagi suatu aktivitas—apalagi pengertian—tentang mencapai perubahan kepada kondisi lebih baik secara bersama-sama (dalam pengertian luas dan sesungguhnya). Ia telah membanalkan diri—atau dibanalkan—kepada aktivitas dan pengertian ekonomi, laba-rugi.

Dalam atmosfer semacam itu, Bukhari cenderung devian. Ia menjadi berbeda, dan biasanya yang berbeda dianggap lain, sehingga ‘tak bisa diterima’. Bukhari dianggap menyimpang. Malah dituduh mengingkari janji dan membunuh harapan. Tentu saja harapan “penolong”-nya.

Betapa tidak menyimpang, bila yang nyata menggelapkan uang negara yang diperoleh dari rakyat saja bersumpah “tidak bersalah” di depan pengadilan. Bisa ngeles mengaku dijebak, meski rekaman berisi percakapan suap menyuap beredar di media massa. Atau ketua parlemen, gubernur bank sentral atau menteri yang diduga kuat terlibat kasus korupsi bisa menolak mundur dari jabatan. Sebab, mundur berarti mengaku salah dan sama artinya dengan kekalahan. Nah, Bukhari tanpa tudingan menyelewengkan jabatan, tanpa kejelasan tentang kondisi kesehatan, mengumumkan pengunduran diri.

Di sini ia menjadi berbeda. Berperilaku lain dari kebiasaan yang lumrah dan lazim diterapkan oleh pejabat, petinggi atau pembesar pada umumnya. Tapi, ia tidak menyimpang.

Bukhari hanya seperti bunyi firman Allah dalam Al Isra: 11 dan Al Anbiyya:37, “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dengan tabiat tergesa-gesa.”

Bukhari Daud tergesa-gesa. Sedangkan kita: terlambat memahami. Apalagi mengikuti.

Ketergesaan Bukhari menjadi pelajaran maha penting dan mengungkapkan rahasia tebal yang sesungguhnya dipahami desas-desusnya oleh kita, mengenai perilaku kelompok pemenang. Pada abad pertengahan, sikap seperti Bukhari ini biasanya dimiliki oleh para martir. Mereka yang berjihad karena berbeda dari kebusukan kemapanan.

Sayang, Bukhari bukan Idrus dalam novel Royan Revolusi, sehingga kita tak mendapat penjelasan banyak tentang apa, mengapa dan siapa. Idrus ketika menjadi wartawan mendapati bagaimana teman-teman semasa perjuangan revolusi telah menjadi petinggi, lalu berpraktik serupa dengan yang dulu mengkoloni: korupsi. Idrus mendapati kenyataan itu lalu membongkarnya, mengungkap kedangkalan pengertian ‘pamrih’ yang menentang ‘ikhlas’ dari perjuangan kemerdekaan. Idrus mendedah borok petinggi yang kawan-kawan lamanya itu meski tak berujung perubahan apa-apa.

Tapi, mungkin baik ia tak menjadi Idrus. Sebab tokoh novel Ramadhan Kartahadimadja itu akhirnya frustasi dan kembali ke kampung, bertani. Sial, di kampung orang dusun pun sudah ketular penyakit (royan) kota. Di sini banyak rentenir, lintah darat, pemungut pajak haram, dan tuan-tuan tanah yang entah mendapat hektaran lahan dari siapa. Mereka ini para pemenang dari gejolak yang dimurubkan oleh proklamasi di Jakarta. Karena menang, lalu merasa berhak mengambil apa saja sebagai pengganti jerih payah yang sebelumnya fi sabilillah.

Bukhari tergesa-gesa karena pengunduran diri yang sesungguhnya akhlaqul karimah itu jadi mematikan harapan. Harapan sungguh-sungguh dari pengagum dan pemilihnya. Sebaliknya menyuburkan harapan sayyiah dari para pemenang penagih pamrih.

Alhasil, insiden 5 September makin mengonservasi royan akut yang sering kambuh dalam tata sosial kita: ada ubi ada talas bagi semua hal.

Dan sekali lagi, kita terlambat memahami, juga gagal mengikuti. Agaknya betul, kita berangkat dari latar budaya dan cara pikir yang tak pernah sungguh-sungguh apalagi konsisten menyikapi tabiat atau kebiasaan sayyiah apapun. Apakah itu pencurian, pelanggaran hak azasi atau korupsi. Kendati kita mengamini pemberangusan semuanya karena secara teori dan nilai diamanatkan konstitusi dan juga anjuran etika serta agama. Tapi tidak sungguh-sungguh. Artinya, saban hari kita tetap berkompromi pada pelanggaran-pelanggaran.

Di Jantho yang sunyi, Bukhari memang sendiri. Nyaris frustasi lantaran tak mengubah situasi. Bila pengunduran dirinya menjadi permanen, kita bukan saja bakal kehilangan harapan melainkan: teladan dari suatu prinsip adanya (principe d’etre).

Minal aidzin wal fa idzin, Pak Bukhari. []

(Rumoh PMI Edisi Oktober 2008 | Kolom Ureung Gampong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s