Membaca

Banda Aceh merayakan aksara, awal Nopember kemarin. Ketika Badan Meteorologi dan Geofisika baru mengumumkan ancaman datangnya cuaca buruk di sebagian kawasan Aceh Darussalam. Katanya, hujan lebat disertai angin kencang bakal mampir ke beberapa tempat. Terbukti, di Desa Lambaro Skep, Banda Aceh, rumah rumah yang baru siap dibangun dan tengah dibangun, atapnya terbang tersapu angin.

Perayaan aksara pada 7 – 14 Nopember lalu berupa pameran buku bertema “Aceh Membaca, Aceh Berjaya”. Di sampul belakang buku panduan pameran, oleh salah satu penerbit, tema diterjemahkan menjadi “ke Aceh naik perahu, orang Aceh baca buku yuk…!” (Tiga titik di belakang ‘yuk’ mestinya tak perlu ada, tapi mungkin maksudnya supaya dibaca dengan nada lebih panjang dari kata kata lainnya, menjadi: yuuuk).

Aksara sungguh patut dirayakan. Kita perlu takjub pada temuan orang orang Phoenicia sekira 1050 SM (National Geographic, Agustus 1999). Dari phoenecia inilah asal istilah fonetik. Menurut mitologi Yunani, huruf standar latin yang kini digunakan oleh mayoritas bahasa di dunia dikenalkan oleh anak raja Phoenicia: Cadmus, pendiri Thebes.

Patut takjub, karena 26 huruf dari A – Z berhasil mewakili dan menandai jutaan kata, termasuk sekitar seribu kata dalam kolom ini. Lima huruf vokal (a, i, u, e, o) membuat 21 konsonan menjadi berbunyi dan ‘hidup’. Kita memanfaatkannya untuk menyampaikan gagasan, membantah teori dan menghasilkan teori baru, dan dengan begitu terjadi pertukaran pengetahuan serta mengungkapkan emosi. Tidak ada data berapa banyak batu dipahat, sapi dikuliti, dan pohon ditebang, untuk ditandai oleh 26 huruf itu menjadi kata kata, menjadi kalimat kalimat, menjadi manuskrip, menjadi: buku. Pada tarikh komputer sekarang, perlu ditambahkan: tak diketahui berapa gigabita telah ditoreh pada cakram padat (hard disk) melalui program pengolah kata.

Memang mahal dan menyedot banyak sumber daya (alam dan manusia). Argumentasi pendukungnya bisa berbunyi, “Tapi, bandingkan dengan berbagai kesukaran yang bisa diatasi berkat torehan aksara pada perangkat perangkat yang diproduksi dari alam tadi? Hitung pula berapa keuntungan bagi peradaban manusia karena tukar menukar gagasan berhasil dilakukan berkat aksara.”

Argumentasi lawannya boleh berujar, “Tapi, ingatlah dengan darah dari pertempuran pertempuran yang terjadi akibat perluasan aksara.”

Yang dirujuk ialah serangkaian upaya penundukkan secara militer oleh daerah besar ke daerah daerah kecil. Penguasaan budaya—mula mula—lalu ekonomi dan keuntungan.

Argumentasi lawan juga bisa berdalih, “Lho, catat berapa banyak perdamaian dan negosiasi buah dari aksara”

Sekali lagi, betapa ajaibnya aksara. Memicu perang, menumpahkan darah, sekaligus mengenalkan cinta dan mewakili berahi. Karenanya patut dirayakan, betapapun mahal.

Ada 10 ribu judul buku yang mestinya dipamerkan pada Nopember silam. Penyelenggaranya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias (BRR) mengeluarkan biaya Rp 1 Miliar untuk ongkos perhelatan. Pelaksananya Kirana Kreativisia dari Yogyakarta, perusahaan yang menawarkan jasa kreatif penyelenggaraan acara, promosi dan brand activity. Kata situs mereka, ‘kirana’ dalam bahasa Jawa berarti kemilau cahaya, tapi mulanya mereka mengambil itu dari nama tokoh perempuan di film Naga Bonar.

Grup musik Dewa juga punya lagu berjudul Kirana. Petikannya begini: …// Kirana jamah aku, jamahlah rinduku/ Hanya wangi terurai yang dapat kucumbu //Ayah bunda tercinta satu yang tersisa/ Mengapa kau tiupkan nafasku ke dunia/ Hidup tak kusesali mungkin kutangisi/ Kuingin rasakan cinta//…

Ahmad Dhani, pemimpin grup Dewa, cukup piawai mengolah aksara. Tapi, kolom ini harus menghindar bicara mengenai Dhani, karena kuatir terpeleset membicarakan gossipnya dengan Mulan Kwok.

Kembali ke perayaan aksara.

Mengetahui dana (besar?) Rp 1 Miliar untuk pameran, beberapa penerbit di Aceh Darussalam menolak ikutan pameran. Apa pasal? Menurut kabar koran, karena terjadi “diskriminasi” terhadap penerbit Aceh. Mereka hanya diberi Rp 40 ribu per hari sedangkan penerbit dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Medan, diberi fasilitas tiket pesawat plus biaya bagasi untuk 100 kilogram buku, serta menginap.

Akibat beberapa penerbit Aceh menolak ikut pameran, barangkali target menggenapi 10 ribu judul buku menjadi tidak terpenuhi. Jangan jangan bila mereka tetap ikut pun angkanya masih kurang dari 10 ribu. Gubernur Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf, pada pidato tertulis yang disampaikan Asisten III Sekretariat Daerah Aceh Dermawan, menyebut Indonesia baru bisa menerbitkan 5 ribu judul buku baru per tahun. Kalah dengan Malaysia (15 ribu judul per tahun) apalagi Inggris (lebih dari 100 ribu).

Rasanya, data yang dikutip oleh Gubernur meragukan. Sebab PT Gramedia saja menerbitkan rata rata 7 ribu tiap tahun. Pada Indonesia Book Fair 2005 yang khusus didedikasikan untuk Aceh dengan tema “The Rise of Aceh”, Gramedia menerbitkan 10 ribu judul. Kebanyakan penerbit memang paling banyak menelurkan 10 judul per tahun, kalah jauh dibanding Gramedia, tapi anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) sekarang ini hampir 800 penerbit. Jadi, bila 500 penerbit saja menerbitkan 10 judul tiap tahun, sudah ada 5 ribu judul buku. Ditambah Gramedia yang rata rata 7 ribu? Ditambah penerbit penerbit baru yang bukan anggota Ikapi yang menerbitkan lebih dari 20 judul per tahun? Cukup banyak.

Tapi, betul. Banyak dan mahal, sungguh relatif. Bisa disebut kurang banyak karena anggota negara ini lebih dari 220 juta orang. Bisa disebut mahal karena angka Rp 1 Miliar seringkali menyentuh psikologi korban tsunami dan gempa bumi.

Sungguh relatif. Yang absolut ialah, apapun bunyi puji dan kritik tentang itu semua, diwakili oleh aksara. Jadi, rayakanlah aksara.

Tak sedikit mahasiswa dan aktivis hak azasi manusia menyebut nama Yap Tiam Hien dan mengenalinya berasal dari Jawa. Kalau bukan dari Glodok di Jakarta, diduga dari Semarang atau Solo di Jawa Tengah, dan mungkin dari Surabaya (Jawa Timur). Padahal pengacara yang membela aktivis, simpatisan atau orang orang yang dituduh anggota Partai Komunis Indonesia di depan sidang militer Indonesia ini berasal dari Aceh Darussalam.

Tak sedikit pula wartawan yang begitu yakin bahwa Djamaludin Adinegoro ialah orang Jawa. Pasti karena ada kata ‘negoro’ di belakang nama itu. Padahal wartawan senior yang namanya diabadikan sebagai anugerah karya jurnalistik oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini lahir di Minangkabau.

Aksara mengantar kita pada banyak informasi, membawa lari kita dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Tetap tak tertutup kemungkinan, aksara juga menyodorkan disinformasi, membawa kita pada ruang ruang lebih gelap. Tapi, perayaan tetap harus dilakukan. Perintah pertama kepada orang Islam ialah mengenali aksara: Iqra.

Berpameran ialah salah satu ikhtiar. Semua ikhtiar patut dihargai, bahkan berdoa pun menurut pemuka Dayah mendapat pahala. Cuma, seperti berbagai ikhtiar lain yang kerap ditimbang kadarnya—berpameran barangkali satu tingkat di atas doa. Silakan saja orang menghitung apakah satu tingkat di atas doa seharga Rp 1 Miliar atau kurang atau lebih. Pada tingkat lain yang perlu dibantu ialah harga jual buku. Dan pada tingkat inilah negara (pemerintah) atau lembaga yang ditunjuk untuk mewakili negara (pemerintah) diwajibkan berada.

(Rumoh PMI Edisi 08 | Oktober 2007 | KOLOM UREUNG GAMPONG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s