Tak Datang ‘Tuk Dipukuli

Seraya mengelus pipi kiri saya, dia bertanya, “masih sakit?” Masih.

GEERHAN Lantara tak menggeser pandangan dari belasan layar televisi di depannya. Kalau saja dia mengenakan pantalon putih, mungkin akan terlihat mirip dengan salah satu pose Napoleon Bonaparte. Tak ada senyum dari bibir Komandan Korem 012/Teuku Umar yang bermarkas di Meulaboh, Aceh Barat itu. Barangkali sesekali tersenyum, hanya saya saja yang luput melirik.

Ruangan media center Korem Teuku Umar, tempat Geerhan duduk tak tersenyum itu, dipenuhi belasan monitor tivi. Siaran seluruh stasiun televisi di Indonesia terpantau detik per detik. Masih ditambah beberapa layar yang hanya menampilkan warna biru. Korem Teuku Umar memfungsikannya guna memantau siaran-siaran stasiun radio. Saya tak punya konsentrasi untuk melacak apakah siaran Kantor Berita Radio 68H (KBR 68H), tempat saya bekerja, ditangkap pantau juga oleh staf penerangan Korem. Kalaupun tidak, mereka masih bisa menangkap lewat stasiun radio lokal di Meulaboh yang menjadi jaringan 68H.

“Terlalu banyak layar, bagaimana bisa serius memperhatikan, nDan?” Pertanyaan bodoh dan ketebak motifnya. Sekedar membuka percakapan setelah hampir dua menit lalu hanya bersalaman dan tukar pandang.

“Ini melatih melihat situasi secara cepat dan mengambil keputusan dengan cepat.” Keluar juga jawaban dari mulut lulusan Akademi Militer 1978 ini.

Saya ingin menambahkan, “keputusan cepat tak mesti selalu tepat.” Tapi, bukan waktunya mengundang debat.

Jarak pandang Geerhan tak kurang dari tiga meter dari belasan monitor televisi. Di sayap kanan duduknya, berjejer hampir seluruh staf Korem 012/Teuku Umar. Seorang wartawati Metro TV berada di antara para staf dan Geerhan. Saya berada di sayap kiri di atas kursi mebel panjang. Jaka Rasyid berada di tepi kiri saya. Juru Kamera Metro di luar ruangan, bersama Nur Syafri (Radio Prima FM Banda Aceh) dan Juru Bicara Media Center Bhakti Jamaluddin Ahmad.

“Saya dengar ada masalah di Aceh Selatan?” Kolonel Infanteri Geerhan Lantara, Komandan Korem 012/Teuku Umar yang dikelilingi hampir seluruh stafnya bertanya.

“Betul, nDan. Ada kesalahpahaman di lapangan yang dilakukan prajurit Komandan.”
***

MALAM sudah mulai akrab ketika rombongan kami tiba di Tapak Tuan, Aceh Selatan, Selasa (2/7), sekitar 450 kilometer dari Banda Aceh. Kami berempat menguap dalam MPV (multi purpose vehicle) jenis ranger. Saya, Nur Syafri dari Prima FM Banda Aceh, pendamping perjalanan kami, Jaka Rasyid –lelaki kelahiran Tapak Tuan yang bengal di Banda Aceh, dan Nazaruddin –supir dari rental mobil di Lhokseumawe.

Tak ada yang menarik dari kota mungil ini dalam sekilas pandang malam hari. Pusat kota adalah deretan toko-toko dan rumah toko, bertetangga dengan bunyi sisir pantai. Rute yang ditempuh seperti mewajibkan kami untuk bergegas mencari penginapan. Losmen Rahmat di Jalan Jenderal Supratman dipilih Jaka. Dua kamar dipesan, kami menutup memenuhi permintaan kantuk.

Pagi yang lembut mengantar kami ke Kodim 0107 Aceh Selatan untuk melaporkan kehadiran. Catat nama dan menunjukkan identitas.

Lalu hari mulai sibuk.

Rencana ini hari adalah melawat ke Desa Koto, Mukim Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah. Mencoba mencari sisa informasi di tempat yang menurut TNI pernah menjadi ajang pembantaian GAM terhadap warga sipil pada 5 Juni 2001 (kebiasaan TNI menyingkat istilah membuat tragedi itu mereka sebut Lijun). Puluhan orang dikubur secara massal dalam beberapa lobang di kawasan ini. Akhir Juni 2003, TNI memprakarsai suatu upaya penggalian.

Panglima Komando Operasi (Pangkoops) Bambang Darmono, datang dari Lhokseumawe dengan helikopter menyaksikan proyek penggalian. Waktu itu, ia masih berpangkat Brigjen TNI. Geerhan Lantara menjadi pendamping utamanya beserta Dandim 0107 Aceh Selatan Letkol Jamhur Ismail, Dandim Aceh Barat Letkol Dodi Suryadi, Bupati Aceh Selatan HT Machsalmina Ali, Ketua DPRD Aceh Selatan Amrin Is dan tokoh masyarakat Manggamat, Bintara Yakob, serta Kepala Desa Jambo Papan, Ahmad.

Bambang memboyong beberapa wartawan dalam rombongannya. Para saksi dihadapkan pada wartawan untuk bercerita tentang “kejamnya GAM terhadap warga yang masih setia kepada NKRI.”

Kawan dari 68H yang berada di Lhokseumawe, Sri Lestari, juga beberapa wartawan dari berbagai media tak turut serta dalam rombongan selektif Bambang Dharmono. Barangkali inilah motif kuat saya, Syafri, Jaka dan Nazar menuju situs Manggamat. Motif pasti ya jalan-jalan dan ingin tahu saja. Mumpung ada di Aceh. Tak ada pretensi mencari “cerita lain”.

Tapi, beberapa petunjuk mengantar kami pada naskah yang berbeda dengan (sebut saja) versi TNI. Komandan Kompi, Persada Alam, waktu Rabu siang (3/7) itu menghadirkan kepada kami saksi-saksi untuk bertutur. Diantaranya Kepala Mukim Manggamat Alamuddin, Wakil Camat Kluet Tengah Iskandar, Keuchik Koto Efendi, juga warga lain yang ada pada waktu peristiwa seperti Iskandar Muda, Firdaus dan Haji Wahab.

Saya dan Syafri awalnya mewancarai satu saksi berbarengan, namun lantas saling berbagi. Selanjutnya kami saling mengakurkan perolehan masing-masing. Jaka Rasyid, putra Tapak Tuan yang bengal di Banda Aceh, sempat juga berbicara dengan saksi-saksi lain. Sepertinya dia serius membuktikan keinginan menjadi wartawan, sampai lupa bahwa saya dan Syafri kerap membutuhkannya untuk alih bahasa. Kendati asal Aceh, Syafri dan Nazar kurang memahami bahasa Aceh Selatan. Orang Minang barangkali lebih memahami percakapan orang Aceh Selatan ketimbang Syafri dan Nazar.

Selain bicara di dalam ruangan di sebuah rumah yang disediakan sebagai “museum sejarah Manggamat”, kami bercakap juga di halaman. Ada “diorama” dari spanduk putih di halaman itu. Tiga “diorama” bergambar peristiwa kekejaman yang pernah terjadi di Manggamat.

Satu spanduk bergambar seorang lelaki diseret dengan sebuah pick up di depan khalayak. Spanduk lain bercerita tentang penyiksaan terhadap belasan orang yang diikat dan penuh luka. Masih di spanduk yang sama, di sebelah belasan orang luka itu terdapat kerangkeng seperti sangkar burung besar berisi manusia yang disiksa. Seseorang tampak menyodok si terkerangkeng dengan sebilah kayu. Di sekeliling korban luka, berderet sepasukan anggota GAM dengan senjata api laras panjang.

“Beginilah cara GAM menyiksa kami,” papar Iskandar. “Kekejamannya seperti Yahudi dan PKI.”

Saya menahan diri untuk bertanya apakah PKI pernah punya cabang di Manggamat dan darimana Iskandar mendengar tentang cara Yahudi melakukan kekerasan.

Keterangan kronologis dan “kesan” para saksi bisa dipastikan tak berbeda dengan keterangan mereka sebelumnya di depan layar televisi. Hanya satu nama lumayan menarik, Tengku Zainal. Katanya dia salah satu korban yang sempat dipenjara oleh GAM di Manggamat. Keterangan berarti lain yang bisa diperoleh hanya, “dia tokoh masyarakat”. Pekerjaan? Petani biasa. Tinggal di Manggamat? Bukan.

Nama Zainal muncul ketika kepada dua orang saksi di halaman “museum” ditanyakan siapa yang mengajak masyarakat Manggamat melawan GAM? Secara berbarengan kedua saksi menjawab. Seorang menjawab singkat: Tengku Zainal. Seorang lainnya, menjawab lumayan panjang dan retorik.

“Tak ada yang mengajak, Pak. Ini memang kesadaran warga masyarakat Manggamat yang telah bosan bertahun-tahun berada di bawah penindasan GAM.”

Sengaja saya melemparkan dua pertanyaan lagi untuk saksi yang memberi jawaban retorik itu. Selepas dia, saya beralih ke saksi satunya. “Siapa Tengku Zainal, Pak?”

Jawabannya: tokoh masyarakat, petani, bukan warga Manggamat. Sudah. Wajahnya selalu berpaling tiap menjawab: tokoh masyarakat, petani, bukan warga Manggamat. Menarik.

Butuh waktu hampir dua jam mengajak para saksi berputar pembicaraan seraya menilik lokasi-lokasi “bersejarah” di kawasan Manggamat untuk mengetahui asal Zainal. Menilik kerangkeng, bertandang ke rumah Bintara Yakob (mantan kepala desa Koto yang luka ditembak GAM tahun 1999), ke desa Padang, lalu ke lokasi penggalian. Sepanjang tour singkat ini, kami berjalan kaki layaknya rombongan besar. Orang-orang banyak turut serta diiringi beberapa personil TNI bersenjata lengkap.

Tak ketinggalan, para saksi menunjukkan juga Gedung Aksi Bumi yang dijadikan sebagai Gedung Pemuda. Di gedung inilah, kata para saksi, warga dikumpulkan dan disuruh menyaksikan penyiksaan terhadap orang-orang yang berani menentang GAM. Gedung Aksi Bumi ini sebenarnya dibangun ketika Unit Pendidikan dan Promosi Konservasi Hutan WWF (World Wild Fund) menggelar proyek konservasi di Manggamat. Sewaktu program WWF, gedung ini dijadikan lokasi peringatan Hari Bumi dan Hari Bebas Pestisida. Dari seorang kawan di sebuah milis saya mengetahui, program WWF berhenti tahun 1996.

Sewaktu pamit pulang, saya sempatkan bertanya kepada saksi yang menyebut nama tokoh misterius itu.

“Oh, ya. Maaf saya lupa. Dimana tadi Bapak sebut tempat tinggal Tengku Zainal?” Saya berharap dia lupa bahwa mulutnya tak pernah menyebut satu tempat pun tentang dimana Zainal pernah tinggal. Saya segera mengeluarkan catatan kembali.

“Persisnya saya tak tahu, tapi di Kecamatan Bakongan.”

“Ah, ya. Bakongan. Lupa, terima kasih.”

***

DUA perempuan tampak kepayahan menunggu angkutan desa lewat. Seorang diantaranya menggendong bayi berusia 10 bulan. Belum lagi lengkap imunisasinya. Mereka berdiri di halaman deretan rumah. Dua pasang kaki perempuan itu sesekali menyenggol tiga karung berukuran kecil. Hasil bumi kampung halaman.

Nazar berinisiatif menawarkan tumpangan. “Ke Tapak Tuan, Kak?”

Sepanjang melingkari sebagian wilayah Aceh, tumpang menumpangi semacam ini sering terjadi. Bukan cuma warga yang kepayahan mencari angkutan, aparat TNI yang kangen dengan sanak di rumah tak jarang ikut menumpang ke warung telekomunikasi (wartel) terdekat atau lokasi yang sarat sinyal telepon selular.

“Tapi hanya bisa kami antar sampai Kota Fajar,” terang Nazar kepada perempuan beranak 10 bulan yang kini duduk di sampingnya. Saya, Jaka, Syafri dan adik perempuan beranak 10 bulan itu berjejal di kursi belakang.

Di simpang Kota Fajar, mobil berbelok ke arah kiri. Dua perempuan yang barusan menumpang mobil kami mengambil arah kanan, ke Tapak Tuan.

Agak spekulasi sebetulnya mengikuti petunjuk Bapak saksi tadi. Bagaimana mencari sebuah nama di kecamatan tanpa keterangan jelas. Apalagi, menurut Bapak saksi, Tengku Zainal tak pasti diketahui masih hidup atau meninggal.

Toh, pukul dua siang, kami berempat sampai juga di Bakongan. Sejauh hampir sebulan di Aceh, kedai makan dan kedai kopi sungguh bisa diandalkan untuk mencari tahu tentang riwayat seseorang. Orang Aceh punya kebiasaan menunggu senja berkumpul di kedai.

Sayang, pusat kota Bakongan kali ini kelewat sepi. Kebanyakan kedai makan sudah kehabisan pasokan. Cilaka betul. Sudah pukul dua siang, perut baru dijelali suguhan teh manis di Desa Koto dan rujak buah Kwini di pos TNI ketika meninggalkan Manggamat. Kami sama-sama berujar, sumber berita dan informasi silahkan saja lolos siang ini, tapi makan? Maaf-maaf, nggak boleh nggak. Bulan puasa masih terlalu jauh dari Juli dan hari ini adalah hari Rabu, bukan Senin atau Kamis. Mana bisa menunggu magrib untuk mendapat nasi.

Sebuah kedai yang kelihatan masih memiliki sisa gulai kami masuki. Si empunya mengaku, seluruh rumah makan telah diborong oleh rombongan Bupati dan DPRD yang menjenguk lokasi pengungsian di Kecamatan Trumon. Menurutnya Ketua DPRD Amrin Is marah besar ketika siang tiba di Trumon mendapati para pengungsi belum makan semenjak pagi.

Apa sebaiknya kami ke Trumon dan bergabung makan siang di sana? Ah, bercanda.

Pemilik kedai menawarkan dibuatkan goreng telur mata sapi. Siapa menolak? Sembari menunggu, masuk seorang lelaki berkaus coklat celana hitam. Kakinya dibungkus lars. Dari potongan dan selipan pistol jenis FN di pinggangnya, kami menduga lelaki ini aparat dari Satuan Gabungan Intelijen (SGI).

“Pers, mas?” sapanya dari seberang meja. Percakapan mengalir sampai makanan datang.

Anggota SGI ini ternyata bukan orang baru di Aceh Selatan. Sudah lebih dari dua tahun ia bertugas di kabupaten ini, paling disela beberapa bulan di Kabupaten Pidie. Pernah juga menurut dia, 6 bulan di Papua. “Seminggu setelah saya cuti ke Jakarta (dari Papua) saya dengar Theys (Hiyo Eluay – Ketua Presidium Dewan Papua) mati.”

Bagi pemilik kedai, lelaki ini bukan tamu biasa. Ia dianggap berjasa turut menyelamatkan putranya yang diculik GAM dengan tebusan Rp 20 juta. Setelah hampir dua minggu disekap GAM, anak lelaki kedua pemilik kedai berhasil meloloskan diri dan ditemukan SGI.

“Cara mereka meminta tebusan bagaimana?” tanya Syafri.

“Dari mulut ke mulut,” tukas si lelaki SGI. Kata dia, informasi diculiknya anak pemilik kedai berasal dari tiupan mulut ke mulut, termasuk jumlah tebusan. Cara yang tak lazim untuk mengetahui ada orang diculik.

“Di sini biasa cara begitu, Pak. Cara GAM ya begitu itu, biar tak bisa ditangkap,” susul Pemilik Kedai.

Saya lantas mengangsurkan nama Tengku Zainal kepada mereka.

Pemilik kedai melirik aparat SGI agak ragu. Yang dilirik tengah sibuk membersihkan celananya dari serpihan abu rokok. Beberapa detik kemudian si SGI mendongak, “Zainal mana? Banyak nama itu disini.”

Ya, tentu saja. Nama Zainal pastilah pasaran di Aceh, seperti nama Muhammad, Husein, Yusuf, Idris atau Ismail. Kalau Muhammad Husein Yusuf Idris bin Ismail mungkin lebih gampang.

“Tengku Zainal korban Lijun di Manggamat,” sergah Syafri. SGI mengernyit.

“Oh, dia bukan orang Manggamat,” sanggah SGI. Kami tahu.

“Oh, Tengku Zainal itu? Dia orang sini, Pak, dari Bakongan,” timpal pemilik kedai. Kami dengar memang begitu.

Senja sebentar lagi mampir. Kami memutar mobil ke arah Tapak Tuan. Beberapa nama harus dijumpai sore sampai malam ini juga untuk mengkonfirmasi petunjuk-petunjuk sepanjang siang ini. Terutama mereka yang pada periode 1999 – 2001 tinggal di Manggamat. Sekarang mereka tersebar di Kota Fajar dan Tapak Tuan. Sangat mungkin ada di belahan lain di Aceh Selatan, tapi di dua tempat itu sajalah yang kami peroleh.

Nama Zainal yang disembunyikan ternyata petinggi GAM di wilayah Lhok Tapak Tuan (sebutan GAM untuk Aceh Selatan). Zainal asal Aceh Utara menetap di Desa Simpang, Bakongan, Aceh Selatan, tahun 1998. Misi kedatangannya, memperlebar wilayah kekuasaan GAM.

Kelihatannya, Zainal bekerja sangat cepat. Sebelum tahun 1998, GAM sepi penggemar di Aceh Selatan, setahun berikutnya ia terlibat konflik dengan Abrar Muda, pentolan GAM asal Jambo Dalem, Trumon. Abrar disebut-sebut ingin merebut kekuasaan Lhok Tapak Tuan dari tangan Zainal. Salah satu langkah yang dilakukan Abrar adalah menetapkan Manggamat sebagai ibukota Lhok Tapak Tuan.

Puncak konflik terjadi, ketika Abrar menangkap dan menghadirkan lawan politiknya itu ke sebuah mahkamah di Manggamat. Majelis Hakim bentukan Abrar lantas menetapkan hukuman penjara sampai “Aceh merdeka” bagi Zainal.

Salah satu isu yang ditiupkan Abrar adalah Zainal terlibat MP GAM (Majelis Perwakilan Gerakan Aceh Merdeka). Kelompok yang dianggap menyempal dari garis perjuangan itu berbasis di Malaysia. Sekjennya, Tengku Don Zulfahri tewas ditembak, awal bulan Juni 2000. Memperoleh cap MP berarti menjadi buruan oleh orang-orang GAM sendiri, seperti kusta G30S yang pernah diterakan ke orang-orang Indonesia oleh Pemerintah Soeharto dulu.

Keterangan ini sekaligus menjelaskan penyebutan istilah yang membingunkan saya sebelumnya. Beberapa penduduk di Manggamat yang saya jumpai ketika kelilang keliling bersama para saksi sesekali saya tanya sambil lalu.

“Bapak ada di sini waktu Lijun?”

Yang ditanya biasanya balik bertanya, “Lijun?” Kalau diterangkan bahwa yang saya maksud adalah peristiwa pembantaian yang terjadi tahun 2000, mereka langsung mafhum, “Oh, MP”.

Kunjungan kami berikutnya ketika cahaya bulan mulai berkuasa, ialah kontrakan sempit dimana perempuan beranak usia 10 bulan yang siang tadi kami beri tumpangan tinggal. Kala bercakap-cakap di mobil, siang tadi, si perempuan mengaku suaminya asal Manggamat. Belum genap dua tahun mereka pindah ke Tapak Tuan.

Kami berharap bisa mengakurkan beberapa keterangan kepada suaminya. Informasi tambahan tentang kehidupan sehari-hari warga Manggamat selama GAM berkuasa.

Meleset. Meski resminya baru keluar dari Manggamat dua tahun lalu, suami perempuan beranak usia 10 bulan itu nyaris tak pernah menetap di rumah untuk waktu yang lama.

“Medan lebih saya tahu daripada Manggamat, Bang,” ujar dia. Saya tak menyambung dengan pertanyaan tentang Medan. “Paman saya lebih tahu.”

Oh. Terima kasih.

Sang Paman yang saya dan Jaka kunjungi ternyata bukan saja lebih tahu tentang kehidupan Manggamat. Dialah, sebut saja namanya Mad, yang bersama-sama dengan 40-an orang lainnya yang berupaya membebaskan Zainal. Ia bersama 40-an orang lainnya terpaksa bersembunyi di hutan berminggu-minggu.

Ke rumah Mad, kami memutuskan untuk menumpang becak dan berjalan kaki. Mendatangi dengan mobil yang lengkap diembel-embeli tanda ‘Pers’ terlalu mengundang perhatian. Syafri dan Nazar kembali ke Losmen.

Mad, meski dipanggil paman, taklah lebih tua dari keponakannya. Usianya baru saja melewati angka 30. Tubuhnya terlampau kekar untuk ukuran tinggi sekitar 165 centimeter.

“Tengku Zainal dipenjara oleh Abrar dari tahun 1999. Kami bukan MP. Itu cuma cara Abrar menawan Zainal,” Mad mulai bertutur.

Sejak Zainal dipenjara di Supali, Malaka (tempat latihan GAM di Manggamat) beberapa pengikut setianya terus berupaya membebaskan. Segala cara, dari menawarkan bantuan sampai operasi kecil-kecilan. Gagal. Sampai suatu ketika, mereka mendapati bukti bahwa Abrar menipu warga Manggamat.

“Kami mendapatkan 15 senjata rakitan, padahal mestinya yang dibeli oleh Abrar adalah AK-47 seperti dia janjikan.”

Kepada para keuchik yang berada di bawah kekuasaan Lhok Tapak Tuan, Abrar meminta uang sejumlah Rp 25 juta per desa. Uang itu, katanya, untuk dana perjuangan membeli senjata dan amunisi. Ketika yang didapati adalah senjara rakitan, anak buah Zainal segera membeberkan kepada Keuchik Desa Koto. Beberan fakta itu berlanjut diam-diam ke desa-desa lainnya.

Jadilah sebuah “operasi pembebasan” Zainal dirancang.

Para keuchik Manggamat berinisiatif meminta keterangan kepada Abrar soal temuan itu. Rencana ini ditumpangi oleh anak buah Zainal untuk membuat semacam “unjuk rasa”. Seolah-olah mereka adalah warga Manggamat yang kurang senang dengan penipuan Abrar Muda.

Sayang, malam itu (5 Juni 2000), Abrar tak berada di tempat. Para keuchik hanya berjumpa dengan tangan kanan Abrar yang sekaligus pelatih kemiliteran GAM Lhok Tapak Tuan, Tengku Natsir, asal Kecamatan Sawang.

Mad dan 40 kawannya lantas menculik Natsir beserta 6 orang pentolan GAM lainnya. Penculikan dilakukan satu per satu dari pos dan rumah mereka masing-masing. Semua dilakukan berbarengan pukul 19.30 waktu Manggamat. Selain Natsir, orang-orang yang ditangkap adalah Sijun, Tengku Atta, Adi, Si Jon, Ganggam dan Tengku Malib.

Insiden terjadi ketika 10 orang mendatangi rumah Ganggam. Ibu Ganggam yang melihat anaknya diikat dan diseret segera berlari menuju ke pos GAM terdekat sambil berteriak, “Ada PAI, ada PAI.” PAI ini sebutan GAM untuk TNI, kepanjangan dari Pengkhianat Agama Islam. Di beberapa tempat di Aceh ada juga yang menyebut PAI untuk menyingkat istilah Pasukan Anjing Indonesia.

Natsir dan enam orang lain yang sudah diambil oleh anak buah Zainal berhasil dibebaskan. Pembalasan pasukan Abrar selanjutnya seperti yang digambarkan di “diorama spanduk” di Manggamat.

Zainal sendiri berhasil dibebaskan oleh Mad dan kawan-kawan, kendati harus menginap di hutan berminggu-minggu. Mad mengaku tak mengetahui nasib Zainal selanjutnya.

Ia hanya mengaku menyesal telah terseret ke kelompok perlawanan bersenjata itu. Rupanya, apa yang di mulut berbeda dengan apa yang dilakukan, kata Mad. Ia mulanya mengaku terharu dengan persahabatan Zainal – Abrar. Suatu ketika terjadi kontak tembak antara pasukan GAM dan TNI di Gunung Kapur. Abrar yang waktu itu terserang demam diikatkan pada punggung Zainal. Panglima Aceh Selatan itu sendiri yang menggendong Abrar untuk menyelamatkan diri dari gempuran TNI.

“Tapi, ketika memimpin, balasan Abrar begitu kejam. Tengku Zainal direndam berhari-hari di kolam tinja.”

***

NUR Syafri kami turunkan di Dermaga, nama yang lebih dikenal dari nama resminya, Pelabuhan Perintis Tapak Tuan. Jam menunjukkan angka 7.40 pagi, jalanan makin padat dengan puluhan ribu manusia. Hari ini, Kamis (3/7), Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan mengumpulkan nyaris seluruh warganya di Dermaga Tapak Tuan. Di lokasi reklamasi pantai seluas 3 hektar itu, bakal berlangsung acara ikrar kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Syafri turun untuk meliput acara itu, Nazar memindah persneling mengantar Saya dan Jaka ke Gunung Ketek, Samadua.

Kami mendengar Panglima GAM Wilayah Aceh Selatan, Abrar Muda, tengah berada di Gunung Ketek. Saya perlu mengkonfirmasi lebih pasti tentang cerita Manggamat, lantaran telepon satelitnya senantiasa terhubung dengan suara perempuan. “Nomor yang Anda hubungi berada di luar jangkauan layanan kami.” Untungnya, sebuah informasi memberitahu keberadaan Abrar.

“Besok siang. Masuk terus saja ke hutan. Nanti dijemput,” kata informasi itu.

Di kaki Gunung Ketek, dua hari sebelumnya (1/7), terjadi kontak senjata antara pasukan Marinir dengan pasukan GAM berkekuatan 15 orang. Seorang anggota Marinir dari Batalyon 3 bernama Prada Anton Pujo Harmoko, tewas. Dua prajurit marinir lainnya, Prada Ali dan Prada Doni, terluka tembak.

Di Lhokseumawe, Juru Bicara Koops TNI Letkol Achmad Yani Basuki, keesokan harinya (2/7) mengumumkan peristiwa naas tersebut. Menurut Yani Basuki, TNI juga berhasil menewaskan dua orang anggota GAM. Sayangnya, kedua anggota GAM itu tak membawa identitas sehingga tak bisa dikenali. Pasukan marinir juga, kata Yani, menyita 1 pucuk M-16, 4 magazen M-16, dan 30 butir peluru M-16.

Kami mengetahui keterangan Yani setelah berhubungan telepon dengan kawan wartawan di Lhokseumawe. M-16? Bukan AK-47? Ah, sudahlah.

Di depan Kantor Polisi Sektor Samadua, Nazar menghentikan mobil. Iring-iringan warga sipil yang menumpang aneka jenis mobil tertutup dan terbuka serta sepeda motor dan becak dari arah berlawanan, ia biarkan melintas. Di tiap kendaraan angkut paling sedikit berkibar satu bendera merah putih. Para penumpangnya mengenakan ikat kepala warna sama. Dari Kantor Polsek yang juga menjadi Posko Brimob BKO dari Lampung ini sedianya kami berbelok ke kanan. Ketimbang memotong iringan puluhan kendaraan warga, kami berhenti menikmati pemandangan gelombang manusia berikat kepala merah putih.

Sesekali kami melambaikan tangan memberi salam yang langsung berbalas teriakan, “pers-pers.” Semuanya tersenyum.

“Hidup Indonesia,” teriak saya. Sebagian merengut. Uups.

“Nggak meliput ikrar?” tanya seorang polisi yang berada di dekat kami. Empat teman polisinya yang lain sibuk mengatur lalu lintas kendaraan.

“Sudah ada kawan yang meliput, Dan,” jawab saya.

“Ini mau kemana?” tanya dia lagi. Seorang bintara berpangkat Sersan Kepala.

“Masuk ke Ketek,” Jaka giliran menyahut.

“Cari apa kesana?” kerning Serka itu mengernyit.

“Ya, taruna, apa lagi?” kata saya menirukan sandi polisi.

“Tapi, hati-hati ya. Kawan kita ada yang kena, kemarin.”

Sampai beberapa menit kemudian, sang Serka bercerita tentang peristiwa tembak menembak yang menewaskan Prada Anton Pujo Harmoko.

“Ok, hati-hati ya. Kalau ketemu apa-apa, kasih tahu kesini,” lambai Serka Polisi ketika iringan kendaraan warga telah habis.

“Siap,” saya menjawab.

Nazar membelokkan TAFT Ranger ke kanan. Jalanan mengecil. Kalau saja ada mobil berlawanan arah, salah satu harus berhenti dan menepi.

Deretan rumah-rumah nampak lengang. Hanya jemuran pakaian yang menandakan rumah-rumah itu masih berpenghuni. Penghuninya pasti sudah digebah ke Dermaga, pikir saya.

Beberapa meter kemudian, sawah belaka di sisi kiri-kanan jalan. Kami kini berada di mulut Kemukim Panton Luas. Jejeran rumah-rumah di depan kami juga lengang. Bedanya, tak ada jemuran pakaian atau tanda-tanda kehidupan lain. Sehari sebelum darurat militer diterapkan, Minggu (18/5), sebagian besar penduduk meninggalkan Mukim Panton Luas ketika terjadi kontak senjata antara pasukan gabungan TNI/Polri dan GAM. Lebih dari 20 rumah warga dibakar sesaat kontak senjata berhenti.

Saya tak mengetahui berapa persisnya jumlah desa di Kemukiman Panton Luas, Kecamatan Samadua ini. Saya hanya mencatat, rumah-rumah yang hangus terdapat di 4 desa. Masing-masing Desa Kuta Baru, Desa Teungoh Hulu, Desa Alur Seumirah dan Desa Gunung Ketek.

Seekor kucing sigap menyeberang di depan kami. Nazar melajukan mobil pelan-pelan, 20 – 25 km/jam. Tak ada suara keluar dari Nazar dan Jaka maupun saya yang duduk di kursi belakang. Mata kami melacak ke segala arah. Suara mesin TAFT serasa lebih keras dari biasanya.

Kurang dari seperempat jam, kami sampai di batas akhir mukim. Sebuah jalan yang lebih sempit berkelok di depan. Masih beraspal memang, tapi rutenya mengarah ke dalam hutan.

“Habis kita?” tanya Nazar. Saya menggeleng. Nazar meneruskan laju.

Sejauh 3 kilometer ini, tak ada seonggok pos aparat TNI atau Brimbo Polri dijumpai. Pos terakhir ya Markas Polsek di pinggir jalan raya tadi. Kenyataan ini menerbitkan kesimpulan, Panton Luas belum dikuasai benar oleh TNI/Polri.

Gunung Ketek bukan perawan. Jalan setapaknya masih bisa dilalui mobil dan kondisinya beraspal. Rute yang kami lalui sepertinya sempat dirancang menjadi rute wana wisata. Di beberapa dataran, ada satu dua bangunan semi permanen dari kayu yang nyaris rubuh. Mungkin dulunya dipakai sebagai kedai makan, seperti hutan-hutan wisata di Jawa. Saya bayangkan, hutan ini asyik untuk hiking sekeluarga. Meski menanjak, kondisi jalannya landai saja. Jogging pagi hari di tempat ini pasti dianjurkan oleh dokter.

Suara air makin mendekat. Sungai kecil berair deras dan penuh batu. Nazar menginjak pedal rem. Rute tak lagi bisa dilaju, kecuali berjalan kaki.

Saya dan Jaka turun. Saya ke belakang mobil untuk membenarkan letak dua bendera putih bertuliskan PERS. Lalu meminta Nazar menghidupkan tape dan mengeraskan volumenya. Entah belajar darimana, tapi kami pikir, pasukan bersenjata —GAM atau TNI— pastilah mengendap-endap kalau lewat kawasan ini. Jadi, kami memilih berisik. Siapapun yang berjumpa, GAM atau TNI, pastilah tak main serang sembarangan.

Saya dan Jaka lantas berjalan. Meninggalkan Nazar dengan lantun Endang S Taurina yang dia pinjam sewaktu kami berada di Kabupaten Bireun.

Jalan setapak basah masih diplester aspal. Kadang terpotong oleh rimbunan semak sampai tak kelihatan. Lumut kerap juga melicinkan sol sepatu kami yang tak cocok untuk di pegunungan. Cicit burung makin marak bertingkah meledek kera-kera yang berlompatan. Suara air telah akrab.

“Apa lagi yang dicari? Rasanya tak mungkin ada desa lagi di depan,” potong Jaka setelah 10 menit kami meninggalkan Nazar.

Kami berhenti. Memang bukan desa yang hendak kita cari. Tapi, saya memilih menjawab, “Anggap saja sedang hiking, bukan liputan. Ini bagus sekali suasananya.”

Saya mulai memikirkan kemungkinan si pemberi informasi di Tapak Tuan menipu.

Suara air, nyanyi burung dan teriakan monyet saja yang menemani sejam kami. Sampai kami pikir tak baik lama-lama meninggalkan Nazar di bawah, barulah kaki beringsut.

“Putar mobil, bang,” pinta saya ketika tiba di tempat Nazar menunggu.

Rupanya bukan permintaan yang gampang diluluskan. Lokasi mobil berhenti hanyalah setapak jalan dengan sedikit saja kemungkinan bergeser ke kiri. Geser ke kanan, bisa-bisa mobil meluncur ke bawah. Ke sungai kecil penuh batu besar berair deras.

Perlu waktu 5 menit lebih untuk Nazar memutar kendaraan. Meninggalkan gilasan ban sangat jelas di semak.

“Ketemu apa?” tanya Nazar menoleh ke belakang. Saya menggeleng.

“Kita mampir di rumah pertama yang ada orangnya ya, Bang,” pinta saya.

Itu berarti ke deretan rumah-rumah yang sewaktu kami lewati tadi hanya berisi jemuran pakaian. Ada baiknya saya mencari keterangan lebih jelas tentang kemana orang-orang Panton Luas pergi, setelah tak sukses mengkonfirmasi kisah Manggamat ke Abrar. Mungkin benar saya ditipu.

Rumah pertama itu jaraknya hanya seratusan meter dari jalan raya. Bentuknya menyerupai huruf L dengan pintu depan dan pintu sayap kiri menghadap ke pagar. Ada loteng di bagian kiri ini Halamannya tak terlalu luas. Cukupan saja untuk menjemur pakaian dan bulir-bulir padi. Dua perempuan anak beranak tampak berupaya membuka pintu sayap kiri. Sang anak mengenakan rok sekolah warna biru.

Beberapa tetangga kelihatan baru tiba dari tempat ikrar. Jaka yang turun lebih dulu langsung menyapa dalam bahasa Aceh Selatan.

Kedua perempuan anak beranak itu menggeleng-geleng. Entah apa yang dikatakan Jaka, raut dua perempuan berbeda usia itu saya saksikan seperti ketakutan. Mata mereka sesekali melacak ke luar pagar.

Saya bilang, “Saya wartawan dari Jakarta, Bu.” Lalu Jaka melanjutkan keterangan saya. Entah apa yang ia bilang, kami lantas dipersilahkan masuk.

Di dalam, dua gelas air putih disuguhkan. Hanya perempuan saja penghuni rumah ini. Dua perempuan turun dari loteng atas. Tiba lebih dulu, kira-kira seusia anak SMU. Seorang lagi kemungkinan masih SMP. Seperti anak yang membantu ibunya membuka pintu saat kami datang tadi.

“Bapak kemana, Bu?” tanya saya mula-mula.

“Tak ada. Kerja” Pendek saja ia menjawab. Dua perempuan yang tadi turun kembali menaiki tangga dan duduk di sana. Matanya mengawasi kami dan sesekali berdiri menembus jendela melacak ke luar.

“Penduduk Panton Luas mengungsi kemana, bu?” Saya tanyakan karena kamp pengungsian di Kecamatan Trumon bukan berasal dari Samadua.

“Tidak tahu,” jawab si ibu.

“Di Trumon?” masih juga saya tanyakan.

“Bukan. Mengungsi ke famili,” jawab dia.

Selanjutnya saya meminta Jaka mengalihbahasakan pertanyaan. Saya kira dia akan lebih mengalir berbicara dengan bahasa sehari-harinya.

Betul juga. Tiga pertanyaan selanjutnya, dia jawab tanpa sungkan. Tiap selesai menjawab, Jaka menerangkannya pada saya. Si ibu yang juga mengerti bahasa Indonesia mengangguk angguk.

Kurang dari sepuluh menit percakapan kami berlangsung. Belum lagi habis, tiba-tiba parkir dua truk dan satu kijang. Dua truk di depan diisi oleh aparat dari Kopasus, Brimob dan Marinir.

Beberapa anggota Kopassus langsung melompat turun dan masuk pekarangan. Empat perempuan yang ada di rumah itu kontan panik. Pintu depan rumahnya ditendang Kopassus. Saya dan Jaka Rasyid keluar. Nazar yang berada di mobil turun dan menatap bergantian ke rumah dan ke mobil aparat. Ketika tadi melihat dua truk dari arah berlawanan, ia sempat meminggirkan mobil. Dia pikir, truk-truk itu bakal terus masuk ke kawasan Ketek.

“Tahan, mas. Slow. kami cuma wartawan.” Nazar dan orang-orang Aceh yang saya jumpai kerap mengucapkan kata “slow” untuk menahan ketidaksabaran kawannya. “Slow-lah,” kira-kira begitu.

Saya sama sekali tak bercita-cita melarang aparat itu masuk ke rumah. Sepanjang hampir sebulan di Aceh, saya tahu persis perbuatan itu jauh dari berhasil. Sekarang, saya hanya berupaya agar ketakutan tuan rumah berkurang.

Tapi, seorang aparat Kopassus berteriak, “Di belakang ada laki-laki! Kejar!”

Mereka lantas mengelilingi rumah itu. Tiga orang masuk ke rumah melalui pintu depan, tiga lainnya masuk dari saya kiri. Empat orang terbang ke belakang rumah. Situasi dalam beberapa menit itu begitu kacau. Saya mendengar bunyi beling pecah. Tak jelas apa, barangkali gelas yang tadi disuguhkan untuk kami.

“Mas, saya minta ketemu Danki (Komandan Kompi-nya) kalau begitu,” kata saya. “Gak ada siapa-siapa di dalam kecuali perempuan. Saya wartawan, hanya wawancara.”

Tanpa nyana anggota Kopasus di dekat saya langsung menampar. Saya terkejut dan seperti hilang nafas sesaat. Sambil berusaha menguasai diri, saya bilang,”Anda barusan menampar wartawan.”

Temannya sambil menjejalkan kaki ke perut saya, berkata “Jangankan cuma nampar, nembak kamu pun bisa.” Yang lain sambil melayangkan tangan, melanjutkan dalam bahasa Betawi “Lu, gue tembak aja bisa, tahu!”

Dari belakang, sebuah tendangan mendarat di bagian tubuh saya yang lain. Saya segera menengok. Nama-nama mereka tertutup rompi anti peluru yang dikenakan. Suara bentakan saling susul menyusul, “Sok jago, sok kebal, Gue tembak sekarang!”

Kembali dari arah belakang seorang prajurit Kopassus mengayunkan popor senapan M16-nya. Saya hanya bisa beristighfar dan menyebut Asma Allah ketika popor itu mampir telak di tulang punggung. Satu tamparan menutup istighfar saya.

Sebuah tangan kekar menarik kemeja saya. “Masuk ke mobil,” pemilik tangan itu lantas memerintahkan kepada orang-orang lainnya. “Bawa ke Kodim.”

Tapi keputusan waktu itu bukan dia yang pegang. Pemimpin pasukan gabungan yang menggerebek rumah ini berasal dari SGI. Dia tadi duduk di Kijang yang dipenuhi aparat berpakaian sipil. Sang komandan itu bercelana jins biru ketat, berkaus lengan pendek warna hitam dan melapisi diri dengan rompi anti peluru, juga berwarna hitam. Belakangan saya ketahui, nama panggilannya Tio berpangkat Kapten.

Kapten Tio —tanpa dan tak mirip Pakusadewo— meminta kami mengosongkan mobil. Aparat yang lain dia perintah untuk memeriksa mobil. Saya perhatikan orang-orang itu kurang bekerja secara seksama. Kap mesin dibuka tapi hanya melihat-lihat dan sesekali memegang kabel. Lho, untuk apa membuka kap mesin kalau kalian tak melirik ke kotak yang mungkin bisa dijadikan tempat menyimpan. Ah.

“Kalian dari atas?” tanya Tio.

“Ya, (Koman)Dan. Makanya, tolong rumah si ibu itu jangan diacak-acak. Kami baru lima menitan di dalam.”

“Masok logistik ke atas? Cari gara-gara aja. Tahu gak, Kodim marah-marah minta kami nyari kalian?”

“Mencari kami?” saya betul-betul tak mengerti.

“Kamu sudah dua jam masuk ke kawasan ini tanpa ijin. Kodim menelpon menanyakan lokasi kalian.”

Saya diam. Barang-barang kami dikeluarkan dari mobil. Tas saya, botol-botol air mineral kemasan, rokok tiga bungkus, marantz (tape recorder). Saya dan Jaka didudukkan di pekarangan tetangga rumah yang tadi kami datangi. Di seberang rumah ibu dengan tiga anak perempuannya.

Mereka mengeluarkan semua isi tas saya dan Jaka. Pasukan Kopassus yang tadi memukul saya langsung diperintahkan berangkat masuk ke Panton Luas. Truk mereka bergerak.

Tio dan dua orang lainnya yang berpakaian sipil tapi bersenjata lengkap memeriksa catatan jurnalistik saya. Identitas kami diperiksa. Ditanyakan apa yang sudah tertera di kartu identitas. Telepon selular saya juga diperiksa kendati di kawasan ini tak ada sinyal untuk ponsel. Berikutnya, dua telepon satelit yang ada. Satu telepon mestinya dipegang kawan saya, Sri Lestari yang berada di Lhokseumawe. Tapi sewaktu bertemu di Bireun, kedua pesawat itu berada di mobil, sehingga ikut terbawa ketika berpisah.

“Wah, dia punya nomornya Abrar,” Tio berujar kepada anak buahnya. “Darimana kamu dapat nomor Abrar Muda?”

“Jakarta.”

“Siapa di Jakarta?”

“Kantor saya, nDan. Kami punya semua nomor narasumber, sampai Hamzah Haz (Wakil Presiden). Megawati aja yang kayaknya gak ada.” Saya mencoba menjawab hati-hati tapi pongah.

“Apakah kamu sudah menghubungi Abram?”

Saya jawab, “Sudah.”

“Nomor yang mana?”

Saya bilang, “Dua-duanya, nomor yang pertama tu-la-lit, nomor satunya di luar area terus.”

“Abrar pakai telpon satelit, khan?” tanya Tio. Saya mengangguk.

Ia lalu meminta saya membuka kunci telpon satelit dan mencoba menghubungi Abrar di dua nomor yang saya simpan di ponsel. Tak tersambung.

Seseorang berseragam polisi menghampiri. Perwira dari Polsek Samadua. “Alif, ini kawasan hitam, nggak ada yang boleh masuk dan bisa masuk kecuali GAM. Jadi kalau ada yang masuk ke kawasan hitam, berarti GAM.”

“Tapi saya wartawan. Bukan GAM, nDan.”

Tio menyambung, “Kamu bisa dituduh mata-mata. Kamu masuk ke kawasan mereka hampir 2 jam. Bisa kami bilang kamu memasok logistik untuk GAM.”

Wawancara terus berlangsung sambil mereka menggeledah dan mendengarkan tiga kaset yang saya bawa. Dua kosong, satu terisi. Saya katakan kepada mereka bahwa dua kaset belum dipakai, tapi tetap mereka setel. Saya lega, kali ini mereka bekerja dengan baik, tak percaya keterangan yang saya berikan.

“Kamu kenal GAM?”

“Sama seperti orang Indonesia lain, hanya tahu saja. Tak kenal, nDan.”

Mereka melanjutkan mendengarkan tape saya.

“Ini suara apa?” Ada gemuruh dan kecipak.

“Air sungai.”

“Gak masuk akal kamu ini. Ngapain suara air kamu rekam?”

Saya pasti tak punya penjelasan memuaskan untuk dia. Agak sulit untuk menerangkan kepada mereka bahwa rata-rata jurnalis radio membutuhkan suara-suara selain suara manusia untuk mendukung suasana laporan mereka. Saya tak berpikir apa-apa ketika merekam bunyi aliran air. Bersiap saja kalau saya berniat membuat laporan tentang Aceh Selatan. Sori Siregar, salah seorang editor feature KBR 68H, melarang kami menggunakan suara suasana pendukung laporan dari tempat lain. “Suara ombak Pantai Banda Neira untuk laporan tokoh Indonesia yang dihukum buang oleh Pemerintah Belanda tak bisa berasal dari suara ombak di Muara Karang, Jakarta Utara atau Pantai Ancol,” kata Sori Siregar suatu ketika.

Tapi saya yakin, penjelasan itu tak memuaskan Tio dan kawan-kawan. Salah-salah mereka bertanya tentang Sori Siregar pula. Meskipun Tio dan kawan-kawannya bisa saja mengenal Sori dari cerita-cerita pendek yang dikirim Sori ke beberapa koran nasional. Buku kumpulannya bahkan sudah terbit.

“Saya memegang tape rekaman, nDan. Tapi saya tak berjumpa satu manusia pun. Hanya suara air, ya saya rekam saja dia,” jawab saya akhirnya.

Tio kelihatannya puas. Saya meminta ijin untuk mengisap rokok.

“Tadi kamu sampai mana? Masjid?”

“Lewat lagi,” jawab saya.

“Sudah gak ada rumah setelah masjid besar itu,” kata Tio.

Saya tak mau berbohong tentang titik akhir perjalanan kami tadi. Percuma, toh mereka bisa mengeceknya, pikir saya.

“Masih ada beberapa, baru hutan. Kami terus masuk sampai dua-tiga kilo ke dalam.”

Kami lalu diminta menunjukan tempat dimana tadi perjalanan berakhir. Truk berisi marinir dan brimob berjalan mendahului. Lalu mobil kami yang sudah bertambah penumpang, anggota Brimob mengapit saya yang duduk di bagian tengah, Jaka di samping Nazar. Masih ada dua anggota Brimob di kursi paling belakang. Kendaraan Kijang Tio mengikuti rapat.

Di jembatan di desa terakhir, truk berhenti. Semua aparat berpencar, mata mereka melacak ke segala arah. Saya lebih kuatir sekarang. Jaka menegang. Nazar diam tak bergerak di balik setir. Kami sama-sama berpikir, kalau sekarang tiba-tiba GAM menyerang, yang ditembaki bukan cuma pasukan TNI/Polri bersenjata. Kami bertiga bisa jadi sasaran karena bersama dengan TNI/Polri.

Rupanya di jembatan inilah Prada Anton Pujo Harmoko tewas.

Tio berseru memanggil. “Ini kalau elu mau liput, Lif.” Kami diperlihatkan pada sebuah Meunasah yang berlubang kena hantam peluru. “Coba lu lihat, rumah Tuhan mereka tembakin.”

Saya memperhatikan apa yang Tio tunjuk. Banyak lubang dari arah dalam desa di tembok Mesjid. Pasukan TNI kala itu berada di seberang sungai, adu tembak dengan GAM yang berada di balik meunasah.

“Ada juga peluru dari arah berlawanan, nDan. TNI juga ikutan menembaki meunasah, kelihatannya,” saya mengikuti saran Tio. Meliput.

“Terpaksa. Pilihannya cuma dua, Lif. Elu mati gara-gara ditembak orang yang berlindung di rumah Tuhan atau elu balas menyerang.”

Saya bisa mengerti itu, saya bisa terima alasan itu. Dialog selanjutnya mulai cair. Tio lantas memutuskan untuk mencukupkan perjalanan napak tilas ini.

“Sampai mana elu sebetulnya?” Saya bilang, ini masih jauh. Kita akan ketemu mesjid satu lagi yang tak lebih besar. Itu baru batas desa, lalu hutan. Nah, kami masih 2-3 km ke dalam.

“Gini, Lif. Gue masa bodoh elu mau kemana. Tapi tadi gue dikontak Kodim. Katanya elu masuk tanpa ijin Kodim. Makanya kami semua ini datang. Sekarang kita semua lagi pusing gara-gara ada wartawan ditangkap GAM (maksud Tio, rekan dari RCTI Ersa Siregar yang ditawan GAM pimpinan Ishak Dawood). Sekarang kita ke Kodim.”

Maka kami ke Kodim.

Diterima oleh petugas piket yang sebagian telah mengenal Saya dan Jaka karena kemarin kami dari tempat ini.

“Kenapa?” tanya piket Kodim kepada Tio.

“Urus anak-anak ini. Mereka masuk gak lapor,” kata Tio.

Piket mengangguk. Saya agak bertanya dalam bathin sekaligus lega. Kodim tak tahu menahu peristiwa penangkapan ini rupanya. Lantas siapa yang sesungguhnya melaporkan seperti ujaran Tio ketika menangkap kami di Panton Luas tadi?

Sekaligus saya sedikit lega, karena nampaknya suasana di Kodim tak terlalu menyulitkan.

Petugas piket membolak-balik buku besar di hadapannya. “Kayaknya mereka melapor.” Ia terus membolak-balik lembaran kertas. Saya membantunya menunjukkan tulisan berisi tiga nama di situ. Saya, Jaka Rasyid dan Nur Syafri. Nazar kemarin tak sempat mendaftar, menunggu saja di mobil.

Petugas piket mengangguk. “Ya, nama mereka ada.”

“Urus saja,” tukas Tio. “Sudah ya.” Dia lantas meloyor pergi.

Kasdim 0107 Ahmad Yani tak lama datang. Pembawaannya tenang dengan perawakan yang agak kecil. Potongan seorang bapak yang sangat sayang dan pengertian terhadap anaknya. Kepada kami, Ahmad Yani menanyakan surat jalan.

Saya mengangsurkan kartu hijau yang diterbitkan oleh Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) di Kodam Iskandar Muda, Banda Aceh.

“Surat jalan?” tanyanya lagi, tenang.

“Hanya kartu peliputan ini saja, Pak.”

Aturan dari PDMD memang begitu. Redaksi media massa mengirim surat permohonan peliputan, lantas kartu peliputan dikeluarkan oleh PDMD. Komando Operasi di Lhokseumawe juga menerbitkan aturan serupa. Bila kartu dari Banda Aceh ditandatangani oleh Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) Kolonel Laut Ditya Soedarsono, kartu Lhokseumawe ditandatangani oleh juru bicara Komando Operasi Letkol Ahmad Yani Basuki.

Kasdim mengajak saya masuk dalam ruangannya. Di sana sudah ada Kapolsek Sawang dan Danramil Sawang, mereka punya urusan yang berbeda. Jaka Rasyid dan Nazar dibiarkan di ruangan piket. Di dalam kami lebih banyak bicara tentang kegiatan masing-masing. Kasdim bercerita soal berbagai operasi yang sudah dilakuakn.

Ia lalu menjamu saya dan dua otorita keamanan Sawang makan siang. Kami berjalan ke rumah dinas Kasdim yang bersebelahan dengan rumah dinas Dandim. Letaknya di belakang Markas Kodim 0107 ini. Pemandangannya sungguh asyik. Karena di belakang bangunan rumah dinas adalah jejeran perbukitan. Bisa dibilang, lokasi Markas Kodim berupa lembah. Pemandangan yang asyik. Tapi kalau situasi aman. Situasi perang seperti sekarang, tentu lokasi rumah dinas ini bisa menjadi sasaran empuk roket GLM (Grenade Launching Machine) milik GAM.

“Jaka dan Nazar belum makan juga, Pak. Saya ke mereka dulu biar mereka cari makan di luar?” Sembari berjalan mengikuti Kasdim saya menyela.

“Biar nanti ada yang urus.”

Kami masih terus bercakap tentang berbagai tema sekembali ke ruangan kerja Kasdim. Sejauh pembicaraan saya juga sadar, Ahmad Yani tentu tengah mencari tahu tentang jati diri saya dan segala kemungkinan kaitan saya dengan musuh mereka. Maka saya memilih bersikap wajar dan menjauhi kemungkinan memberi keterangan bohong.

Sempat pula saya meng-interview Ahmad Yani tentang berita pembebasan warga Brebes, Jawa Tengah yang diculik oleh GAM Wilayah Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Mochamad Warja (41), adalah karyawan sebuah perusahaan air mineral dari Semarang yang ditugaskan ke Blang Pidie bersama 3 rekannya, 19/4. Tapi, atasan Warja, kemudian melaporkan, kehilangan kontak dengan Warja dan Paryono (35) sejak 25/4.

Berita tentang pembebasan Mochamad Warja saya laporkan dengan meminjam telepon di ruangan Kasdim.

“Pakai telepon saya saja,” kata Ahmad Yani ketika saya meminta pamit untuk melaporkan. Sebetulnya, niat saya paling utama adalah segera keluar dari ruangan ini.

Redaktur di Jakarta saat itu belum mengetahui peristiwa yang menimpa anak buahnya.

Akhirnya, sore itu kami boleh pulang ke Losmen.

“Tapi, nanti malam dua kawanmu itu antar ke sini, ya?” pinta Kasdim.

“Mau di-BAP?” tanya saya.

Kasdim Ahmad Yani menggeleng. Ditanya-tanya saja, katanya. Sambil senyum simpul dia mengingatkan Nazar itu berasal dari Aceh Utara.

Saya yakin Kasdim hanya menggoda. Setelah melihat KTP Nazar, Kasdim memang kerap mengutarakan GAM di Aceh Selatan berkembang setelah orang-orang dari Aceh Utara menyusup masuk. Katanya, ada yang semula berdagang, ada pula yang menjadi guru mengaji. Saya maklum, Tengku Zainal sahabat sekaligus seteru Abrar Muda juga berasal dari Aceh Utara.

***

“Dimana kesalahan anak buah saya?” Geerhan Lantara menatap saya tajam.

Saya tak kuat beradu pandang dengan dia. Saya membayangkan Napoleon Bonaparte dalam pose yang sama, kecuali Danrem di depan saya ini tak berpantalon putih.

Saya membayangkan betapa beraninya anak-anak muda pejuang kemerdekaan Timor Leste yang menikam Geerhan hingga terkapar di jalan, 12 Nopember 1991. Waktu itu, Mayor Geerhan menjabat sebagai Wakil Komandan Batalyon Lintas Udara/Linud 700 (bataliyon pemukul milik KodamVII/Wirabuana). Menyamar sebagai warga sipil, Geerhan mencoba menenangkan massa yang berunjuk rasa di pemakaman Santa Cruz, Dili. Namun, beberapa pemuda yang mengenali Geerhan, lantas menyerang dengan pisau.

Media massa sempat mencatat, sesudah peristiwa berdarah 12 Nopember 1991 di pemakaman Santa Cruz, Geerhan ikut diperiksa Dewan Kehormatan Militer (DKM) yang dibentuk Mabes TNI. Beberapa atasan Mayor Geerhan, seperti Kolonel Inf Gatot Purwanto (Asintel Pangkolakops), Kolonel Inf Dolfie Rondonuwu (Asops Pangkolakops), Kolonel Inf Binsar Aroean (Komandan Sektor C), Kolonel Inf Johanes Pasaka Sepang (Danrem 164/Wira Dharma), serta Mayjen TNI Sintong Panjaitan dan Brigjen TNI Rudolp Samuel Warouw dipecat. Tapi, Geerhan malah melejit menjadi Komandan Detasemen Intel Kostrad yang bermarkas di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

“Mereka memukul wartawan,” jawab saya.

“Pasti ada alasan. Dan saya kira pasti sudah diselesaikan.”

“Ada upaya semacam itu memang dari Kasdim, Pak Ahmad Yani.”

“Kalau begitu, berarti sudah selesai. Kamu bilang sudah diselesaikan Yani, khan? Kamu gak fair. Begini ya, Dik. Kalau kami, Tentara, selesai ya selesai. Tak ada urusan tiba-tiba beritanya muncul di televisi.”

Geerhan menunjukkan barisan berita teks yang muncul di layar Metro TV. Di situ memang tertulis, “Kantor Berita Radio 68H memprotes Pangkoops TNI di Aceh akibat pemukulan aparat TNI terhadap wartawan Alif Imam Nurlambang di Panton Luas, Aceh Selatan.” Seorang wartawatinya tengah berada bersama kami di ruangan media center Korem 012/Teuku Umar sekarang. Juru kamera tengah berada bersama Nur Syafri dan Jubir Korem Bhakti Zamaluddin Ahmad di luar ruangan.

Saya mencoba tak mengubah posisi duduk sedari tadi. Kaki menyilang rapat, lengan kanan bertumpu di senderan kursi, jemari kiri saya merapat ke jemari kanan.

“Ada proses yang tak bisa dihentikan begitu saja, nDan. Kalau pun misalnya saya menerima, masih ada pihak yang tak bisa menerima. Kantor saya yang tak rela anak buahnya dipukul. Dan tak ketinggalan, keluarga saya.”

“Kalau begitu belum selesai.” Geerhan lantas memanggil Bhakti yang tengah berada di luar bersama Nur Syafri dan juru kamera Metro TV.

“Coba telpon Jamhur,” pinta Geerhan. Bhakti lantas menekan nomor Dandim 0107 Aceh Selatan Jamhur Ismail.

Suara Geerhan lantas bergetar sampai ke telinga saya. Jaka menatap lurus ke arah belasan layar televisi.

“Begini saja, sekarang biarkan saja wartawan itu mau apa. Kalau mereka mau masuk, kasih saja. Nanti kalau kita operasi dan mereka kena sasaran, ya biarkan. Kamu jangan takut. Saya nanti yang tanggung jawab,” sebagian suara Geerhan ke Dandim Aceh Selatan.

Selekas Geerhan menutup telepon, saya lantas bangkit dari kursi. Jaka saya jawel untuk bangkit. “(Koman)Dan, suasana kelihatannya gak nyaman. Kami pamit kembali ke hotel.”

Geerhan mengangguk. Ia lantas berpaling ke wartawati Metro TV yang ada di ruangan, “kita pulang sekarang?” Saya mendahului keluar ruangan, bercakap sebentar dengan Jubir Korem. Lantas kembali ke Meuligo, hotel tempat kami menginap.

Di mobil saya mengusap pipi kiri. Hari Jumat sudah lewat, malam tengah menjemput Sabtu. Kamis siang kemarin, pipi kiri ini menerima tamparan dari sedikitnya 5 aparat Kopassus. Salah seorang belakangan saya ketahui — seperti disebut Jubir Komando Operasi TNI di Lhokseumawe Ahmad Yani Basuki— ialah Komandan Peleton Parako 11 Letnan I Infanteri Ali Achwan.

Sudah hilang rasa sakit di pipi kiri ini. Yang belum hilang adalah usapan tangan Ali Achwan, Kamis malam. Ketika kami berjumpa di Dermaga, saat KNPI Aceh Selatan menggelar dangdutan sebagai lanjutan dari paket acara ikrar kesetiaan terhadap NKRI.

Saya hanya berteman nyamuk dan beberapa petugas piket Kodim saja ketika menunggui Jaka Rasyid, Nazaruddin dan Nur Syafri diperiksa oleh tiga intel Kodim di sebuah ruangan. Nur Syafri semula saya ajak serta untuk menemani, karena saya yakin pemeriksaan bakal berlangsung cukup lama. Tapi, seorang intel mengajak saya menepi dan memberitahu bahwa Nur Syafri juga akan diperiksa.

“Tapi dia sama sekali gak ikut ke Panton Luas, lho.” Saya mencoba mencegah.

“Cuma diperiksa saja. Biar bagaimana dia rombongan kamu dari Banda Aceh, khan?” Saya manut. Tak ada gunanya untuk ngotot. Apalagi suasana sekarang sudah mulai agak enakan sekarang.

Beberapa anggota Kodim dan juga prajurit TNI BKO lalu mengajak saya ke Dermaga. Cari hiburan.

Di dermaga:

“Masih ingat?” sebuah tangan menyentuh bahu saya. Saya menoleh. Ali Achwan.

Saya jawab, “Masih. Tangan Komandan siang tadi mampir di pipi kiri saya. Bagaimana lupa?”

Tangannya lalu menyentuh pipi saya. Mengusap pelan. “Masih sakit?”

“Masih.”

“Mau tambah?” guyon dia. Tak lucu sebetulnya. Tangan saya lalu memegang pipi kiri yang tadi disentuh Achwan.

Sampai Jaka, Nazar dan Syafri datang diantar motor oleh intel Kodim ke Dermaga, saya masih memegangi pipi kiri ini.

Mobil yang dikendarai Jaka masuk ke halaman Hotel Meuligo, Meulaboh, Aceh Barat. Nazar keluar dari kamar. Dia belum tidur rupanya.

Sewaktu pergi ke Media Center Korem Teuku Umar, Nazar memang tak turut serta. Biar dia istirahat setelah menyupir sepanjang siang hingga petang dari Tapak Tuan ke Meulaboh.

“Tak ada apa-apa?” Saya menggeleng.

Sewaktu Jubir Korem Bhakti Zamaluddin Ahmad menghubungi ponsel saya, pukul 23 malam, dia mengaku cemas. Meski di telepon Bhakti mengundang secara wajar.

“Hallo, Pak Alif. Saya melihat mobil Anda tadi sore di pantai. Saya bersama-sama dengan wartawan juga tadi sore di pantai. Sama Lola juga.” Maksudnya Lola wartawan Radio Dalka FM Meulaboh yang menjadi jaringan KBR 68H.

“Ya, Pak Bhakti. Kami mampir untuk bermalam. Besok pagi, mau langsung ke Banda Aceh.”

Dari seberang, Bhakti menyambung, “Mampir dulu malam ini ke Korem. Ini ada wartawan juga. Ada berita bagus.”

Kekuatiran Nazar terbukti. Kami hanya akan dihadapkan kepada Danrem Geerhan Lantara.

Kami memutuskan langsung masuk kamar masing-masing tanpa bicara banyak. Saya dan Syafri langsung rebah. Jaka dan Nazar di kamar sebelah.

Belum setengah jam, pintu diketuk. Bhakti menyembul dari balik pintu. Di belakang dia dua staf media center berseragam, salah satunya adalah putra Menko bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harymurti Yudhoyono.

Jantung saya dan Syafri kontan seperti berhenti.

Bhakti meminta maaf mengganggu malam-malam dan menanyakan tentang identitas kami. Saya keluarkan semua identitas, dari Kantor di Jakarta dan dari PDMD.

“Saya bisa melihat surat ijin liputan dari PDMD?” tanya Bhakti.

“Kartu hijau ini, Pak,” jawab saya.

“Surat lain?”

“PDMD hanya menerbitkan kartu hijau ini.”

Saya menegang.

Bhakti bermaksud meminjam kartu saya dan Syafri. Lantas Agus Harymurti memotret kami satu per satu dan berbarengan.

Selanjutnya, mereka bergerak ke kamar sebelah. Beberapa menit kemudian Jaka dan Nazar datang ke kamar saya dan Syafri. Rupanya identitas mereka pun “dipinjam”. Saya dan Syafri hanya diambil kartu peliputan. Tapi, Jaka dan Nazar, KTP. Mereka berdua merupakan penduduk Aceh yang bakal mengalami kesulitan jika tak memiliki KTP. Kekuatiran itu muncul ketika kami berpikir untuk kabur saja malam ini. Ketimbang besok menghadapi situasi yang tak bisa kami tebak.

Ini malam kami kira lebih menegangkan dari peristiwa di Panton Luas atau di kantor Korem tadi.

Nazar dan Jaka kembali ke kamar mereka. Saya dan Syafri kembali merebah. Saya menyentuh pipi kiri sekali lagi. Sudah hilang sakit.

Malam itu, sembari sibuk berkoordinasi dengan Kantor dan keluarga di Jakarta lewat sms, saya memikirkan rencana setiba di Jakarta. Keluarga marah besar terhadap peristiwa ini. Saya maklum. Tuntutan mungkin harus dilakukan.

Tapi, tiba-tiba saya teringat ibu dengan empat anak perempuannya di Panton Luas. Peristiwa kekerasan itu terjadi di halaman rumahnya. Apa bakal terjadi kalau saya mengajukan tuntutan? Mereka terang menjadi saksi. Tapi, siapa bisa jamin keselamatan keluarga itu?

Malam mulai meminggir kepada pagi. Syafri belum juga menutup mata. Saya menyentuh pipi kiri sekali lagi. Teringat kembali Ali Achwan, “masih sakit?”

Sudah pindah. Ke hati.

|||

5 thoughts on “Tak Datang ‘Tuk Dipukuli

  1. Pingback: beli cctv
  2. Pingback: Gaptek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s