Gelap

Kabar paling tak sedap bagi pembaca koran/majalah dan pemirsa televisi/radio ialah berita yang memuat kata ‘gelap’. Misal: Listrik Padam Bergiliran, Sebagian Besar Banda Aceh Gelap. Contoh lain: Ada Indikasi Aset BRR Digelapkan.

Keduanya menggunakan kata yang sama, namun berbeda pengertian. Banda Aceh Gelap menunjuk situasi kota tanpa cahaya lampu di malam hari. Supaya keadaan gelap lebih seram bisa ditambahkan menjadi gelap gulita.

Tapi untuk berita tentang BRR rasanya janggal bila ditulis “Aset BRR Digelapgulitakan”. Salah dan—tentu saja—tidak ada seram seramnya. Sebab Aset BRR Digelapkan berarti ada penyelewengan atau pemalsuan. Meminjam terminologi Dayah atau Sastra Melayu, bukan karena tiada cahaya lampu, melainkan ‘tiada cahaya hati’.

“Bersebab cahaya hati padam, aset BRR digelapkan,” kira kira begitu.

Berapa ampere, voltase dan watt daya yang menyalakan hati, tak pernah ada meteran pengukur. Namanya juga majas.

Gelap dalam pengertian keadaan tanpa cahaya dapat pula dimajaskan. Sebutlah gelap mata, gelap hati, dan gelap pikir. Maksudnya kalap, tega, dan edan. Entah mengapa pengertian gelap hati yang salah satunya berarti tega, kerap diimbuhi pangkat tinggi: raja tega. Mungkin untuk menunjukkan derajat maksimal ketegaan dan biar berkesan lebih seram. Bukan raja dengan derajat kemuliaan.

Contoh pertama, “Abang sudah bersusah payah menabung untuk membeli emas 30 mayam sesuai permintaan adik, mengapa adik masih tega meninggalkan Abang?”

Contoh kedua, “Benar benar raja tega, dana kemanusiaan yang dikumpulkan dari solidaritas orang sedunia dikorupsi.”

Pada kasus pertama, biarpun rinci menyebut jumlah emas yang dikumpulkan dengan susah payah, tapi sang pujaan hati tetap pergi—sendirian atau bersama dengan orang lain tak penting—derajatnya “hanya” tega. Sedangkan pada kasus kedua, tanpa perlu menyebut jumlah yang dikorupsi—seribu rupiah atau hanya sebatang paku—tetap dianggap raja tega.

Komisi B bidang Perekonomian DPR Aceh Darussalam punya curiga terhadap BRR. Maka, muncul pernyataan, “ada indikasi aset BRR digelapkan.” Menurut mereka ada bantuan alat berat dari negara donor yang digelapkan. Maksudnya, tidak dilaporkan atau dicatat ke dalam daftar inventaris, tapi dikuasai secara individu.

Ada pula organisasi kemanusiaan nasional yang mendapat bantuan mobil operasional. Beda dengan dugaan anggota DPR, mobil mobil ini didaftarkan, dicatat secara resmi. Tapi stiker logo organisasi penghibah telah dilepas. Tulisan “donated by…” yang menerakan asal organisasi pemberi juga sudah dikaburkan. Digelapkan dalam pengertian sesungguhnya, tulisan ditimpa cat yang sama gelap dengan warna mobil. Belum betul betul menjadi milik pribadi tapi boleh digunakan untuk keperluan pribadi dan “dikuasai” secara pribadi. Alasannya? “Kantor tak punya dana untuk beli minyak, jadi yang boleh menggunakan (mobil hibah) mereka yang menyanggupi mengongkosi minyaknya.”

Pujangga Melayu barangkali bakal berkomentar, “duhai malang nasib si bujang, sungguh cilaka bila hati hilang cahaya.”

Ulama Dayah bakal mengingatkan betapa sesungguhnya telah ditunjukkan jalan dari keadaan gelap kepada terang, minazh zhulumaati ilan nuur (Al Baqarah: 257).

Perempuan Jawa bernama Kartini, gemar mengutip ayat tersebut dalam surat surat kepada sahabat sahabat Belandanya sebagai door Duisternis tot Licht atau ‘dari Gelap kepada Cahaya’. Ketika surat surat Kartini kepada Nyonya RM Abendanon-Mandri dan Estelle Zeehandelaar (Stella) dibukukan dalam bahasa Melayu, Armijn Pane menerjemahkannya menjadi ‘Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran’ (1922).

Tapi, para pujangga dan ulama (barangkali juga Kartini) hidup di dunia lain. Mungkin di suatu dunia yang lebih ‘terang’, setidaknya telah beranjak atau menemukan tempat terang. Telah ber-minazh zhulumaati ilan nuur. Seperti terjadi pada atau diucapkan Kartini.

Lantaran diduga hidup di ‘dunia’ yang berbeda, seringkali muncul perasaan tidak patut bila mencampuri dunia lain. Apalagi kalau tak sanggup atau gagal “menerangi”. Pilihan yang dianggap paling baik ialah diam tanpa komentar. Cuma patut disangka bahwa diam itu bukan lantaran merasa ‘bukan wewenangnya’, melainkan karena kuatir ‘cahaya’ yang dimiliki bakal berkurang bila membagi ke mereka yang tinggal di tempat gelap. Pelit.

***

Ada lagi satu ‘gelap’ yang biasa ditunjuk sebagai tempat transaksi, yaitu pasar gelap. Lokasi pasar ini bisa sangat terang benderang, bisa betul betul gelap atau minimal remang remang. Terserah para pelaku menentukan tempat bertransaksi. Jenis barang pun sangat bebas.

Pada kasus ini kata ‘gelap’ mendapat pengertian baru, yakni ‘tak resmi’.

Satu pasar gelap yang kiranya betul betul miskin cahaya, sempat saya sambangi enam tahun lalu. Lokasinya di perbatasan Republik Timor Leste dengan Atambua, Nusa Tenggara Timur. Berada di dalam hutan, ditutupi pohon pohon tinggi dan besar, dengan jalan masuk tanah bergelombang. Sewaktu waktu bisa dibubarkan oleh pasukan internasional yang tengah bertugas di sana. Barang yang diperdagangkan mulai rokok kretek, beras, mie instan, jajanan anak anak, susu, sampai bensin. Satu mobil tanki berlogo Pertamina, pada kurun 2001-2002, sering nangkring dari siang sampai sore di dalam hutan gelap itu. Lampunya sengaja tidak dinyalakan sehingga suasana gelap tak tertolong.

Di pasar umum atau pasar resmi (pasar terang?) sering juga terjadi transaksi gelap. Di pasar telepon seluler Jakarta misalnya, banyak tipe dan merek diperdagangkan secara bebas dan resmi, tapi ada pula yang diperdagangkan secara gelap. Biasanya praktik itu berlaku terhadap barang yang didatangkan dengan mekanisme gelap (selundupan). Biasanya pula, harganya lebih miring ketimbang harga resmi di tempat asal atau pun pasar resmi.

Ada juga praktik pasar gelap yang kabur. Walah. Ambil misal pola pemasaran berjenjang (multi level marketing) barang barang produksi luarnegeri. Barang barang tersebut tak tercatat dalam daftar impor, perusahaan yang menjual di dalam negeri tak pernah mendaftar sebagai importir, dan tak dikenakan bea masuk di pabean alias gelap atau selundupan. Tapi pemasaran barang barang tersebut berbeda dengan—sebutlah—celana jins atau telepon seluler black market. Barang barang dalam pemasaran berjenjang didagangkan di forum seminar kepemimpinan dan motivasi yang biasanya digelar di hotel hotel berbintang empat atau lima. Harganya mahal dengan iming iming pembeli bisa mendapat keuntungan uang bila berhasil menggaet pembeli baru yang bakal diposisikan di bawah si pembeli pertama.

Sesungguhnya di hotel tersebut tengah berlangsung transaksi gelap atas barang barang yang digelapkan. Pendeknya, forum seminar itu sejatinya suatu pasar gelap.

Agaknya kita jadi sedikit paham mengapa berita tentang ‘gelap’ hampir selalu tak sedap, tapi praktik gelap (menggelapkan atau gelap gelapan) tiada berkurang. Salah satunya, karena di pasar gelap kita bisa mendapat barang bagus dengan harga lebih murah. Apalagi bila menggelapkan (barang), kemudian menguasai, bisa sama sekali tak keluar ongkos. Sedap. Main (di) gelap gelapan lebih sedap.

Bila si Adik batal meninggalkan si Abang yang telah menabung membeli 30 mayam emas, alias tidak gelap hati, si Abang pun suka andai kelak bergelapgelapan dengan si Adik. Amboi. Jauh lebih sedap. Bila sebaliknya, si Abang pun jadi gelap pikir malah dikuatirkan bergelap mata. Salah salah ia dijerat pasal kriminal.

Nah, yang kita tidak ingin ialah “korban korban” gelap hati akibat praktik penggelapan atau penyelewengan kekuasaan menjadi gelap pikir dan buntutnya gelap mata. Alih alih yang menggelapkan kena hukuman, malah berbalik korban didakwa ke pengadilan kriminal. Pada kasus semacam ini, siapa yang ‘tak bercahaya’? Dan siapa harus menabur cahaya guna menerangi gelap? Pastinya bukan mereka yang berada di pasar gelap. []

(Rumoh PMI Edisi Mei 2008 | Kolom Ureung Gampong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s