– Film Seven Pounds (2008)
SP
MELANKOLIA sering menganjurkan jalan kematian bagi romeo yang ditinggal mati kekasihnya. Anjuran itu mekar sempurna di benak Tim Thomas (Will Smith) selama hampir dua tahun. Tunangannya, Sarah Jenson (Robinne Lee), tewas pada suatu kecelakaan di jalan raya, hanya gara-gara Tim yang tengah menyetir mobil membaca pesan singkat di telepon selulernya. Pada suatu tikungan tak terlalu tajam, Tim gagal mengelak benturan dengan sebuah van berisi 6 penumpang. Van itu terjungkal dan meledak. Mobil yang dikendarai Tim pun terlontar keluar jalan.

Hanya Tim yang selamat dari maut di jalan raya itu. Dan ia merasa nasib telah berlaku tidak adil. Mengapa yang menjadi ‘penyebab’ justru selamat?

Tuhan menciptakan kehidupan selama tujuh hari, dan aku melumatkannya dalam hitungan tujuh detik, renung Tim.

Pada akhirnya ia memutuskan mati. Meski sama-sama “memutuskan”, cara yang ditempuh Tim berbeda dengan Veronica dalam novel Paulo Coelho. Tim berniat memberikan tubuhnya—dalam pengertian sesungguhnya—dan miliknya—kekayaan—kepada orang yang lebih membutuhkan. Paru-parunya ia donasikan kepada sang kakak, Ben (Michael Ealy), yang bekerja di Internal Revenue Service (IRS), lembaga pemerintah AS yang bertugas mengumpulkan pajak. Enam bulan berikutnya ia memberikan hati kepada Holy, pekerja perlindungan anak. Selanjutnya, Tim mendedikasikan ‘sisa’—karena ia telah memutuskan mati—hidup untuk mencari calon-calon penerima organ tubuhnya.

Seorang pelatih hoki, George, kebagian ginjal Tim. Lalu, seorang anak yang ia jumpai saat mengintai “calon”-nya, mendapat tulang rawan.

Itu berlangsung hanya dua minggu menjelang kematian Tim. Ia telah berganti identitas menjadi Ben Thomas dan menyamar menjadi agen IRS. Melalui Holly, ia mendapatkan nama Connie, perempuan Amerika Latin beranak dua yang mendapat perlakuan kasar dari pacar-pacarnya: patah tulang iga dan babak belur. Kepada Connie, ia persembahkan rumah pantai berikut isinya.

“Tempat ini menyembuhkan bagiku, semoga begitu padamu,” tulis Tim (Ben) dalam wasiat kepada Connie.

Tim sendiri lalu pindah ke sebuah motel sembari menyiapkan calon penerima organnya. Seorang tuna netra yang bekerja menjadi operator pemesanan daging dan pianis, Ezra Turner, telah ia putuskan akan memperoleh kornea mata. Lalu, ia membantu seorang perempuan yang terlilit hutang pajak kepada pemerintah dan memiliki jantung lemah, Emily Posa (Rosario Dawson).

Drama pun mendekati klimaks. Tim yang mengenalkan diri dan dikenal sebagai Ben Thomas jatuh cinta kepada Emily. Dilema penebusan diantarkan secara sabar oleh Gabriele Muccino, sutradara yang juga mengarahkan Will Smith dalam The Pursuit of Happyness (2006). Grant Nieporte yang menulis naskah tak berniat mengumbar dilema ini melalui percakapan batin Tim. Nieporte membiarkan penonton mencermati fakta kilas balik tentang cinta Tim kepada Sarah dan beban bersalahnya karena menyebabkan Sarah dan enam orang asing lainnya meninggal.

Keputusan mati merupakan penebusan Tim dari “rasa bersalah” dan juga wujud cinta kepada Sarah. Ini kali, setelah ia menyadari jatuh cinta kepada Emily, akankah diteruskan?

Menurut dokter peluang Emily sesungguhnya hanya 3-5 persen. Bila pun mendapat donor, perbedaan golongan darah membuat harapan hidup Emily tak terlalu panjang. Tapi bila tak ada donor, Emily tentu akan mati lebih. Meninggalkan Tim. Dan ia tahu bagaimana rasanya kehilangan.

Pada titik simpul itu dilema belum usai. Bagaimana dengan Emily setelah kematian Tim? Bukankah Emily juga akan kehilangan persis ketika “hidupnya” baru diperoleh kembali? Dan—sekali lagi—Tim tahu bagaimana rasanya kehilangan.

Tapi, dilema harus diakhiri. Tema kini bukan lagi tentang penebusan, melainkan memberi kehidupan. Sebab, menyuguhkan cinta hampir sama dengan mempersembahkan hidup kepada yang dicintai. Kadang secara harfiah. Kadang berarti kematian bagi yang memberi. Tim berketetapan menempuh jalan bushido ke-romeo-annya.

Nieporte menggarap cermat skenario film pertamanya ini. Karakter Tim Thomas ia peroleh dari seorang teman percakapan yang ia sebut “lelaki paling bersedih” karena mengaku bertanggung jawab atas tujuh kematian pada tragedi nasional AS. Latar Tim Thomas sebagai seorang insinyur aeronotika seperti mau mengungkapkan identitas narasumber Nieporte: yang merasa bersalah pada kecelakaan pesawat ulang alik Challenger (28 Januari 1986) dan Columbia (1 Februari 2003).

Nieporte juga melakukan riset untuk menyajikan “cara mati” Tim: disengat ubur-ubur kotak dan merendam diri dalam air amat dingin di bak mandi yang telah dipenuhi es batu. Ubur-ubur kotak (chironex fleckeri) yang terlihat indah dan menyala dalam laut dianggap bertanggung jawab atas kematian dua turis asal AS dan Inggris (2001) saat berenang di perairan timur Australia. Sengatan ubur-ubur ini bisa menyebabkan pendarahan otak. Es batu membantu organ tubuh Tim tetap bisa digunakan seusai jemputan ajal.

Sebuah pilihan cara mati yang amat sakit. Tapi, cara itu dipilih oleh seorang romeo yang motif hidupnya semata-mata cinta. Trio Muccino, Nieporte dan Smith, sukses menyampaikan pesan kuat ini kepada pecinta, terutama pemuja melankolia. []

About these ads