Takut

“… Matahari mengundangku
aku takut pergi ke matahari
karena itu terlalu jauh
…”

(50 Lagu Hati Kesatuan – syair ke-11; Sri Chinmoy, Bangladesh, 1931-2007)

LAWAN kata ‘takut’ ialah ‘berani’, dan sebagai lawan kata, posisi mereka bukan satu di bawah dan satu lainnya di atas. Buktinya, pada kasus lawan kata lainnya, pemosisian semacam tidak berlaku. Misal: luar-dalam, naik-turun, atau tinggi-rendah. Luar bukanlah posisi yang tanpa martabat dibanding ‘dalam’, kendati sering ada ungkapan, “kalau ada orang ‘dalam’ urusan lebih gampang.” Kata naik bukan berarti memiliki derajat tinggi, kendati orang sekarang ramai bicara, “Olga sedang naik daun sebagai pembawa acara program televisi.”

Pengertian kita yang senantiasa menyepelekan rasa takut dan menempatkannya pada posisi rendah barangkali lantaran ujaran lama, “berani karena benar, takut karena salah.” Takut—mestinya—bukanlah suatu perasaan sepele yang kecil artinya di hadapan ‘berani’.

Hadad Alwi dan Ustad Jeffry Al Buchori (Uje) mengingatkan betapa ketakutan justru menjadi bara bagi cinta. “Wahai Tuhan/ ku tak layak ke surga-Mu/ Namun tak pula aku sanggup ke neraka-Mu/ Ampunkan dosaku terimalah taubatku/ Sesungguhnya Engkaulah Pengampun dosa-dosa besar//…” (Al- Itiraf/Confession).

Nama Agus Rahmat Budiono masih mencirikan suatu asal tertentu. Namanya: Jawa. Butuh penjelasan khusus bila seseorang bukan berasal dari Jawa menggunakan nama tersebut. Apalagi bila ternyata ia berasal dari kawasan tengah Provinsi Aceh. Salah satu tebakan berbunyi, “ayahnya mungkin seorang transmigran dari Jawa.”

Budi—ia kelak dipanggil demikian dan bukan Agus atau Rahmat—punya penjelasan sendiri tentang motif pemberian namanya. “Bapakku takut nanti aku bakal susah dapat kerja kalau diberi nama Aceh.”

Nama Agus Rahmat Budiono lalu menghapus sama sekali kesan Aceh dari penyandang nama. Pada kasus Budi, barangkali secara kebetulan, menghapus pula aksentuasi cara ucap sehari hari. Budi yang tinggi besar, nyaris tak terlacak dari mana berasal ketika dijumpai di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dua tahun sebelum tsunami 2004.

Bapak si Budi punya motif sama dan sebangun dengan jutaan orang lainnya pada tahun tahun ketika ketakutan tak dilandasi oleh keinginan apapun kecuali: bertahan. Kematian atau pemenjaraan—yang berarti matinya kemerdekaan—mengintip siaga dan siap menjemput tanpa pemberitahuan. Tahun tahun tatkala ratusan ribu kartu tanda penduduk dibubuhi tambahan huruf ET (eks tahanan politik) atau OT (organisasi terlarang). Sejumlah orang mengganti nama berikut kartu keluarga agar bisa lepas dari pantauan dan punya kesempatan menjadi—misalnya—pegawai negeri sipil. Profesi ini lebih dipilih bukan karena gaji besar, melainkan menjadi pegawai negeri berarti telah lolos uji “tidak terlibat organisasi terlarang”.

“Saya dan orang tua saya tak pernah terlibat OT, buktinya saya bisa menjadi pegawai negeri.”

Nyatanya, ketakutan tidak pupus. Penyebabnya karena yang dilakukan ialah bersiasat. Sekali lagi, latar belakang atau motifnya ialah agar bisa bertahan hidup di tengah suasana yang sengaja dibuat menakutkan agar muncul kepatuhan.

Bila begitu, jangan jangan Al-Itiraf ialah sebentuk pengakuan tentang ketakutan. Ada bayang bayang kengerian bila harus dicebur ke neraka. Jadinya, ia bukan menjadi bakal nyala cinta, melainkan kepatuhan. Ada garis pembeda tegas antara dua kata tersebut: cinta dan patuh. Meski iman berangkat dari keduanya.

Tak ada sangkut paut antara bapak si Budi dengan mereka yang pernah dicap sesuka hati oleh penguasa Orde Baru sebagai ET/OT. Tapi motif dan cara berkelindan dari cekaman nyaris serupa. Mengubah identitas. Minimal mengalihkan dari identitas ‘dicurigai’ menjadi ‘aman’. Tentu saja keduanya berjalan di atas anggapan anggapan. Keduanya pun hidup dalam bayang ketakutan. Barangkali pembeda mereka hanya motif.

Pemegang kekuasaan atas biru-hitam orang orang Aceh masa lalu—kebetulan sama dengan penguasa pemberi ET/OT—memelihara rasa takutnya agar waspada. Berbanding terbalik dengan mereka yang menetap dalam ketakutan di Aceh dan orang orang di Jawa yang diberi cap ET/OT. Keduanya memelihara rasa takut dengan kadar yang sesungguhnya sama tapi berada pada sisi yang berseberangan. Sejatinya mereka ialah lawan antara satu dan lain.

Apa yang terjadi sesungguhnya suatu praktik dari ungkapan kebutuhan penting manusia, setidaknya mengacu pada hirarki yang dibuat Abraham Maslow. Setelah kebutuhan akan pangan, sandang, dan biologis lainnya, kebutuhan penting tingkat kedua ialah rasa aman dan selamat. Artinya, orang harus bebas dari rasa takut, ancaman, penjajahan, juga dari teror.

Puluhan tahun dipaksa bergelut dengan rasa takut, memaksa rakyat Aceh memenuhi kebutuhan keduanya. Bulan Agustus menjadi peringatan penting mengatasi rasa takut. Tatkala 7 Agustus 1998, Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Panglima ABRI Wiranto mengumumkan pencabutan status daerah operasi militer atas Aceh. Ia sekaligus meminta maaf atas perlakuan kasar ABRI terhadap orang Aceh.

Hari itu galian pertama atas kuburan rasa takut mulai dipacul.

Selanjutnya, mulai 20 Agustus sekitar 250 pasukan non-organik ditarik dari Aceh hingga tuntas seluruhnya pada 31 Agustus. Apa yang berlangsung selama 9 tahun itu [1989-1998] menurut laporan Komisi Nasional HAM pimpinan Baharuddin Lopa ialah serangkaian statistik nyawa manusia dan harga kemanusiaannya. Sedikitnya 781 orang tewas, 163 hilang, 368 dianiaya, ada 3 ribu perempuan dipaksa menjanda akibat suaminya meninggal atau hilang, anak yatim sekitar 15 ribu-20 ribu orang, dan 102 perempuan diperkosa.

Maaf tidak cukup kala itu, barangkali sampai sekarang. Tapi rasa takut tidak lagi kekal, dan ini yang penting. Jadinya wajar jika setahun berikutnya dimulai suatu langkah menuju perayaan bebas dari rasa takut. Sidang raya 11 Nopember 2000 bernama Sira Rakan (Sidang Raya Rakyat untuk Kedamaian Aceh).

Mengapa perlu ombak raya untuk membuka pintu pertama kedamaian di hampir lima tahun berikutnya? Jangan jangan sesungguhnya tidak perlu. Keduanya pun berasal dari dua tempat yang berbeda mata angin dan kekuasaan. Meski memunculkan satu emosi yang sama: takut.

Budi yang besar, hitam dan nyaris hilang aksentuasi sejak Agustus lawas turut hilang rasa takut. Di belakang namanya suatu istilah khas diterakan sekaligus sebagai perayaan bebas dari rasa takut tadi: na haba. Suatu istilah Aceh yang berarti “ada kabar”. Nama populer yang ia pungut dari program radio tempat ia menjadi pembawa acara.

Tapi ada sangsi sempat muncul, katanya rasa takut belum pupus benar. Padahal bebas dari rasa takut ini kali bukan dari suatu siasat. Beda dengan menjadi pegawai negeri bagi ET/OT dan bagi bapak si Budi.

Mestinya wajar lantaran emosi ini yang salah satunya memelihara motif hidup. Seperti Sri Chinmoy menorehkan dalam sajaknya, “… matahari mengundangku/ aku takut pergi ke matahari/ karena itu terlalu jauh …”

Orang bijak dari Bengal, India (daerah itu lalu menjadi Bangladesh), itu menulis bagi kanak kanak, melukiskan ketakutan pergi jauh dari bapak-ibu. Kendati matahari mengundangnya. Tapi ia terlalu jauh dan Chinmoy takut susah pulang. Maka, si kanak bertahan bersama orangtuanya, merayakan kebersamaan sekaligus keberhasilan mengatasi rasa takut. Tanpa perlu mengalahkan.

Rasa takut itu—Budi pasti setuju—berasal dari kehilangan rasa percaya. Cemas yang datang bermula dari kekecewaan. Asal muasal yang belum sempat diuji Edward Hitzig dan Gustav Fritsch ketika mereka memasukkan dua dawai kepada permukaan kortikal otak anjing untuk mengetahui rangsangan emosi ketakutan dan kemarahan.

Ini kali kita bisa menerka, mengapa ketakutan dari hilang rasa percaya itu, bercokol kuat. Lantaran serangkaian perayaan atas kebebasan yang sudah sudah dianggap tak berujung padamnya kebohongan, namun menyalakan marah baru.

Mungkin karena kita harus berada terus pada siklus ketakutan dan perayaan atas kebebasan. [ ]

(Rumoh PMI Edisi Agustus 2008 | Kolom Ureung Gampong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s