Ayat Perempuan

“… hanya detik yang berdetak, sedang waktu tak pernah berubah”.

IBU Ani mendebat Banda Aceh, 24 Maret malam lalu. Sebetulnya juga Jakarta selama dua malam dan Bandung, Jawa Barat. Ia pemilik kutipan kalimat di atas. Kebetulan sapaannya sama dengan nama panggilan istri Presiden. Maaf, bila tertipu.

Ibu Ani datang bersama dua perempuan lain: Maryam Supraba dan Niniek L Karim dengan motif menuntut. Mereka bicara sendiri sendiri, tapi sangat banyak. Isinya menyangkut rumah, cinta, seks, politik dan kekuasaan. Semuanya dibungkus dalam pentas teater monolog bertajuk ‘Perempuan Menuntut Malam’. Meski judulnya seperti menjanjikan keadaan gelap gulita, tontonan itu juga menghadirkan riuh, keyakinan diri dan rasa optimistis. Layaknya perdebatan.

Kebetulan ketiganya hadir tatkala ruang ruang pembicaraan tengah disesaki oleh kemapanan definisi ‘ikhlas’ dari film Ayat Ayat Cinta. Kendati tidak ada bioskop, Banda Aceh bukanlah kota yang diisolasi dari dunia luar. Keping keping cakram padat telah beredar bahkan sebelum film itu tayang di bioskop Jakarta. Sebagian yang terbiasa pergi pulang ke Medan pun telah sempat menonton mendahului Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono. Jadi, Ayat Ayat Cinta yang menyarankan keikhlasan tanpa batas—termasuk ketika dihadapkan pada praktik poligami—bukan tema asing di kota ini.

Saya tak bermaksud bicara poligami di halaman ini. Meski Ibu Ani, perempuan anggota parlemen yang diperankan Rieke Dyah Pitaloka, bukan tanpa sengaja mengkritik keikhlasan di-madu—istilah yang sesungguhnya tidak tepat karena pasti tak ada manis didapat. Ibu Ani yang lain, istri presiden, pernah marah kepada suaminya begitu mendengar seorang da’i tenar beristri dua. Esoknya, Presiden memanggil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan sejumlah ahli hukum untuk menilik ulang Undang Undang Perkawinan. Mungkin karena motif Presiden sekadar menenangkan marah sang istri, tak ada kelanjutan dari upaya itu.

“Hanya detik yang berdetak, sedang waktu tak pernah berubah.”

Jangan jangan betul.

Malam itu Ibu Ani bicara banyak. Tentang nyinyir teman teman lelakinya sesama anggota parlemen yang menyindir Ibu Ani agar jangan lupa membereskan semua pekerjaan rumah sebelum datang rapat. Tentang kekesalannya pada media massa yang kurang memberi tempat pada tokoh tokoh perempuan mengungkapkan opini publiknya, hanya diwawancarai tentang isu isu kerumahtanggaan. Padahal, pada saat sama media massa gembar gembor tentang posisi setara antara lelaki dan perempuan. Kekesalan itu rasanya bisa dimaklumi. Bagaimana argumentasi sosial politik perempuan bisa dihargai bila koran, radio, televisi dan portal berita hanya mewawancarai seputar rumah melulu?

Stereotipe. Barangkali inilah kata kunci yang merangkum satu kelompok masalah kita. Dan soal inilah yang baiknya sedikit kita tengok. Stereotipe atau label, cap, teraan, tapi pengertian pertamanya ialah meniru. Bahwa suatu jenis tertentu atau tipe tertentu selalu berkenaan dengan satu soal belaka. Sangat sedikit benarnya.

Suatu kelompok kodok yang didatangkan dari Hawaii tahun 1936 ke Kepulauan Fiji ditugaskan memerangi serangga di perkebunan tebu. Berhasil. Spesies ini lalu dikenal dengan nama kodok tebu (bufo marinus). Di kebun kebun tebu di Jawa pada masa pendudukan Belanda, kodok pun jarang dibunuh, karena mereka berjasa menjaga tebu dari hama.

Candu atau opium yang disari dari opium poppies (papaver somniferum) dilarang digunakan secara bebas karena memiliki efek narkotik. Bukan baru baru ini saja. Ketika kalangan bangsawan Bone dan kerajaan kerajaan lain di Sulawesi Selatan menjadi penikmat opium, seorang panglima bernama La Temmu Page Daeng Parenring Arung Labuaja, memprotes secara terbuka hingga dianggap menentang kekuasaan. Tapi, ia menganggap bahwa kebiasaan mengonsumsi candu hanya melemahkan cara berpikir dan bertindak dari para bangsawan. Hasilnya, kata Daeng, ialah sikap malas sehingga para bangsawan mudah dicurangi oleh pedagang pedagang dari Eropa.

Setelah kodok tebu teruji, ia digunakan di banyak tempat. Opium pun lama lama terbukti punya efek bahaya bagi sel saraf, lalu dilarang. Yang tak mengenal sejarah kodok tebu dan opium dari awal, menerima begitu saja ‘keberhasilan’ dan ‘larangan’ itu. Diterima sebagai ‘kesepakatan’ yang berjalan cukup lama, bahkan sangat lama. Ada ‘kebenaran’ yang berhasil dinyatakan lebih dari sekadar anggapan yang melahirkan ‘cap’, ‘stempel’, ‘teraan’, stereotype.

Hubungan lelaki – perempuan ditetapkan lebih buruk dari nasib opium bahkan kodok. Bukan semata soal siapa membuahi dan siapa terbuahi lalu bunting dan beranak. Lelaki ialah profil kekuasaan dan perempuan menempati posisi dikuasai. Yang satu dunia luar (publik), yang lain dunia dalam (privat). Apabila ada silang atau pertemuan di dunia luar, maka perempuan tetap punya beban di dunia dalam. Lebih buruk dari kodok.

Kecurangan terjadi pada topik poligami. Cinta dan syahwat, hampir semua memahami sebagai wilayah privat. Meski perkawinan dirayakan dan mengundang banyak orang, tetap tak ada bukti bahwa cinta dan syahwat berada pada ranah publik. Kalau fair, semestinya menjadi wewenang perempuan untuk menentukan soal angka angka berpasangan ini.

Tapi, sekali lagi itu soal poligami dan kolom ini hanya bicara mengenai cap atau label yang beranjak dari anggapan atau prasangka. Hubungan lelaki dan perempuan sekadar satu contoh. Buntut dari prasangka tadi ialah kita secara gampang memasukkan sesuatu kepada satu anggapan. Apabila ada ‘sesuatu’ yang telanjur masuk pada anggapan tertentu itu mampu melakukan ‘yang lebih’ lalu dianggap anomali. Atau bibir ini lantas berujar, “lihat saja nanti, pasti kelihatan aslinya.”

Tengoklah birokrasi, utamanya birokrasi Indonesia. Sudah puluhan tahun menempati posisi sebagai tukang korup. Adu tempat teratas dengan polisi, jaksa dan petugas imigrasi. Ketika rekrutmen jajaran elit birokrasi dilakukan, anggapan yang buru buru dipikirkan ialah cari sensasi, bingung mau milih siapa sebab semua kawannya ingin duduk di sana, atau: ah, mau lewat apapun cara rekrutmen tetap saja ujung ujungnya mau ngambil duit.

Tengoklah para penghuni kantor Lueng Bata. Kepalanya beranggapan bahwa salah satu motif korupsi ialah karena orang merasa tak mendapatkan penghasilan yang cukup. Maka, cara praktis mencegah korupsi ialah beri gaji yang cukup. Kendati gaji yang besar tak pernah lantas bisa secara serta merta mencegah orang korupsi. Tapi demikianlah anggapan atau prasangka bekerja, kerapkali memunculkan cap atau label tatkala ‘diterima’ secara umum.

Sesungguhnya ada prasangka lain yang juga bekerja. Prasangka yang menganggap bahwa tidak ‘dari sana’-nya lelaki berkuasa atas perempuan; birokrasi, polisi dan jaksa itu korup; dan gaji besar tidak lantas membuat orang terhindar dari sifat serakah dan culas. Sungguh prasangka dan anggapan anggapan kebalikan ini juga hidup dan bekerja.

Sayangnya, setelah dipikirkan Ibu Ani, dan kita mendengarnya sebagai satu ayat dari perempuan: “hanya detik yang berdetak.” Sedangkan waktu, sikap dan prasangka yang lebih hidup dan lebih giat bekerja tak berubah. Setidaknya, tak banyak berubah. Lebih dari sangat sedikit. []

(Rumoh PMI Edisi April 2008 | Kolom Ureung Gampong)

2 thoughts on “Ayat Perempuan

  1. Eksperimen saja sebetulnya. Coba-coba. Kebetulan di versi cetak kutulis tanpa tanda hubung sehingga biar konsisten diunggah tanpa pengubahan ke blog. Tapi papan ketik baik-baik saja. (Nah sekarang dengan tanda hubung pada kata ‘baik’).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s