Pulau Anak-anak Menyelam

Ke Pulo Aceh kami menyeberang. Ke pulau anak-anak yang menyelam.

Suriadi cepat pulang dari laut. Hari 23 Juli itu, angin barat sedang datang. Yadi, begitu ia dipanggil, sempat pergi bersama dua kawannya untuk menyelam, menangkap lobster dan gurita, tapi segera pulang. Berganti pakaian kering, mandi seperlunya, lalu jep kupi di Kedai Rahmat Illahi. Kedai milik Geuchik Desa Teunom Baru, Syukri M Isa.

Di kedai, sudah ada Hasbunnah yang menemani dua kawannya main catur batu. Belasan kerikil kecil dipasang untuk mencegah langkah dua kerikil besar. Tapi jangan terlalu dekat. Sebab, bila bersebelahan dan dan tanpa kawan, kerikil besar bisa memangsa dengan cara melompatinya. Yadi tak ikut bermain. Cuma menyapa semua yang hadir. Jep kupi belaka, bukan pertemuan resmi. Ada dia bakar rokok, sebelum kopi siap tersaji.

HasbunnahMenjelang siang itu, ia kelihatan gundah menatap langit. Cuaca yang kurang bersahabat memaksa ia harus tinggal di desa saja, tak ke mana-mana. Padahal ia mengaku tak mesti saban hari ke laut.

“Kami memang tak payah-payah kali ke laut. Kalau sedang mau saja.”

Maklum, sekali ke laut ia bisa menguangkan hasil tangkapan sebesar Rp 200 ribu, Rp 500 ribu, bahkan bisa sejuta dua juta. Gurita dan lobster dihargai cukup mahal di daratan. Pulang dari menyelam, lobster dan gurita tangkapan dijual kepada para penampung di Dermaga Seurapong, yang lantas membawa ke Banda Aceh. Jadi, gundahnya Yadi seperti memberi tanda: simpanannya menipis.

Hasbunnah juga penyelam. Ia malah sudah hampir dua pekan bergeming di darat. Hasbunnah baru beranjak menjelang 17 tahun, lebih muda tiga tahun dari Yadi. Ia sudah kehilangan selera menyelam.

“Maunya lanjut sekolah,” kata Has sembari menyebut satu nama Dayah yang bakal ia datangi di Banda Aceh, bulan Agustus ini.

Barangkali karena perolehan Hasbunnah tak sebesar Yadi. Dari sekali pergi menyelam beberapa jam, sudah bagus bila dapat Rp 50 ribu atau seratus ribu. Barangkali juga, karena jam selam Hasbunnah belum sebanyak Yadi. Ia pun lebih sering menyelam terapung ketimbang ke tengah laut betulan. Selam terapung ia dilakukan di sela-sela karang dekat pantai dengan kedalaman air rata-rata 3 meter. Bila menyelam di laut pemantauan terhadap tangkapan dilakukan dari atas perahu, para penyelam terapung mengintai buruan dari bibir-bibir karang.

“Kalau belajar menyelam ya di pinggir-pinggir karang,” tutur Has yang sudah mengenal dunia bawah air sejak usia 10 tahun.

Rupanya lebih dari 5 tahun menyelam dan menangkap lobster atau gurita, membuat Hasbunnah mulai berpikir tentang masa depan lain.

“Kalau ke laut baru dapat lebih dari seratus dua ratus ribu,” lanjut Hasbunnah.

Duitnya dipakai apa? Yang ditanya cuma memberi senyum malu. Matanya menebar ke segala tempat tanpa fokus.

Barangkali ia mau bilang, “dikasih ke emak.” Tapi, itu barangkali. Hasbunnah cuma memberikan senyum mudanya.

“Di laut kita jaya, jalesveva jayamahe,” bunyi semboyan angkatan laut. Padahal di laut, kita juga bisa budeg (tuli). Teknik menyelam seperti dipraktikkan pelaut Pulo Aceh bisa dibilang kegiatan gagah berani.

“Teknik menyelam alami,” Geuchik Syukri menukas.

Ia menerangkan, penyelaman dilakukan hanya dengan bantuan kaca mata air dan kadang sepatu katak. Tanpa alat bantu pernafasan yang biasa mereka sebut compressor.

Tapi, menyelam gaya Pulo Aceh sesungguhnya bisa mengganggu telinga. Tekanan air yang besar mengganggu kelonggaran masuk keluarnya udara melalui tuba (penghubung telinga tengah dengan hidung). Bila mampat, efeknya ialah sakit telinga atau bisa vertigo. Pada beberapa kasus, penyelaman semacam bisa menyebabkan gejala otitis media. Yakni infeksi yang menghajar telinga bagian tengah. Bila infeksi ini hilang timbul atau menetap selama dua bulan bisa berlangsung otitis media yang kronik. Malahan bisa mengeluarkan cairan bening atau keruh dari liang telinga (otitis media supuratif kronik atau congek). Sudah bukan gagah berani lagi, namanya.

Belum tahu apakah kasus tuli pernah ditemukan pada para penyelam di Pulo Aceh. Sebab, “berenang dan menyelam itu kemampuan yang harus dimiliki orang Pulo Aceh,” tukas Geuchik Syukri. Alasannya, mereka tinggal dikepung laut dan harus hidup dari laut.

“Bisa dibilang, kalau tak bisa menyelam bukan (lelaki) Pulo Aceh namanya,” kata Geuchik Syukri yang juga pernah menyelam.

Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), pada bulan Oktober-Desember 2006 meneliti kondisi anak-anak di 7 kabupaten/kota di Nanggroe Aceh Darussalam. Penelitian itu menemukan lebih dari 2 ribu anak-anak yang terlibat dalam berbagai aktifitas di sektor perikanan. Sekitar seribu hingga seribu lima ratus dikategorikan pekerja anak, antara 500-750 bekerja dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.

Menurut Manajer PKPA Aceh, Sulaiman Zuhdi Manik, kegiatan menyelam anak-anak Pulo Aceh termasuk kategori pekerjaan anak. “Keterlibatan mereka bekerja di sektor perikanan pada usia muda dalam beberapa jenis pekerjaan terkait dengan adanya permintaan (demand) yang dianggap kurang layak dikerjakan orang dewasa, mencuci boat contohnya.”

Tapi, lanjut Zuhdi Manik, penyebab lebih dominan ialah lantaran banyak anak putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar. Kelas 3 SD ada yang sudah putus sekolah atau paling banyak berhenti setelah tamat SD, tidak melanjutkan ke SLTP.

“Di Pulo Aceh, beberapa anak hanya pernah sekolah sampai kelas 1 dan 2 SD,” ucap Zuhdi Manik prihatin.

Sulaiman Zuhdi Manik mengakui, kemiskinan menjadi biang keladi sehingga anak-anak harus bekerja. Alasan-alasan lain ialah tradisi dan harapan keluarga, kekerasan yang dialami anak, kurangnya layanan sekolah dan perhatian sehari-hari, keterbatasan berbagai layanan semisal kesehatan.

Tradisi dan harapan keluarga?

“Ya, memberikan pekerjaan kepada anak dianggap bagian dari proses belajar untuk menghargai kerja dan tanggung jawab, melatih dan mengenalkan mereka kepada dunia kerja, dan anak pun diharapkan membantu mengurangi beban kerja keluarga,” urai Sulaiman Zuhdi Manik.

Yadi mengakui, sekolah sudah tidak terlalu penting lagi. Ujung-ujungnya toh cari uang. “Sekarang, dari menyelam sudah bisa dapat uang,” kata Yadi. “Cukup banyak lagi, tergantung mau kita, tak ada jam kerja.”Catur Batu

Suara Hasbunnah yang ingin sekolah tertelan kenyataan, uang banyak bisa diperoleh dari menyelam atau kegiatan melaut lainnya. Dan penduduk di pulau ini rata-rata melaut dan berladang. Seperti kata Sulaiman Zuhdi yang dilupakan orang ialah bahwa usia sekolah ya harus belajar, bermain dan bermalas-malasan alias banyak rekreasi. Karena itu memang hak anak seperti diatur konvensi internasional. Dan badan PBB untuk perburuhan (ILO/International Labour Organization) melarang ada tenaga kerja yang berasal dari usia sekolah. Dasar maupun lanjutan.

Pulo Aceh, khususnya Pulo Beras sempat disebut-sebut sebagai pulau perladangan ganja. Siaran-siaran pers departemen pertahanan dan Markas Besar TNI, sempat menyebut keadaan ini ketika darurat militer diterapkan di Aceh Darussalam. Tapi, tak terdengar keprihatinan tentang kondisi anak-anak di sana yang terancam tuli bila terus menyelam tanpa pengaman dan perlindungan. Terutama lagi sebetulnya mereka bukan bagian dari kelompok kerja.

Dan laut hari itu tengah kedatangan angin barat. Di pasar-pasar Banda Aceh, harga ikan dan hasil laut lainnya sedikit naik lantaran tak banyak nelayan mengangkat sauh. Langit terus-terusan mengancam dengan warna gelap dan hujan. Di atas Solferino, speedboat milik Palang Merah Inggris, kami terguncang-guncang. Mestinya di laut tak ada polisi tidur.

Angin barat begini bagus untuk Yadi, Hasbunnah dan kawan-kawannya. Bisa bermalas-malasan. Main catur batu. [ ]

Pekerjaan yang Dilakukan Anak di Perikanan

Pekerjaan                               Laki             Perempuan            Total
Jengek/Aneuk mie                       15                          0                            15
Aneuk Itiek                                  84                           1                            85
Buruh di TPI                                23                           1                           24
Melaut (pukat)                           102                           0                         102
Menarik pukat perahi                 16                            0                           16
Menjaga kolam/tambak               8                            0                             8
Mencari kerang/kepiting/ikan  273                         15                         288
Menarik bagang                             5                            0                             5
Menyelam (lobster dan gurita)   30                           0                           30
Menjual ikan                                  5                            0                             5
Menjaring ikan                              1                            0                              1
Mencari tiram                              47                           6                            53
Memancing                                       3                           0                              3
TOTAL                                          611                         24                         635

Sumber: Penelitian PKPA – ILO

One thought on “Pulau Anak-anak Menyelam

  1. Pingback: jeftina kupovina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s