Di Sinetron, Megawati Kalah Penting

Mau remake, ngeblad atau njiplak bukan juri festival menentukan. Tetapi penonton yang identitasnya telah diubah menjadi: rating.

Trio Televisi-Sinetron-Rating: jangan pernah berpikir memisahkan kami. Sebab, stasiun televisi Indonesia bakal mati tanpa sinetron dan jenis sinetron macam apa yang disukai penonton ditentukan oleh rating dan semata-mata rating.

“Dalam rantai produksi sampai penayangan, tiga-tiganya punya korelasi,” ujar Budi Dharmawan, Kepala Humas SCTV. Rating tinggi berarti disukai penonton dan itu mendatangkan banyak iklan dus uang. Rating rendah ya sebaliknya. Harus puas dengan cuilan kue iklan seadanya.

Toh, sejauh menilik raupan iklan, bisnis sinetron sesungguhnya lebih dari sekedar menjanjikan. Buktinya, ia dipercaya mengisi jam tayang utama (prime time) televisi. Coba saja hitung. Dalam sehari ada tiga jam prime time, sejak teng 18 sampai 21. Biasanya ada 24 spot iklan atau sepanjang 12 menit dalam satu jam tayang. Sedang tarif per spot iklan (30 detik) prime time dengan tayangan sinetron bisa mencapai Rp 20 juta. Tiga jam kali dua puluh empat spot kali dua puluh juta rupiah, sama dengan satu koma empat puluh empat miliar rupiah.

Tarif iklan selepas pukul 21.00 bukan berarti langsung menurun drastis. Kalau mau bertahan menayangkan sinetron, tarif per spot-nya masih berkisar di angka 10 – 15 jutaan. Apalagi kalau stasiun televisi main colong-colongan spot. Artinya, dari 12 menit untuk iklan masih suka ditambah menjadi 14 menit.

Maka, tak heran stasiun-stasiun dan rumah produksi berlomba-lomba melahirkan sinetron. Jelajah saja dari satu stasiun televisi ke stasiun televisi lainnya pada jam-jam utama. Cuma stasiun televisi berita yang “kebetulan” tak menayangkan sinetron. Stasiun lainnya, Anda boleh bingung menentukan mana mau ditonton atau malah tak kuat menahan geram (asal jangan membanting pesawat televisi saja).

Ambil misal hari Selasa, 1 Oktober silam. RCTI memulai dengan LUV, dilanjutkan Tuyul dan Mbak Yul, lalu Gadis Penakluk dan ditutup Mega Sinetron: Adillah. Pindahkan tuning ke SCTV. Pada jam yang sama, Anda bisa melototi Melodi Cinta 2, lalu Kejar Daku Kau Kutangkap versi layar gelas yang dibintangi remaja paling sibuk se-Indonesia, Agnes Monica. SCTV menutup rentetan tayangan sinetron hari Selasa dengan FTV: Gold. Seolah tak puas hanya memutar serial Ada Cinta di Sekolah dan Romantic Garden menjelang acara Liputan 6 mereka.

Indosiar tak kalah garang. Sejak magrib, hari Selasa 1 Oktober juga, stasiun yang sewaktu lahir bekerja sama dengan TVB Hongkong ini berturut-turut menggelar Cinta Terlarang (ditayangkan saban hari sejak Senin – Kamis), Karmapala dan Kehormatan.

Penonton yang ‘mengimani’ slogan I don’t like Monday, boleh berterima kasih pada Indosiar atau malah makin sebal. Lantaran, sejak dentang jam 18.00 stasiun ini menancap sinetron hingga jam 22.30 waktu Jakarta. Cinta Terlarang jadi pembuka rangkaian, disusul Dendam Nyi Pelet, sejam kemudian. Unggulan Indosiar di Senin malam ini adalah Love in Bombay, produksi Rapi Films yang diangkat dari novel Mira W “Semburat Lembayung di Bombay”. Sebagai penutup, ada Badut Pasti Berlalu yang melibatkan Denada, Butet Kartaradjasa dan Teater Gandrik, Yogyakarta.

Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) yang sekarang memaklumkan diri menjadi televisi keluarga, agak berbeda. Selepas menayangkan Kemelut Cinta, jam 18.00, TPI seperti “tahu diri” untuk menyingkir dari ajang rebutan penonton lewat sinetron. Tetapi sama dengan stasiun lainnya, setiap hari sinetron mestilah ada.

Barangkali, lantaran capek melihat seliweran tayangan sinema elektronik dengan puluhan judul tiap minggunya, membikin banyak orang mulai lontar melontar kritik. Tak terkecuali, Presiden Megawati Soekarnoputri. Saat menerima delegasi Pengurus Persatuan Artis Sinetron Indonesia (PARSI), awal Januari silam, Presiden menyampaikan keluhan.

Katanya, “sinetron Indonesia kurang mengangkat akar budaya tradisional dan terlalu banyak menjual mimpi.” Beda sekali dengan film-film India atau China.

Suara senada Megawati pernah muncul pula di surat-surat pembaca media massa, termasuk beberapa artikelnya. Termasuk dari pekerja sinetron sendiri.

Boss Persari Film, Harry Capri, misalnya. Ia mengakui, “Terlalu banyak tayangan sinetron kita yang karakter tokohnya sama sekali tak masuk akal. Ada orang muda berusia 25 tahun yang begitu suksesnya. Jabatan direktur, tinggal di rumah besar, lengkap dengan mobil mewah dan kolam renang, kemana-mana naik pesawat terbang, dan makan siang di restoran mahal.”

“Mungkin memang ada satu dua anak muda seperti itu di dunia nyata. Entah beroleh warisan dari orang tua atau darimana. Tapi di sinetron, hampir semua tokoh utamanya begitu. Kalau dia berada ya sangat kaya, kalau tak punya ya miskin sekalian,” lanjut suami Camelia Malik ini di ruang kerjanya.

Aktris Henidar Amroe menutur, dalam banyak hal sinetron Indonesia monoton. Dari segi cerita, tokoh, akting, bahkan sampai lighting. Soal karakter juga sama. Tokoh protagonis senantiasa putih bersih tak tercela, sebaliknya pemeran antagonis pastilah bengis dan tak punya sisi manusiawi sama sekali.

Karakter tokoh sederhana (hitam-putih), tampilan glamour, bintang cakep dan konflik mendayu-dayu. Ini dia 4 bahan utama tayangan drama televisi Indonesia yang dalam istilah Megawati, “terlalu menjual mimpi.”

“Lho, apa orang nggak boleh bermimpi? Saya kira setiap orang pasti punya mimpi,” sergah Anjasmara, aktor yang kian berkibar setelah memerankan tokoh Cecep dalam sinetron Wow, Cantiknya! bersama Tamara Blezinsky.

Dihubungi di sela-sela syuting Doa dan Anugerah yang kini tengah ditayangkan Indosiar, Anjasmara malah balas menimpali. “Presiden sendiri sukanya nonton film India, kok.”

Maksud Anjas, suka tidaknya orang terhadap tontonan sepenuhnya soal selera. Boleh saja orang mengkritik produk tertentu, sinetron atau bahkan odol sekalipun, karena berlawanan dengan seleranya. Tetapi tak boleh juga dipungkiri, kalau buat sebagian besar orang lainnya, produk sinetron atau odol itu juga laku.

Selera dan Cerita

Jujur saja, di sinetron (dan barangkali di banyak tempat) Megawati bukan orang penting. Apalagi kalau kritik dia tak dibarengi dengan perubahan kebijakan untuk film dan televisi, misalnya.

Sebab, “Untuk bikin cerita yang memenuhi permintaan agar mengangkat budaya itu butuh riset. Orang kayak Slamet Rahardjo itu kalau bikin apa-apa risetnya kuat. Nah, pertanyaannya siapa yang biayai?” tantang Harry Capri.

Bukan apa-apa, selain cost untuk riset mahal, juga memakan waktu lama. Sementara Broadcast belum tentu tertarik dengan yang ditawarkan.

“Bagaimanapun ini bisnis. Dagang. Pembuat sinetron bukan cuma berurusan dengan diri sendiri. Ada selera penonton yang harus dipenuhi, ada biaya yang harus dikeluarkan.”

Harry buru-buru menimpali, Persari yang dia urus bersama sang Istri, Camelia Malik, mencoba berdamai antara tuntutan penonton dengan niatan menyuguhkan cerita yang wajar dan berbasis realita. Unsur budaya dicoba dimasukkan lebih serius, bukan cuma gaya bicara tokoh-tokohnya. Sebutlah, Camelia yang memasukkan budaya Minang dan Betawi pada Melodi Cinta. Selain itu Bengkel Bang Jun, juga disebut Harry sebagai sinetron yang tak berisi mimpi kemewahan belaka.

Tetapi, tayangan semacam Bengkel Bang Jun, atau Bukan Perempuan Biasa dan Tiga Perempuan (dua judul terakhir ini selalu disebutkan Raam Punjabi saban menerima kritik yang menyebut Multivision Plus spesialis sinetron ringan dan gampangan), masih bersifat selingan. Keberhasilan Tersanjung (hingga bagian keenam dengan tokoh Indah yang belum berhenti menangis), Dewi Fortuna, Bella Vista, Saat Memberi Saat Menerima, Untukmu Segalanya menambah menambah yakin produser minat penonton belum bergeser.

“Sinetron yang disukai orang kalau memiliki empat unsur, yaitu percintaan, penderitaan, balas dendam dan unsur musikal,” papar Raam Punjabi suatu kali kepada Forum Keadilan.

Soal selera penonton yang diajukan Anjasmara dan rumus a la Raam, ukurannya juga rating. Rating ini dikeluarkan oleh SRI–AC Nielsen dari hasil survei yang dilakukan di lima wilayah, Jabotabek, Bandung, Semarang, Gerbangkertasusila (Surabaya dan sekitarnya), serta Medan dengan metode stratified random dan dikontrol berdasarkan kelas sosial ekonomi.

Sedang sistem yang dipakai adalah peoplemeter. Pertanyaan diajukan lewat surat elektronik di mana alat ini dipasang di dalam televisi responden terpilih. Secara otomatis alat yang dipasang di televisi tersebut akan mengumpulkan setiap acara yang ditonton di setiap rumah tangga dalam hitungan menit. Sistem ini diyakini lebih akurat 15 kali dan mengulangi human error dibanding sistem Diary sebelumnya, yang datanya dicatat dalam suatu questionnaire (diary) yang dibagi setiap 15 menit.

“Persoalannya berapa banyak responden yang dilibatkan dan berapa lama gonta-ganti?” Harry berterus terang.

Sebab, kalau responden yang itu-itu juga untuk waktu yang lama tentu bisa diragukan. Macam apapun yang disodorkan selera mereka sulit berubah.

Satu Jam Saja

Bagi orang iklan sendiri, rating dianggap sebagai salah satu indikator saja. Karena mereka lebih mendasarkan pada segmentasi. Sedang apa dan dimana sasaran produk yang mereka iklankan, lebih menjadi pertimbangan utama.

Apalagi, seperti ditutur Director Ad Salute Paul Bernadhie, biro-biro iklan sebetulnya sudah bisa membaca mana yang tengah menjadi pembicaraan masyarakat. Dan, biasanya, itulah yang lebih mendekati kebenaran selera.

Bernadhie mencontohkan, Opera SMU sekarang mulai digemari. Meski setting cerita di sekolah menengah atas, penggemarnya menembus beberapa level usia.

“Barangkali karena situasi masyarakat kita membutuhkan tokoh seperti ibu guru yang diperankan Tamara Blezinsky itu,” katanya. “Penyampai aspirasi, sementara kita semua sulit untuk bicara.”

Dari pekerja sinetron juga sempat muncul beberapa usul untuk mengurangi kungkungan rating. Harry Capri mengaku pernah meminta waktu satu jam per minggu di jam tayang utama kepada stasiun-stasiun televisi swasta untuk memutar sinetron yang lebih berkualitas.

Dikasih? Ya, belum.

Meski tak sepenuhnya belum. Kepala Humas SCTV Budi Dharmawan menyebut, “SCTV sudah sadar mengenai hal ini jauh-jauh hari.”

Dharmawan menunjuk tayangan-tayangan Indonesia Berbisik (Teguh Karya), Suro Buldog (Slamet Rahardjo), Alang-alang dan Kesaksian. Juga FTV dan Festival Film Independen yang katanya memberi tawaran lain kepada penonton.

Henidar Amroe juga mengakui, apa yang dilakukan SCTV memberi suasana variatif. Meski dalam beberapa hal seperti festival film independen itu ditayangkan bukan pada jam yang banyak penonton.

Peragawati senior yang punya niatan menjadi sutradara ini sekaligus usul, orang sinetron perlu menggelar suatu forum semacam festival. Kalau festivalnya bisa ada lagi lebih bagus. “Harus ada judul-judul yang dilombakan, tapi bukan untuk cari menang. Semata-mata mendapat respon dari penonton.”

Tawaran jam tayang, tentulah di prime time. Lantaran jam inilah yang masih menjadi ajang penentu tontonan macam apa yang disukai penonton. Sekaligus semacam test case, masakan setelah diberi banyak variasi di jam utama selera penonton yang istilahnya berganti menjadi rating itu tak kunjung berubah. “Satu jam saja,” kata Harry.

Ada pula usulan lain, memperbanyak lembaga riset yang membuat rating. Sehingga akan lebih banyak data bagi stasiun dan pengiklan. Data mengenai penonton mereka. Supaya tak kaget bahwa selama ini ada penonton “Pasir Berbisik” yang sekaligus menikmati “Opera SMU” atau “Pernikahan Dini”.

Pernah bertemu? Kalau belum, berarti kita perlu berkenalan.

|||

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s