Setiap Super Women Aceh

Sebelum “keluar” kelar dulu “di dalam”.

Masithah bekerja 16 hingga 18 jam sehari. Ia bendahara sebuah lembaga keuangan mikro (LKM) di Banda Aceh, agen penjualan asuransi, penjahit pesanan pakaian pesta dan pengantin, serta—tentu saja—ibu rumah tangga. Pekerjaan terakhir ini membuat ia harus bangun lebih pagi dan kerap tidur lebih larut dari siapapun penghuni rumah.

“Kakak memang sulit tidur malam, kok,” alasan Masithah. Perempuan Aceh membahasakan dirinya ‘kakak’ kepada orang yang lebih muda.

Menurut Masithah, ia masih bisa membagi waktu dan tenaga untuk keluarga kendati melakoni pekerjaan luar rumah. Sebab, jam kerja mengurus LKM, berjualan paket asuransi ataupun menjahit lebih fleksibel ketimbang suaminya yang pegawai negeri sipil. “Abang kan rutin dari pagi sampai sore di kantor. Kakak masih bisa balik ke rumah.”

Fatimah, perempuan lain, juga bekerja di luar rumah. Ia fasilitator penerima kredit lunak dari sebuah organisasi nonpemerintah untuk wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Bagi Fatimah, istri wajib menuntaskan pekerjaan di rumah sebelum melangkah ke dunia publik.

Saat dijemput untuk program perbincangan radio Rumoh PMI, 11 Januari, Fatimah baru kelar menyiapkan sayur dan lauk untuk makan malam. Ia telah mengira bahwa sepulang menjadi narasumber dalam program radio yang dikelola Program Penjangkauan Masyarakat Palang Merah Irlandia, hari bakal menyentuh malam. Bila sayur dan lauk telah siap malam nanti tinggal memanaskan.

Rumoh PMI edisi 55 itu membincangkan tema program pemberdayaan perempuan Aceh setelah rekonstruksi dan rehabilitasi pasca tsunami dan gempa bumi berjalan selama 3 tahun. Dari perbincangan ini diketahui tingkat partisipasi perempuan dalam proses pembangunan kembali Aceh meningkat, terutama dalam program mata pencaharian. Menurut Fatimah, di lembaganya angka kredit macet (nonperforming loans) dari peminjam perempuan mencapai nol persen. Kalaupun ada tunggakan biasanya hanya pembayaran lewat waktu jatuh tempo.

Tapi, partisipasi rupanya tak paralel dengan meningkatnya kesadaran akan peran setara antara laki laki dan perempuan. Tema pembagian pekerjaan domestik antara suami dan istri masih asing bagi Masithah dan Fatimah. Agaknya begitu juga bagi banyak perempuan lain di Aceh Darussalam.

Tim Advokasi dan Radio mesti menunda pertemuan warga di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, Agustus 2007, untuk menunggu datangnya wakil wakil perempuan. Waktu pertemuan yang ditetapkan pukul 13.00 rupanya menghalangi kedatangan para perempuan lantaran belum selesai dengan tugas di rumah. Alhasil, pertemuan baru bisa terlaksana pukul 14.30 alias tertunda 1,5 jam. Toh, lebih baik molor ketimbang tanpa kehadiran mereka.

Pertemuan itu membicarakan kemungkinan warga Lhoong mendapat pembangun baru bagi rumah mereka yang dibangun dari bahan papan mengandung asbes. Sepanjang diskusi para perempuan yang duduk di bagian belakang lebih banyak diam. Baru setelah diminta secara langsung untuk berbicara, mereka menuturkan beberapa persoalan yang mengganggu kesehatan selama tinggal di rumah bantuan dari papan mengandung asbes itu.

Tim Advokasi dan Radio hari itu belajar memahami affirmative action dalam pengertian sehari hari. Affirmative action rupanya berarti juga memberi perempuan ruang bahkan waktu khusus untuk berbicara. Terutama di forum terbuka yang dihadiri kebanyakan laki laki.

Pendiri organisasi perempuan Flower Aceh, Suraiyya Kamaruzzaman, meyakinkan upaya Program Penjangkauan Masyarakat merupakan bagian dari pemberdayaan perempuan. Semisal, mengundang lebih banyak perempuan berbicara dalam program radio dan memberi mereka waktu yang lebih lama dari rata rata penilpun. Khusus pada perempuan yang bekerja di dunia publik, ia menekankan pentingnya memberi pemahaman tentang pembagian tugas suami dan istri.

“Pandangan Ibu Fatimah bahwa pekerjaan rumah tetap menjadi kewajiban istri pada gilirannya memberi beban ganda pada perempuan,” ujarnya. “Situasi ini bukan saja tidak disadari oleh rata rata perempuan di Aceh bahkan organisasi organisasi yang membantu mereka.”

Fatimah terlihat mengangguk di dalam studio, sore itu. []

English Version

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s