Cepat

Pasti senang, bila melakukan segala sesuatu secara cepat. Bila kerja cepat diselesaikan, cepat mendapat hasil. Siapa tahu dari kerja yang cepat itu mendatangkan untung. Keruan cepat pula beruntung.

Warga dan wilayah Aceh Darussalam dan Nias tanpa pemberitahuan diguncang gempa hebat dan didatangi gelombang air laut yang sangat tinggi secara cepat, 26 Desember 2004. Dalam tempo cepat, gelombang air laut yang sangat tinggi itu dikenali sebagai tsunami. Lalu, informasi yang terbilang lumayan cepat tersebar ke luar Aceh, sehingga pertolongan darurat datang secara agak cepat. Organisasi-organisasi kemanusiaan, seperti palang merah dan organisasi pemerintah juga orang per orang segera mengoleksi bantuan dari berbagai sumber untuk secepatnya bisa datang ke Aceh dan Nias. Membantu warga yang sebagian wilayahnya ditelan laut dan dirusak oleh gempa serta tsunami.

Tidak terlalu cepat, tapi juga tak berlama-lama, dibentuklah suatu badan yang bertugas memulihkan dan membangun kembali wilayah dan kehidupan di Aceh dan Nias. Harus badan khusus, bukan lembaga biasa yang ada di pemerintahan, agar misi bisa selesai cepat. Biar lebih cepat (atau ringkas) kita menyebutnya BRR. Lengkapnya Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara. Umum menyingkat BRR NAD-Nias, kadang ada yang menulis atau menyebut BRR NAD. Tapi sesungguhnya BRR saja cukup, karena tidak ada—misalnya—BRR Nabire atau BRR Yogyakarta. Sejauh ini baru untuk Aceh dan Nias.

Lalu, mulailah kata ‘cepat’ menjadi digdaya (invulnerable) sekaligus nirdaya (vulnerable). Menjadi jimat (amulet) sekaligus lawak srimulat (amuse). BRR merasa sudah cepat bekerja. Tapi di seberang—seringkali di sebelah atau agak ke seberang—beranggapan sebaliknya: lamban, lambat, lelet, siput, meulét, re that, lambék. Atau halusnya diucapkan orang Aceh Selatan: indak serius. Lebih lengkap, misalnya, “indak serius mambangun kampuang ko.”

Rupanya yang bilang proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias tidak sedikit dan opini mulut ke mulut atau lewat media berlangsung cepat, sehingga cepat-cepat BRR bilang, “tidak mudah dan (karenanya) tidak bisa cepat menata kembali Aceh mengingat besaran dan luas dampak bencana.”

Yang disergah cepat-cepat diam. Sebab, kalau menyangkal, “mengapa Thailand bisa lebih cepat?” Jawabannya telah ketebak, “lho, Thailand itu yang menjadi korban berapa dan wilayah yang terkena berapa?” Maksudnya—lagi-lagi—dari segi jumlah korban jiwa dan luas area yang terbilang lebih sedikit dan kecil dibanding Aceh, apalagi Aceh plus Nias.

BRR benar belaka dengan argumennya. Lalu pengkritik berkurang sejak kesimpulan lamban, lambat, lelet, siput, meulét, re that, lambék, atau setidaknya indak serius, muncul di peringatan dua tahun BRR, Desember 2006. Berkurang, tapi tidak hilang. Karena memang tidak satu (tunggal) melainkan banyak (jamak).

BRR benar lantaran segala sesuatu menuju pasti meliwati: proses. Cara. Langkah. Biasanya tidak hanya satu cara atau satu langkah. Bahkan naik PM Toh dari Banda Aceh ke Medan mesti meliwati Pidie, Bireun, Lhokseumawe, Langsa dan seterusnya sebelum benar-benar melintas Aceh Tamiang untuk kemudian membelah perkebunan sawit, lantas tiba di Binjai, baru menyapa Medan. Tercepat 9 jam, cepat saja 10 jam, bila terlalu lama menyantap sate matang di Bireun dan dilanjutkan dengan mengeja asma ul husna di sepanjang jalan Lhoksukon, berinternet gratis di Idi Rayeuk, atau ditambah pecah ban, bisa 12-13 jam.

‘Cepat’, selain jarak terutama berkaitan dengan ukuran waktu. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia ‘cepat’ berarti “dalam waktu singkat dapat menempuh jarak jauh” (perjalanan, gerakan, atau kejadian). ‘Cepat’ juga bisa berarti laju, deras atau cekatan, tangkas atau terdahulu. Intinya, dalam waktu singkat, lekas, segera.

Dan waktu—dalam jarak sejarah—selalu menyertakan korban(-korban).

Rusdiamri, 45 tahun, bekerja sebagai buruh bangunan di Dinas Kesehatan. Ia tinggal di barak yang populer disebut Barak Kadin, di Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa. Ia dan keluarganya korban kata ‘cepat’.

Rusdiamri dan tetangga-tetangga barak, kalau kehidupan di sana pantas disebut lingkungan tetangga (neighborhood), seyogyanya (sayang bukan seacehnya) diberi rumah di kawasan Mata Ie. Kediaman untuk mereka kelak saat ini dalam tahap penyelesaian, di Ulee Toey dan Gue Gajah. Karena itu, “se-cepat-nya” mereka diminta untuk meninggalkan barak.

Tapi, ke mana?

Kata ‘cepat’ tidak menjelaskan ke mana secara pasti.

Rusdiamri memilih tetap tinggal di barak. Sebab, perintah/permintaan pengosongan barak sungguh tidak masuk akal. Rumah mereka belum siap, bagaimana bisa diminta keluar? Peduli amat barak itu, katanya, akan digunakan oleh empunya tanah. Mereka pernah tinggal di kolong langit dan di dalam tenda, masak sekarang harus mengalami lagi salah satunya.

Ada 7 keluarga dari Barak Kadin yang telah dipindahkan BRR ke Desa Neuhen, Kecamatan Masjid Raya. Tapi tahukah ke mana mereka tinggal? Bukan ke rumah mereka yang sedianya dibangun oleh BRR atau organisasi nonpemerintah, melainkan ke rumah kosong yang terdaftar atas nama orang lain di Kajhu. Alias rumah milik orang lain.

“Saya tak mau mengalami seperti (tetangga) itu,” tutur Rusdiamri kepada Mulia dari Palang Merah Irlandia.

Kasus seperti dialami tetangga Rusdiamri pernah pula ditemui di Kajhu juga. Satu keluarga korban tsunami dipindahkan dari barak ke rumah bantuan. Bukan rumahnya.

Mereka korban kata ‘cepat’. Kalau tak boleh disebut korban dari upaya cepat-cepat tim percepatan yang dibentuk BRR. Tim yang diberi misi untuk mengosongkan barak dari warga.

Menurut data BRR, sampai akhir Juli lalu, lebih dari 203 ribu orang masih berstatus pengungsi internal (internally displaced persons/IDPs). Terbanyak di Aceh Besar, sekitar 44.200 jiwa, lalu Aceh Barat (27.900) dan Aceh Jaya (26 ribu). Di Banda Aceh, masih ada 23.600 jiwa pengungsi internal. Mereka rata-rata tinggal di hunian sementara, apakah bernama barak, shelter, atau rumah orang lain.

Target pengosongan barak sendiri tidak jelas waktunya. Sebelumnya, sempat didengar ada rencana mengeluarkan warga dari barak per Mei 2007. Lalu, tak terdengar lagi kepastian kapan yang jelas sampai akhir tahun ini.

Alhasil, salah satu strategi yang dipilih lebih bikin kepala geleng-geleng (bukan angguk-angguk seperti anak metal, menyitir salah satu populer). Yakni, mengelompokkan warga ke dalam barak yang lebih besar (regrouping). Maunya ialah supaya “bantuan” kepada penghuni barak bisa dilakukan lebih tangkas dan sigap. Yang jelas, supaya ceceran barak di banyak tempat bisa berkurang. Psikologi angka-angka. Kalau disebutkan, “sekarang tinggal 4 barak yang terdapat di Banda Aceh dan Aceh Besar,” laporan begini lebih enak didengar ketimbang, “masih ada 24 barak di Banda Aceh dan Aceh Besar. Perkara penghuninya orang-orang yang sama dengan jumlah jiwa yang juga sama, itu soal lain.

Di sini kecepatan memang diuji. Yang lebih cepat dapat rumah pun telah banyak mengeluhkan soal kualitas. Belum ditempati satu tahun kayu lapuk, retak di dinding, atau belum siap air bersih dan sanitasi, listrik, dan sebagainya. Baik rumah yang dibangun BRR maupun organisasi nonpemerintah.

Kecepatan, tak bisa dihindari, menyertakan korban(-korban). Seperti laju bus atau colt L300 dari Banda Aceh ke Medan. Kalau tidak menyerempet mobil lain karena terlalu cepat, ya penumpang di dalamnya terkocok perut sampai mual.

Cuma, kesadaran bahwa ‘cepat’ bisa mendatangkan korban(-korban), bukan alasan untuk meulét, re that, lambék. Bagah lah.

(Rumoh PMI Edisi 07 | September 2007 |KOLOM UREUNG GAMPONG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s