Angkutan Warga

Saya kost di sebuah gang di Jalan AMD, Lueng Bata, Banda Aceh. Dari Simpang Surabaya, lalui jalan baru hingga penghabisan aspal belok ke kiri. Bila menjumpai tempat pangkas rambut, masuk ke kanan. Nyaris saban Sabtu dan Minggu saya kelaparan. Pilihan lain sama tidak enaknya: gizi buruk atau justru penumpukan lemak.

Mengalami gizi buruk kalau harus menyeduh mie instan gelas sejak pagi, siang dan malam. Penumpukan lemak bila terus menerus membeli sie kameng penuh jeroan yang hanya dijual pada siang hari, 400 meter dari tempat kost. Beli dua porsi, satu dimakan siang, sisanya disimpan untuk malam. Tak mungkin memasak di kamar, kecuali rela tembok menghitam dan ditegur empunya kost. Syukur tidak diusir.

Hidup sesungguhnya penuh pilihan. Sejak zaman purba, ketika manusia mengolah segala sesuatu dengan tangan, lalu menemukan batu, senjata tajam hingga mesin uap pada masa industri. Modernisasi memberi lebih banyak pilihan. Saya punya tiga pada Sabtu dan Minggu: kelaparan, gizi buruk atau penumpukan lemak. Tentu lebih beruntung ketimbang tiada pilihan sama sekali. Kalau mau mencari variasi makan siang dan malam, saya harus berjalan kaki selama sekira 40 menit. Masak?

Iya. Labi labi tak mampir ke AMD. Bila ingin memiliki pilihan lebih beragam, jalan keluarnya: miliki kendaraan pribadi, roda dua atau lebih. Sebab, labi labi bukan angkutan umum yang nyaman. Repot turun bila jauh dari pintu. Tak cocok pula untuk negeri ber-syariat.

Mestinya hari Senin saya mendatangi atasan, menuntut kenaikan gaji agar bisa mencicil sepeda motor. Setidaknya meminta dibelikan. Supaya Senin-Jumat tak merepotkan teman. Saya pasti didukung pemilik galeri kendaraan, setelah data statistik menyebutkan 7 ribu unit sepeda motor baru tiap bulannya beredar di jalan raya Banda Aceh. Beres?

Tunggu dulu. Pragmatisme selamanya hanya jawaban sementara. Ia kerapkali membawa persoalan baru yang bisa jadi lebih rumit dan masif. Bebas dari lapar, gizi buruk atau tertimbun lemak, saya akan menyumbang kenaikan angka penderita infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) bahkan pneumonia di Banda Aceh. Sekarang saja Rumah Sakit Umum Daerah dr Zaenul Abidin rata rata per hari didatangi oleh 15 pasien ISPA. Bila diitung kunjungan sebulan lalu dikali—misalnya—3 rumah sakit, akan didapat angka lebih dari seribu tigaratus. Saya ngeri membayangkan orang orang senasib di kota ini—tanpa harus lapar, bergizi buruk, bertimbun lemak—ramai ramai membeli atau dibelikan sepeda motor.

Sebelum tuntas membayangkan, mata tertumbuk pada lahan lahan parkir. Dari 8 kedai kopi ternama di Banda Aceh, hanya dua yang memiliki lahan parkir memadai. Alhasil, untuk mengaspal bahu jalan dekat kedai kopi di pinggir Krueng Aceh, harus menunggu tutup kedai di malam hari. Pagi, siang, sore dan menjelang tengah malam, bahu jalan diparkir ratusan sepeda motor. Swalayan terbesar di Banda Aceh meminta lahan bangunan lain untuk parkir konsumennya. Pemandangan di Jalan Teuku Umar lebih gawat lagi, saban ada mobil ateret dari muka toko, lalu lintas macet.

Membeli sepeda motor rasanya bakal menambah buruk wajah dan membikin sesak nafas kota ini. Lagipula paru paru kota belum sehat betul. Seyojana mata melawat tampak asap dan debu, mengingat kota ini tengah bergegas dengan pembangunan pasca tsunami dan gempa bumi.

Saya lebih suka membayangkan Banda Aceh memiliki kendaraan umum yang menjangkau lebih banyak penghuni di pedalaman kota. Tapi, jalan jalan Banda Aceh agaknya dirancang bukan untuk angkutan publik. Pedalaman kawasan Blower, Punge, Lampaseh, Kampung Jawa, Kampung Kramat, Prada, kurang ruang bagi lintasan dua arah kendaraan umum. Pembangunan kota sibuk dengan angka angka panjang jalan, lalai dengan lebar. Andaipun pengelola kota ingin tiap warganya memiliki kendaraan pribadi, tetap saja butuh lebar jalan yang memadai, tak sekadar panjang. Persediaan kendaraan di galeri motor atau ruang pamer mobil bahkan gudang gudang mobil bekas di Sabang, butuh jalan jalan lebih lebar.

Sampai di sini saya berhenti membayangkan Banda Aceh memiliki bus bus antar jemput bagi pegawai negeri, pelajar dan mahasiswa. Apalagi melihat bus bus bantuan yang sempat digunakan menganggur lantaran tiada “uang minyak”. Kendati sarana antar jemput cukup memadai untuk mengurangi peredaran kendaraan pribadi pada pagi, siang, sore. Berhenti pula berandai andai pengelola kota membatasi kepemilikan sepeda motor (dan mobil), berikut usianya. Sebab, penghuni kota ini disiapkan berpunya kendaraan pribadi, berapapun, sepanjang sanggup.

Sampai di sini saya memiliki dua pilihan: membeli sepeda motor dengan cara apapun, atau pindah kost. Karena Banda Aceh ngotot enggan belajar pada pengalaman kota kota lain. Lebih suka kelak berkata, “sudah terlambat.” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s