Senyum

Arifin C Noer punya kesan khusus pada Desember. Ia tergoda memilih nama bulan tutup tahun sebagai judul skenario film “Senyum di Pagi Bulan Desember.” Wim Umboh (Achmad Salim setelah menjadi muslim pada 1984) menyutradari film yang melibatkan sedikit pemeran ini. Dewan Juri Festival Film Indonesia 1975 yang terkesan dengan Senyum mengganjarnya dengan dua anugerah Citra: film terbaik dan musik terbaik (Idris Sardi) serta penghargaan khusus pemeran cilik wanita bagi Santi Sardi.

Film Senyum bertutur tentang persahabatan yang mengharukan di ujung sebuah tahun. Antara gadis kecil bernama Bunga (Santi Sardi) dan tiga pelarian penjara: Buang (Kusno Sudjarwadi), Bernardus (Rachmat Hidayat) dan Bakar (Sukarno M.Noor). Bunga mencurikan buat ketiga buron itu makanan dari rumahnya setiap pagi. Pada akhirnya, ketiga buron ditangkap kembali di depan mata Bunga.

Tapi, kepada gadis kecil itu, ketiganya tersenyum. Lalu sebuah janji meluncur: akan menempuh jalan yang lebih lempang dan dipercaya niscaya lebih baik dari sebelumnya. Bukan melalui kata kata, melainkan lewat mata. Karena bibir mereka hanya digunakan untuk menyungging senyum bagi Bunga.

Senyum yang—sebutlah—sungguh sungguh. Bukan mesém, apalagi nyéngir atau céngengesan. Senyum yang “sungguh sungguh” itu menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Prof Dr JS Badudu-Prof Sutan Mohammad Zain, 1994) ialah gerakan bibir, mulut dan wajah yang menunjukkan perasaan senang. Ada tujuh jenis senyum yang dicatat Badudu-Zain. Senyum buaya atau senyuman orang jahat, palsu; senyum geli karena sesuatu kelucuan; senyum getir karena kecewa; senyum kambing, senyum yang tak enak seperti senyumnya orang sakit gigi; senyum kemalumaluan, senyum yang disembunyikan karena merasa malu (biasanya lantaran dipuji); senyum manis, ah yang ini tak usah dijelaskan, kata orang selalu menghias di bibir saya; senyum yang terakhir namanya meringis, sikap muka yang memperlihatkan rasa kesakitan.

Kalau mesém (dari bahasa Jawa) kerapkali dipersamakan dengan senyum manis. Mesam mesém bisa diartikan senyum kemalumaluan. Nyéngir terjadi bisa lantaran malu atau geli. Sedangkan céngengesan tarafnya agak sedikit di atas senyum tapi masih di bawah tertawa. Kira kira begitu. Bakar yang melompat dari mobil polisi, berlari dan mengalungkan tangan terborgol ke leher Bunga, menyungging senyum. Melompatnya Bakar punya kesan khusus, karena sejak pertengahan film, ia curiga pada Bunga. Ia sempat mengusulkan agar gadis kecil itu dibunuh ketimbang menyebabkan persembunyian mereka diketahui orang yang akhirnya diketahui pula oleh polisi. Senyum Bakar di akhir film, ditimpali Buang dan Bernardus dari atas mobil polisi.

Titiek Puspa pernah mengaku rahasia kecantikannya hanya dua jurus: minum air putih dan senyum. Irawady Joenoes, anggota Komisi Yudisial yang ditangkap basah menerima suap Rp 600 juta dan USD 30 ribu (sekitar Rp 270 juta), saat dibawa dari kantor Komisi Pemberantasan Korupsi ke tahanan Mabes Polri, 27 September, tersenyum dari dalam mobil tahanan. Cendekiawan muslim yang kini telah almarhum, Nurcholish Madjid, pernah sepuluh tahun menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Saat diwawancarai Kompas, September 1997, ia mengaku tak pernah berbuat apa apa selama di Senayan. “Paling paling yang saya ingat, yaitu teriak ‘ya’ sambil tolah toleh dan tersenyum dengan rekan rekan di samping saya.” Dan saya tersenyum membaca bendera Kongres Partai Sira di Banda Aceh bertulis: Konggres, dengan dua huruf ‘g’. Juga tersenyum ketika membaca berita, dua tokohnya nyaris baku pukul di dalam arena konggres, maaf, kongres.

Badudu-Zain agaknya tak salah mencatat pusparagam senyum. Titiek Puspa, Irawady Joenoes, Cak Nur dan saya menggunakannya dalam berbagai situasi berbeda dan keruan ekspresi berbeda pula. Ada contoh lain yang bisa mengundang senyum. Bisa geli, bisa getir.

Perves Hoodbhoy, seorang profesor fisika nuklir lulusan MIT Amerika Serikat, mengajar di Universitas Quaid-i-Azam di Islamabad, Pakistan. Ia memberikan kuliah fisika kepada mahasiswa program sarjana. Beberapa hari setelah gempa bumi mengguncang Kashmir tahun 2005, ia menjelaskan kekuatan-kekuatan geofisika yang menghasilkan bencana itu. Ketika selesai berbicara, beberapa tangan terangkat tanda bertanya. “Profesor, Anda salah,” kata mahasiswa, “Gempa bumi itu disebabkan oleh murka Allah.” (National Geographic Indonesia, September 2007)

Kasus yang nyaris sama dengan pengalaman Hoodbhoy terjadi di dinding Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Pada majalah tembok yang ditempeli artikel dan pengumuman. Pada suatu pekan di bulan Februari 2007, tersalin kalimat kalimat yang mengingatkan umat agar takut kepada Sang Khalik, Allah SWT. Suatu salinan peringatan yang harus dituruti. Di bagian tengah artikel tertulis ingatan tentang musibah yang pernah terjadi pada suatu pagi bulan Desember 2004, gempa bumi disusul tsunami. Kata artikel yang dibagikan juga pada shalat Jumat itu, gempa dan tsunami sesungguhnya peringatan dari Tuhan. Artikel juga mengutip ayat ayat Al Quran yang meriwayatkan peristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh. Mereka yang meninggal pada tsunami dan gempa bumi disamakan dengan manusia yang membantah Nuh.

Artikel itu bisa disikapi tafakur atau memakluminya sebagai salah tamsil. Bisa juga geli atau getir, dan ini berarti senyum. Bila marah, hanya membuang ongkos makan penghasil energi.

Senyum bisa terkembang, terlukis, bahkan mekar oleh berbagai sebab. Selain ekspresi senang dan riang, berbagai budaya menganjurkannya sebagai mekanisme pertahanan diri dari amarah. Sepasang orangtua menamai anaknya dengan istilah Arab, Bassam (yang banyak tersenyum), punya pesan jelas seperti apa kelak anaknya diharapkan berwatak dan berperilaku. Orangtua enggan menamai anaknya Magrur, karena kata itu berarti sombong atau angkuh.

Senyum magrur pun tak dikenal. Karena yang tersungging dari bibir magrur ialah aksi sinis. Tak bisa aksi, reaksi atau ekpresi sinis dari bibir disebut senyum. Kata ‘senyum sinis’ sebaiknya ditukar ‘seringai sinis’. Badudu-Zain pun tak perlu menambah daftar kata senyumnya dengan senyum sinis, misalnya. Kendati mereka mendefinisikan seringai sebagai gerakan bibir dan muka yang ditarik agak melebar dan ke atas seperti muka orang menahan sakit.

Bila pada Desember 2007 ini ada anjuran tersenyum bagi Aceh Darussalam setelah meliwati tiga tahun yang berat dan keras, mestilah senyum dalam pengertian Badudu-Zain yang pertama. Ekspresi dari perasaan senang. Bukan getir, geli, kambing, kemalumaluan, meringis atau buaya. Senyum manis, bolehlah. Meski tak ada larangan menyongsong tiga tahun lewat waktu musibah gempa bumi dan tsunami dengan senyum getir. Toh, setiap orang punya alasan sendiri untuk macam ekspresi.

Kebetulan kegetiran masih bisa dirasa di ini negeri. Mungkin ketika jahit sudah kelindan putus pun (kerja telah usai) senyum getir masih terekspresi.

Tapi, sumpah. Sungguh saya tak tahu mengapa Arifin C Noer mengambil Desember untuk karya fiksinya. Senyum di Pagi Bulan Desember. Sebutlah karena Sapardi Djoko Damono telanjur menyandera Juni menjadi judul sajaknya tentang hujan. Arifin masih punya pilihan 10 bulan di luar Desember. Atau pilihlah, misalnya, Muharam.

Lupakan pilihan Arifin. Tersenyum sajalah. Selamat tahun baru.

(Rumoh PMI Edisi Desember 2007 | Kolom Ureung Gapong)

One thought on “Senyum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s