Libur dalam Kerja

Problem besar dalam posting ini adalah: foto-foto yang menjadi materi tulisan justru entah ada di mana.

Orang masih memberlakukan Sabtu – Minggu sebagai hari pribadi. Libur dari kerja. Bebas dari persoalan dan lari dari penat. Wuih. Beberapa orang mematikan telepon selulernya sewaktu cuti, menjauh dari berita-berita koran, mengalihkan tuning radio ke stasiun-stasiun yang hanya menghadirkan musik, monitor televisi hanya menyala untuk judul-judul DVD (bajakan) yang sudah diborong untuk masa cuti ini. Konon biar pikiran dan badan fresh saat balik ke meja kerja.

Kasihan sekali.

Saban Jum’at malam, sedikitnya sampai pukul 02.00 dinihari, harus ada live music yang dinikmati seraya mengangkat gelas atau mencekik botol, lalu baru merasa betul-betul ‘terbebas’ setelah keringat membanjiri shirt dan blouse.

Lalu kemana para penyanyi, pemusik, pemandu rekreasi menikmati liburan mereka? Menonton penyanyi dan pemusik yang lain? Dipandu oleh pemandu rekreasi yang lain? Atau pertanyaan awal dulu, “kapan mereka ‘libur’?”

Keke Tumbuan (Hanneke Andika Tumbuan) menganjurkan liburan saban hari sembari bekerja saban melek mata. Berproduksi seraya hang out. Dengan semangat sama, Paul Kadarisman menguatkan fakta bahwa ‘kebiasaan’ bukanlah pakem abadi. Melabrak pakem pun bukan lantas masuk kategori mbeling. Lantaran kebiasaan nyatanya suatu perilaku yang dilahirkan dari pemahaman dan saling pengertian. Tapi, mengerti tentang sesuatu bukan berarti mengikuti sampai kulit ari, melainkan memahami dengan kebebasan mandiri. Timur Angin mengerti betul tentang kebebasan tafsir (menafsir) ini.

Keke, Paul, dan Timur menghadirkan anjuran-anjuran tersebut melalui karya-karya foto mereka pada festival FOTO.ID sepanjang paruh akhir Agustus. “Memahami Kebebasan/Understanding Independence” di tiga galeri terpisah. Ketiganya hadir bersama-sama dengan jurufoto Belanda. Menurut penyelenggaranya, Yayasan Oktagon, festival ini merupakan rangkaian pameran foto yang mengungkap kebebasan. Tentu saja berdasar pengertian masing-masing. Bersama mereka ada jurufoto dari Belanda, Nancy Lee, Jeroen Hesing dan Jacqueline Gilbert.

Rangkaian festival ini menghadirkan pula karya foto dari generasi yang lebih lawas. Foto-foto dari Cas Oorthuys (1908-1975) itu, tampil dalam “Masa Depan Sebuah Masa Lalu/The Future of a Past”, yang terbit tiap hari di halaman 15 Kompas sejak 1 Agustus lalu. Sebagai pewarta foto masa ‘perang’, Cas lebih banyak mendokumentasikan pengalaman dan emosi sehari-hari ketimbang huru-hara perang. Periset foto, diantaranya Alex Supartono dan Oscar Motuloh, membantu pembaca Kompas mengenali kurun waktu peristiwa.

Secara keseluruhan, riset foto dan teks singkat yang disajikan sangat baik. Satu ganjalan hadir dalam keterangan foto ke-20. Foto itu menghadirkan Presiden I RI, Soekarno, tengah memperhatikan para pengurus rumah tangga kepresidenan memperbaiki mobil. Peristiwa tahun 1947 itu disebut terjadi di Istana Negara, Jakarta. Ganjalannya, sejak 4 Januari 1946 – 27 Desember 1949 ibukota Indonesia ada di Yogyakarta. Selain itu, plat nomor mobil Soekarno dalam foto bertanda AB (Yogyakarta), bukan B (Jakarta). Teks yang dibuat Oscar mestinya menjelaskan “keberadaan” Soekarno di Jakarta pada kurun waktu itu.

Cas dan jurufoto yang memamerkan karyanya pada “Memahami Kebebasan” berbeda jauh usia. Paul Kadarisman baru setahun lahir saat Cas wafat. Keke Tumbuan dan Timur Angin malah belum lahir. Teknik dan teknologi foto yang dipilih keruan berbeda. Hubungan mereka dijalin lewat pemilihan obyek dan keberpihakan pada emosi sehari-hari. Baik Keke, Paul dan Timur menambahkannya dengan menyerpih batas subyek-obyek.

Keke menyatukan pengalaman pribadi, wilayah privacy, dengan dunia kerja. Bebas pada ketiga wilayah yang secara semena-mena kerap dipisahkan dalam dikotomi kolot modernitas. Kerja ya kerja, libur ya libur. Padahal, libur dalam kerja tak ada larangannya. Tak ada undang-undangnya.

Pada 31 Agustus hingga 14 September memboyongnya bersama-sama ke Museum Nasional. Tak perlu mengambil cuti untuk menghadirinya. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s