Sibak

SATUAN waktu, di Aceh, bisa menurut ukuran isapan sebatang rokok. Bukan semata satuan internasional: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad dan seterusnya. Jangka Jayabaya, di Jawa, sempat menyebut “seumur jagung” sebagai suatu satuan waktu.

Adalah almarhum Tgk Abdullah Syafei, Panglima Gerakan Aceh Merdeka—sebelum ia tewas 23 Januari 2001—yang membuat istilah satuan waktu tadi populer. Sebelumnya pernah disampaikan Wali Nanggroe Tgk Muhammad Hasan di Tiro. Tatkala ditanya kapan Aceh bisa merdeka seperti yang tengah diperjuangkan kala itu, Syafei menjawab, “sibak rukok treuk”. Sebatang rokok lagi. Tapi rokok itu agaknya urung dinyalakan. Seperti jagung di Jawa yang urung dipanen sehingga pendudukan Jepang berlangsung bukan 3,5 bulan melainkan lebih dari 3 tahun.

Lebih dari 7 tahun lalu (belum terlalu zaman menurut istilah Aceh untuk menyebut kata ‘lampau’) sering kita diminta mampir ke masjid bila melintas selewat Isya. Ada ceramah yang tengah atau mau disampaikan di dalam. Kadang ada pelintas yang enggan dan beralasan tengah dikejar urusan penting. Yang meminta mampir lalu bilang, “hana trep, sibak rukok.” Pengertiannya bisa juga, “sebentaran saja kok, tak akan merugikan urusan yang penting tadi.”

Tapi, kita juga jadi tahu ceramah apa yang tengah atau bakal disampaikan di dalam masjid. Tentang hak setiap manusia (lalu bangsa) untuk berdiri di atas kaki sendiri (Soekarno menyingkatnya menjadi ‘berdikari’ dan orang mengenalnya sebagai suatu kata atau istilah baru, lalu berpadanan dengan ‘mandiri’). Penceramah ada kalanya berdiri terbuka di mimbar, lebih sering lagi ialah ditutup oleh bentangan kain sehingga hanya terdengar suara dari balik tirai dan tampak kaki.

Tahun 2005 ada yang mencibir ‘sebatang rokok’ setelah pertemuan di Helsinki. Pihak yang mencibir ini keruan mereka yang berseberangan dengan ide dan komitmen Helsinki. Jangan jangan ia (atau mereka) pun sampai sekarang enggan bahkan hanya sekadar untuk minum kopi atau menyantap coto makassar di Kafe Helsinki di dekat simpang lima, Banda Aceh. Tak mau pula menjadikan Helsinki sebagai salah satu tujuan wisatanya—misalnya. Pokoknya, anti semua yang berbau Helsinki atau ujaran ‘sebatang rokok’. Syukur bila kelak ia (atau mereka) juga berhenti merokok. Logika yang digunakannya (mereka): sudah sok pe-de sekarang mau menyerah dalam kursi perundingan. Padahal perundingan bukanlah tanda kekalahan.

Yang membela bisa menyebut ‘sebatang rokok’ itu sekadar suatu istilah, perumpamaan, bahkan: siasah. Dan politik (demikian siasah sering diterjemahkan) memang bukan suatu pengertian harfiah. Makna harfiahnya mungkin hanya bisa dimengerti bila menyangkut korban.

Secara sadar pastilah tak ada yang memahami ‘sibak rukok’ dalam pengertian harfiah, seperti juga ‘seumur jagung’. Berbeda dengan ‘sepeminuman teh’ atau ‘sejurus kemudian’ dalam novel silat Asmaraman S Kho Ping Hoo atau komik silat Ganes Th. Pada kasus cerita karangan, satuan waktu itu dimaksudkan memang sebagai ukuran waktu betulan. Meski tidak pasti dan dapat diukur secara sama berapa lama yang dimaksud waktu meminum teh. Apalagi bila meminum teh sembari mengisap sebatang rokok🙂.

Sekali lagi, secara sadar pastilah orang memahami ‘sibak rukok’ sebagai perumpamaan. Sebatas majas. Pasti pula tak setara nasib dengan Hadis Maja atau peribahasa. Tapi dari sanalah keyakinan, harapan dan optimistis dibentuk. Tiga soal yang secara tiba tiba sekaligus pelahan, pupus dan nyaris lenyap. Tiba tiba kita menjadi sulit menjaga keyakinan, memelihara harapan, apalagi menumbuhkan optimistis.

Banyak yang berkata, “lantaran kebohongan terus menerus diproduksi.” Seolah olah bohong, kebohongan, ialah kata benda. Yang berkata itu mengacu pada beberan fakta (setidaknya dipercaya sebagai fakta) selama tahun tahun belakangan. Barangkali sejak keyakinan atas suatu kemenangan digelar namun berbuah penyalahgunaan. Juga ketika harapan akan percepatan berbuah pada situasi tak kunjung kelar menyelesaikan kerja. Optimistis lalu menghilang dan berganti: pasrah. Atau bahkan tak mau tahu. Ada pilihan satu lagi: ikut mengubur.

Sepulang dari Aceh Jaya, Ketua DPR Aceh Sayed Fuad Zakaria mengungkapkan sejumlah masalah dalam pembangunan dan pemulihan tata hidup masyarakat pasca-tsunami. “Masih ada 1.094 rumah yang belum jelas,” kata Sayed. Bukan belum jelas siapa bakal menempati. Lebih dasar dari itu, belum jelas siapa bakal membangun. Rumah sakit umum yang dibangun mulai 2006, nyaris dua tahun belum kelar setengahnya.

Beberapa berkata, “bukan kabar baru.”

Sangat mungkin benar. Bila ia kabar baru pastilah keyakinan, harapan dan optimistis belum pupus. Sebab, ketiganya melenyap pelahan setelah meliwati ruang, waktu dan pelbagai adegan, babak dan cerita. Tidak tiba tiba. Orang banyak menyebutnya, “belajar dari pengalaman.”

Tidak terlalu benar. Pelajaran dari pengalaman biasanya membikin orang tak terantuk batu yang sama, tak terperosok pada lubang serupa. Juga menghindar dari gali lubang tutup lubang🙂. Jadi, justru sebaliknya, peristiwa yang sudah sudah belum penuh dipelajari sehingga kita terus menerus terantuk batu yang sama, terperosok di lubang serupa, dan—lagi lagi—gali lubang tutup lubang. Pada kasus berbeda pengertiannya bisa diganti menjadi: menutup kebohongan kali ini dengan kebohongan lain.

Sangat mungkin tidak terlalu benar. Mengingat pengalaman memiliki ambiguitas, kemenduaan, dan kompleksitas dinamika. Seperti pada sajak Rendra, Sajak Seonggok Jagung:

//Seonggok jagung di kamar/ dan seorang pemuda/yang kurang sekolahan// Memandang jagung itu, sang pemuda melihat ladang;/ ia melihat petani;/ ia melihat panen; / dan suatu hari subuh,/ para wanita dengan gendongan/ pergi ke pasar …//

Obyek sama memiliki kompleks berbeda pada subyek lain: //Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda tamat SLA/ tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa …//

Keduanya sama mengalami, tapi yang satu “melihat suatu pagi hari/di dekat sumur/ gadis-gadis bercanda/ sambil menumbuk jagung/ menjadi maisena… .” Sedang yang satu lagi hanya “memandang jagung itu/ dan ia melihat dirinya terlunta-lunta/ia melihat dirinya ditendang dari diskotik/ ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase/ ia melihat saingannya naik sepeda motor/ ia melihat nomor-nomor lotre/ ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal …//

“Pendidikan,” kata Rendra, “telah memisahkannya dari kehidupan.” Bukan salah pendidikan sebetulnya. Tapi lantaran lembaga itu “membuat seseorang menjadi asing /di tengah kenyataan persoalannya … .”

Kita di Aceh mengalami ‘pengalaman’ dengan dinamikanya yang kompleks berikut kemenduaannya, secara berkali kali. Wisnubroto Sarosa pada suatu program perbincangan radio Rumoh PMI (bertema tentang pungutan liar kepada kontraktor) sempat menyatakan, “situasi sekarang memang berbeda ketika masa awal BRR dibentuk, yakni selepas masa tanggap darurat.” Kata Sarosa, pada awal proses rekonstruksi empati masih begitu kuat kepada lembaga yang dibentuk presiden tersebut. Tapi, sepengisapan rokok berikutnya, persepsi rata rata kebalikan dari mula mula.

Sepengisapan rokok ke depan? Kita belum tahu lagi. Barangkali memang betul, mestinya sedari mula rokok itu tak disulut dan diisap. []

(Rumoh PMI Edisi September 2008 | Kolom Ureung Gampong)

One thought on “Sibak

  1. hahaha sibak rukok treuk, istilah waktu orang aceh yang gak akan hilang. kalo yang diisip itu rokok biasa pasti cepat tapi coba yang diisap rokok cerutu wahhh pasti makin lama tu nungguinnya. satu istilah waktu yang mulai populer bang ” saboh glah kupi treuk” atau satu gelas kopi lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s