“Mobil untuk Anak-anak Kami”

SYUKRI M Isa, Geuchik Teunom Baru, bertanya kepada kami, “Irlandia (Palang Merah Irlandia-red) bisa bantu apa untuk anak-anak sekolah?”
Pulo Aceh
“Kami kerjasama dengan PMI memberi beasiswa, Pak.”

Lalu berceritalah Syukri tentang anak-anak sekolah dasar di Teunom Baru, Pulo Aceh. Hujan mulai merintik, gaharnya sudah lewat 10 menit lalu. Beberapa anak berseragam Sekolah Dasar basah kuyup melintas di jalan depan kedai, tempat kami berbincang. Kedai Rahmat Ilahi milik Geuchik Syukri. Seperti mendapat bahan, ia langsung menunjuk anak-anak berputih-merah, “kasihan mereka, harus basah-basah begitu.”

Dari Teunom Baru, lalu lewat Seurapong, anak-anak SD itu masih harus mengiwas dua desa hingga bertemu sekolah mereka. Kira-kira 2 kilometer menempuh rute serupa sabit (sadeup). Jalan berpasir campur tanah ceceran truk dan kijang bak terbuka yang membawa material bangunan untuk rumah-rumah mereka. Bila nanti hujan malas datang, hari digantikan panas, itu jalanan sudah pasti bertirai debu. Dari basah, putih-merah anak-anak berganti warna gading.

Ada sekitar 30 anak usia sekolah dasar di Teunom Baru. Ini areal baru setelah desa lama mereka—namanya Teunom—digerus tsunami. Penambahan kata ‘baru’ pada desa mereka seperti mau menyisakan kenangan akan desa lama sekaligus menerbitkan cita-cita anyar. Anak-anak dan remaja merupakan populasi terbanyak dari desa yang ditempati oleh 130 jiwa ini. Orang paling tua di desa ini berusia 67 tahun, namany Nek Kaoj.

“Di desa ini kebanyakan orang perempuan,” kata Syukri.

Selain Sekolah Dasar, ada belasan anak duduk di Sekolah Menengah Pertama. Nasibnya, sama. Menempuh jarak cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Jalan kaki atau sesekali dijemput motor oleh orangtua atau abang mereka.

“Tapi, ya kadang-kadang saja. Tak bisa setiap hari diantar jemput, dan tidak semua rumah (keluarga-red) punya honda (motor-red),” imbuh Syukri.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional, biaya satuan pendidikan meliputi juga transportasi. Bukan cuma iuran sekolah dan buku-buku. Lengkapnya, biaya satuan pendidikan terdiri dari: iuran sekolah, buku dan alat tulis, pakaian dan perlengkapan sekolah, akomodasi, transportasi, konsumsi, kesehatan, karyawisata, kursus, uang saku dan—tak ketinggalan—potensi penghasilan keluarga yang hilang selama mengurus sekolah anak. Bantuan beasiswa umumnya hanya menambal sepertiga dari total biaya satuan pendidikan. Misal: iuran, buku dan alat tulis serta pakaian dan perlengkapan sekolah.

“Jadi, kalau bisa, tolong disediakan mobil untuk anak-anak kami sekolah,” usul Geuchik muda berperawakan kecil berkulit hitam ini.

Transportasi—sekali lagi—bagian dari biaya satuan pendidikan. Tapi, memasukkan dalam program beasiswa Palang Merah Irlandia? Aduh. Kami pun menyergah, “angkutan itu khusus untuk jemput antar anak sekolah, atau bisa digunakan untuk angkutan lain?”

Geuchik Syukri menjamin, “khusus untuk anak sekolah, biar supir dan minyaknya kami usahakan sendiri.”

Hujan mulai gahar lagi. Rupanya gerimis tadi sekadar jeda. Di jarak 20-an meter, ada tiga anak berseragam putih-merah berlari. Maunya lebih cepat dari deras hujan. [ ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s